<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>MT - Economic and Management</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/78</link>
<description/>
<pubDate>Sat, 02 May 2026 01:50:29 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-05-02T01:50:29Z</dc:date>
<item>
<title>Preferensi Konsumen Pada Atribut Asuransi Kendaraan Bermotor Dan Implikasi Terhadap Strategi Pemasaran Asuransi Jasindo</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173014</link>
<description>Preferensi Konsumen Pada Atribut Asuransi Kendaraan Bermotor Dan Implikasi Terhadap Strategi Pemasaran Asuransi Jasindo
Girsang, Gio Adamartata
Industri asuransi kendaraan bermotor di Indonesia saat ini berada dalam fase persaingan yang sangat ketat (hyper competition), di mana pertumbuhan volume kendaraan tahunan tidak secara otomatis berkorelasi linear dengan pertumbuhan pangsa pasar perusahaan. Asuransi Jasindo, sebagai salah satu entitas BUMN terkemuka di bawah holding IFG, menghadapi tantangan strategis berupa stagnasi pangsa pasar yang signifikan pada lini bisnis ritel ini. Pada tahun 2023, kontribusi premi perusahaan di pasar nasional hanya mencapai 0,67 persen, sebuah angka yang mengindikasikan adanya kesenjangan fundamental antara kapasitas institusional perusahaan dengan penetrasi pasar riil. Penelitian ini disusun untuk membedah struktur preferensi konsumen guna mengidentifikasi atribut produk yang memiliki daya dorong keputusan (decision drivers) paling kuat, memetakan heterogenitas pasar melalui segmentasi berbasis manfaat (benefit segmentation), serta merumuskan kerangka strategi pemasaran yang mampu mengakselerasi daya saing Asuransi Jasindo secara berkelanjutan.&#13;
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode choice based conjoint (CBC) analysis yang berlandaskan pada random utility theory. Berbeda dengan metode survei tradisional yang cenderung menghasilkan jawaban normatif, CBC memaksa responden melakukan pertukaran nilai (trade off) yang menyerupai simulasi belanja nyata di pasar. Enam atribut kunci dievaluasi secara simultan adalah skema harga, brand, coverage (luas pertanggungan), layanan klaim, layanan tambahan, dan akses layanan. Data primer dikumpulkan melalui kuesioner daring dari 300 responden pemilik kendaraan roda empat di wilayah Jabodetabek yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Analisis statistik dilakukan dengan estimasi hierarchical bayes (HB) untuk mengekstraksi nilai utilitas Part worth tingkat individu yang memiliki presisi tinggi, serta latent class analysis (LCA) untuk mengidentifikasi kelompok-kelompok konsumen tersembunyi berdasarkan kesamaan pola preferensi mereka.&#13;
Hasil penelitian mengungkapkan temuan kritis bahwa pada tingkat pasar agregat, layanan klaim mendominasi seluruh pertimbangan konsumen dengan bobot kepentingan relatif sebesar 38,19 persen. Atribut ini diikuti oleh layanan tambahan sebesar 18,39 persen dan skema harga sebesar 16,28 persen. Temuan ini menunjukkan adanya pergeseran paradigma perilaku konsumen yang fundamental. Nasabah asuransi kendaraan kini lebih bersifat solution driven daripada sekadar price driven. Dalam persepsi nasabah, asuransi bukan lagi sekadar produk perlindungan finansial yang pasif, melainkan instrumen vital untuk memitigasi risiko gangguan produktivitas harian akibat hilangnya akses mobilitas. Oleh karena itu, kepastian kualitas layanan pada saat moment of truth (kejadian klaim) seperti jaminan kecepatan administrasi surat perintah kerja (SPK) satu hari dan kualitas teknis di bengkel authorized dianggap jauh lebih berharga daripada penghematan biaya melalui selisih premi. Sebaliknya, atribut tradisional seperti brand sebesar 7,70 persen dan coverage sebesar 7,02 persen justru menempati posisi terendah dalam hierarki keputusan. Fenomena ini menandakan bahwa kedua faktor tersebut telah bergeser menjadi hygiene factors atau ekspektasi dasar. Konsumen modern cenderung mengasumsikan bahwa setiap perusahaan asuransi berskala besar secara otomatis telah memiliki reputasi merek yang cukup baik dan luas jaminan yang seragam, sehingga faktor-faktor tersebut tidak lagi berfungsi sebagai pembeda utama yang mampu memicu perpindahan merek dalam keputusan akhir pembelian.&#13;
