| dc.description.abstract | Udang Windu sebagai komoditas eksport andalan dari sektor perikanan Indonesia memiliki berbagai kendala. Salah satu dari kendala yang dihadapi oleh udang windu adalah penyakit. Penyakit yang sampai sekarang masih menjadi kendala terbesar adalah penyakit white spot. Penyakit ini disebabkan oleh inveksi virus white spot, dan dapat menyebabkan tingkat mortalitas hingga 100% dalam waktu 3-5 hari setelah kemunculan bintik putih pada tubuh udang. Oleh karena itu perlu didapatkan informasi mengenai pengaruh virus terhadap udang dengan konsentrasi 20-23 µg/ml, dengan melihat timbulnya gejala klinis, perubahan tingkah laku, dan karakteristik hitologis sel udang.
Penelitian dilakukan pada bulan Juni hingga Juli 2001. Penelitian dilakukan didua tempat. Untuk tahap penginfeksian, pemeliharaan, serta pengamatan morfologi dan tingkah laku dilakukan di Pusat Studi Ilmu kelautan (PSIK) IPB di Ancol Jakarta. Sedangkan tahap pembuatan preparat histologi dan pengamatannya dilakukan di Laboratorium Kesehatan Ikan, Jurusan Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan,IPB, Bogor.
Benur udang yang digunakan berasal dari balai pembenihan udang rakyat di daerah Tanjung Pasir, Tangerang Provinsi Banten. Udang yang dipakai berukuran stadia Pl-17 yang telah diskrining terlebih dahulu dengan menggunakan larutan formalin 100 ppm. Inokulum yang dipakai berasal dari BALITVET (Balai Penelitian Veteriner) Bogor, dengan konsentrasi 20-23 µg/ml. Aklimatisasi udang dilakukan selama 1 minggu sebelum penginfeksian. Penginfeksian udang dilakukan secara perendaman dengan lama 0 menit (hanya dicelup beberapa detik), 240 menit, dan 270 menit dengan kepadatan 50 ekor per wadah pemeliharaan. Pakan yang diberikan berupa Artemia dan pelet udang yang telah digerus halus. ... | id |