<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rdf:RDF xmlns="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<channel rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/71">
<title>MT - Agriculture</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/71</link>
<description/>
<items>
<rdf:Seq>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172935"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172887"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172806"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172741"/>
</rdf:Seq>
</items>
<dc:date>2026-04-25T12:16:34Z</dc:date>
</channel>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172935">
<title>Pendugaan Mutu Benih Kacang Tanah Melalui Laju Respirasi Benih dengan Sensor NDIR CO2</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172935</link>
<description>Pendugaan Mutu Benih Kacang Tanah Melalui Laju Respirasi Benih dengan Sensor NDIR CO2
Sukahet, I Gede Tirta
Benih kacang tanah (Arachis hypogaea L.) mudah menurun mutu fisiologisnya selama proses penyimpanan akibat kandungan lemak dan protein yang tinggi. Evaluasi mutu benih konvensional membutuhkan waktu yang lama oleh karena itu dibutuhkan metode yang cepat dan non-destruktif dalam mengetahui mutu fisiologis benih. Laju respirasi CO2 berpotensi sebagai metode uji cepat dalam menduga mutu benih. Namun, penelitian sebelumnya menemukan korelasi yang beragam antara mutu benih dengan laju respirasi pada berbagai komoditas. Penggunaan Sensor NDIR CO2 memungkinkan pengukuran laju respirasi secara real-time, bersifat objektif, dan bersifat non-destruktif terhadap benih. &#13;
	Penelitian terdiri dari dua percobaan. Percobaan 1 bertujuan untuk memperoleh berbagai lot benih kacang tanah dengan variasi mutu fisiologis pada varietas Kelinci dan Domba. Benih kacang tanah diberikan perlakuan pengusangan uap etanol dalam wadah vakum selama 0, 10, 20, 30, dan 40 menit. Benih yang telah diusangkan dilakukan pengujian mutu benih. Percobaan 2 bertujuan untuk mengukur laju respirasi selama 24 jam dengan interval 3 jam menggunakan sensor NDIR CO2. Hasil laju respirasi selanjutnya dikorelasikan dan dibuat persamaan regresi dengan mutu fisiologis yang diperoleh pada percobaan 1. &#13;
	Percobaan 1 menunjukkan bahwa pengusangan uap etanol selama 20 menit sudah mampu menurunkan vigor benih dan pengusangan 30 menit menurunkan viabilitas benih. Berdasarkan metode pengusangan uap etanol diperoleh empat lot benih varietas Kelinci dan tiga lot benih varietas Domba. Percobaan 2 menunjukkan lot vigor rendah memiliki laju respirasi yang lebih tinggi secara konsisten selama 24 jam. Namun, lot vigor rendah menunjukkan penurunan laju respirasi yang lebih cepat. Laju respirasi berkorelasi signifikan negatif dengan mutu benih, terutama pada varietas Kelinci. Sementara pada varietas Domba, hanya berkorelasi pada peubah mutu fisiologis tertentu. Pengukuran laju respirasi 3 jam dapat digunakan dalam menduga viabilitas dan vigor benih yang ditunjukkan dari nilai R2 &gt; 0,80 pada varietas Kelinci.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172887">
<title>Strategi Pengelolaan Lanskap Budaya Desa Maria berbasis Budaya Suku Mbojo, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172887</link>
<description>Strategi Pengelolaan Lanskap Budaya Desa Maria berbasis Budaya Suku Mbojo, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat
Arista, M. Naufal
