Pengaruh lama perendaman embrio ikan mas (Cyprinus carpio L.) dalam larutan 17@-metiltestosteron terhadap nisbah kelaminnya
Abstract
Ikan mas betina memiliki laju pertumbuhan 15% lebih cepat dari jantannya. Oleh karena itu dalam usaha budidaya diinginkan untuk memperoleh populasi monoseks betina. Usaha yang dapat dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut adalah dengan mengawinkan ikan mas betina dengan ikan mas jantan yang bergenotip betina. Jantan yang bergenotip betina ini dapat diperoleh dengan cara pemberian hormon 17x-metiltestosteron sebelum terdiferensiasinya gonad (fase embrio). Keberhasilan usaha ini dipengaruhi oleh lama waktu pemberian hormon. Oleh karena itu percobaan ini ditujukan untuk mengetahui pengaruh lama perendaman embrio ikan mas dalam larutan 17x-metiltestosteron selama 4 jam, 6 jam, dan 8 jam terhadap nisbah kelaminnya.
Percobaan dilaksanakan di Laboratorium Pengembangbiakkan dan Genetika Ikan, kolam percobaan lama di Babakan,
sejak bulan Januari hingga Agustus 1996. Telur yang
digunakan berasal dari hasil perkawinan tetua jantan dan
Detina normal. Telur tersebut kemudian ditebar di lempeng
kaca dan sebagian ditebar di cawan petri untuk mengamati
Terjadinya fase bintik mata. Setelah tercapai fase bintik
mata, maka dilakukan proses perlakuan. Adapun kontrol
dilakukan tanpa proses perendaman. Setelah perendaman
Selesai maka dilakukan pemeliharaan dalam air tanpa hormon
mingga dihasilkan ikan yang siap dianalisis gonadnya.
Analisis gonad dilakukan melalui pembuatan preparasi
histologis dengan pewarnaan asetokarmin. Parameter yang
diamati meliputi persentase jantan, betina, dan hermafrodit
Sebagai parameter utama, serta daya tetas dan tingkat
kelangsungan hidup ikan umur empat bulan sebagai parameter
penunjang. Hasil analisis menunjukkan bahwa persentase jantan tertinggi diperoleh pada perlakuan perendaman selama enam jam sebesar 85,56%. Sedangkan perlakuan perendaman selama 4 jam, 8 jam, dan kontrol masing-masing menghasilkan jantan sebesar 68,89%, 75,56%, dan 57,78%. Analisis statistik menunjukan bahwa hanya perendaman selama 6 jam yang mampu menghasilkan persentase jantan yang lebih besar dari kontrol (P > 0,01). Adapun persentase betina yang diperoleh adalah sebesar 17,78%, 4,44%, dan 8,89% masing- masing untuk perendaman selama 4 jam, 6 jam, dan 8 jam. Sedangkan kontrol menghasilkan persentase betina sebesar 42,22%. Nilai betina yang diperoleh pada perlakuan perendaman seluruhnya berbeda dengan kontrol (P > 0,05). Persentase hermafrodit yang diperoleh pada perlakuan perendaman 4 jam, 6 jam, dan 8 jam masing-masing sebesar 13,33%, 10%, dan 15,56%.
Nilai daya tetas kontrol, untuk perendaman 4 jam, 6 jam, dan 8 jam masing-masing sebesar 87,96%, 86,45%, 89,46%, dan 88,82%. Nilai tersebut tidak berbeda nyata secara statistik. Sedangkan nilai kelangsungan hidup sebesar 57,95%, 47,01%, 33,41%, dan 33,67% untuk kontrol, perendaman 4 jam, 6 jam, dan 8 jam.
