<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>DT - Business</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/78145</link>
<description/>
<pubDate>Sat, 25 Apr 2026 16:00:06 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-04-25T16:00:06Z</dc:date>
<item>
<title>Pengaruh Kekuatan Keuangan Bank Sentral terhadap Kredibilitas Bank Sentral: Peran Kerangka Efisiensi</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172911</link>
<description>Pengaruh Kekuatan Keuangan Bank Sentral terhadap Kredibilitas Bank Sentral: Peran Kerangka Efisiensi
Fauziah, Mega
Bank Sentral didirikan berdasarkan mandat hukum dan peraturan yang eksplisit yang mendefinisikan wewenang, tujuan, dan struktur tata kelola. Mengacu kepada hal tersebut, Bank Sentral memiliki fungsi dan peran unik yang bertanggung jawab atas kebijakan moneter, stabilitas keuangan, dan sistem keuangan. &#13;
Sebagai konsekuensi dari pelaksanaan mandatnya, Bank Sentral menghadapi berbagai risiko keuangan, khususnya ketika krisis ekonomi sebelumnya berdampak kepada tekanan dan kerugian pada banyak Bank Sentral. Kerugian tersebut tidak hanya memengaruhi kondisi neraca, tetapi juga berpotensi menimbulkan pertanyaan politis yang pada akhirnya dapat merusak kredibilitas Bank Sentral. Karena itu, penguatan kekuatan keuangan Bank Sentral (CBFS) dipandang penting untuk menjaga kepercayaan publik terhadap kemampuan Bank Sentral dalam menjalankan tugasnya. &#13;
Di samping aspek keuangan tersebut, independensi Bank Sentral yaitu otonomi dalam pengambilan keputusan tanpa campur tangan politik adalah menjadi elemen kunci agar kebijakan moneter dapat ditempuh berdasarkan pertimbangan ekonomi yang objektif, bukan kepentingan jangka pendek. Dengan demikian, kekuatan keuangan dan independensi Bank Sentral bersama-sama membentuk fondasi kredibilitas Bank Sentral.&#13;
Mengingat bahwa kekuatan keuangan dan independensi kelembagaan merupakan fondasi utama dalam pembentukan kredibilitas Bank Sentral, aspek tata kelola yang menopang elemen tersebut menjadi sama pentingnya. Dengan kata lain, kredibilitas tidak hanya bertumpu pada kapasitas institusi dalam merumuskan kebijakan yang efektif, tetapi juga pada cara Bank Sentral mempertanggungjawabkan penggunaan kewenangannya kepada publik sebagai perwujudan akuntabilitas. Akuntabilitas menjadi penting sebagai konsekuensi dari pemberian independensi kepada Bank Sentral, termasuk independensi finansialnya. &#13;
Efisiensi Bank Sentral merupakan komponen krusial dari akuntabilitas karena menunjukkan seberapa efektif Bank Sentral tersebut memanfaatkan independensinya untuk mencapai tujuan kebijakan. Akuntabilitas tidak hanya menuntut transparansi dalam pengambilan keputusan, tetapi juga hasil yang terukur yang mencerminkan efisiensi operasional. Dalam kerangka tersebut, efisiensi menjadi indikator penting yang memastikan bahwa mandat kebijakan dijalankan secara optimal dan berorientasi pada nilai publik.&#13;
Penelitian ini bertujuan pertama untuk menguji pengaruh kekuatan keuangan Bank Sentral dan guncangan eksternal global terhadap kredibilitas Bank Sentral yang ditunjukkan dengan deviasi inflasi (selisih antara target inflasi dengan inflasi aktual pada tahun yang sama), serta menilai peran independensi Bank Sentral dalam memperkuat pengaruh tersebut; kedua, untuk melihat kerangka efisiensi pada Bank Sentral dan faktor-faktor yang mempengaruhi efisiensi sehingga menghasilkan skor efisiensi yang dapat dibandingkan antara Bank Sentral; ketiga untuk menguji pengaruh efisiensi dan modal Bank Sentral terhadap kredibilitas Bank Sentral. Penelitian ini diharapkan dapat mengisi kesenjangan literatur di mana masing-masing dimensi telah diteliti secara terpisah namun belum diintegrasikan dalam satu kerangka analitis yang komprehensif. &#13;
Sampel data yang digunakan adalah 5 (lima) Bank Sentral di ASEAN, yaitu Bank Indonesia (BI), Bank Negara Malaysia (BNM), Bank of Thailand (BoT), Monetary Authority of Singapore (MAS) dan Bank Sentral Philipina (BSP). Data yang akan digunakan mencakup data makroekonomi (World Bank, International Monetary Fund, CEIC), dan data keuangan Bank Sentral (Bank Focus dan halaman resmi Bank Sentral terkait). Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan menggunakan kombinasi pendekatan data panel dan Stochastic Frontier Analysis (SFA).&#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kredibilitas Bank Sentral di Asia Tenggara sangat dipengaruhi oleh kondisi pasar global. Selain itu, kredibilitas juga ditentukan oleh dua faktor utama, yakni kekuatan keuangan Bank Sentral (CBFS) dan tingkat independensi. Kekuatan keuangan terbukti berdampak positif terhadap kredibilitas, sementara analisis yang menggunakan interaksi antara kekuatan keuangan dan independensi menunjukkan adanya hubungan yang kuat terhadap kredibilitas. Temuan ini menegaskan bahwa reformasi kelembagaan yang memperkuat independensi perlu diiringi dengan kekuatan keuangan agar kredibilitas Bank Sentral tetap terjaga di tengah volatilitas global.&#13;
