<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rdf:RDF xmlns="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<channel rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/7467">
<title>UT - Faculty of Fisheries and Marine Science</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/7467</link>
<description/>
<items>
<rdf:Seq>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173004"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173002"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172985"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172960"/>
</rdf:Seq>
</items>
<dc:date>2026-05-01T14:16:06Z</dc:date>
</channel>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173004">
<title>Uji Coba Penangkapan Krustasea dengan Alat Tangkap Krendet Bertingkat Satu Pintu dan Krendet Tradisional</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173004</link>
<description>Uji Coba Penangkapan Krustasea dengan Alat Tangkap Krendet Bertingkat Satu Pintu dan Krendet Tradisional
ALI, MUHAMMAD HAFIDZ FATHUR
Penelitian ini dilaksanakan di perairan Teluk Palabuhanratu yang memiliki potensi sumber daya krustasea tinggi, khususnya rajungan dan lobster, dengan tujuan membandingkan efektivitas krendet bertingkat satu pintu dan krendet tradisional dalam meningkatkan hasil tangkapan. Metode yang digunakan adalah experimental fishing sebanyak 29 trip dengan sistem rawai, masing-masing menggunakan tiga unit krendet tradisional berdiameter 80 cm dan tiga unit krendet bertingkat satu pintu dengan diameter perangkap bawah 80 cm dan atas 60 cm, seluruhnya dilengkapi booster umpan berbahan ikan tembang, cumi-cumi, cacing tanah, dan telur ayam yang dibekukan. Data yang dikumpulkan meliputi jumlah, berat, dan panjang karapas hasil tangkapan. Analisis dilakukan secara deskriptif kemudian diuji menggunakan uji normalitas dan uji Mann-Whitney. Hasil penelitian menunjukkan bahwa krendet bertingkat satu pintu menghasilkan jumlah dan berat tangkapan krustasea lebih tinggi dibandingkan krendet tradisional. Produktivitasnya lebih besar dalam satuan ekor/trip, kg/trip, maupun kg/unit serta margin produksi yang meningkat signifikan sebesar 278,9% dalam ekor dan 354,6% dalam kg. Peningkatan ini diduga dipengaruhi oleh perluasan catchable area dan desain satu pintu yang mengurangi peluang lolosnya tangkapan, sehingga krendet bertingkat satu pintu berpotensi menjadi alternatif teknologi penangkapan yang lebih efektif dan mendukung pemanfaatan sumber daya krustasea secara berkelanjutan.; This study was conducted in the waters of Palabuhanratu bay, which have high potential for crustacean resources, particularly swimming crabs and lobsters, with the objective of comparing the effectiveness of a single-door of the 2-deck cone hoop net and a traditional hoop net in improving catch performance. The research employed an experimental fishing method over 29 trips using a longline system, involving three units of traditional hoop net (80 cm diameter) and three units of single-door of the 2-deck cone hoop net (80 cm lower trap diameter and 60 cm upper trap diameter), all equipped with frozen bait boosters made from indian mackerel, squid, earthworms, and chicken eggs. Data collected included the number, weight, and carapace length of the catch, which were analyzed descriptively and tested using normality and Mann–Whitney tests at a 5% significance level. The results showed that the single-door of the 2-deck cone hoop net produced higher numbers and weights of crustacean catches compared to the traditional hoop net, with greater productivity in terms of individuals per trip, kilograms per trip, and kilograms per unit, as well as a significantly higher production margin increased significantly by 278,9% in individual and 354,6% in kg. This improvement is likely attributed to the expanded catchable area and the single-door design, which reduces the escape probability of the catch, indicating that the single-door of the 2-deck cone hoop net tiered krendet trap has strong potential as a more effective fishing technology to support sustainable crustacean resource utilization.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173002">
<title>Teknologi Disinfeksi Air Input dengan Ekstrak Rebusan Daun Jambu Biji (Psidium guajava) pada Pendederan Ikan Nila Tanpa Pergantian Air.</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173002</link>
<description>Teknologi Disinfeksi Air Input dengan Ekstrak Rebusan Daun Jambu Biji (Psidium guajava) pada Pendederan Ikan Nila Tanpa Pergantian Air.