Suku Mbojo merupakan suku yang menempati Desa Maria. Masyarakat Desa Maria datang dari Pulau Sumatra hingga berpindah hingga membangun permukiman tetap di tepi Jalan Lintas Sape sejak tahun 1925/1926. Karakter lanskap Desa Maria dipengaruhi oleh lanskap alami, buatan, dan budaya. Masyarakat dan Pemerintah Desa Maria memiliki permasalahan dalam pengelolaan desa dan budaya yaitu semakin hilangnya identitas dan keunikan budaya, alih fungsi lahan pertanian, kurangnya perangkat regulasi untuk pengelolaan dan pelestarian kawasan desa budaya. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi karakteristik tatanan lanskap dan hubungan peran Uma Lengge pada tatanan lanskap Desa Maria, mengevaluasi pengelolaan lanskap budaya dan wisata, menyusun strategi pengelolaan lanskap budaya berbasis Suku Mbojo di Desa Maria, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat. Pendekatan penelitian yang digunakan ialah Landscape Character Assessment (LCA) untuk mengidentifikasi karakteristik tatanan lanskap budaya, analisis signifikansi digunakan untuk mengetahui nilai penting dari lanskap budaya dan mengevaluasi pengelolaan lanskap budaya. Analisis pengelolaan lanskap budaya dan wisata menggunakan informasi yang diperoleh dari wawancara dengan narasumber kunci, data desa, dan aspek legal. Persepsi masyarakat digunakan untuk mengetahui pengetahuan masyarakat terhadap tatanan lanskap budaya mereka, sedangkan persepsi pengunjung digunakan untuk mengetahui pengetahuan pengunjung tentang lanskap budaya Suku Mbojo dan kepuasan kunjungannya. Rekomendasi&#13;
strategi pengelolaan diperoleh dengan menggunakan analisis Strength-Weakness-Opportunity-Threat (SWOT) terhadap faktor internal dan eksternal yang terkait dengan pengelolaan lanskap budaya di Desa Maria.&#13;
Hasil dari penelitian ini diketahui bahwa tatanan lanskap dan nilai budaya Suku Mbojo di Desa Maria dipengaruhi oleh kondisi lanskap berlereng dengan tata ruang dari atas ke bawah berupa hutan adat, hutan masyarakat, tegalan, kebun, sawah tadah hujan, serta permukiman. Akses dari permukiman terhubung oleh jalan provinsi ke Kota Bima dan Kecamatan Sape, kearifan lokal terlihat dari respon terhadap alam dengan iklim kering baik dalam bertani mampu berkehidupan dalam tradisi budaya. Elemen kunci dalam tatanan lanskap budaya&#13;
Suku Mbojo adalah permukiman dengan elemen utama area Uma Lengge, persawahan dan hutan adat serta area sumber air. Rekomendasi strategi pengelolaan yang diusulkan adalah menjaga dan memelihara (hold and maintain) dengan 6 (enam) strategi yaitu penerapan kolaborasi pentahelix, penerapan zonasi pengelolaan, pengembangan wisata berwawasan pelestarian, menjaga ketersediaan air termasuk untuk pertanian, mengawasi perubahan tataguna lahan dan memelihara area Uma Lengge (cagar budaya), serta edukasi terkait pelestarian budaya Suku Mbojo kepada generasi muda.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172806">
<title>Species Responses, Jasmonate-Induced Resistance to Soft-Rot Disease, and NAC29-Based Diversity Analysis in Phalaenopsis</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172806</link>
<description>Species Responses, Jasmonate-Induced Resistance to Soft-Rot Disease, and NAC29-Based Diversity Analysis in Phalaenopsis
Sachio
Phalaenopsis orchids are among the most coveted commodities in the global floriculture industry due to their long-lasting flowers and distinctive ornamental traits. However, optimal cultivation of Phalaenopsis, especially during its long vegetative phase, requires high temperature and relative humidity, conditions that also favor the development of disease pathogens. One of the most devastating diseases affecting Phalaenopsis is soft rot disease (SRD), which is mainly caused by necrotrophic bacteria of the Pectobacterium and Dickeya genera. SRD can lead to rapid disease progression and total crop loss, with inoculum spreading easily among plants. Current control measures rely primarily on chemical bactericides or roguing of infected plants, but these approaches are often ineffective and raise environmental concerns. Consequently, breeding Phalaenopsis varieties resistant to SRD through conventional and biotechnological approaches represents a sustainable alternative; however, limited information was available regarding potential SRD-resistant donors and the mechanism of soft-rot resistance in Phalaenopsis. Hence, in this research, we aimed to screen for SRD resistance in Phalaenopsis species found in Indonesia to enrich the breeding pipeline, determine the optimal methyl jasmonate (MeJA) concentration to induce SRD resistance in Phalaenopsis, and develop molecular markers to aid the breeding program in producing SRD-resistant Phalaenopsis varieties.&#13;
