<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rdf:RDF xmlns="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<channel rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/5343">
<title>Faculty of Veterinary</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/5343</link>
<description/>
<items>
<rdf:Seq>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/171716"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/162539"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/162468"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/160414"/>
</rdf:Seq>
</items>
<dc:date>2026-04-24T18:55:16Z</dc:date>
</channel>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/171716">
<title>FLUTD pada Kucing British Short Hair di KM  Global Animal Hospital</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/171716</link>
<description>FLUTD pada Kucing British Short Hair di KM  Global Animal Hospital; Laporan Kasus
Wijaya, Agus; Wulansari, Retno; Widhyari, Sus Derthi; Esfandiari, Anita; Purwadi, Andi  Abimanyu Rizki; Elin; Elvira, Natasha; Raj, Navhin; Yulianawati, Nur Indria; Mulyadi, Reinhart Kurniawan; Milna, Resi
Feline Lower Urinary Tract Disease (FLUTD) pada kucing merupakan istilah&#13;
yang terkait dengan gangguan yang terjadi pada vesica urinaria dan saluran urinaria&#13;
bagian bawah. Gejala klinis yang terlihat berupa periuria, haematuria dan stranguria.&#13;
Faktor yang mempengaruhi gangguan ini yaitu umur dan pakan. Seekor kucing British&#13;
Short Hair jantan berusia 2 tahun dengan bobot badan 4,68 kg dibawa ke KM Global&#13;
Animal Hospital dengan keadaan lemas dan sulit urinasi sejak satu hari terakhir.&#13;
Pemeriksaan penunjang yang dilakukan yaitu X-ray right lateral view, hematologi&#13;
darah, dan uji kimia darah. Hasil pemeriksaan X-ray menunjukkan pembesaran pada&#13;
vesica urinaria dan perubahan bentuk pada ginjal. Hasil pemeriksaan hematologi&#13;
menunjukkan peningkatan pada leukosit (leukositosis). terapi yang diberikan pada&#13;
kasus ini berupa pemberian terapi cairan NaCl 0,95%, clavaseptin dan urinorm.
</description>
<dc:date>2025-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/162539">
<title>Pelacakan Sianida Dalam Upaya Pencegahan Penggunaan Sianida Pada Destructive Fishing</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/162539</link>
<description>Pelacakan Sianida Dalam Upaya Pencegahan Penggunaan Sianida Pada Destructive Fishing
Pribadi, Eko S; Deskiharto, Arman
Selain menggunakan setrum, sodium sianida juga digunakan untuk&#13;
menangkap ikan hidup-hidup dari habitat aslinya. Setelah ditangkap, ikan-ikan&#13;
tersebut dipindahkan dan disimpan dalam air tawar untuk memulihkan dan&#13;
mengurangi jumlah sianida karena hampir 80% dari semua sianida diubah&#13;
menjadi anion tiosianat (SCN-&#13;
). Anion tiosianat (SCN-&#13;
) dihasilkan melalui jalur&#13;
metabolisme utama untuk mendetoksifikasi anion sianida (CN-&#13;
) dan kemudian&#13;
dikeluarkan melalui air seni (urin) (Rubec et al., 2002).&#13;
Penangkapan ikan menggunakan sianida dianggap merupakan cara&#13;
menangkap ikan karang yang mudah dan murah. Ikan karang bernilai tinggi&#13;
dapat ditangkap hidup-hidup (Frey 2012). Penggunaan sianid tidak selektif&#13;
terhadap jenis ikan yang akan ditangkap. Terumbu karang hidup dapat&#13;
teracuni oleh sianida. Paparan sianida diketahui menyebabkan pemutihan&#13;
karang di terumbu, karena sianida mengganggu simbiosis hubungan antara&#13;
polip karang dan zooxanthelle yang memberi nutrisi pada karang (Mak et al.,&#13;
2005; Almany et al., 2007).&#13;
Meskipun melawan hukum, penangkapan ikan dengan sianida masih&#13;
umum dilakukan oleh nelayan di masyarakat miskin dan pedesaan yang&#13;
mengandalkan perdagangan untuk mata pencaharian mereka (Frey, 2012;&#13;
Reksodihardjo dan Lilley, 2007).  ...
</description>
<dc:date>2025-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/162468">
<title>Cystic Endometrial Hyperplasia Pada Kucing Maya</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/162468</link>
<description>Cystic Endometrial Hyperplasia Pada Kucing Maya; STUDI KASUS
Rr. Soesatyoratih
Kucing merupakan salah satu jenis hewan yang banyak ditemukan di&#13;
lingkungan, baik sebagai hewan kesayangan (peliharaan) maupun sebagai&#13;
hewan liar. Beberapa faktor yang menyebabkan populasi kucing cukup tinggi&#13;
adalah siklus berahi, periode kebuntingan, dan frekuensi melahirkan yang cukup&#13;
sering dalam setahun. Kucing memiliki siklus birahi seasonal polyestrus, yaitu&#13;
birahi yang tidak bermusim, bisa terjadi kapan saja. Dalam satu periode&#13;
kebuntingan induk kucing dapat menghasilkan 1-6 ekor anak dan dalam setahun&#13;
kucing dapat beranak 1-3 kali. Apabila dikalkulasikan, seekor kucing dapat&#13;
menghasilkan sekitar 40 ekor anak selama 5 tahun masa hidupnya (Kennedy et&#13;
al. 2020).&#13;
Salah satu penyakit reproduksi yang dapat terjadi pada kucing betina yaitu&#13;
cystic endometrial hyperplasia (CEH). CEH merupakan suatu penyakit&#13;
reproduksi yang dikarakterisasikan dengan hiperplasia endometrium akibat&#13;
induksi progesteron yang disertai dengan keberadaan kista pada endometrium&#13;
(Agudelo 2005). CEH lebih jarang ditemukan pada kucing jika dibandingkan&#13;
dengan anjing. Hal ini disebabkan oleh rendahnya paparan progesterone&#13;
terhadap kucing karena kucing adalah hewan induced-ovulator, sehingga&#13;
perkembangan CEH memiliki risiko yang lebih rendah (Becha 2017). Pada&#13;
kucing, risiko kejadian CEH dapat meningkat seiring bertambahnya usia kucing&#13;
(Binder et al. 2020). CEH pada kucing umum ditemukan pada kucing betina yang&#13;
belum pernah melahirkan yang berusia lebih dari 3 tahun. ...
</description>
<dc:date>2025-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/160414">
<title>Evans Syndrome</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/160414</link>
<description>Evans Syndrome
Kemuning, Asri Ragil
Evans Syndrome (ES) pertama kali diketahui oleh Robert Evans pada tahun&#13;
1951. Evans Syndrome merupakan penyakit autoimun yang langka, dimana sistem&#13;
kekebalan tubuh menghasilkan antibodi yang secara keliru menghancurkan&#13;
eritrosit, trombosit, dan kadang leukosit (neutrofil). Evans Syndrome (ES)&#13;
dikarakteristikan dengan perkembangan simultan atau sekuensial dari&#13;
Autoimmune Haemolytic Anemia (AIHA) dan Immune Thrombocytopenia&#13;
Purpura (ITP) dan/atau immune neutropenia tanpa etiologi yang mendasari,&#13;
sehingga Evans Syndrome merupakan diagnosa eksklusi ...
</description>
<dc:date>2024-12-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</rdf:RDF>