Melalui latent class analysis, pasar teridentifikasi terbagi secara tajam menjadi tiga segmen orientasi manfaat. Segmen mayoritas sebesar 63,9 persen, yaitu the functional efficiency seekers, menempatkan prioritas mutlak pada kepastian operasional, terutama pada kecepatan proses penerbitan SPK dan akses ke jaringan bengkel resmi (ATPM). Segmen kedua sebesar 24,4 persen, yaitu the value conscious brand loyals, masih menghargai reputasi merek BUMN namun tetap sangat peka terhadap proposisi nilai ekonomi yang kompetitif. Segmen ketiga sebesar 11,7 persen, yaitu the tech savvy seamless seekers, sangat memprioritaskan pengalaman digital tanpa hambatan sejak interaksi pertama. Hasil simulasi pasar menunjukkan potensi transformatif yang luar biasa jika Asuransi Jasindo mampu mengoptimalkan atributnya melalui skenario Jasindo Best (integrasi fitur klaim 1 hari, bengkel ATPM, dan fasilitas mobil pengganti), maka hal tersebut diprediksi akan meningkatkan potensi pangsa pasar perusahaan secara signifikan. Hal ini mengungkap adanya silent brand paradox, di mana kekuatan merek Jasindo sebenarnya sangat besar namun belum teraktivasi secara optimal di pasar ritel.&#13;
Penelitian ini merekomendasikan strategi targeted growth dengan fokus primer pada penguasaan Segmen 3 sebagai target pasar sasaran. Strategi ini diposisikan melalui positioning statement strategis "Jasindo Oto: Solusi Klaim Tercepat untuk Mobilitas Tanpa Jeda". Implikasi manajerial yang diusulkan meliputi transformasi radikal pada seluruh lini bauran pemasaran 7P, termasuk standardisasi fast track claim untuk perbaikan ringan, pemberian wewenang penerbitan SPK instan di lokasi kejadian kepada petugas penanganan klaim guna memangkas birokrasi, penerapan strategi premium loading untuk membiayai layanan nilai tambah, serta penguatan kemitraan strategis dengan diler ATPM dan perusahaan leasing untuk menutup availability gap di titik-titik krusial keputusan pembelian kendaraan.&#13;
&#13;
Kata kunci: analisis konjoin, asuransi kendaraan bermotor, hierarchical bayes, latent class analysis, strategi pemasaran.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173014</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Akses Kredit Terhadap Efisiensi dan Pendapatan Usahatani Padi di Kabupaten Pandeglang Provinsi Banten</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172850</link>
<description>Akses Kredit Terhadap Efisiensi dan Pendapatan Usahatani Padi di Kabupaten Pandeglang Provinsi Banten
Kartika, Sri Ajeng
Pertumbuhan penduduk yang terus meningkat menyebabkan meningkatnya permintaan pangan, sehingga komoditas padi (Oryza sativa L.) memiliki peran penting dalam menjaga ketahanan pangan nasional. Meskipun produktivitas padi di Indonesia cenderung meningkat, luas panen dan volume produksi menunjukkan tren penurunan. Kondisi ini menunjukkan bahwa peningkatan produksi tidak hanya bergantung pada perluasan lahan, tetapi juga pada efisiensi penggunaan input produksi. Namun, petani masih menghadapi berbagai kendala seperti keterbatasan modal, tingginya harga input, serta akses teknologi yang belum optimal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh skala usaha terhadap efisiensi produksi usahatani padi serta mengkaji dampak akses kredit terhadap efisiensi teknis dan pendapatan petani di Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten. Penelitian dilakukan di Kecamatan Panimbang pada Agustus–September 2025 menggunakan data cross-section satu musim tanam (MT I November 2024–April 2025) dengan sampel 130 petani yang dipilih melalui teknik multistage random sampling, terdiri atas 65 petani kredit dan 65 petani nonkredit. Analisis dilakukan menggunakan Stochastic Frontier Analysis (SFA) dengan fungsi produksi Cobb-Douglas untuk mengestimasi efisiensi teknis, regresi Tobit untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi efisiensi, serta Propensity Score