| dc.description.abstract | Konsumsi serat yang rendah masih menjadi salah satu masalah gizi di
Indonesia. Rata-rata konsumsi serat pangan penduduk dewasa di Indonesia ialah
sebesar 5,7 gram/kap/hari, sementara kebutuhan serat pangan dalam sehari menurut
Angka Kecukupan Gizi Indonesia yaitu sebesar 29-37 gram perhari untuk usia 16-
49 tahun (Kemenkes 2019a; Listiaty 2023). Konsumsi serat yang rendah juga
tergambarkan dari data konsumsi pangan sumber serat yang rendah. Berdasarkan
SKI tahun 2023 proporsi usia ≥5 tahun di Indonesia dengan kategori konsumsi
sayur dan buah yang kurang per hari dalam seminggu sebesar 96,7% (Kemenkes
2023). Berdasarkan Direktori Perkembangan Konsumsi Pangan, konsumsi pangan
sumber serat dari ketiga pangan yaitu kacang-kacangan, umbi-umbian, sayur dan
buah pada tahun 2020 belum mencapai angka ideal.
Pemerintah telah melakukan beberapa upaya untuk meningkatkan konsumsi
sayur dan buah, akan tetapi upaya-upaya tersebut belum memberikan hasil yang
maksimal dan angka konsumsi serat pangan masyarakat Indonesia masih dalam
kategori kurang. Penelitian ini menawarkan cara alternatif untuk membantu
memenuhi kebutuhan serat pangan dari konsumsi sayur dan buah melalui
pengembangan produk tinggi serat pangan.
Produk yang dikembangkan merupakan makanan pokok yang dapat
dikonsumsi dalam kehidupan sehari-hari. Makanan pokok merupakan makanan
sumber karbohidrat yang terdiri dari berbagai macam, contohnya seperti nasi, umbiumbian,
serealia, dan produk olahannya seperti mie, roti-rotian dan masih banyak
lagi. Rata-rata konsumsi makanan pokok masyarakat indonesia ialah nasi.
Konsumsi nasi dapat digantikan dengan makanan pokok lainnya seperti roti.
Roti merupakan makanan pokok yang dibuat dari adonan tepung dan air yang
biasa dimasak dengan cara di panggang. Umumnya roti yang sering dikonsumsi
ialah roti yang terbuat dari endosperm gandum dan digiling halus, sehingga
memiliki indeks glikemik yang tinggi dan rendah akan serat pangan (Borczak et al.
2018). Gandum memiliki protein spesifik (gluten) yang dapat meningkatkan
elastisitas, mutu adonan, volume pengembang, tekstur dan penampilan roti yang
dihasilkan. Roti terbagi menjadi beberapa jenis, salah satunya ialah roti tawar. Roti
tawar merupakan pangan yang telah dikenal secara luas dikalangan masyarakat dan
dikonsumsi oleh berbagai usia. Roti tawar yang terbuat dari tepung dengan
mengandung semua bagian dari biji gandum utuh disebut dengan wholemeal bread.
Di Indonesia gandum merupakan salah satu bahan pangan yang masih
mengandalkan impor. Berdasarkan Statistik Perdagangan Luar Negeri, impor
gandum dan meslin dari Australia ke Indonesia pada tahun 2020 sebesar 830,8 ribu
ton menjadi 4.692,6 ribu ton pada tahun 2021, sehingga kenaikan terjadi sebesar
515,09% (BPS 2021). Pada penelitian ini penggunaan gandum dikurangi dan
disubstitusi menggunakan pangan lokal yaitu kacang Bogor.
Kacang Bogor merupakan pangan yang belum terlalu dikenal dan
dimanfaatkan secara maksimal. Pencampuran kacang Bogor dengan gandum dapat
meningkatkan zat gizi pada roti. Kacang Bogor memiliki asam amino yang lengkap
dan tinggi akan serat pangan. Tingginya serat pangan pada kacang Bogor juga
diharapkan dapat mempengaruhi nilai indeks glikemik dari roti.
Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan rancangan acak
lengkap (RAL). Faktor perlakuan pada penelitian ini terdiri dari faktor tunggal yaitu
perbandingan persentase tepung gandum utuh : tepung kacang Bogor, dengan
formulasi perlakuan yaitu F1 (80%:20%) dan F2 (60%:40%), serta kontrol yaitu F0
(100%:0%). Data hasil penelitian diolah menggunakan software Microsoft Excell
2016 dan IBM SPSS Statistics 20 dengan uji one-way ANOVA yang apabila
terdapat perbedaan dilanjutkan dengan uji lanjut Duncan’s Multiple Range Test
(P<0,05), serta uji Independent Sample T-Test.
Hasil penelitian menunjukan roti tawar wholemeal dengan substitusi 20% dan
40% tepung kacang Bogor dipilih secara subjektif berdasarkan warna, aroma, rasa
dan tekstur sebagai roti perlakuan yang menyerupai kontrol. Roti tawar wholemeal
dengan substitusi tepung kacang Bogor secara karakteristik fisik memiliki hardness
291-387 load/g; weight loss 12,58-12,94 %; volume roti 66-70 cm3/g, volume
spesifik 2,44-2,62 cm3/g; ukuran pori 3,55-3,85 mm; warna yaitu kecerahan (L*)
53,13-54,38, kemerahan (a*) 7,93-8,61; kekuningan (b*) 10,83-11,47. Secara uji
daya terima melalui uji hedonik mendapatkan nilai yaitu warna 4,1-5; aroma 5,2-
5,7; rasa 4,6-4,9; tekstur 4-4,6; aftertaste 4,8-4,9; penerimaan keseluruhan 4,7-5,2.
Secara kimia, roti tawar wholemeal substitusi 20% tepung kacang Bogor memiliki
kandungan air 34,76 %; abu 1,37 %; lemak 5,98 %; protein 11,49 %; karbohidrat
46,41 %; energi 285 kkal; IDF 4,8 %; SDF 2,2 %; dan TDF 6,9 %. Berdasarkan uji
sensori deskriptif metode konsensus, roti tawar wholemeal substitusi 20% tepung
kacang Bogor memiliki aroma yeasty, wheaty, sweet, burnt, beany dengan masingmasing
intensitas sebesar 11; 9; 9; 8; 8 dan rasa berupa yeasty, wheaty, beany, salty,
bitter, sweet dengan intensitas masing-masing sebesar 11; 10; 7; 5; 5; 4. Roti ini
juga memiliki nilai indeks glikemik sebesar 61,1, sedangkan untuk kontrol sebesar
55,1 dengan kategori yang sama yaitu medium.
Roti tawar wholemeal dengan penambahan tepung kacang Bogor memiliki
karakteristik fisik (hardness, volume roti, volume spesifik, ukuran pori, warna),
karakteristik kimia (karbohidrat dan protein) dan daya terima (warna, aroma, rasa,
tekstur, aftertaste, keseluruhan) yang berbeda secara signifikan dibandingkan
dengan kontrol. Roti ini juga memiliki karakteristik fisik (weight loss), dan
kandungan zat gizi (air, abu, lemak, energi, serat larut, serat tidak larut, total serat
pangan) yang tidak berbeda secara signifikan dengan kontrol. Oleh karena itu roti
tawar wholemeal dengan substitusi tepung kacang Bogor dapat menjadi alternatif
pilihan untuk substitusi berbagai produk dan dapat menjadi salah satu pangan
fungsional. | |