In this study, screening efforts successfully identified three additional SRD- resistant species- P. corningiana, P. modesta, and P. tetraspis- in addition to the previously reported P. amboinensis. Despite up to 92 species having been identified in the Phalaenopsis genus, only 18 species have been widely utilized in breeding programs, and the newly identified resistant species remain underexploited, suggesting their potential to enrich breeding pipelines for developing SRD-resistant cultivars. To support resistance breeding, this study also examined the role of pre- existing defense mechanisms by analyzing leaf anatomical and epidermal traits; however, no significant correlation was found between these structural traits and SRD resistance, suggesting that constitutive physical defenses may play a limited role in post-infection SRD-resistance in Phalaenopsis.&#13;
Given the importance of induced defenses against necrotrophic pathogens, the role of the jasmonic acid/ethylene (JA/ET) was further investigated. Exogenous application of MeJA significantly reduced SRD symptom development in susceptible Phalaenopsis genotypes namely P. amabilis ‘Jawa Barat’ and P. pulcherrima ‘Aceh’, although the magnitude of induced resistance varied among genotypes. While 1 mM concentrations of MeJA enhanced resistance, higher concentrations (up to 10 mM) failed to induce resistance and instead triggered leaf senescence in P. pulcherrima ‘Aceh’. These findings underscore the importance of the jasmonate pathway in SRD resistance in Phalaenopsis. Hence, a future study is necessary to elucidate the SRD-induced resistance mechanism, in which MeJA induces Phalaenopsis SRD resistance, especially through the regulation of terpenoids.&#13;
 To facilitate marker-assisted breeding, this study also explored the development of molecular markers from the open reading frame (ORF) of differentially expressed NAC29 transcription factor gene. Sequence analysis of NAC29 across ten Phalaenopsis species revealed SNP and indel variation present throughout the ORF. High conservation was observed in the NAC domain, while the transcriptional activation region was highly variable. No mutation was uniquely associated with SRD resistance. Five SNAP markers were developed from biallelic SNPs to analyze genetic diversity at the subgenus level. Four of the five primers have moderate marker polymorphic information content; however, two of these markers have high null allele frequency. Using only five primers was insufficient to differentiate species within different subgenera clearly. Overall, the results highlight the complexity of SRD resistance in Phalaenopsis and underscore the need for further functional and genomic studies to enable effective resistance- breeding strategies.; Anggrek Phalaenopsis merupakan salah satu komoditas florikultura utama global karena bunganya yang tahan lama dan memiliki karakter bunga yang menarik. Salah satu kendala utama budidaya Phalaenopsis adalah tingginya prevalensi hama dan penyakit selama fase vegetatif yang memerlukan suhu dan kelembaban relatif yang tinggi. Penyakit busuk lunak (PBL) yang disebabkan oleh bakteri nektrotropik dari genus Pectobacterium dan Dickeya merupakan salah satu penyakit utama anggrek Phalaenopsis. PBL dapat memiliki perkembangan penyakit yang cepat dan berpotensi menyebabkan kehilangan total karena inokulum mudah menyebar antar tanaman tanaman. Tindakan pengendalian PBL saat ini utamanya dilakukan menggunakan bakterisida berbahan aktif