Selanjutnya, penelitian juga menemukan bahwa faktor produksi Bank Sentral berpengaruh terhadap efisiensi, di mana pembesaran neraca dan pengelolaan cadangan termasuk cadangan emas berkorelasi positif dengan peningkatan biaya operasional. Inefisiensi biaya turut memengaruhi kredibilitas, meskipun pengaruhnya relatif kecil dibandingkan dengan faktor kelembagaan, khususnya independensi yang direpresentasikan oleh CBIE dan CBI, serta guncangan eksternal yang tercermin dari indeks VIX dan pergerakan nilai tukar.&#13;
Secara konseptual, penelitian ini menegaskan bahwa, kombinasi antara kekuatan keuangan, independensi kelembagaan, serta respons adaptif terhadap risiko global serta efisiensi operasional merupakan fondasi utama untuk menjaga kredibilitas Bank Sentral di negara berkembang, Dengan mengintegrasikan dimensi tersebut dalam satu kerangka analitis, penelitian ini memperkaya literatur kebijakan moneter bahwa kredibilitas Bank Sentral di negara berkembang tidak hanya ditentukan oleh konsistensi kerangka inflation targeting, tetapi juga oleh kekuatan keuangan, independensi, efisiensi dalam menghadapi tekanan global.; Central banks are established under explicit legal and regulatory mandates that define their powers, objectives, and governance structures. Consequently, central banks have unique functions and roles responsible for monetary policy, financial stability, and the financial system.&#13;
As a consequence of fulfilling its mandate, the Central Bank faces various financial risks, particularly as the previous economic crisis resulted in pressure and losses for many Central Banks. These losses not only impact balance sheets but also have the potential to raise political questions that could ultimately undermine the Central Bank's credibility. Therefore, strengthening the Central Bank's financial strength (CBFS) is considered crucial to maintaining public confidence in the Central Bank's ability to carry out its duties.&#13;
In addition to these financial aspects, the independence of the Central Bank, namely its autonomy in decision-making without political interference, is a key element in ensuring that monetary policy is pursued based on objective economic considerations, rather than short-term interests. Thus, the financial strength and independence of the Central Bank together form the foundation of its credibility.&#13;
Given that financial strength and institutional independence are the primary foundations for establishing a Central Bank's credibility, the governance aspects that underpin these elements are equally important. In other words, credibility rests not only on the institution's capacity to formulate effective policies, but also on how the Central Bank is accountable to the public for the use of its authority, demonstrating accountability. Accountability is crucial as a consequence of granting independence to the Central Bank, including its financial independence.&#13;
Central Bank efficiency is a crucial component of accountability because it indicates how effectively the Central Bank utilizes its independence to achieve policy objectives. Accountability requires not only transparency in decision-making but also measurable results that reflect operational efficiency. Within this framework, efficiency is a crucial indicator that ensures that policy mandates are implemented optimally and oriented toward public value.&#13;
This study aims firstly to examine the influence of Central Bank financial strength and global external shocks on Central Bank credibility as indicated by inflation deviation (the difference between the inflation target and actual inflation in the same year), and to assess the role of Central Bank independence in strengthening this influence; secondly, to examine the efficiency framework in Central Banks and the factors that influence efficiency so as to produce efficiency scores that can be compared between Central Banks; thirdly to examine the influence of Central Bank efficiency and capital on Central Bank credibility. This study is expected to fill the gap in the literature where each dimension has been studied separately but has not been integrated into a comprehensive analytical framework.&#13;
&#13;
The data sample used is five central banks in ASEAN: Bank Indonesia (BI),  Bank Negara Malaysia (BNM), Bank of Thailand (BoT), Monetary Authority of Singapore (MAS), and Central Bank of the Philippines (BSP). The data used includes macroeconomic data (World Bank, International Monetary Fund, CEIC), and central bank financial data (Bank Focus and official websites of relevant central banks). This study employs a quantitative approach, combining panel data and Stochastic Frontier Analysis (SFA).&#13;
