| dc.description.abstract | Pada kegiatan penangkapan ikan dengan menggunakan bubu selain hasil tangkapan utama maka banyak tertangkap hasil tangkapan sampingan. Hasil tangkapan sampingan (bycatch) merupakan hasil tangkapan non target species yang tertangkap secara insidental (incidental catch). Hasil tangkapan sampingan juga meliputi hasil tangkapan utama namun berukuran kecil. Bycatch saat ini mejadi isu yang sangat penting dalam pengelolaan sumberdaya perikanan. Oleh karena itu dengan fakta bahwa bycatch merupakan ancaman yang serius terhadap kelestarian sumberdaya perikanan maka pengembangan teknologi alat tangkap saat ini bergeser dari upaya untuk menangkap sumberdaya ikan sebanyak banyaknya kepada upaya untuk meningkatkan selektivitas baik species selectivity maupun size selectivity. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk: (1) menentukan respon dan tingkah laku ikan ekor kuning di dalam bubu; (2) menentukan posisi, bentuk dan ukuran celah pelolosan terbaik untuk menangkap ikan ekor kuning yang layak tangkap; (3) menentukan hasil tangkapan sampingan bubu yang dioperasikan di Perairan Kepulauan Seribu; (4) menentukan selektivitas celah pelolosan terhadap ikan ekor kuning pada bubu uji coba yang digunakan.
Pada pengamatan mengenai tingkah laku ikan di dalam bubu terlihat bahwa ikan ekor kuning cenderung bergerak dan berkumpul di area terbuka. Beberapa ikan bergerak secara aktif melakukan eksplorasi di tiap zona. Adanya kecenderungan pola renang ikan untuk bergerak di ruang terbuka mengindikasikan bahwa ikan ekor kuning merupakan kelompok ikan yang cenderung bergerak aktif di area yang luas. Pergerakan ikan ekor kuning di zona sempit di zona 7, 8 dan 9 hanya sesekali dilakukan. Bahkan pergerakan ikan di zona 8 yang merupakan area sempit dibawah mulut bubu jarang sekali dilakukan.
Persentase ikan yang melakukan attempt (upaya meloloskan diri) di zona 1 dan zona 3 masing masing sebanyak 26 kali (54,1 %) dan 11 kali (22,9 %). Zona 1 dan 3 merupakan zona terbuka yang saling berseberangan dan menjadi target ikan untuk meloloskan diri dari bubu. Ikan ekor kuning tidak pernah melakukan upaya meloloskan diri melalui zona 5, 8 dan 9. Upaya ikan untuk meloloskan diri dari bubu ditunjukan oleh adanya luka pada bagian kepala ikan. Ikan ketika berada di dalam bubu terkadang melakukan gerakan dengan pola renang yang tenang dan teratur, namun juga terkadang menunjukan perilaku yang agresif. Pola renang yang agresif dapat terlihat dari waktu yang digunakan oleh ikan untuk meloloskan diri dari bubu. Ketika ikan masuk ke dalam bubu maka ikan melakukan berbagai upaya untuk meloloskan diri. Waktu yang digunakan oleh ikan ekor kuning untuk meloloskan diri berkisar antara 4,0 - 1.318 detik.
Posisi celah pelolosan yang banyak digunakan oleh ikan ekor kuning untuk meloloskan diri berada pada posisi bagian belakang sebelah kiri yang berada pada zona 1 dengan jumlah ikan ekor kuning yang berhasil lolos sebanyak 20 ekor atau setara dengan 83,3% dari total individu. Zona tersebut banyak digunakan oleh ikan ekor kuning untuk meloloskan diri karena memiliki area terbuka yang lebih luas. Berdasarkan hasil tersebut, dari 9 zona yang terdapat pada bubu pengamatan hanya 3 zona yang digunakan oleh ikan ekor kuning untuk meloloskan diri yakni zona 1, zona 3 dan zona 7. Berdasarkan pengamatan melalui underwater CCTV camera tidak terdapat upaya ikan ekor kuning untuk meloloskan diri melalui dinding bagian atas bubu. Ditinjau dari bentuk celah pelolosan yang digunakan, maka celah pelolosan berbentuk lingkaran merupakan celah pelolosan yang paling banyak digunakan oleh ikan untuk meloloskan diri disusul oleh celah pelolosan berbentuk persegi panjang. Namun demikian tidak ada satupun ikan ekor kuning yang meloloskan diri melalui celah pelolosan berbentuk elipse.
