Efektivitas model edukadi gizi dan aktivitas fisik untuk perbaikan status gizi pada remaja gizi lebih
Date
2023-01Author
Iriyani K
Anwar, Faisal
Kustiyah, Lilik
Riyadi, Hadi
Metadata
Show full item recordAbstract
Gizi lebih (overweight dan obese) pada remaja merupakan masalah kesehatan
global yang serius di dunia dan prevalensinya meningkat dari tahun ke tahun,
termasuk di Indonesia dan khususnya di Provinsi Kalimantan Timur. Penelitian ini
bertujuan menganalisis efektivitas model edukasi gizi dan aktivitas fisik untuk
perbaikan status gizi pada remaja gizi lebih.
Penelitian dilakukan dalam dua tahap, yaitu tahap pertama merupakan studi
survei dengan desain penelitian cross sectional dan tahap kedua adalah studi
intervensi dengan desain penelitian quasi experiment pre-post intervention.
Penelitian dilaksanakan di SMP Negeri Kota Samarinda Kalimantan Timur pada
bulan Juni 2020 sampai Februari 2021. Subjek dalam penelitian ini ada remaja gizi
lebih dengan kriteria inklusi yaitu: siswa SMP kelas 7 dan 8, kelebihan berat badan
z-score IMT/U >+1SD, bersedia mengikuti intervensi edukasi gizi dan/atau
aktivitas fisik sesuai jadwal yang telah ditentukan, serta persetujuan dari kepala
sekolah, orangtua dan siswa untuk terlibat dalam penelitian ini. Kriteria eksklusi
adalah siswa yang sedang mengkonsumsi obat penurun berat badan atau mengikuti
program penurunan berat badan, berpartisipasi dalam penelitian serupa, dan
menderita cacat bawaan yang menyebabkan bias dalam pengukuran antropometri.
Besar sampel untuk penelitian survei sebanyak 290 orang dan untuk penelitian
intervensi adalah 76 orang untuk 4 kelompok intervensi, sehingga masing-masing
kelompok berjumlah 19 orang.
Kelompok intervensi meliputi edukasi gizi (EG), aktivitas fisik (AF), edukasi
gizi dan aktivitas fisik (EG+AF), dan kelompok kontrol. Pengalokasian subjek
dalam kelompok intervensi adalah berdasarkan acak sederhana terhadap masingmasing sekolah sehingga subjek dalam sekolah yang sama mendapat perlakuan
yang sama pula. Intervensi EG dilakukan selama 12 minggu dengan menggunakan
media modul dan template isi piringku selama 45 menit (seminggu sekali), dengan
kombinasi ceramah interaktif, tanya jawab, dan pre-post test, yang dilakukan setiap
hari Senin pukul 10 pagi. Intervensi AF dilakukan selama 12 minggu dengan senam
kesegaran jasmani yaitu SKJ, poco-poco, sajojo, maumere, dan tobelo, selama 30
menit (5 kali per minggu) setiap hari Senin sampai Jumat, pukul 7 pagi dan
beberapa rangkaian tes kebugaran jasmani (TKJI) dilakukan 1 kali dalam seminggu.
Sedangkan intervensi dengan kombinasi EG+AF dilakukan sama seperti yang
disebutkan sebelumnya, namun untuk pelaksanaan EG dilakukan setelah dilakukan
AF yaitu senam hari Jumat jam 10, dan kelompok kontrol yang tidak diberikan
intervensi apapun.
Berdasarkan studi survei, prevalensi remaja yang menjadi subjek penelitian
yang mengalami overweight dan obese masing-masing adalah 25,9% dan 18,3%.
Kebiasaan remaja yang menyebabkan overweight dan obese adalah kebiasaan tidak
sarapan pagi, kebiasaan jajan, mengkonsumsi fast food dan soft drink, tidak
melakukan aktivitas olahraga, sering menonton TV/film, bermain game/dll yang
lebih dari 2 jam, kurang mengkonsumsi sayur dan buah 3-4 porsi setiap hari,
mengkonsumsi makanan yang bersumber dari lemak, dan tidak memperhatikan
porsi makan sesuai kebutuhannya, serta perilaku gizi terutama praktik gizi masih
kurang (87,9%). Hasil uji regresi logistik dengan p<0,25 menunjukkan bahwa
faktor yang memengaruhi gizi lebih pada remaja adalah jenis kelamin (OR=2,168,
95% CI=1,260-3,730), pekerjaan ibu (OR=1,782, 95% CI=1,009-3,150),
pendidikan ibu (OR=0,409, 95% CI=0,225-0,742), status gizi ibu (OR=1,700, 95%
CI=0,946-3,055), kebiasaan makan (OR=0,520, 95% CI=0,259-1,041), kebiasaan
olahraga (OR=1,916, 95% CI=1,070-3,432), TKP (OR=0,320, 95% CI=0,177-
0,580), dan TKL (OR=0,447, 95% CI=2,238-0,839).