The research findings indicate that the credibility of Central Banks in Southeast Asia is significantly influenced by global market conditions. Furthermore, credibility is also determined by two main factors: Central Bank Financial Strength (CBFS) and the level of independence. Financial strength has been shown to have a positive impact on credibility, while an analysis using the interaction between financial strength and independence confirms a strong relationship between these factors. These findings emphasize that institutional reforms that strengthen independence must be accompanied by a strengthening of the financial position to maintain Central Bank credibility amidst global volatility.&#13;
Furthermore, the research also found that Central Bank production factors influence efficiency, with balance sheet expansion and reserve management, including gold reserves, positively correlated with increased operational costs. Cost inefficiency also impacts credibility, although its influence is relatively small compared to institutional factors, particularly independence as represented by the CBIE and CBI, as well as external shocks reflected in the VIX index and exchange rate movements.&#13;
Conceptually, this study confirms that the combination of financial strength, institutional independence, and adaptive response to global risks and operational efficiency are the main foundations for maintaining the credibility of Central Banks in developing countries. By integrating these dimensions in one analytical framework, this study enriches the monetary policy literature that the credibility of central banks in developing countries is not only determined by the consistency of the inflation targeting framework, but also by financial strength, independence, and efficiency in facing global pressures.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172911</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Kompetisi dan Stabilitas Keuangan pada Kelompok Bank Pembangunan Daerah Konvensional di Indonesia</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172822</link>
<description>Kompetisi dan Stabilitas Keuangan pada Kelompok Bank Pembangunan Daerah Konvensional di Indonesia
Aziz, Lukmanul Hakim
Bank Pembangunan Daerah (BPD) di Indonesia khususnya konvensional memiliki fenomena yang unik.  BPD mempunyai market share asset yang masih di bawah (terkecil) dari kelompok bank lainnya, sedangkan likuiditas dan profitabilitas BPD dalam keadaan baik (sehat). Hal ini menunjukkan bahwa kelompok BPD meskipun memiliki kinerja yang bagus tetapi dalam berinteraksi merebut perkembangan pasar nasional masih tertinggal. Ditinjau dari dinamika stabilitas keuangan, meskipun perbankan Indonesia memiliki rata-rata profitabilitas dan stabilitas terkecil di ASEAN-5, tetapi profitabilitas dan stabilitas kelompok BPD memiliki kontribusi lebih besar dibandingkan kelompok bank lainnya pada umumnya perbankan Indonesia. Dinamika perkembangan pasar BPD memiliki stabilitas dan profitabilitas yang baik didukung oleh karakteristik pasar regional yang relatif captive karena hubungan kelembagaan yang kuat dengan pemerintah daerah, serta adanya dukungan khususnya BPD regional champion sehingga menghasilkan sumber pendanaan yang stabil dan risiko yang lebih terkendali. Oleh karena itu, meskipun BPD menunjukkan kinerja keuangan yang baik, keterbatasan permodalan masih menjadi tantangan utama dalam memperluas pangsa pasar dan memperkuat daya saing di tingkat nasional. &#13;
Selanjutnya, BPD Regional Champion mendorong agar BPD memperkuat modalnya dalam ketahanan kelembagaan yang kuat, namun masih ada beberapa BPD yang modalnya masih dibawah aturan OJK dengan modal inti minimum kurang dari Rp 3 triliun. Kondisi ini menunjukkan perlunya dukungan dalam peningkatan permodalan agar BPD tersebut dapat memenuhi persyaratan regulasi, memperkuat struktur keuangan dalam menjaga stabilitas serta meningkatkan kapasitasnya dalam menjalankan fungsi intermediasi dan berkontribusi terhadap pembangunan daerah secara optimal agar lebih kompetitif dan berkelanjutan. Selain itu, penelitian ini berfokus pada pengaruh kompetisi BPD terhadap profitabilitas dan stabilitas. Penelitian ini juga bertujuan untuk melihat BPD masuk kedalam kerangka pasar SCP, RMP, RES, SES, QLH. Kemudian faktor-faktor apa yang paling mempengaruhi ditinjau dari variabel utama SCP dan basic condition.&#13;
