View Item 
      •   IPB Repository
      • Dissertations and Theses
      • Master Theses
      • MT - Animal Science
      • View Item
      •   IPB Repository
      • Dissertations and Theses
      • Master Theses
      • MT - Animal Science
      • View Item
      JavaScript is disabled for your browser. Some features of this site may not work without it.

      Penggunaan zeolit dan arang batok dalam ransum terhadap prestasi produksi dan kondisi hati serta usus halus itik Mojosari jantan

      Thumbnail
      View/Open
      Full text (2.767Mb)
      Date
      1994
      Author
      Tanuwiria, U. Hidayat
      Sutardi, Toha
      Sofyan, Lili Amalia
      Iskandar, Sofjan
      Metadata
      Show full item record
      Abstract
      Penelitian ini membandingkan Zeolit yang memiliki sifat penyerap dan penukar kation dengan Arang Batok (tempurung kelapa) yang memiliki sifat penyerap di dalam ransum itik dan pengaruhnya terhadap amonia dan jumlah bakteri usus halus, kondisi hati serta akibatnya pada pertumbuhan. Ransum percobaan adalah ransum komersial fase starter. Sebanyak 420 ekor itik jantan umur sehari diberi perlakuan faktorial 2x7. Faktor A = penundaan pemakaian ransum; a, mengalami penundaan dan a₂ tidak ditunda selama 6 minggu. Ransum tak ditunda mengandung aflatoksin G1 154 mg/ton dan aflatoksin G2 12 mg/ton; ransum ditunda mengandung aflatoksin G1 204 mg/ton dan aflaktoksin G2 16 mg/ton. Faktor B adalah suplementasi zeolit atau arang batok yang masing-masing terdiri atas 0% suplemen, 1,5%, 3,0% dan 4,5% zeolit, 1,5%, 3,0%, dan 4,5% arang batok. Zeolit maupun arang batok sebelumnya dipanaskan dalam otoklaf pada suhu 121 °C dengan tekanan 15 - 20 atmosfir selama 20 menit, kemudian dikeringkan dalam oven pada suhu 105 °C. Kadar amonia digesta jejunum itik umur 10 minggu yang memperoleh ransum yang tidak ditunda, lebih tinggi (P<0.01) daripada yang ditunda (180 Vs 141 mg/L). Perbedaan itu karena protein ransum yang ditunda mengalami denaturasi oleh panas katabolisme nutrien organik ransum. Namun, tampak adanya interaksi penundaan Vs suplemen (P<0.05) yang berpola sama, baik untuk kadar amonia, jumlah bakteri usus, maupun bobot hati. Pada ransum yang tidak mengalami penundaan, zeolit menghasilkan amonia lebih sedikit (177 Vs 180 ml/L), jumlah bakteri lebih sedikit..dst
      URI
      http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/120167
      Collections
      • MT - Animal Science [1294]

      Copyright © 2020 Library of IPB University
      All rights reserved
      Contact Us | Send Feedback
      Indonesia DSpace Group 
      IPB University Scientific Repository
      UIN Syarif Hidayatullah Institutional Repository
      Universitas Jember Digital Repository
        

       

      Browse

      All of IPB RepositoryCollectionsBy Issue DateAuthorsTitlesSubjectsThis CollectionBy Issue DateAuthorsTitlesSubjects

      My Account

      Login

      Application

      google store

      Copyright © 2020 Library of IPB University
      All rights reserved
      Contact Us | Send Feedback
      Indonesia DSpace Group 
      IPB University Scientific Repository
      UIN Syarif Hidayatullah Institutional Repository
      Universitas Jember Digital Repository