Integritas jaringan pada pemasangan mesh dengan penambahan sekretom sel punca mesenkimal pada hewan model hipoestrogenik
Date
2025Author
Dewi, Tri Isyani Tungga
Noviana, Deni
Priosoeryanto, Bambang Pontjo
Gunanti
Metadata
Show full item recordAbstract
Prolaps uteri merupakan salah satu bentuk prolaps organ panggul akibat
kelemahan ligamentum dan fasia penyangga yang menyebabkan uterus keluar
melalui vagina. Penanganan Prolaps organ panggul dengan pembedahan native
tissue memiliki laju perbaikan anatomis jangka pendek dan rekurensi yang cukup
tinggi. Augmentasi jaringan prolaps dengan mesh memberikan hasil memuaskan
dengan tingkat efektivitas tinggi dan rekurensi rendah, namun ditemukan
komplikasi sesudah pemasangan mesh. Food and Drug Administration (FDA)
melaporkan beberapa komplikasi yang timbul setelah pemasangan mesh pada
saluran kemih, hingga perforasi organ.
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh penambahan sekretom
sel punca mesenkimal tali pusat pada mesh, dalam meningkatkan integrasi jaringan
serta mengurangi respon inflamasi sehingga erosi jaringan dapat diminimalkan. Sel
punca mesenkimal tali pusat adalah sel punca yang didapat dari jaringan matriks
tali pusat. Sel punca mesenkimal selain memiliki efek regenerasi sel, juga memiliki
efek parakrin dengan menghasilkan sekretom yang mempengaruhi lingkungan
sekitar sel punca. Sekretom sel punca mesenkimal mengandung sejumlah growth
factors kemokin dan sitokin seperti Interleukin-6 (IL-6) dan Interleukin-8 (IL-8),
protease dan protease inhibitor seperti Matrix Metalloproteinase-1 (MMP-1) dan
Matrix Metalloproteinase-2 (MMP-2), molekul matriks ekstraseluler yang akan
membantu dalam regenerasi sel sehingga dapat meningkatkan integrasi jaringan
dan mencegah respon inflamasi jaringan berlebih, sehingga dapat mempercepat
proses penyembuhan luka.
Prolaps organ panggul merupakan suatu kondisi medis yang sering terjadi
dimana prevalensi dan insiden meningkat seiring dengan meningkatnya usia dan
kondisi hipoestrogenik. Estrogen mempunyai peranan penting dalam proses
penyembuhan luka, kadar estrogen yang rendah akan menyebabkan hambatan pada
proses penyembuhan luka. Diperlukan penelitian yang dilakukan pada hewan
model hipoestrogenik. Penelitian ini menggunakan hewan model 32 ekor kelinci
(Oryctolagus cuniculus) ras New Zealand White. Pembuatan hewan model
hipoestrogenik dilakukan dengan metode ovariektomi bilateral. Kondisi
hipoestrogenik ditandai dengan penurunan kadar estradiol lebih dari 50% dari kadar
estradiol sebelum ovariektomi. Hewan model hipoestrogenik dibagi menjadi dua
kelompok yaitu kelompok pemasangan mesh tanpa perlakuan (kontrol), dan
kelompok pemasangan mesh yang diberikan perlakuan (sekretom). Penelitian ini
menggunakan mesh sintetik polypropylene. Pemasangan mesh dilakukan pada
vagina anterior di lapisan submukosa. Pada kelompok perlakuan, mesh
ditambahkan dengan sekretom sel punca mesenkimal tali pusat dosis 0,5 ml/ 1 cm2
mesh. Subjek penelitian diikuti selama 90 hari, dan dilakukan analisis secara
makroskopis dan mikroskopis pada hari ke-7, 14, 30 dan 90 sesudah pemasangan
mesh. Parameter analisis makroskopis adalah ekstrusi. Ekstrusi dapat mengacu padapergerakan bagian tubuh atau organ keluar dari posisi normalnya. Dalam penelitian
ini mesh dapat menahan terjadinya ekstrusi. Parameter lain yang diamati adalah
infeksi. Pengamatan makroskopik menunjukkan tidak ada ekstrusi atau infeksi pada
semua kelompok penelitian.