Matching (PSM) untuk menganalisis dampak kausal akses kredit terhadap efisiensi teknis dan pendapatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa usahatani padi berada pada kondisi Increasing Returns to Scale (IRTS), yang menunjukkan bahwa peningkatan input secara proporsional akan meningkatkan output dalam proporsi yang lebih besar. Rata-rata efisiensi teknis petani kredit (0,977) lebih tinggi dibandingkan petani nonkredit (0,952). Akses kredit dan keanggotaan kelompok tani berpengaruh positif dan signifikan terhadap efisiensi teknis pada taraf nyata 1%, sedangkan usia berpengaruh signifikan pada taraf 5%. Selain itu, jenis kelamin, jumlah anggota keluarga, dan status kepemilikan lahan berpengaruh signifikan pada taraf 10%. Dari sisi ekonomi, pendapatan petani kredit mencapai Rp10,23 juta per musim tanam pada luas lahan rata-rata 0,94 ha, lebih tinggi dibandingkan petani nonkredit sebesar Rp5,86 juta pada luas lahan 0,83 ha. Hasil estimasi PSM menunjukkan bahwa akses kredit memberikan dampak positif dan signifikan terhadap efisiensi teknis dan pendapatan petani, dengan peningkatan efisiensi teknis berkisar antara 0,0025–0,0312 dan peningkatan pendapatan antara Rp2.041.958–Rp2.818.706 per musim tanam. Temuan ini menunjukkan bahwa akses kredit berperan dalam meningkatkan efisiensi produksi dan pendapatan petani, sehingga perluasan akses pembiayaan, penguatan kelembagaan petani, serta peningkatan sinergi antara pemerintah, lembaga keuangan, dan penyuluhan pertanian diperlukan untuk mendukung keberlanjutan usahatani padi.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172850</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Strategi Pengembangan UMKM Sektor Makanan dan Minuman pada Pasar Modern di Kabupaten Bogor</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172744</link>
<description>Strategi Pengembangan UMKM Sektor Makanan dan Minuman pada Pasar Modern di Kabupaten Bogor
Junaedi, Edi
Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) memiliki peran strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, penciptaan lapangan kerja, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Di Kabupaten Bogor, UMKM sektor makanan dan minuman merupakan salah satu subsektor yang berkontribusi penting terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), terutama melalui peningkatan konsumsi rumah tangga. Namun, pengembangan UMKM sektor ini masih menghadapi berbagai kendala, seperti keterbatasan kapasitas manajerial, rendahnya pemanfaatan teknologi digital, kualitas kemasan yang belum memenuhi standar pasar modern, serta belum optimalnya pemenuhan aspek legalitas usaha. Kondisi tersebut menjadi hambatan utama bagi UMKM sektor makanan dan minuman dalam memasuki pasar modern dan membangun kemitraan usaha yang berkelanjutan dengan ritel modern.&#13;
Penelitian ini memiliki tujuan untuk: 1) Mengidentifikasi kondisi UMKM sektor makanan dan minuman pada pasar modern di Kabupaten Bogor, 2) Menganalisis faktor-faktor apa saja yang menghambat UMKM sektor makanan dan minuman untuk menebus ke pasar modern di Kabupaten Bogor, dan 3) Merumuskan strategi pengembangan UMKM sektor makanan dan minuman pada pasar modern di Kabupaten Bogor. Penelitian ini menggunakan data primer dan sekunder. Data primer diperoleh melalui wawancara dan penyebaran kuesioner kepada narasumber ahli serta pelaku UMKM sektor makanan dan minuman, yang dipilih dengan metode purposive sampling. Data sekunder didapatkan dari informasi yang dipublikasikan oleh instansi terkait, serta kajian pustaka dan dokumen yang relevan. Untuk menganalisis data, menggunakan metode analisis deskriptif, matriks IFE, EFE dan IE, Analisis SWOT, serta Analisis QSPM.&#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa UMKM sektor makanan dan minuman di Kabupaten Bogor berada pada kuadran V (hold and maintain) dalam matriks IE, dengan skor faktor internal sebesar 2,91 dan skor faktor eksternal sebesar 2,97. Posisi ini mengindikasikan bahwa peluang eksternal relatif mendukung, namun kapasitas internal UMKM sektor makanan dan minuman masih perlu diperkuat agar mampu memanfaatkan peluang pasar modern secara optimal. 