<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rdf:RDF xmlns="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<channel rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/73">
<title>MT - Fisheries</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/73</link>
<description/>
<items>
<rdf:Seq>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172980"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172928"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172891"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172845"/>
</rdf:Seq>
</items>
<dc:date>2026-04-25T17:51:31Z</dc:date>
</channel>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172980">
<title>Kompetensi Enumerator Penerimaan Negara Bukan Pajak Pascaproduksi (Studi Kasus: Pelabuhan Perikanan Samudera Nizam Zachman)</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172980</link>
<description>Kompetensi Enumerator Penerimaan Negara Bukan Pajak Pascaproduksi (Studi Kasus: Pelabuhan Perikanan Samudera Nizam Zachman)
Zendrato, Anita Febrina
Implementasi kebijakan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) pascaproduksi pada sektor perikanan menuntut ketersediaan data hasil tangkapan yang akurat, transparan, dan konsisten. Data tersebut dicatat oleh enumerator di pelabuhan perikanan dan menjadi dasar dalam penentuan besaran PNBP, pengelolaan sumber daya perikanan, serta perumusan kebijakan. Namun, dalam implementasinya, masih ditemukan permasalahan terkait ketidakakuratan data yang disebabkan oleh keterbatasan kompetensi enumerator, seperti kurangnya pemahaman regulasi, kesalahan prosedur pencatatan, serta keterbatasan keterampilan teknis di lapangan. Selain itu, belum tersedianya acuan standar kompetensi yang jelas menyebabkan tidak adanya pedoman yang seragam dalam pelaksanaan tugas enumerator.&#13;
Penelitian ini bertujuan untuk menyusun acuan standar kompetensi enumerator PNBP pascaproduksi, mengidentifikasi kompetensi enumerator di Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Nizam Zachman berdasarkan acuan yang disusun, serta merumuskan strategi peningkatan kompetensi enumerator. Penelitian dilaksanakan pada bulan Agustus sampai dengan November 2025 di PPS Nizam Zachman Jakarta dengan menggunakan pendekatan Design Science Research (DSR) dan Content Validity Index (CVI), analisis kesenjangan (gap analysis), serta analisis Strengths, Weaknesses, Opportunities, dan Threats (SWOT) dan Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM).&#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa acuan standar kompetensi enumerator berhasil disusun dalam tiga dimensi utama, yaitu pengetahuan, keterampilan, dan sikap, dengan total 22 indikator kompetensi yang tervalidasi dengan tingkat validitas sangat tinggi (S-CVI = 0,95). Kompetensi enumerator menunjukkan ketidakseimbangan antar dimensi, yang mana dimensi sikap memiliki tingkat kompetensi relatif tinggi (gap = 0,11) sementara dimensi pengetahuan (gap = 0,31) dan keterampilan (gap = 0,30) masih menunjukkan kesenjangan yang signifikan. Kesenjangan terbesar ditemukan pada indikator pemahaman regulasi serta kemampuan teknis penggunaan alat dan pencatatan data, yang berpotensi menyebabkan ketidakakuratan data hasil tangkapan.&#13;
Temuan penelitian juga menunjukkan bahwa kompetensi enumerator tidak terbentuk secara optimal hanya melalui pengalaman kerja, melainkan memerlukan proses pembelajaran yang terstruktur dan berkelanjutan (competency by learning). Oleh karena itu, strategi peningkatan kompetensi difokuskan pada penguatan pelatihan berbasis regulasi, peningkatan kapasitas teknis, serta pengembangan sistem pembinaan kompetensi yang terarah. Implikasi penelitian ini adalah penguatan sistem pengembangan kompetensi enumerator untuk meningkatkan kualitas data hasil tangkapan yang dapat mendukung akurasi perhitungan PNBP pascaproduksi dan pengelolaan perikanan yang berkelanjutan.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172928">
<title>Strategi Pengelolaan Perikanan Tembang Putih (Escualosa thoracata) di Perairan Pesisir Kabupaten Cirebon.</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172928</link>
<description>Strategi Pengelolaan Perikanan Tembang Putih (Escualosa thoracata) di Perairan Pesisir Kabupaten Cirebon.
