<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rdf:RDF xmlns="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<channel rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/79">
<title>MT - Human Ecology</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/79</link>
<description/>
<items>
<rdf:Seq>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172949"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172888"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172650"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172649"/>
</rdf:Seq>
</items>
<dc:date>2026-04-25T12:16:39Z</dc:date>
</channel>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172949">
<title>Akses Pangan, Kualitas Diet, Praktik Pemberian Makan pada Anak Usia 24–59 Bulan Stunting dan Normal</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172949</link>
<description>Akses Pangan, Kualitas Diet, Praktik Pemberian Makan pada Anak Usia 24–59 Bulan Stunting dan Normal
Safitri, Rahmauldianti
Kajian mengenai asupan zat gizi mikro pada balita stunting di Indonesia masih terbatas. Sebagian besar penelitian sebelumnya berfokus pada jumlah asupan zat gizi tanpa mempertimbangkan estimasi bioavailabilitas, khususnya zat gizi mikro esensial seperti seng dan besi. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan Akses Pangan, Kualitas Diet, Praktik Pemberian Makan Pada Balita Stunting dan Normal.   &#13;
Penelitian ini menggunakan desain comparative cross-sectional study. Lokasi penelitian mencakup Puskesmas Purwasari yang membawahi Desa Sukadamai, Purwasari, dan Petir, serta Puskesmas Kampung Manggis yang membawahi Desa Dramaga, Neglasari, dan Sinarsari, Kecamatan Dramaga. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan 01 - 26 Agustus 2025 dan telah mendapat Persetujuan Etik dari Komisi Etik Penelitian yang Melibatkan Subjek Manusia Institut Pertanian Bogor, Nomor 1838/IT3.KEPMSM-IPB/SK/2025. Jumlah sampel total 120 balita (60 balita stunting dan 60 balita normal) dipilih berdasarkan kriteria inklusi. Data primer yang dikumpukan mencakup sosioekonomi, karakteristik anak, akses pangan menggunakan Household Food Security Scale Module (HFSSM), praktik pemberian makan menggunakan Child Feeding Questionnaire (CFQ), konsumsi pangan menggunakan repeated recall 2×24 jam dan status gizi. Analisis yang digunakan adalah independent t-test, dan Mann-Whitney test. &#13;
Hasil analisis menunjukkan bahwa sekitar tiga perempat ibu balita stunting memiliki pendidikan terakhir rendah SD/MI/sederajat (71,4%), sedangkan pada kelompok normal sekitar dua pertiga ibu berpendidikan SMA/MA/sederajat (66,7%) dan sekitar tiga perempat merupakan lulusan perguruan tinggi (75%). Pendidikan ibu berbeda signifikan antara kelompok balita stunting dan normal (?&lt;0,05). Hasil analisis menunjukkan bahwa sekitar tiga perlima ayah balita stunting memiliki pendidikan terakhir SD/MI/sederajat (60%). Sementara itu, pada balita dengan status gizi normal, sekitar tiga perlima ayah berpendidikan SMA/MA/sederajat (60%) dan seluruhnya merupakan lulusan perguruan tinggi (100%). Pendidikan ayah berbeda signifikan antara balita stunting dan normal (?&lt;0,05). Hasil analisis menunjukkan bahwa sekitar setengah ibu balita stunting maupun normal tidak bekerja atau sebagai ibu rumah tangga, dengan persentase masing-masing (52,3% dan 47,7%). Sementara itu, pada balita stunting, lebih dari setengah ayah bekerja sebagai wirausaha/pedagang/jasa (56,0%) dan buruh/sopir (53,8%). Pekerjaan ayah berbeda signifikan (?&lt;0,05) dan ibu tidak berbeda signifikan antara balita stunting dan norma (?&gt;0,05). Sekitar setengah keluarga balita stunting termasuk dalam kategori keluarga kecil (51,5%), sedangkan pada balita dengan status gizi normal sekitar setengah termasuk dalam kategori keluarga besar (51,9%), tidak berbeda secara signifikan (?&gt;0,05). Sekitar dua pertiga balita stunting berasal dari keluarga dengan paritas tidak ideal (66,7%), sedangkan pada balita dengan status gizi normal sekitar setengah berasal dari keluarga dengan paritas ideal (51,8%), terdapat perbedaan secara signifikan (?&lt;0,05). Pendapatan perkapita berbeda secara signifikan antara kelompok balita stunting dan normal (?&lt;0,05).  &#13;
