Respon Biogeofisik dari Pengembangan Sebelum dan Saat Pembangunan
Abstract
Pengembangan Ibu Kota Negara (IKN) Indonesia yang baru telah membawa perubahan biogeofisik yang signifikan di wilayah tersebut. Penelitian ini bertujuan menganalisis perubahan akibat pembangunan terhadap parameter biogeofisik seperti NDVI, suhu permukaan, albedo, radiasi netto, fluks panas sensible (H), dan fluks panas laten (LE) antara fase pra-pembangunan (2018) dan fase pembangunan (2024). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penginderaan jauh dengan memanfaatkan citra satelit Landsat-8, yang kemudian diolah untuk menghasilkan estimasi parameter biogeofisik. Berdasarkan hasil klasifikasi citra satelit dengan akurasi >87% dan nilai Kappa >0,85, ditemukan bahwa nilai NDVI mengalami penurunan dari 0,56 menjadi 0,37, mencerminkan degradasi vegetasi. Suhu permukaan meningkat dari 31,4? menjadi 35,6?, menunjukkan pemanasan lokal. Albedo mengalami kenaikan dari 0,27 menjadi 0,29, sedangkan radiasi netto menurun dari 620 W/m² menjadi 525 W/m². H meningkat dari 191 W/m² menjadi 354 W/m², sementara LE menurun dari 447 W/m² menjadi 298 W/m². Konversi lahan ini menyebabkan penurunan vegetasi, peningkatan suhu permukaan, dan albedo yang meningkat di beberapa area. Perubahan-perubahan ini mengubah keseimbangan energi permukaan, dengan pergeseran dari panas laten ke panas sensible yang mengindikasikan gangguan pada proses evapotranspirasi. Secara keseluruhan, temuan ini menyoroti konsekuensi biogeofisik dari pembangunan perkotaan skala besar dan menekankan perlunya perencanaan lingkungan yang berkelanjutan dalam pengembangan IKN di masa yang akan datang. The development of the new Indonesian Capital City (IKN) has brought significant biogeophysical changes to the region. This study aims to analyze changes due to development on biogeophysical parameters such as NDVI, surface temperature, albedo, net radiation, sensible heat flux (H), and latent heat flux (LE) between the pre-development phase (2018) and the development phase (2024). The method used in this study is remote sensing by utilizing Landsat-8 satellite imagery, which is then processed to produce estimates of biogeophysical parameters. Based on the results of satellite image classification with an accuracy of >87% and a Kappa value of >0.85, it was found that land cover decreased from 82.60% to 29.64%, while plantation land increased to 53.04%. The average NDVI decreased from 0.56 to 0.37, reflecting vegetation degradation. Surface temperature increased from 31.4? to 35.6?, indicating local warming. Albedo increased from 0.27 to 0.29, while net radiation decreased from 620 W/m² to 525 W/m². H increased from 191 W/m² to 354 W/m², while LE decreased from 447 W/m² to 298 W/m². This land conversion caused a decrease in vegetation density, an increase in surface temperature, and an increase in albedo in some areas. These changes alter the surface energy balance, with a shift from latent heat to sensible heat indicating a disruption in the evapotranspiration process. Overall, these findings highlight the biogeophysical consequences of large-scale urban development and emphasize the need for sustainable environmental planning in the future development of the IKN.