tembaga atau roguing tanaman terinfeksi, tetapi pendekatan ini seringkali tidak efektif dan berpotensi menyebabkan pencemaran lingkungan. Oleh karena itu, pemuliaan varietas Phalaenopsis yang tahan terhadap PBL melalui pendekatan konvensional dan bioteknologi merupakan alternatif yang berkelanjutan. Namun, informasi yang tersedia mengenai potensi donor tahan SRD dan mekanisme ketahanan terhadap busuk lunak pada Phalaenopsis masih terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan mengidentifikasi alternatif spesies Phalaenopsis yang resisten terhadap PBL sebagai calon yang ditemukan di Indonesia untuk memperkaya jalur pemuliaan, menentukan konsentrasi metil jasmonat (MeJA) optimal untuk menginduksi resistensi SRD pada Phalaenopsis, dan mengembangkan penanda molekuler untuk membantu program pemuliaan dalam menghasilkan varietas Phalaenopsis yang resisten terhadap SRD.&#13;
Dalam penelitian ini, penapisan ketahanan PBL berhasil mengidentifikasi tiga spesies resisten PBL tambahan-P. corningiana, P. modesta, dan P. tetraspis- selain P. amboinensis yang telah dilaporkan sebelumnya. Meskipun terdapat 92 spesies yang teridentifikasi dari genus Phalaenopsis, hanya 18 spesies yang telah banyak digunakan dalam program pemuliaan, dan spesies resisten yang baru teridentifikasi belum banyak digunakan, menunjukkan potensinya untuk memperkaya keragaman tetua dalam pengembangan varietas Phalaenopsis resisten SRD. Selain identifikasi tetua resisten PBL yang potensial, elusidasi peran mekanisme pertahanan fisik konstitutif juga dilakukan melalui analisis karakter anatomi dan epidermis daun. Namun, tidak ditemukan korelasi signifikan antara karakter tersebut dan resistensi PBL yang menunjukkan peran terbatas pertahanan fisik konstitutif memainkan peran terbatas dalam resistensi SRD pasca-infeksi pada Phalaenopsis.&#13;
Asam jasmonat/etilen (JA/ET) berperan penting dalam pertahanan terinduksi terhadap patogen nekrotrofik. Aplikasi eksogen MeJA secara signifikan mengurangi severitas gejala PBL pada genotipe Phalaenopsis yang rentan yaitu P. amabilis ‘Jawa Barat’ and P. pulcherrima ‘Aceh’, meskipun tingkat resistensi yang diinduksi bervariasi antar genotipe. Konsentrasi 1 mM MeJA mampu menginduksi ketahanan, sedangkan konsentrasi yang lebih tinggi (hingga 10 mM) gagal menginduksi resistensi dan memicu senesens daun pada P. pulcherrima ‘Aceh’.&#13;
 Temuan ini menunjukkan pentingnya jalur jasmonat dalam resistensi PBL pada Phalaenopsis. Oleh karena itu, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk membuktikan mekanisme resistensi SRD yang diinduksi, terutama melalui regulasi terpenoid.&#13;
Studi ini juga mengeksplorasi pengembangan marka molekuler dari open reading frame (ORF) gen faktor transkripsi NAC29 yang diekspresikan secara berbeda pada infeksi PBL. Multiple sequence alignment dari sekuen NAC29 di sepuluh spesies Phalaenopsis mengungkapkan variasi SNP dan indel yang tersebar di seluruh ORF. Konservasi tinggi ditemukan di domain NAC, sementara wilayah aktivasi transkripsi ditemukan sangat bervariasi. Tidak ada mutasi yang secara spesifik terdapat pada spesies tahan dan rentan. Lima penanda SNAP dikembangkan berdasarkan SNP bialelik untuk menganalisis keragaman genetik pada tingkat subgenus. Empat dari lima primer memiliki nilai polymorphism information content yang moderat; namun, dua dari penanda ini memiliki frekuensi null allele yang tinggi. Penggunaan hanya lima primer tidak cukup untuk membedakan spesies dari subgenus yang berbeda secara jelas. Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menunjukkan kompleksitas mekanisme resistensi SRD pada Phalaenopsis dan menekankan perlunya studi fungsional dan genomik lebih lanjut untuk memungkinkan strategi pemuliaan resistensi yang efektif.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172741">
