| dc.description.abstract | Anemia gizi besi pada remaja putri masih menjadi salah satu masalah gizi
global termasuk di Indonesia yang berdampak terhadap kesehatan manusia baik
perkembangan sosial maupun ekonomi. Anemia gizi besi pada remaja putri dapat
diatasi dengan pemberian tablet tambah darah (TTD), namun kepatuhan
mengonsumsi TTD pada remaja putri masih rendah. Penelitian ini bertujuan
menganalisis efektivitas pelatihan kesiapan sekolah untuk meningkatkan kepatuhan
minum TTD pada rematri di Kota Depok, Jawa Barat.
Penelitian ini terdiri dari dua tahapan penelitian. Tahapan pertama adalah
studi pendahuluan terdiri 3 fase , dengan desain studi cross sectional menggunakan
metode bauran kualitatif dan kuantitatif. Fase ke-1 menganalisis situasi
implementasi program pemberian TTD rematri di Kota Depok. Sampel studi
kualitatif sebanyak 19 orang stakeholder program TTD rematri di Kota Depok yang
terdiri dari seorang kepala sie Gizi dan Kesehatan keluarga, dua staf gizi dan
Kesehatan keluarga, seorang staf UPT farmasi, 8 staf gizi Puskesmas, seorang
kepala pelayanan kancab Dinas Pendidikan Regional II JaBar, kasi pendidikan
madrasah Kantor Wilayah Kemenag, dan 5 kepala sekolah. Fase ke-2 menganalisis
determinan kepatuhan minum TTD rematri melibatkan 274 siswi sekolah lanjutan
atas dan mengkaji pengetahuan, sikap dan pengawasan orang tua dalam
meningkatkan kepatuhan siswi minum TTD rematri melibatkan 135 orang tua siswi
penerima TTD. Fase ke-3 mengadaptasi dan memvalidasi instrumen serta untuk
mengembangkan materi pelatihan kesiapan sekolah digunakan sampel 75
responden (kepala sekolah dan guru), 10 guru dan 10 siswa yang berasal dari satu
sekolah uji coba. Pada studi pendahuluan dilakukan pengukuran kesiapan sekolah
tahap pertama dengan melibatkan 115 kepala sekolah dan guru dari 18 sekolah
penerima program TTD rematri Pemkot Depok tahun 2018.
Hasil studi pendahuluan menunjukkan perangkat kebijakan dan regulasi
tentang program pemberian TTD pada remaja putri sudah ditetapkan stakeholder
dari mulai tingkat pusat sampai daerah, namun masih kurang optimalnya koordinasi
monitoring dan evaluasi ke tingkat sekolah serta kurangnya kesiapan di tingkat
sekolah sebagai ujung tombak pelaksanaan program. Tingkat kesiapan sekolah
pada tahap kesadaran samar (tingkat ke-3). Sekolah menyadari masalah kepatuhan
minum TTD perlu diselesaikan tetapi tidak memahami bagaimana caranya dan
mengasumsikan pihak di luar sekolah membantu menyelesaikan masalahnya. Studi
pendahuluan menemukan faktor minum TTD bersama di sekolah menjadi salah
satu faktor yang memengaruhi kepatuhan siswi minum TTD, namun banyak
sekolah yang tidak menyelenggarakan minum TTD sepekan sekali di sekolah
secara teratur. Kurangnya pengetahuan dan sikap komunitas sekolah terhadap
anemia dan manfaat pemberian TTD serta tingkat kesiapan sekolah yang berada
pada tahap kesadaran samar menjadi penyebab rendahnya pelaksanaan upaya
peningkatan kepatuhan minum TTD pada rematri di sekolah. Hasil temuan dan
rekomendasi dari studi pendahuluan menjadi masukan untuk studi tahap ke-2 .