12 alternatif strategi SWOT yang menjadi 3 strategi utama, yaitu: 1) Strategi pengembangan produk melalui peningkatan kualitas, inovasi, dan daya saing produk, 2) Strategi pengembangan pasar, dengan memperluas jangkauan pemasaran melalui kemitraan dengan pasar modern, dan 3) Strategi penetrasi pasar, dengan memperkuat posisi produk pada pasar yang telah ada melalui promosi yang lebih intensif. Strategi terbaik berdasarkan analisis QSPM adalah peningkatan kualitas kemasan dan pemenuhan legalitas produk melalui program pendampingan, dengan nilai TAS tertinggi sebesar 6,98. Strategi tersebut, paling efektif dalam meningkatkan daya saing UMKM sektor makanan dan minuman sehingga mampu memasuki dan bertahan secara berkelanjutan di pasar modern.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172744</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Analisis Pendapatan dan Keberlanjutan Pertanian Kopi Arabika di Desa Sukawangi Bogor</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172662</link>
<description>Analisis Pendapatan dan Keberlanjutan Pertanian Kopi Arabika di Desa Sukawangi Bogor
Febriana, Amelia
Kopi merupakan salah satu komoditas pertanian strategis yang berperan penting dalam perdagangan internasional dengan permintaan global yang terus meningkat setiap tahunnya. Indonesia, sebagai produsen kopi terbesar keempat di dunia, memiliki peluang besar untuk mengembangkan sistem pertanian kopi yang unggul. Namun, sektor kopi global saat ini dihadapkan pada tantangan berat berupa volatilitas harga, krisis iklim, serta kesenjangan produktivitas dan pendapatan petani. Menurut laporan International Coffee Organization (ICO 2024), diperlukan investasi global sebesar USD 256,2 juta hingga lebih dari USD 1 miliar per tahun untuk meningkatkan ketahanan iklim dan keadilan nilai dalam rantai pasok. Kondisi ini menuntut adanya perubahan sistem produksi melalui pendekatan prinsip keberlanjutan pertanian organik. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) menganalisis persepsi keberlanjutan petani kopi arabika, 2) menganalisis pendapatan rumah tangga petani dalam rangka keberlanjutan kopi Arabika di Desa Sukawangi dan 3) menganalisis status keberlanjutan pertanian kopi arabika di Desa Sukawangi, Bogor.&#13;
Penelitian ini menggunakan metode survei dengan melibatkan 40 petani sebagai responden di Desa Sukawangi secara purposive. Analisis data mencakup analisis skala Likert dan deskripsi kualitatif untuk persepsi, analisis pendapatan R/C rasio untuk aspek ekonomi, serta analisis keberlanjutan Multidimensional Scaling (MDS). Uji sensitivitas juga dilakukan melalui analisis Monte Carlo untuk menjamin kestabilan indeks keberlanjutan yang dihasilkan.&#13;
Studi ini menjawab tiga tujuan utama. Pertama, petani memiliki persepsi sangat positif terhadap aspek keberlanjutan yang mengacu pada standar pertanian organik SNI 6729:2016 dengan rata-rata skor 3,54 (Kategori Sangat Setuju). Tingginya persepsi ini didorong oleh kesadaran lingkungan (skor 3,65) dan keyakinan bahwa praktik berkelanjutan mampu meningkatkan kualitas panen serta nilai jual di pasar premium. Kedua, analisis ekonomi menunjukkan bahwa usahatani kopi arabika memberikan keuntungan finansial yang signifikan dengan total profit riil kelompok mencapai Rp1.499.010.080. Nilai R/C rasio sebesar 2,29 membuktikan kelayakan usahatani yang valid, di mana setiap pengeluaran Rp1,00 menghasilkan penerimaan Rp2,29, sehingga petani memiliki kapasitas modal untuk pemeliharaan intensif sesuai standar Good Agricultural Practices (GAP). Ketiga, status keberlanjutan multidimensi berada pada kategori cukup berkelanjutan dengan indeks median 65,33. Dimensi teknologi mencatat skor tertinggi (78,85) diikuti dimensi sosial (73,41) dan ekologi (72,99). Namun, dimensi ekonomi (49,87) dan kelembagaan (51,54) menunjukkan nilai terendah yang memerlukan perhatian khusus.&#13;
