Analisis Connectedness Rata-Rata Return Harga Beras di Jawa Tengah: Pendekatan VAR dan Spillover Diebold-Yilmaz
Abstract
Sebagai komoditas pangan strategis, harga beras di pasar suatu wilayah dapat dipengaruhi oleh harga beras dari pasar wilayah lain. Fenomena ini mengindikasikan adanya connectedness antarwilayah, dimana harga beras di suatu wilayah dapat memengaruhi atau dipengaruhi oleh wilayah lain. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis connectedness dan efek spillover rata-rata return harga beras antarpasar di delapan wilayah Jawa Tengah. Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data sekunder yaitu rata-rata harga beras harian tingkat kabupaten/kota dari 4 September 2017 sampai dengan 11 November 2024. Metode yang digunakan adalah Vector Autoregressive (VAR) dan spillover Diebold dan Yilmaz. Hasil penelitian mengungkap adanya connectedness dan efek spillover. Selama periode analisis, pasar Kabupaten Karanganyar berperan sebagai net transmitter terbesar dan pasar Kota Surakarta berperan sebagai net receiver terbesar. Berdasarkan hasil rolling window 290 hari, terdapat tiga periode analisis, pasar Kabupaten Karanganyar berperan sebagai net transmitter pada periode analisis pertama. Pada periode analisis kedua, peran tersebut dipegang oleh pasar Kabupaten Banyumas dan pasar Kabupaten Boyolali. Pada periode analisis ketiga, pasar Kota Tegal dan pasar Kabupaten Karanganyar kembali menjadi net transmitter utama pada pasar wilayah lainnya. As a strategic food commodity, rice prices in one region can influence or be influenced by prices in other regions, indicating interregional connectedness. This study analyzes the connectedness and spillover effects of average rice returns across markets in eight regions of Central Java. The study uses secondary data on daily average rice prices at the district/city level from September 4, 2017, to November 11, 2024. The methodology includes the Vector Autoregressive (VAR) model and
the Diebold-Yilmaz spillover approach. The results reveal significant connectedness and spillover effects. Throughout the analysis period, the Karanganyar district market was the largest net transmitter, while the Surakarta city market was the largest net receiver. The rolling window analysis of 290 days identifies three periods. In the first period, the Karanganyar market acted as the main net transmitter. In the second period, this role shifted to the Banyumas and Boyolali district markets. In the third period, the Tegal city and Karanganyar district markets became the primary net transmitters.