Show simple item record

dc.contributor.advisorNurrochmat, Dodik Ridho
dc.contributor.authorPutri, Riski Septia
dc.date.accessioned2024-08-13T04:15:20Z
dc.date.available2024-08-13T04:15:20Z
dc.date.issued2024
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/157259
dc.description.abstractPenurunan harga jual karet akibat fluktuasi pasar global mendorong petani di Desa Saujung Giling Manik, Kecamatan Embaloh Hulu, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat untuk beralih dari budidaya karet ke budidaya kratom. Tanaman kratom mulai dilirik sebagai komoditas yang menjanjikan di masyarakat karena memiliki harga yang lebih tinggi dibanding karet. Selain itu permintaan untuk ekspor kratom ke luar negeri terus meningkat dan belum dapat dipenuhi oleh eksportir. Penelitian ini menganalisis usaha budidaya kratom di Desa Saujung Giling Manik dibandingkan dengan budidaya karet dengan mempertimbangkan aspek finansial seperti NPV, IRR, BCR, dan payback period. Hasil perbandingan dari kedua usaha menunjukkan bahwa usaha budidaya kratom memiliki keuntungan yang lebih besar dibandingkan dengan usaha budidaya karet. Usaha budidaya kratom dalam jangka waktu 10 tahun dengan luasan 1 ha menghasilkan keuntungan bersih sebesar Rp 195.746.220,47 dengan tingkat pengembalian sebesar 113%, rasio manfaat biaya sebesar 2,09 serta pengembalian modal usaha 1 tahun.
dc.description.abstractThe decline in rubber selling prices due to global market fluctuations has encouraged farmers in Saujung Giling Manik Village, Embaloh Hulu District, Kapuas Hulu Regency, West Kalimantan, to switch from rubber cultivation to kratom cultivation. The kratom plant is starting to be looked at as a promising commodity in the community because it has a higher price than rubber. In addition, the demand for kratom exports abroad continues to increase and cannot be fulfilled by exporters. This study analyzed kratom cultivation in Saujung Giling Manik Village compared to rubber cultivation by considering financial aspects such as NPV, IRR, BCR, and payback period. The results of the comparison of the two businesses show that kratom cultivation has a greater profit than rubber cultivation. The kratom cultivation business in 10 years with an area of 1 ha creates a net benefit of Rp 195.746.220,47 with a rate of return of 113%, a cost-benefit ratio of 2.09, and a 1-year payback period.
dc.description.sponsorship
dc.language.isoid
dc.publisherIPB Universityid
dc.titleAnalisis Finansial Budidaya Kratom (Mitragyna speciosa) sebagai Komoditas Baru Berprospek: Studi Perbandingan dengan Budidaya Karetid
dc.title.alternativeFinancial Analysis of Kratom (Mitragyna speciosa) Cultivation as a Prospective New Commodity: A Comparative Study with Rubber Cultivation
dc.typeSkripsi
dc.subject.keywordanalisis finansialid
dc.subject.keywordbudidaya kratomid
dc.subject.keywordbudidaya karetid


Files in this item

Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record