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan menggunakan data panel yang terdiri dari data time series dan cross sectional. Tahap awal penelitian difokuskan pada pengukuran karakteristik struktural dan kinerja perbankan, khususnya Bank Pembangunan Daerah (BPD). Kekuatan pasar diukur menggunakan metode Lerner Index untuk melihat tingkat kemampuan bank dalam menetapkan harga diatas biaya marjinal, sedangkan tingkat efisiensi diestimasi menggunakan metode Data Envelopment Analysis (DEA) untuk menilai kemampuan bank dalam mengoptimalkan penggunaan input terhadap output. Selain itu, variabel-variabel penelitian lainnya dihitung melalui teknik analisis keuangan untuk memperoleh indikator kinerja yang komprehensif.&#13;
Tahap berikutnya adalah menganalisis dinamika perkembangan pasar BPD dari waktu ke waktu untuk memahami perubahan struktur dan perilaku pasar. Selanjutnya dilakukan identifikasi pasar berdasarkan kriteria yang dikemukakan oleh Ye et al. (2012), untuk menentukan apakah karakteristik pasar BPD termasuk dalam kategori Structure–Conduct–Performance (SCP), Relative Market Power (RMP). Efficient Structure (ES) yang meliputi Relative Efficiency Structure (RES) dan Scale Efficiency Structure (SES), atau Quiet Life Hypothesis (QLH). Klasifikasi ini penting untuk memahami mekanisme persaingan yang mendasari pembentukan profitabilitas BPD.&#13;
Setelah karakteristik pasar teridentifikasi, penelitian ini menganalisis faktor-faktor determinan yang memengaruhi profitabilitas dan stabilitas BPD. Untuk menangkap hubungan jangka pendek dan jangka panjang antar variabel, digunakan model Vector Error Correction Model (VECM). Melalui pendekatan ini, dapat dihitung juga Speed of Adjustment (SOA) yang menunjukkan seberapa cepat indikator profitabilitas dan stabilitas menyesuaikan diri menuju keseimbangan atau target optimalnya setelah terjadi deviasi. Selain itu, analisis Impulse Response Function (IRF) digunakan untuk mengamati respons dinamis variabel profitabilitas dan stabilitas terhadap guncangan (shock) pada variabel utama dalam kerangka SCP dalam waktu yang panjang. Sementara itu, Forecast Error Variance Decomposition (VARDEC) dimanfaatkan untuk mengidentifikasi besarnya kontribusi masing-masing variabel dalam menjelaskan variasi perubahan profitabilitas dan stabilitas pada BPD.; Regional Development Banks (BPD) in Indonesia, particularly conventional banks, have a unique phenomenon. BPDs have a market share of assets that is still lower (smallest) than other bank groups, while BPD liquidity and profitability are in good (healthy) condition. This shows that, even though the BPD group performs well, it still lags behind in engaging with the national market to keep up with developments. In terms of financial stability dynamics, although Indonesian banking has the lowest average profitability and stability among the ASEAN-5, the profitability and stability of the Regional Development Bank (BPD) group makes a greater contribution than those of other bank groups. The dynamics of the BPD market development are stable and profitable, supported by relatively captive regional markets and strong institutional relationships with local governments and regional BPD champions, resulting in stable funding sources and more controlled risks. Therefore, although BPD shows good financial performance, limited capital remains a major challenge in expanding market share and strengthening competitiveness at the national level.&#13;
Furthermore, the BPD Regional Champion encourages BPDs to strengthen their capital to ensure strong institutional resilience. However, several BPDs still have capital below the OJK's minimum core capital requirement of IDR 3 trillion. This situation indicates the need for support to increase capital so that these BPDs can meet regulatory requirements, strengthen their financial structures to maintain stability, and increase their capacity to perform their intermediary functions and contribute optimally to regional development, thereby becoming more competitive and sustainable. Moreover, this study focuses on the effect of BPD competition on profitability and stability. This study also aims to see BPDs entering the SCP, RMP, RES, SES, and QLH market categories. Then, the most influential are reviewed from the main variables of SCP and basic conditions.&#13;
This study employs a quantitative, panel-data approach combining time-series and cross-sectional data. The initial stage of the study focused on measuring the characteristics of structural and banking performance, specifically for Regional Development Banks (BPDs). Market power was measured using the Lerner Index to assess the bank's ability to set prices above marginal costs, while efficiency was estimated using the Data Envelopment Analysis (DEA) to assess the bank's ability to optimize input use relative to output. In addition, other research variables were calculated through financial engineering analysis to obtain comprehensive performance indicators.&#13;
