| dc.description.abstract | Ikan hias merupakan salah satu komoditas perikanan yang memiliki nilai ekonomis tinggi dan termasuk komoditas ekspor di Indonesia. Salah satu jenis ikan hias air tawar yang dibudidayakan dan memiliki peluang pasar yang bagus adalah ikan neon tetra (Paracheirodon innesi). Namun demikian, ikan hias khususnya ikan hias air tawar masih diproduksi petani dalam skala kecil. Para petani ikan umumnya memiliki sarana dan prasarana produksi serta sumber air tawar yang terbatas dan semakin berkurang sehingga produksi yang dihasilkan rendah. Oleh sebab itu untuk menanggulangi masalah-masalah tersebut dilakukan peningkatan padat penebaran ikan agar efisiensi lahan dan air yang digunakan meningkat, serta peningkatan nilai produksi sehingga produksi menjadi kontinyu dan dapat memenuhi permintaan pasar. Agar kualitas air tetap terjaga dengan baik selama pemeliharaan maka digunakan sistem resirkulasi
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus hingga bulan September 2005 bertempat di Teaching Farm, Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Insitut Pertanian Bogor. Ikan yang digunakan adalah ikan neon tetra yang berukuran S dengan panjang rata-rata 1,04±0,043 cm. Ikan ini berasal dari petani didaerah Parung, Bogor. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan empat perlakuan, yaitu padat tebar 25, 50, 75 dan 100 ekor/liter dan masing-masing menggunakan 3 kali ulangan. Wadah yang digunakan adalah akuarium 20 cm x 20 cm x 30 cm yang diisi air 10 liter sebanyak 12 buah yang dilengkapi dengan filter yang dirancang dalam sistem resirkulasi.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa beberapa nilai yang diuji seperti panjang, laju pertumbuhan panjang dan koefisien keragaman ikan neon tetra menunjukkan nilai yang tidak berbeda nyata antar perlakuan. Sedangkan nilai kelangsungan hidup terendah terdapat pada padat tebar 100 ekor/liter yaitu 66,04% dan tertinggi pada padat tebar 25 ekor/liter sebesar 85,6%. Namun demikian, jumlah kepadatan akhir tertinggi dihasilkan pada padat tebar 100 ekor/liter sebanyak 68,57ekor/liter sehingga memberikan keuntungan sebesar Rp 8.469.000,00/m³ sedangkan kepadatan akhir terendah pada padat penebaran 25 ekor/liter yaitu 20,47 ekor/liter dengan keuntungan hanya sebesar Rp 2.099.500,00/m³ Hal tersebut menunjukan bahwa produksi yang paling tinggi dihasilkan pada padat penebaran 100 ekor/liter. | id |