<title>Peningkatan Kandungan Reserpine pada Pule Pandak (Rauvolfia serpentina) Melalui Kultur Sel</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172741</link>
<description>Peningkatan Kandungan Reserpine pada Pule Pandak (Rauvolfia serpentina) Melalui Kultur Sel
Arum, Puspa
Rauvolfia seperntina atau pule pandak merupakan tanaman evergreen shrub yang termasuk ke dalam tanaman berkayu sekaligus spesies terpenting dari genus Rauvolfia yang kaya kandungan senyawa-senyawa metabolit yang bersifat terapeutik. Keragaman peran farmakologis pule pandak tidak selaras dengan kelestariannya yang termasuk ke dalam kelompok terancam punah. Sulitnya pertumbuhan konvensional pada tanaman pule pandak karena viabilitas benih yang buruk, tingkat perkecambahan yang rendah, serta terjadinya variasi genetik pada populasi sehingga dalam mengatasi permasalahan-permasalahan tersebut kultur in vitro dapat menjadi solusinya. &#13;
&#13;
Informasi mengenai penerapan metode kultur sel pada pule pandak masih relatif terbatas, khususnya pemanfaatan eksplan kalus yang berasal dari jaringan akar hasil kultur in vitro. Jenis dan konsentrasi zat pengatur tumbuh (ZPT) mampu mempengaruhi keberhasilan induksi kalus serta akumulasi senyawa reserpine sebagai dasar pengoptimalan metode kultur sel. Kalus yang dihasilkan pada media induksi kalus terbaik kemudian dilanjutkan pada tahap pengoptimalan metode kultur sel dalam menentukan konsentrasi elisitor dan kondisi lingkungan dalam pertumbuhan biomassa dan peningkatan senyawa reserpine yang lebih baik.  Tujuan umum penelitian yaitu menentukan metode optimal inisiasi dan produksi kalus sebagai sumber eksplan serta merancang metoda kultur suspensi sel yang mampu meningkatkan senyawa reserpine pada media cair.&#13;
&#13;
Penelitian ini terdiri atas dua pecobaan, percobaan pertama merupakan induksi kalus dan percobaan kedua merupakan kultur sel. Percobaan pertama bertujuan mengevaluasi pengaruh kombinasi auksin (2,4-D dan NAA) dengan sitokinin (BAP dan KIN) pada beberapa taraf terhadap kuantifikasi reserpine. Percobaan ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan satu faktor yaitu media kultur [Kontrol (MS); A (MS + 2,4-D 1 ppm + BAP 2 ppm); B (MS + 2,4-D 2 ppm + BAP 1 ppm); C (MS + 2,4-D 3 ppm); D (MS + NAA 1,5 ppm + KIN 1 ppm); E (NAA 2,5 ppm + KIN 2,5 ppm); F (NAA 3ppm + KIN 3 ppm)  . Eksplan yang digunakan berupa potongan-potongan (± 0,7 cm) akar dari planlet umur 3-4 bulan pada media MS + IBA 0,1 ppm.  Setiap perlakuan terdiri atas 8 ulangan. Hasil percobaan menunjukkan bahwa media F membuktikan hasil terbaik pada persentase keberhasilan induksi kalus (100%), bobot basah (4,48 g), bobot kering (2,30 g), lama induksi kalus (21,4 hari), dan tipe kalus berupa kalus rooty. Media F dan B menunjukkan media terbaik untuk menginduksi kalus dengan kuantitas reserpine tertinggi dengan nilai secara berurut adalah 32,36 dan 22,22 mg g-1BK. &#13;
&#13;
Percobaan kedua bertujuan untuk menganalisis pengaruh elisitasi menggunakan metil jasmonat (MeJA) serta pengondisian sistem kultur melalui pengaturan kecepatan rotasi rotary shaker pada media cair upaya untuk peningkatan akumulasi senyawa reserpine. Percobaan ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan dua faktor yaitu konsentrasi MeJA (0, 50, 100, 200 µM) dan kecepatan rotasi (0 dan 100 rpm). Kalus hasil percobaan sebelumnya dengan bobot ±  2 g dimasukkan ke dalam media F dalam bentuk cair. Penambahan elisitor dan pengondisian lingkungan berdasarkan masing-masing perlakuan, yang diulang sebanyak 5 kali setiap perlakuannya. Hasil percobaan menunjukkan bahwa terdapat pengaruh interaksi antara penambahan MeJA dan kecepatan rotasi terhadap laju pertumbuhan 2, growth index 2, dan kuantitas reserpine yang dihasilkan. Hasil percobaan menunjukkan bahwa penambahan MeJA 200 µM tanpa diberikan kecepatan rotary shaker menunjukkan ketiga nilai variabel tertinggi dengan nilai 2,26 g; 7,15%; dan 221,81 mg g-1BK. Konsentrasi MeJA