The next step is to analyze the dynamics of the BPD market development over time to understand changes in market structure and behavior. Next, market identification is carried out based on the criteria proposed by Ye et al. (2012), to determine whether BPD market characteristics fall into the categories of Structure–Conduct–Performance (SCP), Relative Market Power (RMP), Efficient Structure (ES), which includes Relative Efficiency Structure (RES) and Scale Efficiency Structure (SES), or Quiet Life Hypothesis (QLH). This classification is important for understanding the competitive mechanisms underlying BPD profitability.&#13;
After identifying market characteristics, this study analyzes the determinants influencing BPD profitability and stability. To capture the short- and long-term relationships between variables, the Vector Error Correction Model (VECM) is used. This approach also calculates the Speed of Adjustment (SOA), which indicates how quickly profitability and stability indicators adjust toward their equilibrium or optimal target after a deviation. Furthermore, Impulse Response Function (IRF) analysis is used to observe the dynamic response of profitability and stability variables to shocks to key variables within the SCP framework over a long period. Meanwhile, Forecast Error Variance Decomposition (VARDEC) is used to identify the contribution of each variable to explaining variations in profitability and changes in stability in BPDs.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172822</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Analisis Faktor Pemasaran, Program dan Relasional Terhadap Retensi Pemasar Afiliasi di Marketplace Digital : Pendekatan Pemodelan Prediktif</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172646</link>
<description>Analisis Faktor Pemasaran, Program dan Relasional Terhadap Retensi Pemasar Afiliasi di Marketplace Digital : Pendekatan Pemodelan Prediktif
Putra, Ferry Cahyadi
Meningkatnya biaya iklan digital di media sosial, mesin pencari, dan marketplace mendorong perusahaan untuk mencari strategi yang lebih efisien dan berbasis kinerja, seperti affiliate marketing (AM). AM adalah Sub Kanal Online berbasis kinerja yang melibatkan kerjasama antara pemilik bisnis (merchant) dan pemasar afiliasi (affiliate marketer).	Meskipun AM mampu menekan biaya dan meningkatkan tingkat konversi, strategi ini masih menghadapi masalah rendahnya retensi. Penelitian ini bertujuan untuk membangun model retensi pemasar afiliasi marketplace Shopee dengan menganalisis pengaruh faktor pemasaran, program, dan relasional menggunakan metode kuantiatif.  &#13;
	Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan data sekunder hasil transaksi aktual pemasar afiliasi marketplace Shopee periode April–Juni 2025, yang dianalisis menggunakan algoritma  Ordinal Random Forest (ORF) untuk mengevaluasi pengaruh individual variabel, pola interaksi, dan titik optimum retensi. Sampel kuantitatif terdiri dari 11.713 pemasar afiliasi dengan variabel inti penelitian meliputi demografi follower, jmlah follower, media sosial, fokus kategori, jumlah klik, persentase komisi, Return of Investment (ROI) dan Golden Ticks  yang mencerminkan faktor pemasaran, program, dan relasional. Selain data kuantitatif yang digunakan untuk pemodelan retensi, penelitian ini juga dilengkapi dengan wawancara terbatas terhadap lima narasumber, terdiri dari pemasar afiliasi aktif, merchant, dan konsumen. Tujuannya adalah untuk mendapatkan pemahaman kontekstual mengenai dinamika retensi dalam program afiliasi di marketplace Shopee. Wawancara dilakukan secara semi-terstruktur dengan pendekatan eksploratif, dan hasilnya disajikan dalam bentuk temuan tematik dan kutipan naratif sebagai pelengkap terhadap hasil model kuantitatif.                                                                                         &#13;
	Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase komisi, jumlah klik, dan ROI merupakan prediktor terkuat retensi, dengan titik optimum berturut-turut pada 23,3%, &gt;10.000–100.000 klik per bulan, dan ROI 91.4 kali. Temuan empiris menunjukkan bahwa retensi afiliasi tidak hanya ditentukan oleh satu faktor tunggal, melainkan merupakan hasil interaksi kompleks antara faktor pemasaran, faktor program, dan faktor relasional. Oleh karena itu, pengelolaan program afiliasi tidak dapat lagi dilakukan secara parsial atau reaktif, melainkan harus berbasis data, terintegrasi, dan berorientasi jangka panjang. Hasil ini sejalan dengan hasil pengayaan secara kualitatif bahwa strategi berbasis insentif finansial tetap penting, tetapi tidak cukup untuk mempertahankan afiliasi berkinerja tinggi dalam jangka panjang. Platform perlu mengkombinasikan insentif finansial dengan dukungan emosional dan pengakuan sosial, seperti pemberian