Hasil analisis menunjukkan bahwa sekitar setengah balita stunting memiliki berat badan lahir rendah, dan kondisi ini berbeda signifikan dibandingkan balita normal (?&lt;0,05). Sekitar setengah balita pada kedua kelompok memiliki panjang badan lahir normal serta usia kehamilan cukup bulan, tanpa perbedaan signifikan (?&gt;0,05). Berdasarkan jenis kelamin, sekitar setengah balita stunting berjenis kelamin laki-laki dan balita normal didominasi perempuan, juga tanpa perbedaan signifikan (?&gt;0,05). Sementara itu, sekitar setengah balita stunting memiliki riwayat penyakit infeksi dalam enam bulan terakhir, dengan proporsi lebih tinggi dibandingkan balita normal, dan perbedaannya signifikan (?&lt;0,05).&#13;
Tidak terdapat perbedaan signifikan skor kualitas diet total (? &gt; 0,05). Asupan serealia, kacang-kacangan, minyak/lemak, lemak jenuh, dan lemak total rendah pada kedua kelompok. Terdapat perbedaan signifikan pada sayuran, buah keragaman pangan, di mana balita normal memiliki keragaman lebih baik. Konsumsi sayur dan buah (enhancer) signifikan lebih tinggi pada balita normal. Tidak terdapat perbedaan signifikan estimasi bioavailabilitas zat besi maupun seng (?&gt;0,05). Berdasarkan hasil analisis, pangan yang dikonsumsi pada kedua kelompok cenderung memiliki estimasi bioavailabilitas besi yang rendah. Median zat besi terserap lebih tinggi pada balita normal (0,50 mg) dibanding stunting (0,36 mg) dengan perbedaan signifikan. Sebaliknya, pangan yang dikonsumsi balita sebagian besar termasuk dalam kategori estimasi bioavailabilitas seng tinggi; median seng terserap lebih tinggi pada balita normal (0,83 mg dengan 0,43 mg) dengan perbedaan signifikan. Kecukupan zat gizi makro dan mikro berbeda signifikan antara balita stunting dan normal (?&lt;0,05), mayoritas orang tua pada kedua kelompok berada pada kategori "kontrol rendah". Terdapat perbedaan yang signifikan akses pangan antara kedua kelompok (?&lt;0,05).&#13;
Dalam upaya penanggulangan stunting pada balita, diperlukan pendekatan yang tidak hanya berfokus pada peningkatan asupan makanan, tetapi juga pada perbaikan kondisi sosial-ekonomi keluarga yang terbukti berbeda antara kedua kelompok. Selain itu, edukasi gizi perlu diberikan, khususnya terkait pengaturan waktu konsumsi teh agar tidak berdekatan dengan waktu makan utama, guna mendukung peningkatan penyerapan zat gizi serta promosi buah dan sayur lokal terjangkau kaya vitamin C untuk meningkatkan penyerapan besi non-heme dan peningkatan konsumsi protein hewani. Penguatan edukasi gizi yang berfokus pada dampak status gizi ibu hamil, pemantauan pertumbuhan dengan KMS, kebutuhan gizi balita, sumber dan fungsi zat gizi, serta prinsip pola makan seimbang. Perbaikian kualitas diet dengan meningkatkan asupan pada komponen adekuasi yang masih mengalami defisit, khususnya serealia, sayuran, buah-buahan, kacang-kacangan, serta minyak dan lemak, baik pada balita stunting maupun normal.   &#13;
Penelitian selanjutnya diperlukan untuk memperkuat bukti hubungan estimasi bioavailabilitas seng dan zat besi melalui penggunaan indikator biomarker laboratorium, seperti IGF-1 (Insulin-Like Growth Factor 1) untuk status protein, kadar seng darah atau rambut, serta hemoglobin, feritin, dan transferin sebagai indikator status zat besi.; Studies examining micronutrient intake among stunted children in Indonesia remain limited. Most previous research has focused on the quantity of nutrient intake without considering estimated bioavailability, particularly of essential micronutrients such as zinc and iron. Therefore, this study aimed to analyze differences in food access, diet quality, and feeding practices between stunted and normal children.&#13;
This research employed a comparative cross-sectional study design. The study sites included Purwasari Community Health Center, covering Sukadamai, Purwasari, and Petir villages, and Kampung Manggis Community Health Center, covering Dramaga, Neglasari, and Sinarsari villages, Dramaga District. The study was conducted from 1–26 August 2025 and received ethical approval from the Ethics Committee for Research Involving Human Subjects, IPB University (No. 1838/IT3.KEPMSM-IPB/SK/2025). A total sample of 120 children (60 stunted and 60 normal) was selected based on inclusion criteria. Primary data collected included socioeconomic characteristics, child characteristics, food access using the Household Food Security Scale Module (HFSSM), feeding practices using the Child Feeding Questionnaire (CFQ), dietary intake using repeated 2×24-hour recalls, and nutritional status. Data were analyzed using independent t-tests and Mann–Whitney tests.&#13;