menunjukkan perngaruh terhadap bobot kering dan kadar air dan kecepatan rotasi tidak menunjukkan pengaruh terhadap keseluruhan variabel.; Rauvolfia serpentina or Indian snakeroot is an evergreen shrub that belongs to the woody plant family and is the most important species of the Rauvolfia genus, which is rich in therapeutic metabolites. The diversity of Indian snakeroot's pharmacological roles is not in line with its conservation status, which is classified as endangered. Conventional growth of Indian snakeroot is difficult due to poor seed viability, low germination rates, and genetic variation in the population. In vitro culture can be a solution to these problems. &#13;
&#13;
Information on the application of cell culture methods in Indian snakeroot is still relatively limited, especially the use of callus explants derived from root tissue resulting from in vitro culture. The type and concentration of plant growth regulators (PGRs) can influence the success of callus induction and the accumulation of reserpine compounds as a basis for optimizing cell culture methods. The callus produced in the best callus induction medium is then continued to the cell culture method optimization stage to determine the elisitor concentration and environmental conditions for better biomass growth and reserpine compound enhancement. The general objective of this study is to determine the optimal method for callus initiation and production as an explant source and to design a cell suspension cultivation method capable of enhancing reserpine compounds in liquid media.&#13;
&#13;
This study consisted of two experiments, the first being callus induction and the second being cell culture. The first experiment aimed to evaluate the effect of combinations of auxins (2,4-D and NAA) with cytokinins (BAP and KIN) at several levels on reserpine quantification. The experiment used a completely randomized design with one factor, namely culture media [Control (MS); A (MS + 2,4-D 1 ppm + BAP 2 ppm); B (MS + 2,4-D 2 ppm + BAP 1 ppm); C (MS + 2,4-D 3 ppm); D (MS + NAA 1.5 ppm + KIN 1 ppm); E (NAA 2.5 ppm + KIN 2.5 ppm); F (NAA 3 ppm + KIN 3 ppm) . The explants used were root segments (± 0.7 cm) from 3 to 4 month-old plantlets on MS + IBA 0.1 ppm medium. Each treatment consisted of 8 replicates. The results showed that medium F proved to be the best in terms of callus induction success rate (100%), fresh weight (4.48 g), dry weight (2.30 g), callus induction time (21.4 days), and callus type, which was rooty callus. Media F and B showed the best media for inducing callus with the highest reserpine content with values of 32.36 and 22.22 mg g-1DW, respectively. &#13;
&#13;
The second experiment aimed to analyze the effect of elicitation using methyl jasmonate (MeJA) and conditioning the culture system by adjusting the rotation speed of the rotary shaker in liquid media in an effort to increase the accumulation of reserpine compounds. This experiment used a completely randomized design with two factors, namely MeJA concentration (0, 50, 100, 200 µM) and rotation speed (0 and 100 rpm). Callus from the previous experiment weighing ± 2 g was placed in liquid F medium. Then, elicitor addition and environmental conditioning were based on each treatment, which was repeated 5 times for each treatment. The results showed that there was an interaction effect between MeJA addition and rotation speed on growth rate 2, growth index 2, and the quantity of reserpine produced. The experimental results showed that the addition of 200 µM MeJA without the addition of rotary shaker speed showed the highest values for the three variables, with values of 2.26 g, 7.15%, and 221.81 mg g-1DW. The MeJA concentration showed an effect on dry weight and moisture content, while the rotation speed showed no effect on all variables.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</rdf:RDF>