SEVILA, FIERA DWI
Pendederan ikan nila secara intensif berisiko mengalami penurunan kualitas&#13;
air akibat masuknya bakteri melalui air input dari sumber alami. Pergantian air&#13;
berpotensi memasukkan patogen baru sehingga diperlukan teknologi disinfeksi air&#13;
input yang efektif dan ramah lingkungan. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi&#13;
pengaruh ekstrak rebusan daun jambu biji (Psidium guajava) sebagai disinfektan&#13;
alami pada pendederan ikan nila tanpa pergantian air. Penelitian menggunakan&#13;
rancangan acak lengkap dengan lima perlakuan, yaitu kontrol negatif, kontrol&#13;
positif, serta penambahan ekstrak rebusan daun jambu biji pada konsentrasi 1%,&#13;
2,5%, dan 5% dengan tiga ulangan. Setiap perlakuan diberikan garam ikan 2 ppt,&#13;
kecuali K-&#13;
. Parameter yang diamati meliputi kualitas air, kepadatan total bakteri,&#13;
tingkat kelangsungan hidup, rasio konversi pakan, dan pertumbuhan. Hasil&#13;
penelitian menunjukkan bahwa pemberian ekstrak rebusan daun jambu biji&#13;
menurunkan kepadatan total bakteri secara signifikan dibandingkan kontrol, dengan&#13;
penurunan tertinggi pada konsentrasi 5% pada seluruh waktu pengamatan.&#13;
Penurunan kepadatan bakteri berbanding lurus dengan peningkatan konsentrasi&#13;
ekstrak. Namun, peningkatan konsentrasi ekstrak juga meningkatkan total bahan&#13;
organik serta menurunkan oksigen terlarut dan pH.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172985">
<title>Asosiasi Makrozoobentos pada Ekosistem Lamun di Pulau Panjang, Banten</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172985</link>
<description>Asosiasi Makrozoobentos pada Ekosistem Lamun di Pulau Panjang, Banten
Muthiiah, Nahdah
Ekosistem lamun di Pulau Panjang berperan sebagai habitat bagi makrozoobentos. Informasi mengenai makrozoobentos dan keterkaitannya dengan lamun masih terbatas. Di sisi lain, wilayah ini memiliki potensi keanekaragaman hayati laut yang tinggi. Penelitian ini bertujuan melihat kondisi aktual lamun, komposisi makrozoobentos, dan asosiasi keduanya. Pengambilan data lamun dilakukan dengan metode Seagrass Watch dan makrozoobentos diambil dengan dengan metode hand picking. Asosiasi makrozoobentos dan lamun menggunakan analisis korespondensi (CA). Penelitian ini menunjukkan bahwa komposisi lamun di Pulau Panjang meliputi, Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii, Cymodocea rotundata, Syringodium isoetifolium, Halophila ovalis, dan Halodule uninervis. Kerapatan dan penutupan lamun yang tinggi di Stasiun 3 tidak diikuti dengan tingginya kelimpahan makrozoobentos. Kelimpahan makrozoobentos tertinggi didapatkan pada Stasiun 2. Makrozoobentos yang ditemukan sebanyak 64 spesies, yaitu dari Kelas Gastropoda, Kelas Malacostraca, Kelas Bivalvia, Kelas Holothuroidea, dan Kelas Ophiuroidea. Komunitas makrozoobentos menunjukkan keanekaragaman sedang hingga tinggi dengan distribusi individu antarspesies yang merata tanpa dominansi spesies tertentu. Hasil analisis korespondensi menunjukkan di Stasiun 1 terdapat asosiasi antara lamun T. hemprichii dan makrozoobentos Pictocolumbella ocellata. Asosiasi Stasiun 3 melibatkan makrozoobentos Canarium urceus, Pyrene punctata, Holothuria sp., Vasticardium angulatum, Gutturnium muricinum, Umbonium sp., Phasianella solida, Canarium labiatum, Chicoreus brunneus, dan Conus aristophanes serta lamun H. ovalis, S. isoetifolium, dan H. uninervis.; The seagrass ecosystem on Panjang Island serves as an important habitat for macrozoobenthos. However, information regarding macrozoobenthos communities and their relationship with seagrass in this area remains limited. Meanwhile, Panjang Island possesses high potential for marine biodiversity. This study aimed to assess the current condition of seagrass, analyze the composition of macrozoobenthos, and examine the association