<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>UT - Environmental Engineering and Management</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/153667</link>
<description/>
<pubDate>Sat, 25 Apr 2026 18:54:55 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-04-25T18:54:55Z</dc:date>
<item>
<title>Pemanfaatan Serat Kotoran Gajah menjadi Kertas Daur Ulang dengan Penambahan Daun Sirih sebagai Disinfektan Alami</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/171860</link>
<description>Pemanfaatan Serat Kotoran Gajah menjadi Kertas Daur Ulang dengan Penambahan Daun Sirih sebagai Disinfektan Alami
Qolbi, Zakiatun
Kotoran gajah merupakan limbah organik dengan kandungan serat tinggi karena sistem pencernaan gajah hanya mampu menyerap sekitar 40% nutrisi pakan, sehingga sisanya masih berpotensi dimanfaatkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi potensi serat kotoran gajah sebagai bahan baku kertas daur ulang serta menguji efektivitas penambahan ekstrak daun sirih sebagai disinfektan alami. Proses pembuatan kertas dilakukan melalui tahap pencucian, perebusan dengan ekstrak daun sirih, pencampuran dengan kertas bekas, pencetakan, dan pengeringan. Tiga variasi komposisi digunakan, yaitu sampel a (60% serat kotoran gajah : 40% kertas bekas), sampel b (50% : 50%), dan sampel c (80% : 20%). Analisis dilakukan melalui uji mikrobiologi menggunakan metode (FDA-BAM Chapter 3) serta uji fisik meliputi kuat tarik dan kadar air berdasarkan standar SNI. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan ekstrak daun sirih mampu menurunkan jumlah bakteri dari 5,9 × 105 menjadi 4,3 × 10³ koloni/g. Secara fisik, sampel b menunjukkan kekuatan tarik tertinggi dan kadar air terendah, sedangkan sampel a berada pada kualitas menengah dan sampel c memiliki ketebalan serta beban maksimum terbesar namun kadar air tinggi dan kekuatan tarik spesifik lebih rendah. Sampel a dan b memenuhi standar kadar air SNI (&lt;10%). Secara keseluruhan, kotoran gajah berpotensi sebagai alternatif serat non-kayu untuk kertas ramah lingkungan, dengan penambahan ekstrak daun sirih yang meningkatkan higienitas dan umur simpan produk.; Elephant dung is an organic waste material with high fiber content, as only about 40% of dietary nutrients are digested by elephants, leaving a significant amount of usable fiber. This study aimed to evaluate the potential of elephant dung fiber as a raw material for recycled paper and to assess the effectiveness of betel leaf extract as a natural disinfectant. The papermaking process involved washing, boiling with betel leaf extract, mixing with waste paper, sheet forming, and drying. Three composition ratios were applied: sample a (60% elephant dung fiber : 40% waste paper), sample b (50% : 50%), and sample c (80% : 20%). Microbiological analysis was conducted using method based on FDA-BAM Chapter 3, while physical properties were evaluated through tensile strength and moisture content tests according to Indonesian National Standards (SNI). The results showed that the addition of betel leaf extract significantly reduced bacterial counts from 5.9 × 105 to 4.3 × 10³ colony/g. Physically, sample b exhibited the highest tensile strength and lowest moisture content, sample a showed moderate quality, and sample c had the greatest thickness and maximum load but higher moisture content and lower specific tensile strength. Samples a and b met the SNI moisture content requirement (&lt;10%). Overall, elephant dung demonstrates strong potential as a sustainable non-wood fiber source for art paper, while betel leaf extract provides added value by improving hygiene and extending product durability.