penghargaan eksklusif, akses prioritas ke kampanye tertentu, atau keterlibatan dalam program co-creation konten.; The rising costs of digital advertising on social media, search engines, and marketplaces have encouraged companies to seek more efficient, performance-based strategies such as affiliate marketing (AM). AM is a performance-based online sub-channel that involves collaboration between business owners (merchants) and affiliate marketers. Although AM can reduce costs and increase conversion rates, it continues to face the challenge of low retention. This study aims to develop a retention model for affiliate marketers on the Shopee marketplace by analyzing the effects of marketing, program, and relational factors using quantitative methods.&#13;
		This study employs a quantitative approach using secondary data from actual transaction records of Shopee affiliate marketplace for the period April–June 2025. The data are analyzed using the Ordinal Random Forest (ORF) algorithm to evaluate the individual effects of variables, interaction patterns, and optimal retention points. The quantitative sample consists of 11,713 affiliate marketers, with core research variables including follower demographics, number of followers, social media platforms, category focus, number of clicks, commission percentage, Return on Investment (ROI), and Golden Ticks, representing marketing, program, and relational factors. In addition to quantitative data for retention modeling, the study is complemented by limited interviews with five informants, comprising active affiliate marketers, merchants, and consumers. The purpose is to obtain contextual insights into retention dynamics within Shopee’s affiliate program. The interviews were conducted using a semi-structured, exploratory approach, and the results are presented as thematic findings and narrative quotations to enrich the quantitative model results.&#13;
		The findings indicate that commission percentage, number of clicks, and ROI are the strongest predictors of retention, with optimal points at 23.3% commission, more than 10,000–100,000 clicks per month, and an ROI of 91.4 times, respectively. The empirical results demonstrate that affiliate retention is not determined by a single factor, but rather by complex interactions among marketing, program, and relational factors. Therefore, affiliate program management can no longer be conducted in a partial or reactive manner; it must be data-driven, integrated, and long-term oriented. These results are consistent with qualitative enrichment findings, which show that financial incentive–based strategies remain important but are insufficient to retain high-performing affiliates over the long term. Platforms need to combine financial incentives with emotional support and social recognition, such as exclusive awards, priority access to certain campaigns, or involvement in content co-creation programs.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172646</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Model Ekosistem dan Daya Saing Wealth Tech Indonesia</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172550</link>
<description>Model Ekosistem dan Daya Saing Wealth Tech Indonesia
Siregar, Priscilla Maulina Juliani
Meskipun Indonesia berada pada peringkat ke-130 dunia berdasarkan GDP per kapita, Indonesia menjadi satu-satunya negara yang secara eksplisit mendefinisikan dan mengembangkan WealthTech sebagai kategori platform tersendiri, berbeda dengan negara lain yang memiliki platform dengan fungsi serupa namun tidak mengklasifikasikannya sebagai WealthTech. WealthTech di Indonesia berperan sebagai platform agregator yang mengintegrasikan berbagai layanan keuangan dan pendukungnya, sehingga keberlanjutan daya saing menjadi prasyarat utama agar mampu bersaing dengan platform lain yang memiliki cakupan layanan lebih luas dan menjadikan WealthTech sebagai salah satu kanal distribusi.&#13;
Penelitian ini bertujuan untuk: (1) memetakan ekosistem WealthTech Indonesia sebagai bagian dari ekosistem agregator, (2) menganalisis faktor-faktor penentu daya saing WealthTech Indonesia, serta (3) merancang model dan peta jalan (roadmap) strategi pengembangan ekosistem WealthTech Indonesia. Tujuan tersebut dicapai melalui pendekatan bertahap yang meliputi studi literatur dan benchmarking internasional untuk pemetaan ekosistem dan analisis kesenjangan, pengumpulan data primer melalui observasi, kuesioner, dan wawancara pakar untuk analisis faktor daya saing, serta perumusan model ekosistem dan roadmap strategi lima tahun melalui wawancara pakar dan klasifikasi matriks. Penelitian ini menggunakan pendekatan metode campuran (mixed methods) dengan integrasi analisis benchmarking, teori ekosistem bisnis, Diamond Porter, SEM-PLS, VRIO, serta ISM–MICMAC, dengan data primer dan sekunder dari Indonesia serta studi pembanding di Amerika Serikat, Korea Selatan, dan Republik Rakyat Tiongkok pada periode 2021–2025.&#13;
