<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>Research Journal :: Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/71447</link>
<description>Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia, JIPI</description>
<pubDate>Fri, 24 Apr 2026 07:26:32 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-04-24T07:26:32Z</dc:date>
<item>
<title>Pengaruh jarak tanam dan pemangkasan tanaman pada produksi dan Mutu benih koro pedang (canavalia enziformis)</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/71777</link>
<description>Pengaruh jarak tanam dan pemangkasan tanaman pada produksi dan Mutu benih koro pedang (canavalia enziformis)
Suharsi, Tatiek Kartika; Surahman, Memen; Rahmatani, Silmy Fadilah
Jack bean potentially as a substitute of soybean. Increasing value of jack bean requirement of good quality of seeds. Availabelity of good quality seeds must be supported by teknology of production. Prunning and planting space are factors should be concidered. Field trial was carried out at Ciherang, Bogor. Using randomized block design, two kind of prunning and five level of planting space. Base on the research indicate that planting space did not influence to vegetatief growth and fisicaly also fisiologicaly seeds quality. Planting space influence to several parameter of yield.; Koro pedang (Canavalia enziformis) merupakan salah satu tanaman yang berpotensi menyubstitusi kedelai. Untuk pengembangan koro pedang secara kontinu perlu disediakan benih bermutu melalui teknologi produksi benih. Pemangkasan dan jarak tanam merupakan faktor yang harus diperhatikan. Penelitian lapangan dilakukan di desa Ciherang kabupaten Bogor. Perlakuan berupa jarak tanam 5 taraf dan pemangkasan 2 macam, dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap Teracak. Hasilnya menyatakan bahwa jarak tanam tidak memengaruhi pertumbuhan vegetatif tanaman, mutu fisik, dan fisiologis benih koro, tetapi memengaruhi jumlah biji polong-1, bobot biji petak-1, dan produktivitas-ton
</description>
<pubDate>Sun, 01 Dec 2013 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/71777</guid>
<dc:date>2013-12-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Validasi Metode Analisis Kolesterol dalam Telur dengan HPLC-ELSD</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/71776</link>
<description>Validasi Metode Analisis Kolesterol dalam Telur dengan HPLC-ELSD
Lioe, Hanifah Nuryani; Setianingrum, Tika; Anggraeni, Ririn
Metode analisis kolesterol dalam telur menggunakan instrumen kromatografi cair kinerja tinggi (HPLC) yang dilengkapi dengan detektor evaporative light scattering (ELSD) divalidasi dalam penelitian ini. Kolom silika dan campuran tunggal fase gerak yang terdiri atas 90% heksana dan 10% isopropanol dipakai untuk menentukan kolesterol dengan HPLC. Kolesterol terdeteksi pada waktu retensi 1,5 menit memakai standar kolesterol dan kondisi HPLC-ELSD: suhu evaporasi 50 ºC, tekanan udara 2,2 bar, dan laju alir fase gerak 2 mL/min. Linearitas metode analisis kolesterol menggunakan matriks sampel telur dicapai pada konsentrasi 50–3000 μg/g sampel, dengan R2&gt;0,990. Limit deteksi instrumen dan limit kuantifikasi berturut-turut diperoleh pada konsentrasi larutan kolesterol 1,07 dan 3,56 μg/mL. Hasil uji rekoveri dengan metode penambahan kolesterol standar dalam matriks sampel telur pada konsentrasi rendah (50 μg/g), sedang (250 μg/g), dan tinggi (3000 μg/g) masing-masing adalah 122,13, 108,23, dan 44,71%, dengan nilai presisi masing-masing 5,26, 4,29, dan 10,11%. Limit deteksi metode diketahui pada konsentrasi 2,30 μg/g. Reprodusibilitas intralab untuk menganalaisis sebuah sampel telur adalah 0,04%. Metode analisis kolesterol dalam telur ini dinyatakan valid apabila digunakan untuk analisis kolesterol pada konsentrasi rendah dan sedang dalam sampel.; A method using high-performance liquid chomatography (HPLC) coupled with an evaporative light-scattering detector (ELSD) for the determination of cholesterol in egg was validated. A silica column and a binary mixture of hexane and isopropanol (90:10) as a mobile phase were used to separate cholesterol. Cholesterol was detected at 1.5 min using cholesterol standard and HPLC-ELSD condition: evaporation temperature 50 ºC, air pressure 2.2 bars, and flow rate of mobile phase 2 mL/min. A method linearity for the cholesterol analysis in egg as a sample matrix was obtained at a range of 50 to 3000 μg/g sample, with R2&gt;0.990. Instrument detection limit and limit of quantitation were determined at 1.07 and 3.56 μg/mL, respectively. Recovery test results by spiking cholesterol standard in egg sample at low, medium, and high concentrations (50, 250 and 3000 μg/g ) were 122.13, 108.23, and 44.71%, respectively. Their corresponding repeatability values were 5.26, 4.29, and 10.11%. Method detection limit and intralab reproducibility (to analyze a sample) were observed at 2.30 μg/g and 0.04%. The method is valid for cholesterol analysis in egg at low and medium concentrations.