The results showed that approximately three-quarters of mothers of stunted children had low educational attainment (elementary school level) (71.4%), whereas among normal children about two-thirds of mothers had senior high school education (66.7%) and about three-quarters were university graduates (75%). Maternal education differed significantly between stunted and normal groups (?&lt;0.05). About three-fifths of fathers of stunted children had elementary education (60%), while among normal children about three-fifths of fathers had senior high school education (60%) and all were university graduates (100%). Paternal education differed significantly between groups (?&lt;0.05). Approximately half of mothers in both groups were unemployed or homemakers (52.3% and 47.7%), while more than half of fathers of stunted children worked in self-employment/services (56.0%) and as laborers/drivers (53.8%). Father’s occupation differed significantly (?&gt;0.05) and mother’s occupation did not differ significantly between stunted and normal toddlers (?&gt;0.05) About half of families of stunted children were categorized as small families (51.5%), while about half of normal children belonged to large families (51.9%), with no significant difference (p&gt;0.05). Approximately two-thirds of stunted children came from families with non-ideal parity (66.7%), while about half of normal children came from families with ideal parity (51.8%), showing a significant difference (?&lt;0.05). Per capita income also differed significantly between groups (?&lt;0.05). &#13;
Approximately half of stunted children had low birth weight, significantly higher than among normal children (?&lt;0.05). About half of children in both groups had normal birth length and full-term gestational age, with no significant difference (?&gt;0.05). By sex, about half of stunted children were male, while normal children were predominantly female, also without significant difference (?&lt;0.05). Around half of stunted children had experienced infectious disease in the previous six months, with a significantly higher proportion than normal children (?&lt;0.05).&#13;
There was no significant difference in total diet quality scores (?&gt;0.05). Intake of cereals, legumes, oils/fats, saturated fat, and total fat was low in both groups. Significant differences were observed in vegetable, fruit, and dietary diversity components, with normal children showing better diversity. Consumption of vegetables and fruits (enhancers) was significantly higher among normal children. There were no significant differences in the estimated bioavailability of iron or zinc (?&gt;0.05). Based on the analysis results, the foods consumed by both groups tended to have low estimated iron bioavailability. The median absorbed iron was higher in normal toddlers (0.50 mg) than in stunted children (0.36 mg), with significant differences. Conversely, the foods consumed by toddlers mostly fell into the category of high estimated zinc bioavailability; the median absorbed zinc was higher in normal toddlers (0.83 mg and 0.43 mg), with a significant difference. Adequacy of macro- and micronutrients differed significantly between groups (?&lt;0.05). Most parents in both groups were categorized as having “low control” feeding practices. There was a significant difference in food access between the two groups (?&lt;0.05).&#13;
Efforts to address stunting should not focus solely on improving food intake but also on improving family socioeconomic conditions, which differed between groups. Nutrition education is needed, particularly regarding appropriate timing of tea consumption relative to main meals to enhance nutrient absorption, promotion of affordable local fruits and vegetables rich in vitamin C to improve non-heme iron absorption, and increased consumption of animal protein. Strengthening nutrition education on maternal nutritional status during pregnancy, growth monitoring, toddler nutrient requirements, nutrient sources and functions, and balanced diet principles is essential. Improving diet quality by increasing intake of deficient adequacy components especially cereals, vegetables, fruits, legumes, oils, and fats is recommended for both stunted and normal children.&#13;
