Pendekatan Dynamic Capabilities dalam Transformasi Bisnis (Studi Kasus Pada Badan Usaha Milik Negara di Bidang Konstruksi)
Date
2025Author
Wibowo, Febrianto Arif
Satria, Arif
Indrawan, Raden Dikky
Gaol, Sahala Lumban
Metadata
Show full item recordAbstract
Sektor konstruksi memainkan peran strategis dalam kebijakan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024, terutama dalam pembangunan infrastruktur yang mendukung ekonomi dan pelayanan dasar. Seiring dengan perkembangan sektor ini, perusahaan-perusahaan konstruksi pemerintah menghadapi berbagai perubahan dinamis yang berdampak langsung terhadap kinerja bisnis mereka. Masalah yang dihadapi perusahaan-perusahaan ini, baik dari sisi keuangan maupun operasional, memerlukan solusi transformasi agar mereka dapat beradaptasi dengan lingkungan yang terus berubah.
Dalam upaya transformasi ini, pendekatan dynamic capabilities menawarkan kerangka yang efektif untuk memperkuat kemampuan perusahaan dalam menghadapi perubahan yang cepat. Teori dynamic capabilities fokus pada kemampuan perusahaan untuk memanfaatkan, meningkatkan, dan merekonfigurasi sumber daya internal guna menghadapi perubahan lingkungan bisnis. Pendekatan ini mengajarkan bagaimana perusahaan dapat mengadaptasi dan merekonfigurasi keterampilan internal serta kompetensi eksternal mereka untuk mempertahankan atau bahkan meningkatkan keunggulan kompetitif dalam menghadapi perubahan tersebut. Tiga fondasi utama dalam teori ini adalah Sensing (kemampuan untuk mengenali perubahan dan peluang), Seizing (kemampuan untuk memanfaatkan peluang), dan Transforming atau Reconfiguring (kemampuan untuk merevisi atau mengatur ulang sumber daya dan struktur organisasi). Penelitian bertujuan membangun peta jalan transformasi melalui penguatan dynamic capabilities perusahaan konstruksi pemerintah di Indonesia.
Pada fondasi pertama, sensing, perusahaan harus melakukan tinjauan masa depan atau industry foresight. Analisis foresight dalam penelitian ini dilakukan pada tiga level: makro, meso, dan mikro. Di level makro, identifikasi tren global dan perubahan lingkungan eksternal yang dapat mempengaruhi kebijakan perusahaan di tingkat meso. Di level mikro, analisis difokuskan pada perilaku individu dan unit-unit kecil dalam organisasi yang berinteraksi dengan perubahan pada level meso dan makro. Kerangka analisis mikro-meso-makro memberikan pemahaman yang holistik dan menyeluruh dalam merancang strategi jangka panjang yang dapat memperkuat daya saing perusahaan.
Fondasi kedua, seizing, melibatkan analisis kinerja keuangan yang diukur dengan rasio keuangan serta analisis efisiensi. Selain itu, perlu dilakukan identifikasi proses bisnis dan competitive advantage untuk menentukan kekuatan kompetitif perusahaan. Penilaian posisi strategik dilakukan dengan menggunakan matriks Strategic Position and Action Evaluation (SPACE), yang membantu perusahaan dalam menilai dan merumuskan langkah strategis berdasarkan kondisi internal dan eksternal yang ada. Fondasi terakhir, transforming atau reconfiguring, mengarahkan pada perumusan strategi menggunakan matriks Strength-Weakness-Opportunity-Threat (SWOT), yang selanjutnya dievaluasi melalui metode Analytic Network Process (AHP). Data penelitian ini terdiri dari data sekunder yang diperoleh dari laporan keuangan perusahaan dan data primer yang diperoleh dari wawancara dengan pakar.
Hasil penelitian ini memberikan gambaran komprehensif mengenai kinerja dan tantangan yang dihadapi oleh perusahaan BUMN di industri konstruksi Indonesia. Kinerja keuangan perusahaan BUMN secara umum tidak lebih baik dibandingkan dengan perusahaan konstruksi swasta, dengan profitabilitas yang rendah, likuiditas yang kritis, dan rasio utang yang tinggi. Hal ini menyebabkan risiko utang yang lebih besar. Dibandingkan dengan perusahaan swasta, BUMN menunjukkan efisiensi yang lebih rendah. Untuk meningkatkan kinerja keuangan dan operasionalnya, BUMN perlu fokus pada peningkatan likuiditas, restrukturisasi utang, serta mengoptimalkan efisiensi proyek-proyek yang ada.
Selain itu, hasil analisis makro, meso, dan mikro dalam foresight industri konstruksi menunjukkan bahwa perusahaan BUMN perlu mengadopsi praktik Environmental, Social, and Governance (ESG), dengan fokus khusus pada pencapaian Net Zero Emissions (NZE) dan Sustainable Development Goals (SDGs). Penerapan teknologi canggih seperti Construction 4.0 dan inovasi digital menjadi faktor kunci dalam meningkatkan efisiensi dan manajemen risiko. Penguatan tata kelola serta pengembangan kompetensi inti dan sumber daya akan mempercepat perusahaan dalam beradaptasi dengan tren masa depan dan menjaga daya saingnya di pasar konstruksi.