between the two. Seagrass data were collected using the Seagrass Watch method and macrozoobenthos samples were obtained through the hand-picking method. The seagrass composition on Panjang Island consisted of Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii, Cymodocea rotundata, Syringodium isoetifolium, Halophila ovalis, and Halodule uninervis. The highest density and coverage of seagrass at Station 3 was not accompanied by high macrozoobenthos abundance. The highest abundance of macrozoobenthos was found at Station 2. A total of 64 macrozoobenthos species were identified, belonging to the classes Gastropoda, Malacostraca, Bivalvia, Holothuroidea, and Ophiuroidea. The macrozoobenthos community exhibited moderate to high diversity with an even distribution of individuals among species, and no single species showed dominance. At Station 1, an association was found between the seagrass T. hemprichii and the macrozoobenthos P. ocellata. The association at Station 3 involved macrozoobenthos such as Canarium urceus, Pyrene punctata, Holothuria sp., Vasticardium angulatum, Gutturnium muricinum, Umbonium sp., Phasianella solida, Canarium labiatum, Chicoreus brunneus, and Conus Aristophanes, and the seagrass species seagrass H. ovalis, S. isoetifolium, and H. uninervis.
</description>
<dc:date>2025-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172960">
<title>Analisis Finansial Pembuatan Kapal Fiberglass Ukuran 9 Meter di Galangan Kapal CV. Roni Marine</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172960</link>
<description>Analisis Finansial Pembuatan Kapal Fiberglass Ukuran 9 Meter di Galangan Kapal CV. Roni Marine
Zahra, Kinanti Dzakkiyah Az
Kapal Fiberglass Reinforced Plastics (FRP) merupakan alternatif material kapal perikanan dalam memenuhi kebutuhan kapal yang kuat, tahan lama, serta mudah diproduksi. Penelitian ini bertujuan menjelaskan tahapan pembuatan, kebutuhan material, estimasi biaya, dan kelayakan usaha produksi kapal FRP berukuran 9 meter di galangan kapal CV. Roni Marine. Penelitian dilakukan melalui observasi langsung proses pembangunan kapal, wawancara dengan pihak galangan, pengukuran dimensi kapal, serta analisis biaya dan finansial. Hasil penelitian menunjukkan proses produksi dimulai dengan persiapan, pelapisan serat fiberglass, pemasangan kayu pada bagian sheer, pelepasan dari cetakan, pemasangan gading-gading dan penguat struktur kapal serta finish. Estimasi biaya produksi satu unit kapal sebesar Rp14.364.657 per unit kapal. Analisis finansial menunjukkan keuntungan Rp218.120.568 per tahun, R/C 1,25, B/C 1,253, NPV Rp1.529.717.193, IRR 124%, PP 0,80 tahun, dan BEP 48 unit, sehingga usaha terbukti layak dan menguntungkan.; Fiberglass Reinforced Plastics (FRP) boats are an alternative for fishing boats, providing durability, strength, and ease of production. This study aims to explain the production stages, material requirements, costs estimation, and business feasibility of constructing a 9-meter FRP boat at CV. Roni Marine Boatyard. The research was conducted through direct observation of the the boat construction process, interviews with boatyard staff, measurement of boat dimensions, and cost and financial analysis. The results show that production starts with preparation, fiberglass lamination, installation of wooden parts on the sheer, demolding, installation of internal frames and structural reinforcements, and final finishing. The estimated production cost of one boat unit is IDR 14.364.657. Financial analysis indicates an annual profit of IDR 218.120.568, with an R/C ratio of 1.25, B/C ratio of 1.253, NPV of IDR 1.529.717.193, IRR of 124%, a payback period of 0,80 years, and a break-even point of 48 units, demonstrating that the business is feasible and profitable.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</rdf:RDF>