Supriyadi
Ikan tembang putih (Escualosa thoracata) merupakan salah satu jenis ikan pelagis kecil yang berperan penting dalam mendukung perikanan pesisir di perairan utara Pulau Jawa. Namun, informasinya masih sangat sedikit. Mengingat nilai ekologis dan ekonominya yang tinggi, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis stok perikanan tembang putih (E.  thoracata) menggunakan Spawning Potential Ratio (SPR), menganalisis sosial dan kelembagaan perikanan tembang putih, dan merumuskan strategi pengelolaan perikanan ikan tembang putih (E. thoracata) di Kabupaten Cirebon. Strategi tersebut disusun dengan mengintegrasikan tiga indikator spesifik, yaitu kondisi terkini perikanan yang mencakup parameter biologis, karakteristik daerah penangkapan, dan aspek sosial dan kelembagaan perikanan. &#13;
Pengumpulan data dilakukan pada periode Desember 2024 hingga Agustus 2025 di beberapa lokasi, mulai dari Estuari Bungko Lor hingga Estuari Cisanggarung. Data diperoleh dari lokasi penangkapan ikan, desa-desa nelayan di sekitarnya, serta lembaga pengelola terkait, yang melibatkan masyarakat nelayan dan para pemangku kepentingan. Penelitian ini menggunakan metode analisis yang berbeda untuk setiap indikator. Status biologis dianalisis menggunakan pendekatan Spawning Potential Ratio (SPR). Aspek sosial dan kelembagaan dinilai menggunakan analisis skala Likert, dan analisis strategi dilakukan secara deskriptif. &#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai SPR sebesar 19%, berada di bawah ambang batas minimum yang direkomendasikan sebesar 20% untuk menjaga keberlanjutan rekrutmen.  Kondisi ini mengindikasikan bahwa stok ikan tembang putih di perairan Cirebon berada dalam tekanan dan berpotensi mengalami penurunan kapasitas reproduksi. Hasil analisis spasial dan temporal menunjukkan bahwa aktivitas penangkapan yang lebih berkelanjutan dibanding yang lain ditemukan di sekitar estuari Bungko Lor dan Cisanggarung pada bulan Mei dan Agustus, khususnya pada kedalaman 6–7 meter. Dari aspek sosial, nelayan ikan tembang putih memperoleh skor 62,4 (kategori tinggi), sedangkan kinerja kelembagaan pengelolaan perikanan memperoleh skor 57,9 (kategori sedang), menunjukkan masih adanya celah dalam tata kelola. &#13;
Rekomendasi strategi pengelolaan, antara lain dengan penerapan zonasi pemanfaatan dan konservasi di kawasan estuari untuk melindungi habitat penting, penguatan kegiatan penyuluhan dan pelatihan bagi nelayan guna mendorong praktik penangkapan yang berkelanjutan, serta peningkatan sistem pencatatan dan pengelolaan data perikanan skala kecil guna mendukung proses pemantauan dan pengambilan keputusan. Implementasi strategi ini diharapkan mampu menyeimbangkan aspek keberlanjutan ekologi, kelayakan ekonomi, dan dimensi  sosial, sehingga mendukung terciptanya pengelolaan perikanan tembang putih yang berkelanjutan di Kabupaten Cirebon.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172891">
<title>Dampak Musim Hujan terhadap Fitoplankton, Respons Imun, dan Kinerja Produksi Udang Vaname (Litopenaeus vannamei) pada Tambak Intensif.</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172891</link>
<description>Dampak Musim Hujan terhadap Fitoplankton, Respons Imun, dan Kinerja Produksi Udang Vaname (Litopenaeus vannamei) pada Tambak Intensif.