Berdasarkan analisis sumber daya, kapabilitas, dan kompetensi inti, penelitian ini menunjukkan bahwa perusahaan BUMN Karya memiliki sumber daya dan kapabilitas yang serupa, namun masing-masing memiliki spesialisasi pada sektor tertentu. Berdasarkan pemetaan posisi strategis melalui matriks SPACE, setiap perusahaan BUMN Karya memiliki pendekatan yang berbeda dalam merespon tantangan eksternal. WIKA, meskipun menghadapi keterbatasan keuangan, menunjukkan posisi yang kompetitif dengan dominasi di sektor energi, yang sesuai dengan tren masa depan. PTPP berada pada posisi netral, lebih berhati-hati dalam agresivitasnya karena sedang fokus pada divestasi aset, sementara ADHI menunjukkan strategi agresif di sektor transportasi dan properti. Sementara itu, WSKT berada pada kuadran defensif dengan fokus pada restrukturisasi dan divestasi untuk memperbaiki kondisi keuangannya. Setiap perusahaan BUMN konstruksi perlu menyesuaikan strategi mereka berdasarkan posisi dan kondisi internal serta eksternal yang ada.
Berdasarkan analisis SWOT-AHP, hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa BUMN Karya perlu melakukan transformasi bisnis untuk mengatasi kompleksitas permasalahan eksising. Mereka harus menghadapi tantangan kinerja keuangan, rendahnya kapabilitas dan kompetensi dalam mengelola proyek-proyek dengan sifat kompleksitas tinggi, serta tingginya persaingan dan margin yang rendah. Prioritas strategi yang direkomendasikan adalah pembentukan holding BUMN Karya, dengan sub-holding yang dibagi berdasarkan spesialisasi masing-masing perusahaan, untuk meningkatkan efisiensi dan daya saing di masa depan. The construction sector plays a strategic role in Indonesia’s 2020–2024 National Medium-Term Development Plan (RPJMN), particularly in the development of infrastructure that underpins economic growth and public services. In line with this sector’s progress, government-owned construction companies face dynamic changes that directly affect their business performance. The issues these companies encounter, whether financial or operational, require transformational solutions to adapt to a rapidly evolving environment. Consequently, it is imperative to implement the appropriate strategy as an initial step in strategic management to enhance performance and address existing challenges.
In pursuing this transformation, the dynamic capabilities approach offers an effective framework for strengthening a company’s capacity to cope with rapid changes. The dynamic capabilities theory focuses on how organizations utilize, enhance, and reconfigure internal resources in response to shifts in the business environment. It explains how firms can adapt and restructure their internal skills and external competencies to maintain or even improve competitive advantage when facing change. The three main pillars of this theory are Sensing (the ability to identify changes and opportunities), Seizing (the ability to seize opportunities), and Transforming or Reconfiguring (the capacity to revise or reorganize resources and organizational structures). The research aims to build a transformation roadmap through the strengthening of the dynamic capabilities of government construction companies in Indonesia.
The first pillar, sensing, involves conducting industry foresight. In this study, foresight analysis is carried out on three levels: macro, meso, and micro. At the macro level, it identifies global trends and external environmental changes that could influence company policies at the meso level. At the micro level, the analysis focuses on individual behavior and smaller organizational units that interact with changes at the meso and macro levels. This micro-meso-macro analytical framework provides a holistic perspective in designing long-term strategies that enhance a company’s competitiveness.
The second pillar, seizing, involves analyzing financial performance—measured through financial ratios and efficiency metrics—as well as identifying business processes and competitive advantages to determine a company’s competitive strength. Strategic positioning is then evaluated using the Strategic Position and Action Evaluation (SPACE) matrix, which assists companies in assessing and formulating strategic moves based on their internal and external circumstances. Lastly, the transforming or reconfiguring pillar focuses on formulating strategies using the Strength-Weakness-Opportunity-Threat (SWOT) matrix, which are subsequently evaluated through the Analytic Network Process (AHP). This research data consists of secondary data obtained from the companies' financial reports and primary data obtained from interviews with experts.
Findings from this research provide a comprehensive overview of the performance and challenges faced by Indonesian state-owned enterprises (BUMNs) in the construction industry. Overall, these BUMNs exhibit financial performance that is generally weaker than private construction companies, indicated by lower profitability, critical liquidity, and high debt ratios, which lead to heightened debt risks. Additionally, BUMNs demonstrate lower efficiency compared to private firms. To enhance financial and operational performance, BUMNs should prioritize improving liquidity, restructuring debt, and optimizing project efficiency.
Moreover, macro, meso, and micro-level analysis in construction foresight underscores the need for BUMN companies to adopt Environmental, Social, and Governance (ESG) practices, emphasizing net zero emissions (NZE) and alignment with Sustainable Development Goals (SDGs). Employing advanced technologies such as Construction 4.0 and digital innovations is pivotal to boosting efficiency and managing risk. Strengthening governance and developing core competencies and resources will accelerate adaptation to future trends while preserving competitiveness in the construction market.
Resource, capability, and core competency analyses reveal that BUMN Karya companies share similar resources and capabilities, though each specializes in specific sectors. Strategic positioning, mapped through the SPACE matrix, shows each BUMN Karya company employs a distinct approach in handling external challenges. WIKA, despite financial constraints, maintains a competitive stance by focusing on the energy sector, aligning well with future market prospects. PTPP adopts a neutral position and exercises caution in its level of aggressiveness, concentrating on asset divestment, whereas ADHI is more aggressive in the transportation and property sectors. Meanwhile, WSKT adopts a defensive stance, highlighting restructuring and divestment to improve its financial state. Accordingly, each construction-based BUMN must align its strategies with both internal capacities and external market conditions.
Based on the SWOT-AHP analysis, this study concludes that BUMN Karya enterprises must undertake business transformation to address existing complexities. These include financial performance issues, limited capabilities and competencies in handling highly complex projects, and intense competition that yields low margins. The recommended strategic priority is to form a BUMN Karya holding company, with specialized sub-holdings established according to each company’s area of expertise, in order to bolster efficiency and competitiveness in the future.