Lipida Terstruktur dengan Asam-Asam Lemak Rantai Menengah dan Tak Jenuh pada Posisi Sn-2 Hasil Interesterifikasi Minyak Kelapa dan Minyak Kelapa Sawit
View/Open
Date
2019Author
Nurhasanah, Siti
Hariyadi, Purwiyatno
Wulandari, Nur
Munarso, Joni S
Metadata
Show full item recordAbstract
Minyak kelapa murni (refined, bleached, deodorized coconut oil/RBDCNO)
kaya akan asam lemak rantai menengah atau medium chain fatty acid (MCFA)
seperti asam kaprat (Ca), asam kaprilat (C), dan asam laurat (La). MCFA diketahui
dapat memberikan efek perlindungan terhadap penyakit aterosklerosis dan penyakit
jantung, serta lebih mudah diserap tubuh sehingga lebih cepat diubah menjadi
energi. Akan tetapi RBDCNO juga memiliki kandungan asam lemak jenuh
(saturated fatty acid/SFA) tinggi yang dapat menyebabkan peningkatan kadar
trigliserida yang akan menimbulkan efek kurang baik untuk kesehatan. Oleh karena
itu perlu dilakukan modifikasi asam lemak penyusun triasilgliserol (TAG) tersebut
menjadi lipida terstruktur (LT) dengan cara menginkorporasikan minyak kelapa
sawit fraksi olein (refined, bleached, deodorized palm olein/RBDP Olein) yang
kaya akan asam lemak tak jenuh (unsaturated fatty acid/UFA) seperti asam oleat
(O) dan asam linoleat (L) melalui proses interesterifikasi. Proses tersebut
menghasilkan lipida dengan kandungan asam lemak spesifik yang bukan hanya
berperan bagi nutrisi tapi juga memberikan fungsionalitas tertentu, baik
fungsionalitas kesehatan maupun fungsionalitas fisik. Produk baru berupa LT
diharapkan mengandung TAG spesies baru yang tersusun atas MCFA dan UFA
pada posisi structured number 2 (sn-2).
Interesterifikasi untuk menghasilkan LT dapat dilakukan dengan cara kimia
dan enzimatis. Kelebihan dari interesterifikasi enzimatis adalah reaksinya lebih
spesifik, kondisi reaksi (pH, suhu, tekanan) lebih mild, serta limbah yang dihasilkan
minimal sehingga mengurangi polusi lingkungan. Komposisi TAG setelah melalui
proses interesterifikasi enzimatik akan sangat bergantung dari kondisi reaksi baik
itu jenis enzim, suhu dan waktu reaksi, aktivitas air (aw) enzim, rasio substrat, serta
jenis substrat yang digunakan. Proses interesterifikasi menghasilkan LT yang
mengalami perubahan kimia, fisik, dan sifat oksidatif dari substrat asalnya.
Tujuan penelitian ini adalah mendapatkan LT yang merupakan lipida dengan
struktur TAG yang baru yang memadukan keunggulan RBDCNO (yang
mengandung MCFA) dan RBDP Olein (yang mengandung UFA) dengan teknik
interesterifikasi menggunakan katalis lipase Novozyme 435 (nonspesifik) dan
katalis lipase Thermomyces lanuginosa imobil/TL IM (spesifik pada sn-1,3). Garis
besar tahapan penelitian meliputi sintesis LT secara interesterifikasi enzimatik
dengan melihat pengaruh suhu reaksi, karakterisasi sifat kimia, karakterisasi sifat
fisik, serta analisis stabilitas oksidasi produk LT serta senyawa volatil yang
terkandung dalam produk.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa interesterifikasi untuk menghasilkan LT
dapat berjalan. Pengaruh suhu terhadap profil TAG dipelajari pada tahap penelitian
awal, hasilnya menunjukkan bahwa proses reaksi pada suhu 55 °C menghasilkan
LT dengan sn-2 MCFA dan UFA yang lebih tinggi dibandingkan dengan reaksi
yang menggunakan suhu 50 dan 60 °C.
Interesterifikasi menggunakan lipase dengan spesifisitas yang berbeda
menghasilkan profil TAG yang berbeda. Lipase Novozyme 435 menghasilkan TAG
dengan sn-2 Ca, C, La, L dan O yang lebih tinggi dari minyak campuran (MC)
dibandingkan dengan penggunaan lipase TL IM. Akan tetapi, penggunaan lipase
TL IM menghasilkan pembentukan TAG baru yang antara lain diduga sebagai
OCaL, OCaO, dan OCL serta mengalami peningkatan jumlah TAG dengan asam
lemak Ca, C, La, L dan O yang lebih tinggi dibandingkan dengan LT yang
menggunakan lipase Novozyme 435.
Perubahan profil TAG berpengaruh terhadap sifat fisik LT. Perubahan
karakter fisik yang diamati meliputi karakter termal (titik leleh dan titik kristalisasi)
serta solid fat content (SFC). LT yang dibuat dengan menggunakan dua lipase
dengan spesifisitas yang berbeda menghasilkan puncak pelelehan yang lebih tinggi
dengan waktu pelelehan yang lebih lama, puncak kristalisasi lebih rendah dan
proses pembentukan kristalnya lebih lama dibandingkan MC. Berdasarkan katalis
yang digunakan, penggunaan lipase TL IM menghasilkan puncak leleh yang lebih
tinggi dan proses pelelehan yang lebih lama. LT memiliki SFC pada suhu di bawah
10 °C yang lebih rendah dibandingkan MC. Dua sifat fisik tersebut menjadikan LT
yang dihasilkan bersifat lebih plastis dari minyak asalnya dan berpotensi sebagai
bahan baku produk pangan yang disimpan dingin. LT yang dihasilkan masih berupa
campuran (TAG, ALB dan senyawa lainnya) sehingga memiliki titik asap yang
lebih rendah dan tidak sesuai digunakan sebagai minyak goreng seperti bahan
asalnya.
Tingginya kandungan ALB pada LT menjadikan LT memiliki stabilitas
oksidasi yang rendah. Stabilitas oksidasi tertinggi diperoleh dari proses
interesterifikasi menggunakan lipase Novozyme 435 yang direaksikan selama 5 jam,
dimana pada akhir pengamatan masih memenuhi standar produk minyak sawit dan
turunannya. Dengan menggunakan GC-MS dapat teridentifikasi bahwa beberapa
senyawa volatil yang berpengaruh terhadap ketengikan (dari hasil oksidasi) adalah
senyawa dari golongan aldehida dan keton. Senyawa tersebut adalah: 2,2-
Dimethyl-3-hydroxypropionaldehyde, 1,4-Benzene-dicarboxaldehyde, 2-methyl,
2,2-Diethylbutyraldehyde, 2-Heptenal, (E)-, 4-Hepte-nal, (Z)-, 3-Dimethylamino-
2,2-dimethylpropionaldehyde, dan 2-Propenal.