| dc.contributor.advisor | Chozin, Muhamad Achmad | |
| dc.contributor.advisor | Ritonga, Arya Widura | |
| dc.contributor.author | Patandean, Brayen | |
| dc.date.accessioned | 2024-10-10T12:51:53Z | |
| dc.date.available | 2024-10-10T12:51:53Z | |
| dc.date.issued | 2024 | |
| dc.identifier.uri | http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/159047 | |
| dc.description.abstract | Tumpangsari adalah sistem pertanaman campuran yang melibatkan dua atau lebih jenis tanaman pada satu areal lahan secara bersamaan, bertujuan untuk memaksimalkan penggunaan lahan dalam intensifikasi pertanian. Sistem ini memberikan berbagai keuntungan, seperti pemanfaatan lahan kosong di antara tanaman pokok, peningkatan produktivitas total per satuan luas, dan pengurangan risiko kegagalan panen serta pertumbuhan gulma. Keberhasilan tumpangsari sangat dipengaruhi oleh pemilihan tanaman yang memiliki perbedaan morfologi, kebutuhan faktor tumbuh, dan periode fase pertumbuhan yang berbeda. Penggunaan kombinasi tanaman tinggi dan rendah, pemilihan varietas unggul, serta pengaturan jarak tanam yang tepat menjadi kunci optimal dalam memaksimalkan distribusi cahaya dan produktivitas lahan. Intensitas cahaya yang tidak memadai dapat mengganggu pertumbuhan tanaman dan menurunkan hasil, menjadikan pemilihan kombinasi tanaman dalam sistem tumpangsari sebagai salah satu faktor penting untuk mencapai hasil yang optimal. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pertumbuhan, bentuk, dan ukuran kanopi dari 10 genotipe jagung manis, mengevaluasi iklim mikro yang dihasilkan dari keragaman genotipe tersebut, serta menilai kesesuaian pola tanam tumpangsari antara 10 genotipe jagung manis dengan tanaman penyertanya.
Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari 2024 hingga bulan Maret 2024 untuk musim hujan, dan bulan Juni 2024 hingga bulan Agustus 2024 untuk musim kemarau. Penelitian ini dilaksanakan di Kebun Percobaan PKHT Pasir Kuda Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Percobaan pada masing-masing musim tanam menggunakan rancangan kelompok lengkap teracak (RKLT) dengan satu faktor yaitu genotipe yang terdiri atas empat varietas komersial hibrida (Talenta, Paragon, Secada dan Exotic) dan enam genotipe hasil persilangan IPB (Arinta, Verona, SM12 x SB13, SM12 x SM1, SB8 x SM6 dan SM1 x SM9)
Penelitian ini menemukan perbedaan pertumbuhan dan bentuk kanopi pada 10 genotipe jagung manis hibrida di dua musim tanam. Musim hujan menghasilkan jumlah daun lebih banyak, namun sudut axilla lebih rendah dibanding musim kemarau. Indeks luas daun, laju asimilasi bersih, dan luas daun spesifik lebih tinggi di musim kemarau. Produktivitas lebih baik pada musim kemarau dengan variasi di tiap genotipe. Kluster kanopi menunjukkan perbedaan mikroklimat, di mana kluster tertentu cocok untuk tumpangsari dengan selada, bayam, kedelai, kacang tanah, dan cabai rawit tergantung musim. | |
| dc.description.abstract | Intercropping is a mixed cropping system that involves planting two or more types of crops in the same area simultaneously, aiming to maximize land use in agricultural intensification. This system offers various advantages, such as utilizing the empty spaces between main crops, increasing total productivity per unit area, and reducing the risks of crop failure and weed growth. The success of intercropping is significantly influenced by the selection of crops with different morphologies, growth factor requirements, and growth phase periods. The use of a combination of tall and short crops, the selection of superior varieties, and the precise arrangement of planting distances are key to optimizing light distribution and land productivity. Inadequate light intensity can disrupt plant growth and reduce yields, making the selection of crop combinations in an intercropping system one of the crucial factors for achieving optimal results. The objective of this study was to analyze the growth, form, and canopy size of 10 sweet corn genotypes, evaluate the microclimate generated from the diversity of these genotypes, and assess the suitability of intercropping patterns between 10 sweet corn genotypes and their accompanying crops.
The research was conducted from January 2024 to March 2024 for the rainy season and from June 2024 to August 2024 for the dry season. This study was carried out at the PKHT Pasir Kuda Experimental Farm, Department of Agronomy and Horticulture, Faculty of Agriculture, Bogor Agricultural University. The experiments in each planting season used a randomized complete block design (RCBD) with one factor, namely genotype, consisting of four commercial hybrid varieties (Talenta, Paragon, Secada, and Exotic) and six IPB-bred genotypes (Arinta, Verona, SM12 x SB13, SM12 x SM1, SB8 x SM6, and SM1 x SM9).
This study identified differences in growth and canopy structure among 10 hybrid sweet corn genotypes across two planting seasons. The rainy season produced a higher number of leaves, but with a lower axillary angle compared to the dry season. Leaf area index, net assimilation rate, and specific leaf area were higher in the dry season. Productivity was also greater in the dry season, with variations across genotypes. Canopy clusters exhibited microclimate differences, where specific clusters were suitable for intercropping with lettuce, spinach, soybean, peanuts, and chili peppers depending on the season. | |
| dc.description.sponsorship | Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi | |
| dc.language.iso | id | |
| dc.publisher | IPB University | id |
| dc.title | Keragaman Arsitektur Kanopi serta Produksi
berbagai Genotipe Jagung Manis Hibrida pada Dua Musim Berbeda untuk
Kesesuaian Pola Tanam Tumpangsari. | id |
| dc.title.alternative | | |
| dc.type | Tesis | |
| dc.subject.keyword | canopy, | id |
| dc.subject.keyword | crop combination | id |
| dc.subject.keyword | intensification | id |
| dc.subject.keyword | microclimate | id |
| dc.subject.keyword | planting season | id |