Penelitian ini menawarkan strategi bagi pihak terkait guna menjamin keberlanjutan pertanian kopi di masa depan. Pemerintah perlu memfasilitasi penguatan kelembagaan kelompok tani dan memperluas akses pasar guna meningkatkan posisi tawar petani. Selain itu, diperlukan pendampingan berkelanjutan dalam standarisasi organik agar tren pendapatan positif yang ada saat ini dapat dipertahankan secara konsisten. Analisis Monte Carlo yang menunjukkan perbedaan nilai sangat kecil dibandingkan MDS menegaskan bahwa model kebijakan yang diusulkan dalam penelitian ini memiliki reliabilitas yang tinggi untuk diterapkan.; Coffee is a strategic agricultural commodity that role in international trade, with global demand continuing to rise annually. As the world’s fourth-largest coffee producer, Indonesia possesses significant opportunities to develop superior and sustainable coffee farming systems. However, the global coffee sector currently faces severe challenges, including price volatility, the climate crisis, and gaps in productivity and farmer income. According to the International Coffee Organization (ICO 2024) report, the global coffee sector requires an annual investment of USD 256.2 million to over USD 1 billion to enhance climate resilience, productivity, and value equity within the supply chain. This underscores the urgent need for a shift in coffee production systems through approaches based on organic farming sustainability principles. This research aims to: 1) analyze the sustainability perceptions of Arabica coffee farmers in Sukawangi Village, Bogor; 2) analyze the relationship between farming income and sustainability; and 3) analyze the multidimensional sustainability status of Arabica coffee farming in the region.&#13;
This study employed a survey method involving 40 farmers as respondents, selected through purposive sampling in Sukawangi Village, Bogor Regency. Data analysis included Likert scale and qualitative descriptive analysis for perceptions, R/C ratio analysis for economic feasibility, and Multidimensional Scaling (MDS) for sustainability status. Sensitivity testing was conducted using Monte Carlo analysis to ensure the stability of the sustainability indices.&#13;
The study addresses three primary objectives. First, farmers possess a highly positive perception toward the sustainability aspects of Arabica coffee farming based on the organic agriculture standard SNI 6729:2016, with an average score of 3.54 (Highly Agree). This high perception is driven by environmental awareness, with farmers viewing nature conservation as a guarantee for future productivity (score 3.65), and the belief that sustainable cultivation enhances harvest quality and market value. Second, economic analysis reveals that coffee farming provides significant financial benefits, with a total group real profit of IDR 1,499,010,080. The feasibility is validated by an R/C ratio of 2.29, indicating that every IDR 1.00 of expenditure generates IDR 2.29 in revenue, providing farmers with sufficient capital to implement Good Agricultural Practices (GAP). Third, the multidimensional sustainability status of Arabica coffee in Sukawangi Village is categorized as sufficiently sustainable, with a median index value of 65.33. The technological dimension recorded the highest score (78.85) due to good post-harvest mechanization, followed by the social (73.41) and ecological (72.99) dimensions. However, the economic (49.87) and institutional (51.54) dimensions require further strengthening through active farmer group participation and broader market access.&#13;
The research offers strategies for stakeholders to maintain future sustainability. The government needs to facilitate institutional strengthening and market access to sustain positive income trends. Monte Carlo analysis showed minimal differences compared to MDS values, confirming the model's reliability. Strengthening farmer groups and ensuring consistent organic standards are essential to securing the long-term viability of Arabica coffee farming.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172662</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
