Pembuatan Hewan Model Luka Bakar Derajat Tiga Menggunakan Induksi Panas Logam Baja pada Tikus Putih (Rattus norvegicus).
Date
2025Author
Alif, Bagaskara Muhammad
Agungpriyono, Srihadi
Pristihadi, Diah Nugrahani
Metadata
Show full item recordAbstract
Luka bakar merupakan masalah kesehatan global yang sangat signifikan. Salah satunya adalah luka bakar derajat III yang memiliki karakteristik berupa waktu persembuhan yang lama, tidak dapat sembuh kembali seperti sedia kala, dan sering kali meninggalkan bekas luka (kecacatan). Penelitian ini bertujuan untuk membuat hewan model luka bakar derajat III menggunakan induksi panas logam baja yang dapat berguna untuk penelitian tentang fisiologis dan persembuhan luka bakar di penelitian luka bakar derajat III yang akan datang. Penelitian ini menggunakan 5 ekor tikus, 4 ekor untuk perlakuan dan 1 tikus sebagai kontrol negatif. Setiap tikus diberi induksi panas logam baja (menggunakan anak timbangan dengan diameter 1-1,5 cm2) 90 ± 5 ºC selama 15 detik. Setelah diberikan induksi luka, tikus dikorbankan, dan diambil sampel kulit dengan luka bakarnya. Sampel kemudian dilakukan pengamatan histologi. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif. Metode yang dilakukan di penelitian ini, diperoleh luka bakar yang cukup seragam berbentuk lingkaran dengan permukaan rata, berbatas jelas, dan luasan luka 3,8 cm2. Pengamatan histologi luka bakar menunjukkan adanya defek utama berupa koagulatif nekrosa hingga area subkutis. Selain itu, ditemukan deskuamasi epitel, disintegrasi kelenjar sebaseous, dan disintegrasi otot subkutis. Serabut kolagen dan m. Arrector pili tidak dapat dikenali. Temuan patologis yang sampai pada area sub-kutan menunjukkan bahwa metode induksi luka bakar yang dilakukan menghasilkan luka bakar derajat III. Oleh karena itu, metode penelitian ini dapat digunakan untuk menghasilkan hewan model luka bakar derajat III dengan luas area terkontrol. Burns are a very significant global health problem. One of them is third-degree burns, which are characterized by long healing time, cannot be healed back to normal, and often leave scars (disabilities). This study aims to create an animal model of third-degree burns using stainless steel metal heat induction. This model is intended to be beneficial for future research on the physiology and healing processes of third-degree burn injuries. This study used five rats, 4 for treatment and one rat as a negative control. Each rat was given stainless steel metal heat induction (using a metal scale rod with a diameter of 1-1.5 cm2) at 90 ± 5 ºC for 15 seconds. After being given wound induction, the rats were sacrificed, and skin samples with burns were taken. The samples were then observed histologically. The data obtained were described descriptively. With the method used in this study, relatively uniform burns were obtained in circles with a flat surface, clear boundaries, and a wound area of 3.8 cm2. Histological observations of burns showed a significant defect coagulative necrosis to the subcutaneous area. In addition, epithelial desquamation, sebaceous gland disintegration, and cutaneous muscle disintegration were found. Collagen fibers and m. Arrector pili were unrecognized. Pathological findings that reached the subcutaneous area indicate that the burn induction method performed resulted in third-degree burns. Therefore, this research method can be used to produce animal models of third-degree burns in a controlled area.