Show simple item record

dc.contributor.advisorTriwidodo, Hermanu
dc.contributor.advisorWidodo
dc.contributor.authorAz Zahra, Millenia Dzikra
dc.date.accessioned2024-03-31T23:58:36Z
dc.date.available2024-03-31T23:58:36Z
dc.date.issued2024-03-30
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/144246
dc.description.abstractKecamatan Sungai Mandau, Kabupaten Siak, Provinsi Riau merupakan kawasan gambut yang dibuka pada tahun 2010 sebagai food estate tanaman padi. Kondisi agroekosistem lahan gambut yang rapuh (fragile) membutuhkan teknologi pengendalian OPT yang seminimal mungkin menimbulkan dampak negatif. Lahan gambut memiliki faktor pembatas seperti kesuburan rendah, pH tanah masam, kekurangan unsur hara dan kemampuan petani yang rendah dalam mengelola lahan gambut. Pendekatan budi daya dengan pengelolaan lingkungan dan penyehatan tanaman melalui pengendalian hama terpadu (PHT) dapat menjadi solusi dalam melakukan budi daya dan mengendalikan organisme pengganggu tanaman (OPT). Memasyarakatkan PHT memerlukan kelembagaan petani yang baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji faktor agronomi, kesesuaian lahan, pengelolaan hama, dan kelembagaan petani dalam konteks pengembangan food estate di Sungai Mandau. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Agustus 2022 hingga April 2023. Pengumpulan data dibagi atas data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dengan melakukan analisis tanah dan air, pengamatan OPT di lapangan serta in-depth interview (wawancara mendalam). Analisis tanah dan air dilakukan dengan mengambil sampel tanah dan air di lokasi food estate Sungai Mandau. Pengamatan OPT dilakukan pada 25 lahan sawah petani yang meliputi fase vegetatif dan generatif. In-depth interview dilakukan untuk mendapatkan pemahaman tentang pengetahuan dan praktik yang dilakukan oleh petani responden di kawasan food estate Sungai Mandau. Data sekunder diperoleh dari berbagai studi literatur relevan yang dapat mendukung penelitian. Lahan food estate Kecamatan Sungai Mandau termasuk dalam kelas kesesuaian S3 (kesesuaian terendah) untuk budi daya padi dengan faktor penghambat kemasaman tanah (pH) dan curah hujan tahunan. Lahan food estate termasuk lahan gambut saprik hemik dengan pH 3,43 yang dapat menghambat serapan hara oleh tanaman dikarenakan oksidasi kandungan pirit. Jenis OPT yang paling banyak menyerang pada fase vegetatif maupun generatif adalah penggerek batang padi kuning (Scirpophaga incertulas), lembing hitam (Scotinophara coarctata) dan bercak daun padi (Cercospora oryzae). Sedangkan OPT yang paling merugikan bagi petani adalah tikus, burung serta gulma. Praktik pengelolaan OPT masih jauh dari konsep PHT. Praktik budi daya tidak sepenuhnya mendukung PHT dan tidak sesuai dengan kondisi lahan. Peran pemerintah tidak optimal kepada petani dan lahan pengembangan food estate. Pengetahuan petani terbatas disebabkan peran yang kurang efektif dari penyuluh pertanian lapangan (PPL) dan taman teknologi pertanian (TTP). Lembaga yang berperan besar terhadap petani adalah NGO (non-governmental organization) dan pemodal. Meningkatkan pengetahuan petani terhadap PHT dapat membantu petani lebih mandiri dan melakukan budi daya sesuai dengan kondisi lahan serta dapat terlaksana jika seluruh pemangku kepentingan bekerja bersama.id
dc.language.isoidid
dc.publisherIPB Universityid
dc.titlePelembagaan Pengendalian Hama Terpadu di Kawasan Pengembangan Food Estate, Kecamatan Sungai Mandau, Kabupaten Siak, Riauid
dc.title.alternativeInstitutionalization of Integrated Pest Management in the Food Estate Development Area, Sungai Mandau Subdistrict, Siak Regency, Riau.id
dc.typeThesisid
dc.subject.keywordfarmer institutionsid
dc.subject.keywordland suitabilityid
dc.subject.keywordrice cultivationid


Files in this item

Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record