Tahapan kedua mengevaluasi efektivitas pelatihan kesiapan sekolah dalam
meningkatkan kepatuhan minum TTD pada remaja putri. Desain studinya adalah
kuasi eksperimental. Intervensi dalam studi adalah peningkatan kapasitas sekolah
melalui pelatihan kesiapan sekolah dalam implementasi program pemberian TTD,
pembentukan Anti anemia squad dan pendampingan teknis. Pelatihan dilaksanakan
dua hari kepada 10 guru dan satu hari kepada 24 siswi dari 6 sekolah contoh. Materi
dan durasi pelatihan dipersiapkan berdasarkan kajian kepustakaan, FGD
stakeholder dan pihak sekolah uji coba, dan studi kuantitatif yang dilakukan pada
studi pendahuluan. Studi tahap ke-2 melibatkan 124 guru dan kepala sekolah dan
416 siswi yang berasal dari 11 sekolah contoh dan sekolah kontrol. Hasil studi
intervensi didapatkan peningkatan tingkat pengetahuan,sikap para guru koordinator
program dan peningkatan pengetahuan pada Anti anemia squad. Setelah intervensi
terdapat peningkatan tingkat kesiapan sekolah contoh dari kesadaran samar ke
tingkat inisiasi, sedangkan pada sekolah kontrol tetap pada tingkat kesadaran samar.
Terdapat perbedaan tingkat kepatuhan minum TTD dan kadar Hb siswi penerima
TTD pada sekolah contoh dan sekolah kontrol.
Simpulan hasil penelitian; (1) kebijakan dan peraturan terkait program TTD
rematri ditetapkan mulai tingkat pusat sampai daerah, namun kurang optimalnya
perencanaan, distribusi, koordinasi, monitoring dan evaluasi ke tingkat sekolah
serta kurangnya kesiapan di tingkat sekolah sebagai ujung tombak pelaksanaan
program, (2) sebelum intervensi tingkat kesiapan sekolah berada pada tahap
kesadaran samar, (3) faktor yang paling penting yang menentukan kepatuhan siswi
minum TTD adalah sekolah mengadakan minum TTD bersama sepekan sekali,
motivasi siswi dan guru mengedukasi siswi tentang anemia dan TTD, sementara
pengetahuan, efikasi diri dan pernah periksa Hb menjadi faktor perancu, (4) tingkat
pengetahuan dan sikap orang tua masih kurang tentang anemia pada remaja putri
sehingga berdampak pada kurang optimalnya peran orang tua dalam meningkatkan
kepatuhan siswi mengonsumsi TTD, (5) uji validitas dan reliabilitas menunjukkan
instrumen dapat digunakan untuk mengukur kesiapan sekolah, (6)pelatihan
kesiapan komunitas sekolah efektif meningkatkan tingkat pengetahuan dan sikap
guru dan siswi peserta pelatihan serta meningkatkan tingkat kesiapan sekolah, (7)
intervensi pelatihan kesiapan sekolah, pembentukan anti anemia squad,
pendampingan berupa bantuan teknis, monitoring dan evaluasi efektif
meningkatkan skor kesiapan sekolah dan meningkatkan kepatuhan siswi minum
TTD serta memperbaiki kadar Hb siswi penerima TTD.
Untuk itu diperlukan; (1) intervensi pelatihan guru koordinator,pembentukan
Anti anemia squad disertai pendampingan teknis untuk penanggulangan anemia dan
meningkatkan kepatuhan minum TTD pada remaja putri berbasis sekolah, (2) perlu
intervensi pelatihan dan pembinaan anti anemia squad secara berkesinambungan
dan periodik setiap tahun agar dapat meningkatkan pengetahuan, sikap dan motivasi
guru dan anggota anti anemia squad yang berganti setiap tahunnya serta dapat
meningkatkan tahap kesiapan sekolah sasaran penerima program TTD ke tahap
kesiapan selanjutnya, (3) perlu dikembangkan formulasi monitoring dan evaluasi
digital yang mudah dipergunakan pihak sekolah dan terintegrasi dengan sistem
monitoring Puskesmas/ DinKes/ DisDik/Kemenag, (4) perlu dilakukan intervensi
melibatkan dinkes, disdik dan orang tua (5) perlu integrasi dengan program kader
posyandu remaja untuk remaja yang tidak dapat ke sekolah.
Kata Kunci : Anemia, kepatuhan, minum tablet tambah darah, remaja putri | id |