Prakarsa, Rizki Gencar
Tantangan dalam budidaya udang vaname salah satunya adalah musim&#13;
hujan. Musim hujan memberikan dampak negatif terhadap kualitas air di tambak,&#13;
di mana fluktuasi parameter lingkungan menyebabkan ketidakstabilan komunitas&#13;
fitoplankton. Ketidakstabilan tersebut dapat menurunkan respons imun udang dan&#13;
kinerja produksinya. Fitoplankton memiliki peran penting dalam menjaga&#13;
keseimbangan ekosistem tambak. Perubahan dominansi fitoplankton yang terjadi&#13;
secara ekstrem dan terus-menerus setiap minggunya dapat meningkatkan risiko&#13;
penyakit, karena keseimbangan antara lingkungan, patogen, dan inang menjadi&#13;
tidak stabil. Akibatnya, performa produksi udang pun cenderung menurun.&#13;
Penelitian ini bertujuan menganalisis dampak musim hujan terhadap&#13;
fitoplankton, respons imun, dan kinerja produksi udang vaname (Litopenaeus&#13;
vannamei) pada tambak intensif. Penelitian dilaksanakan di tambak udang&#13;
Malingping selama satu siklus produksi yang dilakukan secara non eksperimental&#13;
dengan pendekatan observasi lapangan. Lokasi pengamatan terdiri atas enam&#13;
petak tambak. Pengambilan sampel air dilakukan sebanyak empat titik dan&#13;
digabung secara komposit pada setiap petak tambak. Sampel fitoplankton diambil&#13;
menggunakan plankton net berukuran 15 µm dengan metode pasif sebanyak 30&#13;
liter. Sampel disimpan pada botol HDPE, dan diawetkan dengan menggunakan&#13;
H2SO4 ataupun lugol. Pengambilan darah udang dilakukan sebanyak 20 ekor per&#13;
petak tambak menggunakan syringe 1 mL yang diencerkan dengan antikoagulan&#13;
1:2, lalu dimasukkan ke dalam microtube. Semua sampel tersebut dimasukkan ke&#13;
dalam coolbag.&#13;
Data yang diperoleh di antaranya yaitu curah hujan, kemudian kualitas air&#13;
(fisika, kimia, dan biologi), lalu metrik stabilitas fitoplankton (turnover, mean&#13;
rank abundance (MRA), synchrony, dan stability), kemudian struktur komunitas&#13;
fitoplankton (kelimpahan, keragaman, keseragaman, dan dominansi), lalu respons&#13;
imun udang (total haemocyte count (THC), aktivitas fagositik (AF), respiratory&#13;
burst (RB), dan phenoloxidase (PO)), kemudian kinerja produksi (average daily&#13;
growth (ADG), average body weight (ABW), kematian udang, survival rate (SR),&#13;
dan feed conversion ratio (FCR)). Analisis yang digunakan yaitu regresi panel&#13;
dengan menggunakan common effect model (CEM), lalu dilakukan eksplorasi&#13;
menggunakan principal component analysis (PCA) dan analisis klaster k-means.&#13;
Hasil regresi yang tidak memenuhi uji asumsi, dilakukan transformasi logaritmik,&#13;
akar kuadrat (SQRT), ataupun box-cox, lalu jika tetap tidak memenuhi uji asumsi&#13;
maka dilakukan robust standard errors.&#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa musim hujan dengan status curah&#13;
hujan yang tinggi (300-500 mm bulan-1), memiliki dampak yang besar terhadap&#13;
kestabilan kualitas air, fitoplankton, respons imun, dan kinerja produksi, hal&#13;
tersebut terjadi selama penelitian dari day of culture (DOC) 0 sampai 70.&#13;
Parameter seperti suhu, salinitas, kecerahan, total ammonia nitrogen (TAN), nitrit,&#13;
total organic matter (TOM) berada di luar batas optimal budidaya udang. Selama&#13;
sembilan kali pengambilan sampel, kelimpahan fitoplankton didominasi oleh&#13;
kelas yang berbeda-beda, di mana Cyanophyceae menjadi kelas yang sering&#13;
mendominasi tiap sampling, walaupun keberadaannya juga sempat tergantikan&#13;
oleh jenis yang lain. Nilai Turnover dan MRA fitoplankton memiliki nilai yang&#13;
tinggi, hal tersebut menunjukkan rendahnya stabilitas fitoplankton. Synchrony&#13;
memiliki nilai rata-rata sebesar 0,37, yang artinya beberapa spesies merespons&#13;
perubahan lingkungan yang berbeda-beda. Hasil stability sebesar satu juga tidak&#13;
baik pada petak tambak. Hasil pengukuran respons imun, termasuk THC, AF, RB,&#13;
dan PO, menunjukkan tren penurunan seiring mendekati DOC 70. Selain itu, nilai&#13;
ADG yang diperoleh sempat rendah, disertai dengan tingginya angka kematian&#13;
