Keberlanjutan Usahatani Karet di Kecamatan Lubai Kabupaten Muara Enim Provinsi Sumatera Selatan.
Abstract
Karet alam merupakan komoditas ekspor yang mampu memberikan kontribusi
dalam upaya peningkatan devisa Indonesia di pasar karet alam dunia dengan nilai ekspor
karet dan barang dari karet Indonesia sebesar US$6,40 miliar pada 2022 (Badan Pusat
Statistik 2023). Ketatnya persaingan komoditas karet alam antara Indonesia dengan
negara pesaing menunjukkan bahwa peningkatan daya saing diperlukan untuk menjaga
agar karet alam Indonesia dapat tetap bersaing di pasar dunia. Hasil produksi karet negara
di Indonesia didominasi oleh para petani kecil. Produksi karet menurut status kepemilikan
didominasi oleh perkebunan rakyat dengan jumlah produksi 2,84 juta ton (92,81 persen),
sedangkan perkebunan besar negara 131,55 ribu ton (4,32 persen) dan perkebunan swasta
87,51 ribu ton (2,87 persen) dari total produksi 3,04 juta ton. Oleh karena itu, perkebunan
Pemerintah dan swasta memiliki peran yang kecil dalam industri karet domestik
(Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian Republik Indonesia 2023). Hal
ini menyebabkan usahatani karet di Indonesia menjadi sangat dinamis. Budidaya karet
menyebar di sebagian besar provinsi di Indonesia. Berdasarkan data luas areal dan
produksi karet di Indonesia rata-rata tahun 2018-2022 terdapat 6 provinsi sentra produksi
yang mempunyai kontribusi kumulatif pada tahun 2022 hingga mencapai 71,86 persen.
Provinsi tersebut adalah Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Barat, Sumatera Utara,
Riau, dan Kalimantan Tengah. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (2024), tahun
2022-2023 menunjukkan pengurangan luas lahan karet di seluruh daerah sentra produksi
yang cukup signifikan. Provinsi Sumatera Selatan mengalami pengurangan luas lahan
yakni 112.352 ha atau 12,68 persen. Produksi karet di Indonesia mencapai 3,14 juta ton
pada 2022. Sumatera Selatan mencatatkan produksi karet terbesar, yakni 1.206.192 ton.
Melihat masalah alih fungsi lahan karet ini dalam perspektif agribisnis sebagai
sejumlah usaha yang terangkai dalam suatu sistem maka kinerja masing-masing
subsistem dalam sistem agribisnis akan sangat berkaitan dengan subsistem lain.
Fenomena alih fungsi lahan karet ini menyebabkan produksi lahan karet akan menurun
(Nugraha et al. 2018). Kemudian sebagai sebuah sistem yang tidak dapat dipisahkan
dengan subsistem hilir atau pengolahan, turunnya produksi karet ini akan mengakibatkan
gejolak pada subsistem hilir. Sebanyak 45 pabrik karet remah tutup lima tahun terakhir.
Jumlah itu diprediksi akan bertambah seiring menurunnya pasokan bahan baku. Sehingga
melihat masalah pada subsistem on farm ini perlu ditinjau bagaimana keberlanjutan
usahatani yang ada pada petani. Berdasarkan hal tersebut, penelitian tentang status
keberlanjutan perkebunan karet rakyat di Indonesia penting dilakukan. Terciptanya
keberlanjutan usahatani perkebunan karet rakyat di Indonesia diharapkan mampu
memecahkan permasalahan-permasalahan mengenai perkebunan karet rakyat dari
dimensi ekonomi, ekologi, dan dimensi sosial budaya dengan masing-masing atribut yang
ada di setiap dimensinya. Adapun hal yang ingin dikaji oleh peneliti adalah analisis
keberlanjutan dari usahatani karet di daerah sentra produksi karet.
