Show simple item record

dc.contributor.advisorKuncahyo, Budi
dc.contributor.authorSidharta, Arnaldo Hendrix
dc.date.accessioned2024-05-02T01:52:26Z
dc.date.available2024-05-02T01:52:26Z
dc.date.issued2012
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/148076
dc.description.abstractTingginya permintaan pasar akan kebutuhan kayu yang terus meningkat serta mendukung pemerintah dalam penurunan emisi karbon, maka perlu dilakukan suatu simulasi guna menentukan formula yang tepat dalam pengelolaan hutan. Formula tersebut diterapkan ketika kebijakan moratorium penebangan hutan berlaku di Indonesia. Penelitian ini mensimulasikan beberapa skenario bentuk pengelolaan hutan dengan memperhatikan manfaat selain kayu, karena baik kayu, karbon dan hasil hutan bukan kayu pada akhir-akhir ini memiliki pangsa pasar yang tinggi. Skenario tersebut terdiri dari skenario pengelolaan hutan menggunakan sistem TPTI, skenario pengelolaan hutan berbasis karbon, skenario pengelolaan hutan kombinasi karbon dengan sarang semut, skenario pengelolaan hutan kombinasi karbon dengan usaha minyak lawang, dan skenario pengelolaan hutan kombinasi karbon dengan usaha sagu. Bentuk pengelolaan hutan yang tepat dapat memberikan manfaat dari segi ekonomi, ekologi, dan sosial. Hasil simulasi skenario, menunjukan nilai kelayakan usaha pada masingmasing skenario memiliki net present value (NPV) positif, benefit cost ratio (BCR) lebih dari 1 dan internal rate return (IRR) lebih dari tingkat suku bunga yang digunakan. Hal tersebut menunjukan bahwa skenario masing-masing usaha layak untuk dijalankan. Nilai NPV, BCR dan IRR tertinggi ada pada skenario pengelolaan hutan kombinasi karbon dan pemanfaatan sagu, dengan nilai NPV sebesar Rp. 25.170.588,59. Nilai ini menunjukan bahwa biaya yang dikeluarkan dalam kegiatan pengelolaan akan memberikan keuntungan selama umur usaha 5 tahun menurut nilai sekarang. Nilai BCR pada skenario pengelolaan hutan kombinasi karbon dan pemanfaatan sagu sebesar 1,47. Keadaan tersebut menggambarkan bahwa manfaat yang diperoleh selama umur proyek sebesar nilai BCR lebih besar dari biaya yang dikeluarkan. Sedangkan untuk nilai IRR pada skenario pengelolaan hutan kombinasi karbon dengan pengusahaan sagu sebesar 28 % berada diatas suku bunga bank yang digunakan yaitu 10%. Nilai tersebut menujukan kriteria kelayakan usaha skenario pengelolaan hutan terbaik secara finansial ada pada skenario kombinasi pengelolaan hutan berbasis karbon dengan pemanfaatan sagu. Hal ini juga didukung dengan tingkat kelestarian struktur tegakan yang baik dan memiliki standing stock yang besar pada siklus tebang berikutnya karena pemanfaatan kayu dihentikan sementara dan beralih ke pemanfaatan jasa penyerapan karbon.id
dc.language.isoidid
dc.publisherIPB Universityid
dc.subject.ddcForestryid
dc.subject.ddcForest Managementid
dc.subject.ddcMamberamo Rayaid
dc.subject.ddcPapuaid
dc.titleModel Simulasi Pengelolaan Hutan Berbasis Karbon (Studi Kasus di PT. Mamberamo Alasmandiri, Kabupaten Mamberamo Raya, Provinsi Papua)id
dc.typeUndergraduate Thesisid
dc.subject.keywordSimulation Modelid
dc.subject.keywordForest Managementid
dc.subject.keywordIncome Combinationid
dc.subject.keywordFinancial Analysisid
dc.subject.keywordCarbonid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record