View Item 
      •   IPB Repository
      • Dissertations and Theses
      • Master Theses
      • MT - Agriculture
      • View Item
      •   IPB Repository
      • Dissertations and Theses
      • Master Theses
      • MT - Agriculture
      • View Item
      JavaScript is disabled for your browser. Some features of this site may not work without it.

      Status reproduksi Scirpophaga incertulas (Walker) dan interaksi populasinya dengan Cnaphalocrocis medinalis (Guenée) pada pertanaman padi di Karawang, Jawa Barat

      Thumbnail
      View/Open
      Cover (646.9Kb)
      Fulltext (1.779Mb)
      Lampiran (699.1Kb)
      Date
      2024
      Author
      Anggraeni, Flavia Devi
      Anwar, Ruly
      Ratna, Endang Sri
      Metadata
      Show full item record
      Abstract
      Scirpophaga incertulas merupakan hama utama pada pertanaman padi. Faktor siklus hidup dan status reproduksi sangat menentukan fluktuasi populasi hama. Populasi hama S. incertulas di lapangan sering ditemukan tumpang tindih dengan Cnaphalocrocis medinalis yang hidup pada fase vegetatif tanaman. Kedua jenis hama tersebut memicu kompetisi interspesifik dalam memanfaatkan sumberdaya pakan. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis status reproduksi, fekunditas ngengat, monitoring populasi, dan nisbah kelamin S. incertulas, serta interaksi populasi hama S. incertulas dan C. medinalis di lapangan. Penelitian dilaksanakan di Kecamatan Rawamerta, Karawang, Jawa Barat, pada petak contoh yang letaknya disesuaikan dengan kebutuhan percobaan. Setiap dua kurungan perangkap ngengat yang dilengkapi lampu LED, daya 60 watt digunakan untuk memonitor populasi tangkapan ngengat kedua spesies tersebut. Penangkapan serangga dilakukan setiap jam mulai pukul 18.00 sampai 22.00 WIB, masing– masing selama tiga hari berseling selama periode bulan purnama, selama fase persemaian, anakan maksimum, dan padi bunting. Seluruh ngengat betina S. incertulas yang terperangkap di dalam kurungan dipindahkan satu persatu ke dalam baki bersungkup plastik berisi bibit padi berumur ± 21 hari dan dipelihara hingga meletakkan seluruh telurnya. Telur yang menetas dihasilkan ngengat betina kawin maupun tidak menetas dari ngengat betina belum kawin dihitung untuk menentukan status reproduksi, fekunditas, dan keperidiannya. Monitoring populasi ngengat S. incertulas dan C. medinalis dilakukan dengan memasang empat perangkap lampu berkerangka kawat yang ditempeli lembaran mika plastik berperekat. Pemerangkapan dilakukan selama 2 jam mulai pukul 19.00 sampai 21.00 WIB dalam periode yang sama seperti diuraikan di atas. Jumlah ngengat yang terperangkap pada lembaran perekat dihitung dan diamati nisbah kelaminnya. Interaksi populasi larva S. incertulas dan C. medinalis dilakukan pada 10 plot pengamatan dalam satu hamparan lahan petani. Gejala kerusakan tanaman oleh kedua hama diamati secara langsung setiap 14 hari sekali dimulai padi berumur 14 hingga 70 HST. Interaksi populasi antara kedua hama dihitung menggunakan analisis regresi linier berganda dengan faktor umur tanaman sebagai faktor kedua yang mempengaruhinya. Jumlah total ngengat betina S. incertulas yang tertangkap selama tiga fase pengamatan sebanyak 216 individu dan jumlah total ngengat tertinggi sebanyak 86 individu ditemukan pada fase padi bunting. Tingkat populasi ngengat belum kawin dan kawin yang paling banyak terperangkap berturut–turut sebanyak 5,99 dan 6,91% terjadi pada pemerangkapan pukul 19.00 WIB. Selain itu, tingkat populasi ngengat betina pasca–oviposisi hasil pemerangkapan selama satu musim tanam paling banyak 17,5% terjadi pada pukul 19.00 WIB. Rata–rata fekunditas tertinggi sebanyak 57 ± 19 butir dihasilkan oleh ngengat yang terperangkap pada pukul 22.00 WIB di fase persemaian. Kemampuan penetasan telur (keperidian) tertinggi sebesar 90 ± 2,1% diperoleh dari hasil tangkapan ngengat pukul 21.00 WIB pada fase padi bunting. Populasi ngengat S. incertulas relatif lebih dominan berturut–turut sebanyak 36, 68, 38 individu dibandingkan C. medinalis sebesar 29, 23, 18 individu masing–masing ditemukan pada fase persemaian, anakan maksimum dan padi bunting. Perolehan nisbah kelamin jantan berbanding betina hasil tangkapan ngengat S. incertulas dan C. medinalis berturut–turut sebesar 1:2,6 dan 1,8:1. Interaksi populasi antar dua spesies S. incertulas dan C. medinalis merupakan simbiosis amensalisme, ditunjukkan dengan hasil persamaan regresi linier Y = 0,1012 – 0,0239X1 – 0,0011X2 yang menjelaskan bahwa serangan populasi S. incertulas dan umur tanaman padi memberikan pengaruh yang berkebalikan terhadap serangan populasi C. medinalis.
      URI
      http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/158374
      Collections
      • MT - Agriculture [3994]

      Copyright © 2020 Library of IPB University
      All rights reserved
      Contact Us | Send Feedback
      Indonesia DSpace Group 
      IPB University Scientific Repository
      UIN Syarif Hidayatullah Institutional Repository
      Universitas Jember Digital Repository
        

       

      Browse

      All of IPB RepositoryCollectionsBy Issue DateAuthorsTitlesSubjectsThis CollectionBy Issue DateAuthorsTitlesSubjects

      My Account

      Login

      Application

      google store

      Copyright © 2020 Library of IPB University
      All rights reserved
      Contact Us | Send Feedback
      Indonesia DSpace Group 
      IPB University Scientific Repository
      UIN Syarif Hidayatullah Institutional Repository
      Universitas Jember Digital Repository