Ikan yang tertangkap selama operasi penangkapan bubu terdiri atas 24 famili dan 34 spesies. Jumlah hasil tangkapan hanya didominasi oleh beberapa spesies dari famili Caesonidae dengan proporsi sebanyak 31,98% dari total hasil tangkapan, disusul oleh famili Lutjanidae sebanyak 16,15%, Holocentridae sebanyak 15,67 % dan Nemipteridae sebanyak 14,36% dari total hasil tangkapan. Total jumlah ikan hasil tangkapan yang diperoleh selama operasi penangkapan sebanyak 2.073 ekor dengan bobot 441,31 kg. Hasil tangkapan utama berupa ikan ekor kuning (Caesio cuning) dengan total jumlah sebanyak 634 ekor (30,66%) serta total bobot sebanyak 186,90 kg (42,64%). Hasil tangkapan lainnya yang merupakan hasil tangkapan sampingan paling dominan adalah ikan kakap (Lutjanus vitta) dengan total jumlah hasil tangkapan sebanyak 330 ekor (15,9%) dan total bobot sebanyak 50,86 kg (11,5%). Adapun hasil tangkapan sampingan dominan lainnya adalah ikan swanggi (Sargocentron rubrum) sebanyak 324 ekor (15,6 %) dengan total bobot hasil tangkapan sebesar 51,181 kg (11,6%) dan ikan serak (Scolopsis margaritiferus) dengan jumlah hasil tangkapan sebanyak 289 ekor (13,9%) dan bobot sebesar 40,04 kg (9,1%).
Pada uji coba penangkapan diperoleh total jumlah hasil tangkapan ikan pada bubu sebanyak 727 ekor sedangkan yang berhasil meloloskan diri melalui celah pelolosan sebanyak 1.346 ekor. Ikan ekor kuning yang merupakan target spesies tertangkap pada bubu dengan jumlah sebanyak 331 ekor dan yang berhasil lolos menuju cover net sebanyak 303 ekor. Hasil uji t terhadap total jumlah tangkapan pada bubu dan yang lolos diperoleh nilai yang secara signifikan berbeda dengan nilai P sebesar 0,010. Hal ini berarti terdapat perbedaan yang signifikan terhadap jumlah hasil tangkapan yang tertangkap pada bubu dan yang berhasil lolos menuju cover net. Adapun hasil uji t terhadap total hasil tangkapan ikan ekor kuning yang terdapat pada bubu dan yang lolos secara signifikan tidak berbeda nyata dengan nilai P sebesar 0,0918.
Panjang total hasil tangkapan ikan ekor kuning yang paling banyak tertangkap pada bubu terdapat pada kisaran ukuran 20-22 cm sedangkan ukuran hasil tangkapan ikan ekor kuning yang berhasil lolos dari bubu masuk ke dalam cover net paling banyak terdapat pada kisaran panjang total 18-20 cm. Berdasarkan uji t terhadap panjang total ikan ekor kuning yang tertangkap pada bubu dan yang lolos ke dalam cover net diperoleh hasil yang secara signifikan berbeda nyata dengan nilai thit sebesar 3,353 dan nilai P sebesar 0,005
Kurva selektivitas celah pelolosan pada bubu eksperimen adalah sigmoid dengan tipe landai (slender type). Kurva celah pelolosan dengan tipe landai menunjukan bahwa alat tangkap tersebut menangkap ikan ekor kuning dengan jangkauan ukuran panjang yang agak lebar. Kurva selektivitas celah pelolosan pada bubu tersebut mencapai maksimum untuk menangkap ikan ekor kuning dengan panjang total di atas 29 cm. Berdasarkan analisis kurva selektivitas celah pelolosan diperoleh nilai L50 sebesar 22,6 cm. Dengan demikian nilai L50 kurva selektivitas celah pelolosan lebih besar dibanding nilai Lm ikan ekor kuning yang sebesar 20 cm. Hal ini berarti bahwa celah pelolosan dapat berfungsi dengan baik untuk mengurangi hasil tangkapan ikan ekor kuning yang berukuran kecil. | id |