Berdasarkan permasalahan yang ada, penelitian ini memiliki tujuan diantaranya: 1)
Menganalisis persepsi petani terhadap usahatani karet dan faktor-faktor yang
mempengaruhinya di Kecamatan Lubai Kabupaten Muara Enim Sumatera Selatan; 2)
Menganalisis pendapatan usahatani karet dan faktor-faktor yang mempengaruhinya di
Kecamatan Lubai Kabupaten Muara Enim Sumatera Selatan; 3) Menganalisis status
keberlanjutan usahatani karet di Kecamatan Lubai Kabupaten Muara Enim. Pengambilan
data penelitian dilakukan pada bulan Oktober-Desember 2023 dan mendapatkan
responden yang berpartisipasi secara sukarela sebanyak 112 responden petani dan 6 key
persons. Data dianalisis menggunakan analisis deskriptif, analisis skala likert, analisis
korelasi rank spearman, analisis pendapatan, analisis regresi linear berganda dan analisis
MDS (Multidimensional Scaling) dengan metode Rapid Appraisal for Fisheries (rapfish).
Pengolahan data menggunakan alat bantu R Studio.
Hasil penelitian menunjukkan jumlah akhir penilaian persepi petani terhadap aspek
ekonomi, aspek teknis, dan aspek lingkungan usahatani karet secara keseluruhan adalah
cukup baik dengan skor 2,70 (1,00-5,00). Skor penilaian ini menunjukkan bahwa petani
merasa kegiatan usahatani karet mampu memberikan keuntungan ekonomi yang cukup
memadai, memiliki teknik budidaya yang dapat dikelola dengan cukup baik, serta kondisi
lingkungan yang cukup mendukung usahatani karet. Nilai signifikan p-value antara faktor
pendidikan petani dengan persepsi petani terhadap usahatani adalah sebesar 0,003352
(kurang dari 0,05) yang berarti juga terdapat korelasi yang signifikan antara persepsi
petani dengan pendidikan petani. Sedangkan faktor lain seperti biaya usahatani,
pendapatan usahatani, luas lahan, harga karet, pengalaman usahatani, curahan kerja, dan
umur petani tidak berkorelasi secara signifikan dengan persepsi petani terhadap usahatani
karet. Pendapatan atas biaya tunai dan pendapatan atas biaya total pada kelompok umur
tanaman produktif (10,1-15 tahun) paling besar dibandingkan kelompok umur tanaman
lainnya. Kelompok umur tanaman 10,1-15 tahun menghasilkan pendapatan atas biaya
tunai usahatani sebesar Rp 1.921.273 per ha dan pendapatan atas biaya total sebesar Rp
1.476.425 per ha. Kelompok umur tanaman lebih dari 20 tahun menghasilkan pendapatan
atas biaya tunai usahatani paling rendah sebesar Rp 1.115.056 per ha dan pendapatan atas
biaya total sebesar paling rendah Rp 700.224 per ha. Secara keseluruhan R/C rasio atas
biaya tunai dan atas biaya total pada seluruh kelompok tanaman menunjukkan hasil yang
baik dengan rasio R/C > 1. Model Weighted least squares (WLS) yang dibuat sudah
cukup kuat dalam menjelaskan variasi pada pendapatan bulanan (96 persen). Model ini
menunjukkan hubungan yang signifikan antara beberapa variabel independen seperti
produksi per bulan per hektare, harga karet, luas lahan, dan curahan tenaga kerja terhadap
pendapatan bulanan. Dengan demikian, dapat diketahui bahwa peningkatan produksi,
harga karet, dan luas lahan secara signifikan berkontribusi terhadap peningkatan
pendapatan bulanan petani karet. Usahatani karet di Kecamatan Lubai memiliki status
kurang berkelanjutan. Hasil analisis yang paling berpengaruh paling besar terhadap
keberlanjutan usahatani karet yaitu pengetahuan dan penggunaan Legume Cover Crops
(LCC), biaya usahatani karet, dan fasilitas pendidikan.