Hasil penelitian menegaskan bahwa WealthTech Indonesia lebih tepat dipahami sebagai platform-based ecosystem orchestrator yang mengelola akses, aliran data, dan koordinasi lintas aktor. Oleh karena itu, daya saing berkelanjutan tidak hanya ditentukan oleh sumber daya internal, tetapi juga oleh kapabilitas orkestrasi, kapabilitas adaptif, serta relasi ko-evolutif dengan regulator melalui strategi non-pasar. Temuan menunjukkan bahwa ekosistem WealthTech Indonesia masih berada pada fase emerging ecosystem yang cenderung terfragmentasi, sehingga penciptaan nilai bersama, interoperabilitas layanan, dan efek jaringan belum optimal. Dalam konteks ini, faktor kelembagaan khususnya regulasi, tata kelola data, dan keamanan siber menjadi prasyarat utama dalam membangun kepercayaan dan mendorong adopsi layanan.&#13;
Secara teoretis, penelitian ini menegaskan bahwa Diamond Porter tetap relevan, namun memerlukan perluasan indikator agar mampu menjelaskan dinamika ekosistem digital yang dinamis dan highly regulated. Oleh karena itu, penelitian ini mengembangkan Diamond Porter Extended yang mengakomodasi integrasi layanan, orkestrasi aktor, transformasi digital, serta peran regulasi sebagai determinan strategis. Integrasi metode SEM-PLS, VRIO, dan ISM–MICMAC membentuk kerangka multidimensi yang konsisten dengan literatur ekosistem digital dan menunjukkan bahwa penguatan WealthTech perlu dilakukan secara bertahap dan terintegrasi melalui penguatan tata kelola, inovasi, dan kolaborasi lintas sektor.&#13;
Secara empiris, penelitian ini mengidentifikasi 19 faktor utama pembentuk ekosistem dan daya saing WealthTech Indonesia. Namun demikian, faktor-faktor tersebut masih bersifat parsial dan belum terorkestrasi secara optimal, terutama dalam aspek integrasi layanan, pemanfaatan data, dan kesinambungan pengalaman pengguna lintas produk. Hasil SEM-PLS dan VRIO menunjukkan bahwa meskipun terdapat hubungan kausal yang signifikan antar faktor daya saing, sebagian besar kapabilitas WealthTech Indonesia belum memenuhi kriteria keunggulan kompetitif berkelanjutan karena masih mudah ditiru dan belum terintegrasi secara sistemik. Dengan demikian, keunggulan kompetitif WealthTech Indonesia saat ini masih bersifat sementara dan sangat bergantung pada kemampuan adaptasi terhadap dinamika regulasi dan teknologi.&#13;
Berdasarkan integrasi SEM-PLS, VRIO, dan ISM–MICMAC, penelitian ini merumuskan model ekosistem dan daya saing WealthTech Indonesia melalui perluasan Diamond Porter klasik menjadi Diamond Porter Extended, yang menempatkan regulasi, infrastruktur, inovasi, dan faktor lingkungan makro sebagai driving factors utama dalam struktur hierarkis ekosistem. Kebaruan penelitian ini terletak pada pengembangan kerangka daya saing WealthTech berbasis ekosistem melalui pendekatan multi-metodologi terintegrasi serta reframing Diamond Porter agar relevan dengan karakteristik industri digital yang sangat teregulasi. Implikasi manajerial menekankan pergeseran strategi dari fokus perusahaan individual menuju orkestrasi ekosistem yang kolaboratif dan berkelanjutan, dengan regulator berperan sebagai ecosystem orchestrator, pelaku industri sebagai penyedia solusi keuangan terintegrasi berbasis nilai tambah, dan akademisi sebagai penguat landasan teoretis serta evaluasi kebijakan berbasis bukti. Keterbatasan penelitian ini membuka peluang riset lanjutan, khususnya pada validasi implementatif model, perluasan aktor ekosistem, serta pengujian adaptabilitas Diamond Porter Extended pada sektor digital teregulasi lain seperti kesehatan, logistik, dan energi.; Although Indonesia ranks approximately 130th globally in terms of GDP per capita, it is the only country that explicitly defines and develops WealthTech as a distinct platform category. This differentiates Indonesia from other countries that operate platforms with similar functionalities but do not formally classify them as WealthTech. In Indonesia, WealthTech functions as an aggregator platform that integrates a wide range of financial services and their supporting components. Consequently, the sustainability of competitive advantage becomes a critical prerequisite for WealthTech platforms to compete with other platforms that offer broader service coverage and position WealthTech merely as one of several distribution channels.&#13;