udang di waktu akhir budidaya. Nilai FCR berada di atas 1,4 di semua kolam,&#13;
sedangkan SR kurang dari 46%. Hasil ini diduga karena dampak dari paparan&#13;
toksin yang berasal dari fitoplankton kelas Cyanophyceae (Aphanizomenon sp.,&#13;
Anabaena sp., dan Trichodesmium sp.), walaupun hal tersebut perlu dikaji lebih&#13;
lanjut berdasarkan hasil penelitian ilmiah melalui uji toksisitas toksin BGA&#13;
terhadap respons imun udang dan kinerja produksinya pada skala laboratorium.&#13;
Hasil regresi panel (Y = kelimpahan fitoplankton ; X = kualitas air)&#13;
dengan transformasi logaritmik menunjukkan bahwa alkalinitas total, TVC, TBV,&#13;
dan nitrat berpengaruh signifikan positif (a = 0,05), sedangkan DO berpengaruh&#13;
signifikan negatif terhadap kelimpahan fitoplankton (a = 0,05), dengan R-squared&#13;
sebesar 58% dan p-value sebesar 1,53 x 10-7, selanjutnya regresi panel (Y = THC;&#13;
X = fitoplankton) dengan SQRT dan robust standard errors menunjukkan bahwa&#13;
kelimpahan dan keragaman berpengaruh signifikan negatif (a = 0,05), dengan Rsquared&#13;
sebesar 55% dan p-value sebesar 7 x 10-9, serta regresi panel (Y = ADG ;&#13;
X = respons imun udang) dengan transformasi box-cox dan robust standard errors&#13;
menunjukkan bahwa THC berpengaruh signifikan negatif (a = 0,05), dengan Rsquared&#13;
sebesar 76% dan p-value sebesar &lt; 2,22 x 10-16. Sementara itu, hasil&#13;
regresi panel (Y = Jumlah kematian udang; X = respons imun udang)&#13;
menggunakan transformasi box-cox dan robust standard errors menunjukkan&#13;
bahwa THC dan RB berpengaruh signifikan negatif (a = 0,05), dengan R-squared&#13;
sebesar 82% dan p-value sebesar &lt; 2,22 x 10-16. Semua model dalam analisis&#13;
regresi panel menggunakan CEM, karena hasil uji Chow dan Lagrange Multiplier&#13;
tidak signifikan. Hasil PCA menunjukkan bahwa variabel yang menjadi&#13;
komponen utama selama musim hujan di antaranya yaitu suhu, pH siang, salinitas,&#13;
TAN, kecerahan, keragaman, dominansi, MRA, THC, AF, size, dan ABW, hal&#13;
tersebut berdasarkan nilai eigenvector yang dominan pada masing-masing&#13;
variabel terhadap sumbu utama yang terbentuk. Hasil biplot PCA menunjukkan&#13;
bahwa kematian udang yang tinggi dimulai saat DOC 42, hal tersebut juga&#13;
didukung dengan hasil analisis klaster k-means yang terbagi atas dua klaster&#13;
berdasarkan uji dengan metode silhouette, di mana klaster satu terdiri dari DOC&#13;
10 hingga 33, sedangkan klaster dua terdiri atas DOC 42 hingga 70. Penelitian ini&#13;
menunjukkan bahwa musim hujan memiliki dampak yang negatif terhadap&#13;
kondisi fitoplankton, respons imun, dan kinerja produksi udang vaname pada&#13;
tambak intensif.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172845">
<title>Optimasi Ekstraksi Fikoeritrin dari Kappaphycus alvarezii menggunakan Ultrasonikasi dengan Pendekatan Response Surface Methodology (RSM)</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172845</link>
<description>Optimasi Ekstraksi Fikoeritrin dari Kappaphycus alvarezii menggunakan Ultrasonikasi dengan Pendekatan Response Surface Methodology (RSM)
Iwada, Marwah
Pemanfaatan Kappaphycus alvarezii di Indonesia masih berfokus pada &#13;
produksi karaginan, sehingga pigmen bernilai tinggi misalnya R-fikoeritrin (R-PE) berpotensi terbuang selama pengolahan. Pigmen R-PE merupakan protein pigmen larut air yang bernilai untuk pewarna alami dan komponen antioksidan, namun ekstraksinya memerlukan strategi ekstraksi yang efektif karena terperangkap dalam matriks dinding sel kaya gel karaginan serta sensitif terhadap kondisi proses. Penelitian ini bertujuan menentukan kondisi optimum ekstraksi R-PE dari biomassa basah K. alvarezii menggunakan ultrasound-assisted extraction (UAE) melalui Response Surface Methodology (RSM)–Central Composite Design (CCD) pada variasi suhu, waktu, dan rasio pelarut terhadap padatan biomassa (LSR), dengan tetap mengendalikan kadar karaginan yang terekstrak (carrageenan yield; CY) sebagai indikator kehilangan karaginan dari biomassa. Optimasi dilakukan menggunakan CCD sebanyak 20 run dengan tiga