Future research is needed to strengthen evidence on estimated bioavailability of zinc and iron using laboratory biomarker indicators, such as IGF-1 (Insulin-Like Growth Factor-1) for protein status, blood or hair zinc levels, and hemoglobin, ferritin, and transferrin as indicators of iron status.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172888">
<title>Analisis Hubungan Karakteristik Kader Posyandu dengan Kualitas Data Pengukuran Status Gizi dalam E-PPGBM di Kabupaten Toraja Utara</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172888</link>
<description>Analisis Hubungan Karakteristik Kader Posyandu dengan Kualitas Data Pengukuran Status Gizi dalam E-PPGBM di Kabupaten Toraja Utara
ISHAK, ANISA
Kualitas data status gizi dalam sistem Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (E-PPGBM) sangat bergantung pada akurasi pengukuran antropometri oleh kader posyandu. Namun, kompetensi kader dan faktor-faktor yang memengaruhi kualitas data pengukurannya masih perlu dikaji, khususnya di daerah dengan tantangan geografis seperti Kabupaten Toraja Utara. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan karakteristik kader Posyandu dengan kualitas data tinggi badan balita dalam aplikasi E-PPGBM di Kabupaten Toraja Utara.&#13;
Penelitian ini menggunakan desain metode campuran sequential explanatory dengan pendekatan utama kuantitatif (cross-sectional) dilanjutkan dengan pengumpulan data kualitatif (wawancara mendalam). Sebanyak 34 kader posyandu dan 188 balita dari delapan posyandu dipilih secara purposif, serta 8 informan kunci dari Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait. Data primer dikumpulkan melalui kuesioner, observasi keterampilan pengukuran tinggi badanmenggunakan daftar tilik, pengukuran presisi dan akurasi tinggi badan berulang (kader dan gold standard), serta wawancara mendalam. Analisis data kuantitatif menggunakan uji Chi square, regresi logistik, uji diagnostik (ROC, sensitivitas, spesifisitas, PPV, dan NPV), dan analisis Bland-Altman plot. Analisis kualitatif menggunakan analisis tematik dan SWOT.&#13;
Hasil menunjukkan bahwa sebagian besar kader memiliki pengetahuan (70,6%) dan keterampilan (79,4%) yang kurang. Akurasi (82,4%) dan presisi (64,7%) pengukuran kader tergolong tidak baik. Pekerjaan merupakan faktor determinan utama, di mana kader tidak bekerja/Ibu Rumah Tangga memiliki akurasi (OR=12,6) dan presisi (OR=53,3) yang lebih baik dibanding kader petani. Data E-PPGBM cenderung underestimate prevalensi stunting (30,9% vs 39,9% menurut gold standard) dengan sensitivitas 70,7% dan spesifisitas 95,6%. Analisis kualitatif mengungkap tantangan validasi eksternal, risiko data di level input, dan hambatan koordinasi dalam pemanfaatan data.&#13;
Kualitas data pengukuran tinggi badan oleh kader masih rendah dengan pekerjaan sebagai faktor dominan. Data E-PPGBM berpotensi menyebabkan underdiagnosis stunting. Diperlukan peningkatan kapasitas kader melalui pelatihan berjenjang dan berkelanjutan, standarisasi dan kalibrasi alat ukur antropometri, monitoring dan evaluasi secara berkala, penguatan sistem validasi data, dan sinergi lintas sektor untuk meningkatkan akurasi data dan efektivitas program penurunan stunting.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172650">
<title>Resiliensi Akademik Mahasiswa Disabilitas: Analisis Faktor Individual dan Konteks Sosial dengan Pendekatan Mix Methods</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172650</link>
<description>Resiliensi Akademik Mahasiswa Disabilitas: Analisis Faktor Individual dan Konteks Sosial dengan Pendekatan Mix Methods
Jannah, Miftachul
Kesadaran inklusif yang meningkat telah mendorong bertambahnya jumlah mahasiswa disabilitas di perguruan tinggi, namun mereka tetap menghadapi berbagai tantangan dalam pemenuhan kebutuhan belajar, seperti hambatan personal dan komunikasi, stigma dan penerimaan sosial, keterbatasan aksesibilitas fisik, serta kurangnya sumber daya pembelajaran. Beragam hambatan tersebut berdampak pada kesejahteraan psikologis dan performa akademik, sehingga resiliensi akademik menjadi aspek penting bagi mahasiswa disabilitas dalam menghadapi tekanan dan tuntutan studi. Dalam perspektif teori ekologi Bronfenbrenner, resiliensi akademik terbentuk melalui interaksi faktor internal individu dan faktor eksternal dari lingkungan terdekat, termasuk keluarga, teman sebaya, dan institusi pendidikan.&#13;
	Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang membentuk resiliensi akademik mahasiswa disabilitas dengan melihat pengaruh hubungan orang tua dan anak, hubungan teman sebaya, efikasi diri akademik serta persepsi mahasiswa mengenai aksesibilitas lingkungan akademik.  Penelitian ini merupakan penelitian campuran dengan desain Explanatory Research Design. Pengambilan data dilakukan pada bulan Febuari hingga Mei 2025 dengan menggunakan kuesioner dan wawancara semi terstruktur. &#13;
	Penelitian melibatkan 155 mahasiswa disabilitas dengan hambatan penglihatan, pendengaran, dan fisik-motorik pada jenjang Diploma hingga Strata 1 di perguruan tinggi yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia. Pengambilan sampling dilakukan secara voluntary sampling. Data yang diambil berupa karakteristik mahasiswa disabilitas, karakteristik keluarga, hubungan orang tua-anak, hubungan teman sebaya, efikasi diri akademik, dan resiliensi akademik yang merupakan data kuantitatif, serta persepsi mahasiswa disabilitas mengenai aksesibilitas lingkungan akademik di kampus mereka yang merupakan data kualitatif. &#13;
	Data penelitian kuantitatif diolah dan dianalisis melalui Microsoft Excel, SPSS, dan SMART-PLS. Analisis deskriptif digunakan untuk menggambarkan distribusi jawaban responden berdasarkan variabel penelitian dan kategori jenis hambatan. Analisis hubungan dilakukan melalui uji korelasi Spearman guna menilai keterkaitan antara karakteristik responden dan keluarga sebagai variabel utama. Analisis Structural Equation Modeling (SEM)-PLS diterapkan untuk menguji pengaruh langsung maupun tidak langsung antar variabel laten. Selanjutnya dilakukan eksplorasi peran aksesibilitas lingkungan akademik dengan efikasi diri akademik dan resiliensi akademik melalui analisis tematik dengan cara pengodean hasil transkrip wawancara.&#13;
	Rata-rata usia responden yang terlibat dalam penelitian ini berada pada usia 18-25 tahun (SD= 2,967; min-maks= 18-35) dengan sebaran mahasiswa dengan hambatan penglihatan (n= 36; 23,2%), hambatan pendengaran (n= 82; 52,9%), dan hambatan fisik-motorik (n= 37; 23,9%). Rata-rata usia ayah dan ibu yakni antara 40 sampai 60 tahun. Proporsi terbesar pendidikan ayah (39,4%) adalah SMA, sedangkan proporsi terbesar pendidikan ibu (40%) adalah tamatan perguruan tinggi. Sebagian besar pekerjaan ayah (27,7%) adalah pedagang/wiraswasta, dan sebagian besar profesi ibu (35,5%) adalah ibu rumah tangga. Sebanyak 24,5 persen pendapatan keluarga berada di antara 1 hingga 2 juta rupiah.&#13;
	Hubungan orang tua dan anak masuk dalam kategori sedang (55,7%) dengan rata-rata indeks 63,28. Proporsi terbesar hubungan teman sebaya total berada dalam kategori sedang (65,8%) dengan rata-rata indeks 66,57. Skor efikasi diri akademik menunjukkan lebih dari separuh responden berada dalam kategori sedang (69%) dengan rata-rata indeks 63,9. Tingkat Resiliensi Akademik mahasiswa disabilitas menunjukkan berada pada kategori sedang (60,6%) dengan rata-rata 67,91.&#13;
	Hasil uji beda menunjukkan tidak terdapat perbedaan signifikan pada hubungan orang tua-anak, hubungan teman sebaya, dan efikasi diri akademik di antara ketiga jenis hambatan mahasiswa. sedangkan pada resiliensi akademik terdapat perbedaan signifikan, dengan tingkat resiliensi tertinggi diperoleh oleh kelompok mahasiswa dengan hambatan fisik-motorik.&#13;
	Hasil uji SEM-PLS menunjukkan bahwa kualitas hubungan orang tua-anak memberi pengaruh terhadap hubungan teman sebaya dan resiliensi akademik mahasiswa disabilitas, namun tidak berpengaruh terhadap efikasi diri akademik. hubungan teman sebaya memiliki pengaruh signifikan baik terhadap efikasi diri akademik maupun terhadap resiliensi akademik. kemudian efikasi diri akademik memiliki pengaruh signifikan terhadap resiliensi akademik. Temuan menunjukkan bahwa hubungan teman sebaya dan efikasi diri akademik menjadi prediktor tertinggi dalam memberi pengaruh terhadap peningkatan resiliensi akademik.&#13;
	Hasil analisis kualitatif menunjukkan bahwa aksesibilitas lingkungan akademik berperan penting dalam membentuk efikasi diri akademik dan resiliensi akademik mahasiswa disabilitas. Aksesibilitas yang baik meliputi kebijakan institusi, dukungan sosial, dan fasilitas pembelajaran adaptif yang dapat mendorong peningkatan keyakinan mahasiswa terhadap kemampuan akademiknya. Di perguruan tinggi dengan praktik inklusi yang kuat, mahasiswa cenderung memiliki efikasi diri tinggi, ditunjukkan dengan kemampuan mengelola proses belajar baik secara mandiri, adaptif, dan memanfaatkan layanan akademik dengan optimal. Sebaliknya, keterbatasan aksesibilitas membuat mahasiswa harus mengandalkan motivasi internal dan dukungan keluarga sebagai bentuk adaptasi terhadap minimnya dukungan lingkungan.&#13;