Hasil pengukuran angiogenesis pada penelitian ini menunjukkan pemberian
sekretom mampu meningkatkan pembentukan angiogenesis. Kelompok sekretom
memiliki jumlah angiogenesis yang lebih tinggi selama hari pengamatan. Growth
factor yang berasal dari sekretom mempromosikan pemulihan fungsi sel endotel
dan angiogenesis melalui aktivasi jalur pensinyalan Extracellular Signal-Regulated
Kinase 1/2 (ERK1/2), Inducible Nitric Oxide Synthase (iNOS), Protein kinase B
(AKT), P38, yang dapat merangsang pembentukan pembuluh darah baru.
Hasil pengukuran jumlah sel fibroblas menunjukkan kelompok sekretom
memiliki jumlah sel fibroblas yang lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol.
Sekretom mampu menstimulasi terbentuknya Fibroblast Growth Factor (FGF)
sejenis faktor pertumbuhan polipeptida dengan berbagai aktivitas biologis.
Fibroblast Growth Factor yang disekresi terbagi dalam dua kategori, yaitu FGF
klasik atau dikenal sebagai FGF parakrin, dan FGF endokrin. Selain fungsi khas
FGF untuk mengontrol proliferasi dan diferensiasi sel, juga menginduksi
pembentukan fibroblas. Fibroblas adalah sel utama yang terlibat dalam
pembentukan dan pemeliharaan matriks ekstraseluler.
Hasil pengukuran deposisi kolagen menunjukkan kelompok sekretom
memiliki deposisi kolagen yang lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol pada
semua hari pengamatan. Sekretom mampu menginduksi pembentukan kolagen
dengan mekanisme sekresi faktor pertumbuhan dan sitokin. Faktor-faktor
pertumbuhan seperti sitokin, Platelet-Derived Growth Factor (PDGF) dan
Transforming Growth Factor-beta (TGF- ß) dikenal dapat merangsang proliferasi
dan sintesis kolagen oleh fibroblas. Sekretom juga mengandung faktor transkripsi
atau sinyal regulasi yang mempengaruhi ekspresi gen-gen yang terlibat dalam
produksi kolagen.
Hasil pengukuran respon peradangan menunjukkan skoring area peradangan
pada kelompok sekretom memiliki rataan skor yang lebih rendah dibandingkan
kelompok kontrol. Sekretom memiliki sifat imunoregulator yang dapat mengontrol
sel inflamasi dengan melepaskan sitokin anti inflamasi IL-10 yang menyebabkan
penurunan sitokin proinflamasi. Hasil pengukuran ekspresi Interleukin-1 beta (IL-
1ß) pada kelompok yang diberikan sekretom menunjukkan area ekspresi
peradangan yang lebih rendah dibandingkan dengan kelompok kontrol. Sekretom
memainkan peran penting dalam regulasi produksi dan aktivasi IL-1ß. Peran
sekretom yang terkait dengan sekresi IL-1ß adalah sekretom akan meregulasi
sitokin antiinflamasi yaitu IL-10 untuk menekan aktivitas sitokin peradangan.
Penelitian ini mengungkapkan bahwa pemberian sekretom sel punca
mesenkimal tali pusat menunjukkan potensi yang menjanjikan untuk meningkatkan
integritas jaringan, menurunkan respon inflamasi dan mempercepat penyembuhan
luka. Sifat regeneratif yang diamati dalam penelitian ini menunjukkan bahwa
sekretom dapat berfungsi sebagai alat terapeutik yang berharga, walaupun dalam
kondisi adanya hambatan pada proses penyembuhan luka, seperti kondisi
hipoestrogenik.
Collections
- DT - Veterinary Science [293]