faktor, yaitu suhu 13–47 °C, waktu 20–70 menit, dan LSR 2–18 v/b. Respons yang dianalisis meliputi konsentrasi R-PE (R-PEC), yield R-PE (R-PEY), indeks kemurnian R-PE (R-PEPI), serta kadar karaginan yang terekstrak (CY). Kondisi optimum ditetapkan menggunakan fungsi desirability, kemudian diverifikasi secara eksperimental dan dibandingkan dengan UAE kontrol serta maserasi. Ekstrak terpilih kemudian dimurnikan melalui presipitasi amonium sulfat 60% dan dialisis, lalu dievaluasi spektrum UV–Vis, warna CIELAB, profil protein SDS-PAGE, aktivitas antioksidan (ABTS dan DPPH), serta residu pasca-ekstraksi. Kondisi optimum diperoleh pada 20 °C, 30 menit, dan LSR 12 v/b dengan desirability 0,822; seluruh respons hasil verifikasi berada pada selang kepercayaan 95% sehingga model dinyatakan valid. Kondisi UAE optimum menghasilkan ekstrak kasar terbaik dengan R-PEC 0,028 mg/mL, R-PEY 0,334 mg/g, dan R-PEPI 0,250. Setelah pemurnian, fraksi R-PE mencapai R-PEC 1,833 mg/mL, R-PEPI 0,666, dan recovery 72,65%, serta menunjukkan aktivitas antioksidan paling kuat (IC50 ABTS 13,77 µg/mL; IC50 DPPH 21,12 µg/mL). Residu kering tidak berbeda nyata antar metode (8–9 g/100 g biomassa basah), menandakan UAE teroptimasi tidak menyebabkan kehilangan biomassa struktural berlebih. Temuan ini menunjukkan UAE teroptimasi efektif menghasilkan R-PE berkualitas lebih baik dalam waktu singkat, sekaligus menyisakan residu yang berpotensi untuk pemanfaatan lanjutan.; Indonesia’s utilization of Kappaphycus alvarezii remains largely centered on carrageenan production, which may result in the loss of high-value pigments, such as R-phycoerythrin (R-PE), during processing. R-PE is a water-soluble chromoprotein with considerable value as a natural colorant and antioxidant ingredient; however, its extraction requires an effective strategy because the pigment is entrapped within a carrageenan gel-rich cell wall matrix and is sensitive to processing conditions. This study aimed to determine the optimum conditions for R-phycoerythrin (R-PE) extraction from wet K. alvarezii biomass using ultrasound assisted extraction (UAE) optimized through Response Surface Methodology (RSM) with a Central Composite Design (CCD) by varying temperature, extraction time, and the rasio-to-solid biomass ratio (LSR), while controlling the co-extracted carrageenan (carrageenan yield; CY) as an indicator of carrageenan loss from the biomass. Optimization was performed using a 20-run CCD with three factors: temperature (13–47 °C), extraction time (20–70 min), and LSR (2–18 v/b). The evaluated responses included R-PE concentration (R-PEC), R-PE yield (R-PEY), R-PE purity index (R-PEPI), and CY. The optimum condition was identified using a desirability function, experimentally verified, and compared with the UAE control and maceration. The selected extract was subsequently purified by 60% ammonium sulfate precipitation, followed by dialysis, and further characterized in terms of UV–Vis spectra, CIELAB color parameters, SDS–PAGE protein profile, antioxidant activity (using the ABTS and DPPH assays), and post-extraction residues. The optimum condition was obtained at 20 °C, 30 min, and LSR 12 v/b, with a desirability of 0.822; all verified responses fell within the 95% confidence interval, confirming the model's validity. Under optimal UAE conditions, the best crude extract was obtained, with an R-PEC of 0.028 mg/mL, an R-PEY of 0.334 mg/g, and an R-PEPI of 0.250. After purification, the R-PE fraction reached an R-PEC of 1.833 mg/mL and an R-PEPI of 0.666, with a recovery of 72.65%, and exhibited the strongest antioxidant activity (IC50 ABTS 13.77 µg/mL; IC50 DPPH 21.12 µg/mL). The dry residue did not differ significantly among extraction methods (8–9 g/100 g wet biomass), indicating that optimized UAE did not cause excessive loss of structural biomass. Overall, these findings demonstrate that optimized UAE enables rapid production of higher-quality R-PE while leaving a residue that remains amenable to further valorization.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</rdf:RDF>