	Hasil penelitian ini menegaskan bahwa resiliensi akademik mahasiswa disabilitas terbentuk melalui interaksi antara faktor individual dan konteks sosial, sehingga memperluas pemahaman dalam kerangka ekologi Bronfenbrenner. Kualitas hubungan keluarga dan teman sebaya, serta keyakinan diri terhadap kemampuan akademik terbukti meningkatkan resiliensi mahasiswa dalam menghadapi tantangan akademik. Selain itu, institusi pendidikan tinggi sebagai bagian dari mesosistem perlu berperan aktif tidak hanya dalam menyediakan akses fisik, tetapi juga dalam menciptakan lingkungan sosial yang inklusif dan suportif supaya mahasiswa disabilitas dapat berkembang secara optimal.; Increased awareness of inclusiveness has led to an increase in the number of students with disabilities in higher education. However, they still face various challenges in meeting their learning needs, such as personal and communication barriers, stigma and social acceptance, limited physical accessibility, and a lack of learning resources. These various obstacles impact psychological well-being and academic performance, making academic resilience a crucial aspect for students with disabilities in coping with the pressures and demands of study. Form Bronfenbrenner’s ecological theory perspective, academic resilience is formed through the interaction of internal factors within the individual and external factors from immediate environment, including family, peers, and educational institutions.&#13;
	This study aims to analyze the factors shaping academic resilience in students with disabilities by examining the influence of parent-child relationships, peer relationships, academic self-efficacy, and student’s perceptions of the accessibility of the academic environment. This is a mixed-methods study with a explanatory research design. Data collection was conducted from February to May 2025 using questionnaires and semi-structured interviews.&#13;
The study involved 155 students with disabilities with visual, hearing, and physical-motor impairments at the Diploma to Bachelor’s level at universities across Indonesia, predominantly located on the Java island. Voluntary sampling was used. Quantitative data included respondent characteristics, family characteristics, parent-child relationships, peer relationships, academic self-efficacy, and academic resilience, as well as students’ perceptions of the accessibility of the academic environment on their campuses as qualitative data.&#13;
	Quantitative research were processed and analyzed using Microsoft Excel, SPSS, and SMART-PLS. Descriptive analysis was used to describe the distribution of respondents’ answers based on research variables and categories of barriers. Relationship analysis was conducted using the Spearman correlation test to assess the relationship between respondent characteristics and family characteristics as the primary variable. Structural Equation Modeling (SEM)-PLS analysis was applied to test the direct and indirect effects between latent variables. Furthermore, an exploration of the role of academic environmental accessibility with academic self-efficacy and academic resilience was carried out through thematic analysis by coding the results of interview transcripts.&#13;
	The average age of respondents in this study was 18-25 years (SD= 2,967; min-max= 18-35), with students distributed among them with visual impairments (n= 36; 23,2%), hearing impairments (n= 82; 52,9%), and physical-motor impairments (n= 37; 23,9%). The average age of fathers and mothers was between 40-60 years. The largest proportion of fathers’ education (39,4%) was high school, while the largest proportion of mothers’ education (40%) was college graduates. Most fathers’ occupations (27,7%) were entrepreneurs, and most mothers’ professions (35,5%) were housewives. A 24,5 percent family income was between 1 and 2 million rupiah. &#13;
	Parent-child relationships fell into the moderate category (55,7%) with an average index of 63,28. The largest proportion of total peer relationships fell into the moderate category (65,8%) with an average index of 66,57. Academic self-efficacy scores showed that more than half of respondents fell into the moderate category (69%) with an average index of 63,9. The academic resilience level of students with disabilities fell into the moderate category (60,6%) with an average index of 67,91. &#13;