</description>
<pubDate>Wed, 01 Jan 2025 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/171860</guid>
<dc:date>2025-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Pemanfaatan Adsorben Serbuk Kulit Singkong dan Kulit Pisang dalam Menurunkan Kadar COD dan Zat Warna pada Limbah Batik</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/171859</link>
<description>Pemanfaatan Adsorben Serbuk Kulit Singkong dan Kulit Pisang dalam Menurunkan Kadar COD dan Zat Warna pada Limbah Batik
Febriana, Ashilah
Industri batik menghasilkan limbah cair dengan kadar zat warna dan Chemical Oxygen Demand (COD) yang berpotensi mencemari lingkungan. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi karakteristik fisik karbon aktif dari limbah kulit singkong, kulit pisang, dan campurannya (KPS), serta efektivitasnya menurunkan kadar COD dan zat warna pada limbah batik cair. Pembuatan karbon aktif melalui proses karbonisasi, aktivasi kimia, kemudian uji adsorpsi dengan variasi massa 3g dan 5g. Hasil menunjukkan bahwa karbon aktif KPS memiliki karakteristik fisik terbaik dengan kadar air 7,8% dan kadar abu 4,9%, yang memenuhi standar SNI 06-3730-1995. Efektivitas penurunan kadar COD tertinggi diperoleh pada karbon aktif kulit pisang sebesar 46,5% pada massa 3g, sedangkan penurunan kadar zat warna tertinggi adalah karbon aktif kulit pisang sebesar 34% pada massa 5g. Variasi massa adsorben tidak berpengaruh signifikan, namun pada karbon aktif KPS penambahan massa meningkatkan penurunan COD dan zat warna, sehingga kombinasi adsorben berpotensi memberikan kinerja yang lebih stabil dan efektif.; The batik industry produces liquid waste with high levels of dyes and Chemical Oxygen Demand (COD) that have the potential to pollute the environment. This study aims to identify the physical characteristics of activated carbon from cassava peel, banana peel, and their mixture (KPS) waste, as well as its effectiveness in reducing COD and dye levels in liquid batik waste. Activated carbon was made through a carbonization process, chemical activation, and then adsorption tests with variations in mass of 3g and 5g. The results showed that KPS activated carbon had the best physical characteristics with a water content of 7.8% and ash content of 4.9%, which met the SNI 06-3730-1995 standard. The highest COD reduction effectiveness was obtained in banana peel activated carbon at 46.5% at a mass of 3g, while the highest reduction in dye levels was obtained in banana peel activated carbon at 34% at a mass of 5g. Variations in adsorbent mass did not have a significant effect, but in KPS activated carbon, increasing mass increased the reduction in COD and dye, so that the combination of adsorbents has the potential to provide more stable and effective performance.
</description>
<pubDate>Wed, 01 Jan 2025 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/171859</guid>
<dc:date>2025-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Aplikasi Biochar Dari Kulit Ari Kedelai Pada Tanah Latosol Untuk Mendukung Pertumbuhan Tanaman Pakcoy</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/171858</link>
<description>Aplikasi Biochar Dari Kulit Ari Kedelai Pada Tanah Latosol Untuk Mendukung Pertumbuhan Tanaman Pakcoy
Daniputra, Robertus Bellarmino
Proses produksi industri tempe menghasilkan limbah padat berupa kulit ari &#13;
kedelai. Limbah hasil produksi yang tidak terolah dengan baik dapat menimbulkan &#13;
bau tidak sedap yang mengganggu lingkungan sekitar. Penelitian ini bertujuan &#13;
mengukur kemampuan biochar dari limbah kuit ari kedelai untuk memperbaiki sifat &#13;
fisika dan kimia tanah dan mendukung pertumbuhan tanaman pakcoy.  Penelitian &#13;
dilakukan pada skala semi lapang. Rancangan penelitian yang digunakan adalah &#13;
Acak Lengkap dengan 7 perlakuan yang merupakan kombinasi dosis biochar (2, 4, &#13;
dan 6%), serta ukuran ayakan biochar (60 dan 80 mesh) yaitu B2-60, B2-80, B4&#13;
60, B4-80, B6-60, B6-80, dan kontrol.  Parameter yang diamati meliputi luas &#13;
permukaan spesifik biochar, nilai pH, kadar Electrical Conductivity, C-Organik, &#13;
dan P-Tersedia media tanam yang ditambah biochar. Parameter pertumbuhan &#13;
tanaman meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang, dan bobot kering &#13;
tanaman pada umur panen 5 minggu setelah tanam. Beberapa hasil analisis varians &#13;
(ANOVA) menunjukan hasil yang signifikan bahwa pengaplikasian biochar pada &#13;
tanah berhasil meningkatkan parameter Electrical Conductivity, C-Organik, dan P&#13;
Tersedia pada perlakuan dosis B6-80. Pada parameter pertumbuhan tanaman hasil &#13;
