Show simple item record

dc.contributor.advisorBriawan, Dodik
dc.contributor.advisorDewi, Mira
dc.contributor.authorRahmasari, Nisya Cesaryani
dc.date.accessioned2024-08-23T00:03:35Z
dc.date.available2024-08-23T00:03:35Z
dc.date.issued2024
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/158287
dc.description.abstractPenambahan usia dapat memengaruhi kondisi seseorang baik pada kondisi psikologis maupun fisiologis (Fatmah 2010). Wanita yang memasuki usia menopause beresiko mengalami berbagai keluhan dan permasalahan kesehatan, salah satunya adalah hiperurisemia, yaitu suatu kondisi dimana terjadinya peningkatan kadar asam urat darah diatas normal (Sutanto 2013). Seseorang dikatakan hiperurisemia jika kadar asam urat pada laki-laki lebih dari 7,0 mg/dL dan pada perempuan lebih dari 6,0 mg/dL (Misnadiarly 2008). Berdasarkan hasil studi diketahui bahwa peningkatan kadar asam urat dapat terjadi pada usia dewasa, yaitu pada pria diatas 30 tahun dan pada wanita setelah memasuki masa menopause dikarenakan terjadinya penurunan produksi hormon estrogen (Zhang 2013). Seseorang yang menderita hiperurisemia berisiko 1,5–3 kali lipat dapat terserang penyakit kardiovaskular (Jin et al. 2013). Proporsi penderita hiperurisemia atau kelebihan asam urat di dunia mengalami kenaikan hingga dua kali lipat dari tahun 1990 hingga 2010 (Jaliana et al. 2018). Di beberapa negara kawasan Asia Tenggara, proporsi kejadian hiperurisemia di Indonesia sebesar 18%, Filipina 25% dan Thailand sebesar 11% (Smith dan March 2015). Di Indonesia kejadian hiperurisemia menduduki urutan kedua setelah osteoarthritis yaitu diperkirakan 1,6-13,6% / 100.000 orang, proporsi ini kemungkinan besar akan meningkat seiring bertambahnya usia (Syarifah 2018). Berdasarkan data Riskesdas tahun 2013 proporsi penyakit sendi pada usia 55–64 tahun sebesar 45% (Riset Kesehatan Dasar 2013). Proporsi penderita asam urat pada usia di bawah 34 tahun sebesar 32% sedangkan pada usia besar dari 34 tahun sebesar 68%, dari 81% penderita asam urat di Indonesia hanya 24% penderita yang berobat ke dokter selebihnya hanya mengkonsumsi obat-obatan pereda nyeri yang dijual bebas dipasaran (Jaliana et al. 2018). Faktor risiko yang memengaruhi kadar asam urat dapat digolongkan menjadi dua faktor yaitu faktor yang tidak bisa di kontrol (umur, jenis kelamin dan genetik) dan faktor yang bisa di kontrol (konsumsi pangan, konsumsi alkohol, aktivitas fisik dan indeks massa tubuh) (Syarifah 2018). Penelitian terkait hubungan status menopause, asupan purin, indeks massa tubuh dengan kadar asam urat di dunia belum banyak dilakukan, akan tetapi dalam etnis yang berbeda akan mendapatkan hasil yang berbeda. Berdasarkan penelitian terkait hubungan status menopause, asupan purin, indeks massa tubuh dengan kadar asam yang dilakukan di Indonesia, belum ada penelitian terkait yang mengambil beberapa daerah dan rata-rata hanya berfokus pada satu daerah saja. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih spesifik terkait proporsi dan faktor yang berhubungan dengan kejadian hiperurisemia pada wanita di Indonesia. Desain yang digunakan pada penelitian ini adalah cross sectional study. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September – Desember 2023 di 10 provinsi di Indonesia. Subjek pada penelitian ini didapatkan dari partisipan yang memenuhi kriteria inklusi dari penelitian yang bekerjasama dengan SEAFAST Center IPB. Jenis data yang dikumpulkan pada penelitian ini adalah berupa data primer dan data sekunder. Data primer yang digunakan adalah data status menopause, asupan purin dan kadar asam urat. Data tersebut diperoleh dengan menggunakan metode wawancara langsung oleh peneliti atau enumerator terlatih. Data sekunder lainnya meliputi karakteristik subjek, indeks massa tubuh, asupan energi, protein, lemak dan karbohidrat didapatkan dari penelitian SEAFAST Center IPB. Analisis data menggunakan IBM SPSS versi 22.0 dengan menggunakan uji deskriptif, Spearman, Chi Square dan uji regresi logistik. Jumlah subjek yang yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi pada penelitian ini sebanyak 606 orang. Terdapat sebanyak 26,1% subjek berada pada kelompok usia 41-54 tahun sebagian besar subjek berasal dari provinsi Jawa Barat (23,1%). Tingkat pendidikan subjek dalam penelitian ini mayoritas berpendidikan SMA/SMK (50,3%) dengan pekerjaan subjek didominasi sebagai ibu rumah tangga (43,6%). Dalam penelitian ini tidak ada subjek yang memiliki riwayat asam urat maupun ginjal, akan tetapi terdapat sebanyak 28,9% subjek memiliki keluarga yang menderita asam urat / ginjal. Subjek yang menderita hiperurisemia pada penelitian ini sebanyak 21,1%. Kejadian hiperurisemia pada penelitian ini banyak diderita oleh kelompok usia 41-54 tahun sebanyak 25,3%. Sebanyak 11,4% subjek telah memasuki masa menopause, yang dalam penelitian ini kebanyakan subjek mengalami menopause saat memasuki usia 41-54 tahun (39,9%). Rata-rata indeks massa tubuh subjek sebesar 24,96 ± 6,41 kg/m2 dengan subjek yang berkategori obesitas sebanyak 42,9%, overweight 12,2%, normal sebesar 38,6% dan kurang sebesar 6,3%. Subjek yang mengalami obesitas paling banyak ditemukan pada rentang usia 41-54 tahun (68,4%). Tingkat kecukupan gizi makro subjek lebih dari 50% masih berkategori kurang. Asupan purin subjek dalam penelitian ini hanya 1,5% berkategori lebih. Hasil uji bivariat didapatkan hubungan yang signifikan antara status menopause (p=0,031), indeks massa tubuh (p<0,001;r=0,193). Variabel asupan purin berdasarkan uji bivariat dinyatakan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara asupan purin dengan kejadian hiperurisemia (p>0,05). Hasil uji multivariat dinyatakan bahwa variabel indeks massa tubuh yang paling berhubungan dengan kejadian hiperurisemia (p<0,001) dengan OR: 2,310 CI 95%: 1,464-3,646, dapat diartikan bahwa apabila seseorang memiliki indeks massa tubuh tinggi (obesitas) maka akan berisiko mengalami kejadian hiperurisemia sebesar 2,310 kali dibandingkan dengan orang yang berindeks massa tubuh normal. Oleh karena itu, berdasarkan temuan dalam penelitian ini disarankan tindakan preventif nyata yang bisa diberikan tenaga kesehatan yaitu pemberian penyuluhan terkait menjaga berat badan agar tetap ideal dan pemberian informasi terkait hubungan asam urat dengan risiko kejadian penyakit degeneratif.
dc.description.sponsorship
dc.language.isoid
dc.publisherIPB Universityid
dc.titleHubungan antara Status Menopause, Asupan Purin dan Indeks Massa Tubuh dengan Kejadian Hiperurisemia pada Wanitaid
dc.title.alternative
dc.typeTesis
dc.subject.keywordAsupan Purinid
dc.subject.keywordHiperurisemiaid
dc.subject.keywordIndeks Massa Tubuhid
dc.subject.keywordStatus Menopauseid
dc.subject.keywordbody mass index
dc.subject.keywordhyperuricemia
dc.subject.keywordmenopausal status
dc.subject.keywordpurine intake


Files in this item

Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record