Hasil penelitian dengan studi intervensi edukasi gizi dan/atau aktivitas fisik
terhadap perilaku gizi (pengetahuan, sikap dan praktik) menunjukkan bahwa pada
kelompok EG, kelompok AF, dan kelompok EG+AF berbeda secara signifikan
setelah intervensi (p<0,05). Sedangkan pada kelompok kontrol yang tidak diberikan
intervensi tidak berbeda signifikan (p>0,05). Intervensi edukasi gizi dan/atau
aktivitas fisik secara signifikan meningkatkan pengetahuan, sikap, dan praktik pada
semua kelompok (p<0,05), namun yang lebih besar peningkatannya pada kelompok
yang diberikan intervensi dengan kombinasi EG+AF. Intervensi edukasi gizi
dan/atau aktivitas fisik pada tingkat kecukupan energi, protein, lemak, dan
karbohidrat menunjukkan bahwa kelompok EG tidak berbeda signifikan pada TKE,
TKP, TKL dan TKKH (p=0,158; p=0,954; p=0,841; p=0,969) setelah intervensi.
Kelompok AF menunjukkan perbedaan TKE yang signifikan (p=0,006), namun
TKP, TKL dan TKKH setelah intervensi tidak signifikan (p=0,968; p=0,076;
p=0,573). Kelompok EG+AF menunjukkan perbedaan TKE, TKP, dan TKL yang
signifikan (p=0,049; p=0,027; p=0,000), tetapi pada TKKH tidak menunjukkan
perbedaan yang signifikan setelah intervensi (p=0,191). Kelompok kontrol yang
tidak diberikan intervensi menunjukkan perbedaan TKE, TKP, dan TKL yang
signifikan (p=0,000; p=0,008; p=0,001), tetapi TKKH tidak menunjukkan
perbedaan setelah intervensi (p=0,277). Intervensi edukasi gizi dan/atau aktivitas
fisik dapat mengurangi atau meningkatkan TKE dan TKL pada semua kelompok,
namun pengaruhnya yang lebih besar hanya pada kelompok intervensi dengan
EG+AF dibandingkan dengan kelompok lainnya.
Intervensi edukasi gizi dan/atau aktivitas fisik terhadap BB, IMT/U, LP, dan
PLT menunjukkan bahwa pada kelompok EG berbeda secara signifikan setelah
intervensi (p=0,000; p=0,000; p=0,000; p=0,017). Kelompok AF menunjukkan
perbedaan signifikan pada BB, LP, dan PLT (p=0,000; p=0,000; p=0,000), hanya
IMT/U yang tidak menunjukkan perbedaan setelah intervensi (p=0,053). Kelompok
EG+AF menunjukkan perbedaan signifikan pada BB, IMT/U, LP, dan PLT setelah
intervensi (p=0,000; p=0,048; p=0,000; p=0,000). Semua kelompok mengalami
penurunan BB, IMT/U, LP, dan PLT, namun penurunannya yang lebih besar pada
kelompok yang diberikan intervensi dengan kombinasi EG+AF dibandingkan
dengan kelompok lainnya. Intervensi edukasi gizi dan/atau aktivitas fisik terhadap
tingkat kebugaran fisik menunjukkan bahwa kedua kelompok intervensi tidak
berbeda secara signifikan (p>0,05). Namun pada masing-masing kelompok
menunjukkan perbedaan signifikan (p<0,05) yaitu kelompok AF (p=0,000) dan
kelompok EG+AF (p=0,000). Intervensi dengan kombinasi EG+AF yang dilakukan
secara teratur dan terstruktur selama 12 minggu efektif memperbaiki perilaku gizi,
status gizi, dan kebugaran fisik pada remaja gizi lebih.
Collections
- DT - Human Ecology [616]