</description>
<pubDate>Tue, 01 Jan 2013 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/71776</guid>
<dc:date>2013-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Teknik pangkas akar untuk meningkatkan produksi bibit melinjo Bermikoriza</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/71775</link>
<description>Teknik pangkas akar untuk meningkatkan produksi bibit melinjo Bermikoriza
Wulandari, Arum Sekar; Supriyanto
Mycorrhizal symbiosis is the result of mutualistic interactions between plants and fungi. Melinjo (Gnetum gnemon) naturally associate with ectomycorrhizal Scleroderma sinnamariense and Scleroderma sp. fungi. Artificial inoculation can be applied to young seedlings (1 2 months old), before the roots contain woody material. The purpose of this study was to apply the root pruning techniques to improve gnetum mycorrhizal seedlings production. The study was conducted in a greenhouse using 7 months old seedlings. The treatments consisted of 3 root pruning levels (0, 30, and 50%) and ectomycorrhizal fungi inoculum (control, mycorrhizal seedlings, and soil inoculum). Observations were carried out for 4 months to the seedling growth and root colonization by ectomycorrhizal fungi. Height, diameter, and biomass of melinjo seedlings in all treatments were not significantly different. Thus, root pruning activities do not affect the growth of seedlings. Artificial inoculation produce mycorrhizal seedlings, whereas controls were uninfected. Root pruning increased number of root branching. Root pruning at level 50% increased mycorrhizal seedlings production, but the percentage of root colonization was not significantly difefernt at all pruning levels.; Mikoriza merupakan hasil interaksi simbiosis mutualistik antara tanaman dan fungi. Tanaman melinjo (Gnetum gnemon) secara alami dapat berasosiasi dengan fungi ektomikoriza Scleroderma sinnamariense dan Scleroderma sp. Inokulasi buatan dapat dilakukan untuk mendapatkan bibit bermikoriza, umumnya diterapkan pada bibit yang masih muda (umur 1 2 bulan), yang akarnya belum berkayu. Penelitian ini bertujuan menerapkan teknik pangkas akar dalam meningkatkan produksi bibit melinjo bermikoriza. Penelitian dilaksanakan di rumah kaca dengan bibit yang berumur 7 bulan. Perlakuan yang diterapkan ialah tingkat pemangkasan akar (0, 30, dan 50%) dan sumber inokulum fungi ektomikoriza (kontrol, bibit bermikoriza, dan inokulum tanah). Pengamatan dilakukan selama 4 bulan pada pertumbuhan bibit dan kolonisasi akar oleh fungi ektomikoriza. Tinggi, diameter, dan biomassa bibit melinjo dari semua perlakuan tidak berbeda nyata. Dengan demikian, kegiatan pemangkasan akar tidak memengaruhi pertumbuhan bibit. Inokulasi fungi ektomikoriza menghasilkan bibit melinjo bermikoriza, sedangkan kontrol tidak terinfeksi. Pemangkasan akar meningkatkan jumlah percabangan akar melinjo. Pemangkasan dengan tingkat 50% meningkatkan produksi bibit melinjo bermikoriza, tetapi persentase akar yang terinfeksi dari semua tingkat pemangkasan tidak berbeda nyata.
</description>
<pubDate>Sun, 01 Dec 2013 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/71775</guid>
<dc:date>2013-12-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Ketahanan Pangan dan Gizi serta Mekanisme Bertahan pada Masyarakat Tradisional Suku Ciptagelar di Jawa Barat</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/71774</link>
<description>Ketahanan Pangan dan Gizi serta Mekanisme Bertahan pada Masyarakat Tradisional Suku Ciptagelar di Jawa Barat
Khomsan, Ali; Riyadi, Hadi; Marliyati, Sri Anna
Budaya memegang peran penting dalam ketersediaan pangan masyarakat dan pola konsumsi, yang pada akhirnya akan berdampak pada status gizi dan kesehatan. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis (1) ciri sosioekonomi rumah tangga; (2) status gizi anak; dan (3) mekanisme bertahan (coping mechanism) untuk mendukung kecukupan pangan rumah tangga. Penelitian dilakukan pada masyarakat adat Ciptagelar, Jawa Barat, dan berlangsung dari MaretOktober 2013. Sampel dipilih sebanyak 65 rumah tangga. Rata-rata pendapatan rumah tangga adalah Rp285.753,00 per kapita per bulan, sedangkan pengeluaran totalnya mencapai Rp393.590,00. Prevalensi bobot rendah (underweight) pada anak 12,5%, pengerdilan (stunting) 31,2%, dan wasting 12,5%. Mekanisme bertahan yang dilakukan masyarakat ketika menghadapi kendala pendapatan adalah membeli makanan yang lebih murah harganya, mengurangi jenis pangan yang dikonsumsi, dan mengubah prioritas pangan.; Culture plays an important role in food availability and consumption pattern, which then affects nutritional status and health. The objectives of the study were to analyze (1) socio-economic characteristics of household, (2) nutritional status of children, and (3) coping mechanism to support food access. The study was conducted in Ciptagelar Traditional Community, West Java from MarchOctober 2013. Total sample was 65 households. The average income per capita per month was Rp285.753,00 and total expenditure was Rp393.590,00. The underweight prevalence among children was 12.5%, stunting 31.2%, and wasing 12.5%. Coping mechanisms to face income constraint were buying cheaper foods, reducing kinds of food consumed, and changing food priority.
</description>
<pubDate>Tue, 01 Jan 2013 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/71774</guid>
<dc:date>2013-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