analisis varians (ANOVA) menunjukan hasil yang sedikit signifikan pada parameter &#13;
daun pada perlakuan B2-60 dan pada parameter pertumbuhan lainya tidak tidak &#13;
memberikan hasil yang signifikan pada setiap perlakuan.; The tempeh production process generates solid waste in the form of soybean&#13;
seed coats. Improper management of this waste can cause unpleasant odors that&#13;
disturb the surrounding environment. This study aimed to evaluate the ability of&#13;
biochar produced from soybean seed coat waste to improve the physical and&#13;
chemical properties of soil and to support the growth of pakcoy (Brassica rapa L.).&#13;
The research was conducted on a semi-field scale using a Completely Randomized&#13;
Design (CRD) with seven treatments combining biochar dosage levels (2%, 4%,&#13;
and 6%) and particle sizes (60 and 80 mesh), namely B2-60, B2-80, B4-60, B4-80,&#13;
B6-60, B6-80, and a control. The observed soil parameters included the specific&#13;
surface area of biochar, pH, electrical conductivity, carbon, and available P in the&#13;
planting media. Plant growth parameters included plant height, number of leaves,&#13;
stem diameter, and plant dry weight at harvest (five weeks after planting). Results&#13;
of analysis of variance (ANOVA) showed significant effects of biochar application&#13;
on electrical conductivity, organic carbon, and available P, particularly in treatment&#13;
B6-80. For plant growth parameters, the ANOVA results indicated a slightly&#13;
significant effect on the number of leaves in treatment B2-60, while other growth&#13;
parameters showed no significant differences among treatments.
</description>
<pubDate>Wed, 01 Jan 2025 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/171858</guid>
<dc:date>2025-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Pemanfaatan Limbah Cair Kecap Sebagai Bahan Dasar Pembuatan Nataleather</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/171783</link>
<description>Pemanfaatan Limbah Cair Kecap Sebagai Bahan Dasar Pembuatan Nataleather
safitri, novi
Limbah cair kecap mengandung senyawa organik yang berpotensi menjadi sumber nutrisi bagi pertumbuhan bakteri penghasil selulosa. Penelitian ini bertujuan untuk memanfaatkan limbah cair kecap sebagai bahan dasar pembuatan nataleather berbasis selulosa melalui proses fermentasi menggunakan bakteri Acetobacter xylinum. Metode penelitian mencakup proses fermentasi yang dilakukan selama 7-14 hari dalam kondisi aerobik, tahap pembuatan media nataleather, inokulasi, fermentasi, pemanenan, pencucian, pengepresan dan pengeringan hingga terbentuk lembaran nataleather. Hasil pengujian menunjukkan bahwa nataleather memiliki kadar air rata-rata 94,20%, kuat tarik 58,83 N/mm2, dan elongasi 13,03%, sedangkan kulit konvensional memiliki kuat tarik 34,73 N/mm2 dan elongasi 40,94%. Nilai tersebut menunjukkan bahwa nataleather memiliki kekuatan tarik lebih tinggi namun elastisitas lebih rendah dibandingkan kulit konvensional. Hasil menunjukkan secara keseluruhan, penelitian ini membuktikan bahwa limbah cair kecap dapat diolah menjadi material nataleather yang berpotensi sebagai bahan alternatif kulit ramah lingkungan dan mendukung pengurangan limbah industri pangan.; Soy sauce wastewater contains organic compounds that have the potential&#13;
to serve as a nutrient source for the growth of cellulose-producing bacteria. This&#13;
study aims to utilize soy sauce wastewater as a raw material for producing&#13;
nataleather based on bacterial cellulose through a fermentation process using&#13;
Acetobacter xylinum. The research method included a fermentation process carried&#13;
out for 7–14 days under aerobic conditions, covering several stages such as the&#13;
preparation of the nataleather medium, inoculation, fermentation, harvesting,&#13;
washing, pressing, and drying until nataleather sheets were formed. The test results&#13;
showed that nataleather had an average moisture content of 94.20%, tensile&#13;
strength of 58.83 N/mm2&#13;
, and elongation of 13.03%, while conventional leather&#13;
exhibited a tensile strength of 34.73 N/mm2 and elongation of 40.94%. These results&#13;
indicate that nataleather possesses higher tensile strength but lower elasticity&#13;
compared to conventional leather. Overall, the study demonstrates that soy sauce&#13;
wastewater can be processed into nataleather material, which has potential as an&#13;
eco-friendly leather alternative and contributes to reducing industrial food waste.
</description>
<pubDate>Wed, 01 Jan 2025 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/171783</guid>
<dc:date>2025-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