The results of the difference test showed no significant differences in parent-child relationships, peer relationships, and academic self-efficacy among the three categories of students with disabilities. Meanwhile, in Academic Resilience there are significant differences, with the highest level of resilience obtained by the group of students with physical-motor disabilities.&#13;
	The SEM-PLS results showed that the quality of parent-child relationships influenced academic resilience in students with disabilities, but not academic self-efficacy. Peer relationships had a significant influence on both academic self-efficacy and academic resilience. Furthermore, academic self-efficacy had a significant influence on academic resilience. In the path analysis, parent-child relationships directly influence academic resilience, but become insignificant when moderated by academic self-efficacy. Meanwhile, peer relationships have both direct and indirect effects on academic resilience through academic self-efficacy. The findings show that peer relationships and academic self-efficacy are the highest predictors in influencing increased academic resilience.&#13;
Ther results of the qualitative analysis indicated that the accessibility of the academic environment plays a crucial role in shaping the academic self-efficacy and resilience of students with disabilities. Good accessibility encompasses institutional policies, social support, and adaptive learning facilities that can foster students’ confidence in their academic abilities. In universities with strong inclusive practices, students tend to have high self-efficacy, demonstrated by their ability to manage the learning process independently, adaptively, and optimally utilize academic services. Conversely, limited accessibility forces students to rely on internal motivation and family support to cope with minimal environmental support.&#13;
The results of this study confirmed that the academic resilience of students with disabilities is formed through the interaction of individual factors and the social context, thus broadening the understanding within Bronfenbrenner’s ecological framework. Social support, the quality of family and peer relationships, and self-confidence in academic abilities have been shown to increase student resilience in facing academic challenges. Furthermore, higher education institutions, as part of the mesosystem, need to play an active role not only in providing physical access but also in creating an inclusive and supportive social environment so that students with disabilities can develop optimally.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172649">
<title>Kualitas Diet, Status Gizi dan Kebugaran Remaja Penerima dan Bukan Penerima Program Makan Bergizi Gratis</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172649</link>
<description>Kualitas Diet, Status Gizi dan Kebugaran Remaja Penerima dan Bukan Penerima Program Makan Bergizi Gratis
Rahmah
Remaja merupakan kelompok usia yang mengalami transisi perubahan  pertumbuhan fisik, kognitif, dan emosional dari periode anak-anak ke periode dewasa. Pada fase ini, kebutuhan gizi pada kelompok remaja meningkat secara signifikan untuk mendukung pertumbuhan, perkembangan otak, dan pematangan organ reproduksi (Das et al. 2017). Namun, remaja sering kali menghadapi tantangan dalam memenuhi kebutuhan gizi harian karena kebiasaan makan yang tidak teratur, preferensi terhadap makanan cepat saji, dan kurangnya kesadaran tentang pentingnya gizi seimbang (Story et al. 2002). Berdasarkan penelitian Devie dan Dwiriani (2020) kualitas konsumsi remaja usia 13-15 tahun di Bogor berdasarkan DQI-A tergolong dalam kualitas diet buruk yaitu hanya sebesar 32,2%. Program pemberian Makan Bergizi Gratis (MBG) pada peserta didik bertujuan untuk memberikan akses terhadap makanan yang berkualitas yang secara tidak langsung dapat menambah pengetahuan peserta didik tentang komposisi makanan yang bergizi dan seimbang sehingga dapat mengubah perilaku tentang asupan yang lebih berkualitas. Melalui program MBG dapat memastikan remaja secara konsisten mengonsumsi makanan seimbang di sekolah. Kualitas diet yang baik memiliki dampak langsung terhadap status gizi remaja. Asupan gizi yang tidak mencukupi atau tidak seimbang dapat menyebabkan masalah gizi seperti stunting, anemia, atau obesitas, yang dapat memengaruhi pertumbuhan fisik dan kesehatan jangka panjang (Popkin et al. 2020). Selain status gizi, asupan gizi juga dapat memengaruhi kebugaran fisik remaja. Makanan bergizi mendukung perkembangan otot, tulang, dan sistem kardiovaskular yang penting untuk aktivitas fisik dan kebugaran (Janssen dan Leblanc 2010). Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan kualitas diet, status gizi dan kebugaran pada remaja penerima dan bukan penerima program bergizi gratis.&#13;
Penelitian menggunakan desain crosssectional compatarive yang dilakukan pada 88 siswa SMP PGRI 6 Bogor (MBG) dan 88 siswa SMP PGRI 5 Bogor (Non MBG) pada bulan Juli hingga September 2025. Data karakteristik subjek dan keluarga dikumpulkan melalui wawancara menggunakan kuesioner, data asupan makan menggunakan metode recall 2x24 jam, data antropometri dengan mengukur BB dan TB serta data kebugaran kardiorespirasi menggunakan tes PACER. Analisis dilakukan dengan uji Independent T-Test atau uji Mann Whitney untuk melihat perbandingan antara remaja penerima MBG dan Non MBG, serta regresi logistik untuk melihat faktor yang memengaruhi kebugaran kardiorespirasi pada remaja.&#13;
Sebagian besar siswa dalam penelitian ini berjenis kelamin Perempuan (57,4%), dengan mayoritas usia 13 tahun (85,2%) dan uang saku ? Rp 20.000 (51,1%). Mayoritas pendidikan terakhir ayah dan ibu adalah SMA/sederajat dengan pekerjaan ayah hampir setengah nya karyawan swasta (42,6%) dan mayoritas ibu adalah ibu rumah tangga (75%) dengan pendapatan keluarga sebagian besar lebih kecil dari UMK Kota bogor yaitu Rp 5.126.897 (58,5%) serta jumlah besar keluarga siswa lebih dari setengah siswa dalam penelitian ini memiliki jumlah besar keluarga &gt;4 orang (51,1%). Berdasarkan hasil analisis karakteristik antara remaja penerima MBG dan non MBG, diperoleh hasil bahwa tidak terdapat perbedaan bermakna secara statistik pada seluruh variabel karakteristik yang dianalisis dengan nilai p &gt; 0,05.&#13;
Hasil analisis perbandingan terhadap skor kualitas diet menggunakan Diet Quality Index for Adolescents (DQI-A) menunjukkan bahwa siswa yang mengikuti program MBG memiliki kualitas diet yang secara signifikan lebih baik dibandingkan siswa yang tidak mengikuti program MBG. Rata-rata skor total DQI-A pada kelompok MBG adalah 49,81±6,92, secara signifikan lebih tinggi dari kelompok non-MBG yang hanya memperoleh skor rata- rata 39,15±10,26. Skor DQI-A yang lebih tinggi pada kelompok MBG mencerminkan keberagaman dan keseimbangan gizi yang lebih baik, serta kualitas diet yang lebih baik sesuai dengan prinsip gizi seimbang. Skor rata-rata DQI-A yang lebih tinggi pada kelompok MBG mencerminkan bahwa program MBG berkontribusi positif terhadap peningkatan asupan gizi seimbang.&#13;
Pada analisis status gizi berdasarkan IMT/U, hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan bermakna antara kelompok MBG dengan kelompok non MBG. Sebagian besar subjek memiliki status gizi baik yaitu 60,2% pada remaja penerima MBG dan 72,7% remaja yang tidak menerima MBG di sekolah. &#13;
Kebugaran kardiorespirasi antara remaja penerima MBG dan Non MBG juga tidak terdapat perbedaan yang bermakna berdasarkan analisis uji mann whitney menunjukkan p = 0,232. Kebugaran kardiorespirasi antara kedua kelompok relatif sama yaitu mayoritas tergolong sangat rendah (MBG 53,4% dan Non MBG 56,8%), hal ini dikarenakan sebagian besar remaja pada kedua kelompok menunjukkan tingkat aktifitas fisik yang hampir sama yaitu tergolong sangat ringan hingga ringan (MGB 87,5% dan Non MBG 89,7%). &#13;
Hasil analisis regresi logistik menunjukkan bahwa kualitas diet (OR=2,591; p=0,024), status gizi (OR=6,784; p=&lt;0,001) dan aktifitas fisik (OR=20,437; p&lt;0,001) merupakan faktor protektif terhadap kebugaran kardiorespirasi pada remaja. Hasil analisis regresi logistik menunjukkan bahwa status gizi (IMT/U), aktivitas fisik, dan kualitas diet (DQI-A) berhubungan signifikan dengan kebugaran remaja. Model akhir mampu menjelaskan 36,2% variasi kebugaran, menunjukkan bahwa kebugaran merupakan kondisi multifaktorial yang dipengaruhi oleh kombinasi faktor biologis, perilaku, dan lingkungan.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</rdf:RDF>
