Show simple item record

dc.contributor.advisorKumalasari, Nur Rochmah
dc.contributor.advisorAbdullah, Luki
dc.contributor.authorZuljisman
dc.date.accessioned2023-10-25T10:42:52Z
dc.date.available2023-10-25T10:42:52Z
dc.date.issued2023
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/128371
dc.description.abstractPengembangan sapi peranakan ongole (PO) di Kabupaten Gunungkidul ditentukan oleh penyediaan hijauan pakan ternak yang cukup secara jumlah dan kualitasnya. Namun ketersediaan hijauan pakan ternak dihadapkan kondisi daerah/lahan kering yang mempengaruhi produktivitas ternak dan penyediaan hijauan pakan ternak di lapangan. Oleh karena itu dilakukan penelitian ini dengan tujuan mengevaluasi faktor-faktor yang berpengaruh pada sistem penyediaan hijauan pakan dan membuat model penyediaan hijauan pakan di Kabupaten Gunungkidul. Penelitian ini dilakukan secara purpossive sampling pada perwakilan anggota kelompok. Pendekatan sistem dinamik digunakan untuk merancang model ketersediaan hijauan pakan ternak dengan memanfaatkan data primer dan data sekunder sebagai dasar analisis. Hasil penelitian menunjukan bahwa salah satu potensi dalam pemenuhan kebutuhan protein hewani di Kabupaten Gunungkidul adalah wilayah yang luas. Berdasarkan perkembangan populasi ternak ruminansia dari tahun ke tahun, laju pertambahan populasi sapi potong dari tahun 2014-2020 sebanyak 0,9 % (BPS). Peningkatan populasi disebabkan besarnya angka tingkat kelahiran (57,51 %), dengan asumsi pemenuhan kebutuhan hijauan sapi potong dapat terpenuhi sebanyak 739.860,80 ton bahan kering (BK) hingga tahun 2045. Hasil analisis menunjukan total produksi hijauan hasil produk limbah pertanian pada tahun 2014 hingga tahun 2020 mengalami fluktuasi produksi seiring dengan perubahan produksi hasil utama pertanian. Produksi hasil utama pertanian seperti padi, jagung kacang tanah, kacang kedelai, ubi jalar dan ubi kayusecara umum mengalami penurunan. Namun potensi produksi BK hijauan pakan yang dihasilkan pada tahun 2020 sebanyak 468.943 ton, dapat memenuhi kebutuhan sapi potong sebanyak 141.567,7 ST (satuan ternak). Kondisi ini masih memungkinkan untuk menambah populasi sapi potong sebanyak 33.471,7 ST. Simulasi model ketersediaan hijauan pakan terpenuhi hingga tahun 2024 dan selanjutnya mengalami penurunan hingga tahun 2045 dengan ketersediaan menjadi -356.867,88 ton. Simulasi model ketersediaan hijauan pakan ini sudah mengoptimalkan semua potensi lahan pertanian baik lahan sawah (padi), lahan tanaman jagung, lahan tanaman kacang tanah, lahan tanaman kacang kedelai dan potensi lahan kosong (kering) di Kabupaten Gunungkidul. Kondisi ini mengakibatkan perkembangan populasi sapi potong di Kabupaten Gunungkidul akan mengalami penurunan menjadi 164.727,59 ST pada tahun 2045. Berdasarkan uji Mean Absolute Percentage Error (MAPE) terhadap data sapi potong pada tahun 2014–2020 untuk ternak sapi potong diperoleh nilai 5,27 % yang menunjukkan perubahan sebesar 5 % dari simulasi. Berdasarkan penelitian bahwa penyediaan hijauan pakan sapi potong dipengaruhi oleh produksi biomassa hijauan dari tanaman pangan, lahan kering serta luasannya pada masing- masing lahan. Simulasi potensi produksi hijauan di Kabupaten Gunungkidul hanya mampu hingga tahun 2024 dan mengalami penurunan hingga tahun 2045.id
dc.language.isoidid
dc.publisherIPB Universityid
dc.titlePemodelan Ketersediaan Hijauan Pakan Mendukung Wilayah Sumber Bibit Sapi Peranakan Ongole.id
dc.typeThesisid
dc.subject.keywordAvailabilityid
dc.subject.keywordmodelingid
dc.subject.keywordforageid


Files in this item

Thumbnail
Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record