| dc.description.abstract | Bagi suatu usaha pertanian, kenadiran gulma selalu menimbulkan masalah. Adanya gulma mengakibatkan pertumbuhan tanaman pertanian tidak berkembang secara optimum. Efek gangguan gulma dapat dilihat secara nyata pada hasil panen (Bowen, J.E. and Kratky, B.A., 1980).
Herbisida merupakan salah satu bahan yang erektif un- tuk pengendalian gulma. Penggunaan herbisida di daerah tropis berkembang dengan pesat untuk menggantikan ataupun melengkapi teknik pengendalian gulma secara manual maupun mekanis, terutama di perkebunan-perkebunan (Rochecouste, E., 1971).
Dalam penggunaan "post emergence treatment", pemberian herbisida secara konvensional (dengan sprayer) umumnya dapat menimbulkan resiko keracunan pada tanaman pertanian akibat kontak antara herbisida dengan tanaman, baik secara langsung maupun akibat dari efek partikel terbang (drift). Konsep pengusapan, sebagai salah satu cara memberikan herbisida, mulai banyak dikembangkan sebagai suatu teknik pemberian herbisida yang bebas partikel terbang. Alat yang umum digunakan dalam teknik pengusapan ini adalah "rope wick applicator" dan "carpetwiper applicator"
(Cooper, A.S.; Deutsch, A.E.; Fraser, F; Burrill, L.C., 1982). Dalam operasinya alat-alat tersebut digandengkan dengan traktor, sehingga biaya operasinya tinggi. | id |