This study aims to: (1) map the Indonesian WealthTech ecosystem as part of a broader aggregator ecosystem, (2) analyze the key determinants of competitiveness in Indonesia’s WealthTech sector, and (3) design an ecosystem model and a strategic development roadmap for the Indonesian WealthTech ecosystem. These objectives are achieved through a staged research approach that includes a literature review and international benchmarking to map the ecosystem and identify gaps, the collection of primary data through observation, questionnaires, and expert interviews to analyze competitiveness factors, and the formulation of an ecosystem model and a five-year strategic roadmap through expert interviews and matrix-based classification. The study adopts a mixed-methods approach, integrating benchmarking analysis, business ecosystem theory, Porter’s Diamond, SEM-PLS, VRIO, and ISM–MICMAC, utilizing both primary and secondary data from Indonesia as well as comparative case studies from the United States, South Korea, and the People’s Republic of China over the period 2021–2025.&#13;
The findings confirm that Indonesia’s WealthTech sector is more appropriately understood as a platform-based ecosystem orchestrator that manages access, data flows, and cross-actor coordination. Accordingly, sustainable competitiveness is determined not only by internal resources but also by orchestration capabilities, adaptive capabilities, and co-evolutionary relationships with regulators through non-market strategies. The results indicate that the Indonesian WealthTech ecosystem remains in an emerging ecosystem phase and is characterized by fragmentation, resulting in suboptimal value co-creation, service interoperability, and network effects. In this context, institutional factors particularly regulation, data governance, and cybersecurity constitute critical prerequisites for building trust and accelerating service adoption.&#13;
From a theoretical perspective, this study demonstrates that Porter’s Diamond remains relevant but requires an extension of its indicators to adequately capture the dynamics of a digital, highly regulated ecosystem. Accordingly, this research develops an Extended Porter’s Diamond framework that incorporates service integration, actor orchestration, digital transformation, and the strategic role of regulation. The integration of SEM-PLS, VRIO, and ISM–MICMAC produces a multidimensional analytical framework consistent with the digital ecosystem literature and indicates that strengthening WealthTech competitiveness must be pursued incrementally and integratively through enhanced governance, innovation, and cross-sector collaboration.&#13;
Empirically, the study identifies 19 key factors shaping the ecosystem and competitiveness of Indonesia’s WealthTech sector. However, these factors remain partial and have not yet been optimally orchestrated, particularly with respect to service integration, data utilization, and the continuity of user experience across products. The SEM-PLS and VRIO results reveal that although significant causal relationships exist among competitiveness factors, most WealthTech capabilities in Indonesia do not yet meet the criteria for sustainable competitive advantage, as they remain relatively easy to imitate and are not systemically integrated. Consequently, the current competitive advantages of Indonesia’s WealthTech sector are largely temporary and highly dependent on adaptive responses to regulatory and technological dynamics.&#13;
Based on the integration of SEM-PLS, VRIO, and ISM–MICMAC, this study formulates an ecosystem and competitiveness model for Indonesia’s WealthTech sector by extending the classical Porter’s Diamond into an Extended Porter’s Diamond framework. This model positions regulation, infrastructure, innovation, and macro-environmental factors as the primary driving forces within the hierarchical structure of the ecosystem, shaping competitiveness in a layered manner from external pressures to strategic outcomes. The novelty of this research lies in the development of an ecosystem-based WealthTech competitiveness framework through an integrated multi-methodological approach, as well as in the reframing of Porter’s Diamond to ensure its relevance to highly regulated digital industries. The managerial implications emphasize a strategic shift from firm-centric competition toward collaborative and sustainable ecosystem orchestration, with regulators acting as ecosystem orchestrators, industry players as providers of integrated value-added financial solutions, and academics as contributors to theoretical development and evidence-based policy evaluation. The limitations of this study open avenues for future research, particularly in the areas of implementation validation of the model, expansion of ecosystem actors, and testing the adaptability of the Extended Porter’s Diamond in other regulated digital sectors such as healthcare, logistics, and energy.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172550</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
