Analisis Connectedness Rata-Rata Return Harga Beras di Jawa Timur: Pendekatan VAR dan Spillover Diebold-Yilmaz
Abstract
Beras merupakan kebutuhan pokok bagi mayoritas masyarakat Indonesia dan berperan penting dalam ketahanan pangan serta stabilitas ekonomi. Sektor pertanian khususnya industri pangan, menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar dan memengaruhi inflasi melalui fluktuasi harga beras. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan keterkaitan harga beras antar kabupaten/kota di Jawa Timur menggunakan metode spillover connectedness yang dikembangkan oleh Diebold dan Yilmaz (2012). Data yang digunakan merupakan data sekunder berupa rata-rata return harga beras yang dikumpulkan setiap 5 hari dari tanggal 4 September 2017 hingga 8 November 2024. Model spillover Diebold-Yilmaz digunakan untuk mengukur kontribusi keterkaitan harga beras antar daerah yang berbeda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kediri dan Madiun memiliki pengaruh terbesar dalam memengaruhi harga beras di daerah lain, sementara Kabupaten Banyuwangi lebih banyak dipengaruhi oleh faktor internalnya sendiri. Temuan ini mengindikasikan bahwa keterkaitan harga beras antar wilayah di Jawa Timur relatif rendah, dengan sebagian besar fluktuasi harga tetap didominasi oleh dinamika pasar lokal. Implikasi dari penelitian ini dapat digunakan oleh pembuat kebijakan dalam merancang strategi stabilisasi harga pangan untuk mengurangi gejolak harga beras dan meningkatkan ketahanan pangan regional. Rice is a staple food for the majority of the Indonesian population and plays a crucial role in food security and economic stability. The agricultural sector particularly the food industry, absorbs a large workforce and influences inflation through rice price fluctuations. This study aims to analyze the interconnection of rice prices across regencies in East Java using the spillover connectedness method developed by Diebold and Yilmaz (2012). The data used in this study are secondary data in the form of average rice price returns collected every 5 days from September 4, 2017, to November 8, 2024. Spillover Diebold-Yilmaz model was employed to measure the contribution of rice price connectivity among different regions. The results indicate that Kediri and Madiun have the most significant influence on rice price movements in other regions, while Banyuwangi is more influenced by its internal factors. These findings suggest that the interconnection of rice prices across East Java is relatively low, with most price fluctuations still dominated by local market dynamics. The implications of this research can be utilized by policymakers in designing price stabilization strategies to reduce rice price volatility and enhance regional food security.