<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rdf:RDF xmlns="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<channel rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/25">
<title>Undergraduate Theses</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/25</link>
<description>Undergraduate theses of IPB's bachelor student</description>
<items>
<rdf:Seq>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172985"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172982"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172981"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172978"/>
</rdf:Seq>
</items>
<dc:date>2026-04-24T07:28:02Z</dc:date>
</channel>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172985">
<title>Asosiasi Makrozoobentos pada Ekosistem Lamun di Pulau Panjang, Banten</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172985</link>
<description>Asosiasi Makrozoobentos pada Ekosistem Lamun di Pulau Panjang, Banten
Muthiiah, Nahdah
Ekosistem lamun di Pulau Panjang berperan sebagai habitat bagi makrozoobentos. Informasi mengenai makrozoobentos dan keterkaitannya dengan lamun masih terbatas. Di sisi lain, wilayah ini memiliki potensi keanekaragaman hayati laut yang tinggi. Penelitian ini bertujuan melihat kondisi aktual lamun, komposisi makrozoobentos, dan asosiasi keduanya. Pengambilan data lamun dilakukan dengan metode Seagrass Watch dan makrozoobentos diambil dengan dengan metode hand picking. Asosiasi makrozoobentos dan lamun menggunakan analisis korespondensi (CA). Penelitian ini menunjukkan bahwa komposisi lamun di Pulau Panjang meliputi, Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii, Cymodocea rotundata, Syringodium isoetifolium, Halophila ovalis, dan Halodule uninervis. Kerapatan dan penutupan lamun yang tinggi di Stasiun 3 tidak diikuti dengan tingginya kelimpahan makrozoobentos. Kelimpahan makrozoobentos tertinggi didapatkan pada Stasiun 2. Makrozoobentos yang ditemukan sebanyak 64 spesies, yaitu dari Kelas Gastropoda, Kelas Malacostraca, Kelas Bivalvia, Kelas Holothuroidea, dan Kelas Ophiuroidea. Komunitas makrozoobentos menunjukkan keanekaragaman sedang hingga tinggi dengan distribusi individu antarspesies yang merata tanpa dominansi spesies tertentu. Hasil analisis korespondensi menunjukkan di Stasiun 1 terdapat asosiasi antara lamun T. hemprichii dan makrozoobentos Pictocolumbella ocellata. Asosiasi Stasiun 3 melibatkan makrozoobentos Canarium urceus, Pyrene punctata, Holothuria sp., Vasticardium angulatum, Gutturnium muricinum, Umbonium sp., Phasianella solida, Canarium labiatum, Chicoreus brunneus, dan Conus aristophanes serta lamun H. ovalis, S. isoetifolium, dan H. uninervis.; The seagrass ecosystem on Panjang Island serves as an important habitat for macrozoobenthos. However, information regarding macrozoobenthos communities and their relationship with seagrass in this area remains limited. Meanwhile, Panjang Island possesses high potential for marine biodiversity. This study aimed to assess the current condition of seagrass, analyze the composition of macrozoobenthos, and examine the association between the two. Seagrass data were collected using the Seagrass Watch method and macrozoobenthos samples were obtained through the hand-picking method. The seagrass composition on Panjang Island consisted of Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii, Cymodocea rotundata, Syringodium isoetifolium, Halophila ovalis, and Halodule uninervis. The highest density and coverage of seagrass at Station 3 was not accompanied by high macrozoobenthos abundance. The highest abundance of macrozoobenthos was found at Station 2. A total of 64 macrozoobenthos species were identified, belonging to the classes Gastropoda, Malacostraca, Bivalvia, Holothuroidea, and Ophiuroidea. The macrozoobenthos community exhibited moderate to high diversity with an even distribution of individuals among species, and no single species showed dominance. At Station 1, an association was found between the seagrass T. hemprichii and the macrozoobenthos P. ocellata. The association at Station 3 involved macrozoobenthos such as Canarium urceus, Pyrene punctata, Holothuria sp., Vasticardium angulatum, Gutturnium muricinum, Umbonium sp., Phasianella solida, Canarium labiatum, Chicoreus brunneus, and Conus Aristophanes, and the seagrass species seagrass H. ovalis, S. isoetifolium, and H. uninervis.
</description>
<dc:date>2025-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172982">
<title>Pengembangan Penilaian Kesehatan Tegakan Kebun Raya Bogor melalui Analytical Network Process (ANP)</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172982</link>
<description>Pengembangan Penilaian Kesehatan Tegakan Kebun Raya Bogor melalui Analytical Network Process (ANP)
Nazalti, Zulfa
Kebun Raya Bogor (KRB) merupakan kawasan konservasi flora secara ex situ dengan koleksi mencapai 3.404 spesies. Guna menjamin keberlanjutan fungsi kawasan yang didominasi oleh tegakan pohon, pemantauan dan penilaian kesehatan tegakan penting dilakukan. Penelitian ini bertujuan mengembangkan penilaian kesehatan tegakan berumur tua di KRB melalui Analytical Network Process (ANP) dan menentukan rekomendasi pemeliharaan tegakan KRB. Metode yang digunakan yaitu metode Forest Health Monitoring (FHM) dan metode ANP untuk mengembangkan dan memvalidasi bobot prioritas indikator kesehatan tegakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bobot prioritas indikator kesehatan tegakan di KRB melalui metode ANP meliputi kondisi tajuk (0,30), kerusakan pohon (0,24), produktivitas (0,15), kualitas tapak (0,15), dan biodiversitas (0,10). Bobot prioritas ANP vitalitas pohon menjadi indikator prioritas tertinggi dalam menentukan kesehatan tegakan di KRB. Nilai akhir kesehatan kawasan KRB bernilai 8 dengan status kesehatan tegakan kategori baik yang mengindikasikan tegakan KRB masih optimal menjalankan fungsinya.; The Bogor Botanical Garden (KRB) is an ex situ flora conservation area with a collection of 3.404 species. To ensure the sustainability of this area, dominated by tree stands, monitoring and assessing their health is essential. This study aims to develop an assessment of the health of mature stands at KRB using the Analytical Network Process (ANP) and to determine maintenance recommendations for KRB stands. The methods used were the Forest Health Monitoring (FHM) and ANP methods to develop and validate the priority weights for stand health indicators. The results of the study indicate that using the ANP method, the priority weights for stand health indicators in the KRB are: canopy condition (0,30), tree damage (0,24), productivity (0,15), site quality (0,15), and biodiversity (0,10). The ANP priority weight for tree vitality is the highest priority indicator in determining stand health in the KRB. The final health score for the KRB area is 8, with the stand health status categorized as good, indicating that the KRB stands are still performing their functions optimally.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172981">
<title>Struktur Komunitas Ekor Pegas (Collembola) pada Empat Tata Guna Lahan di Lanskap Taman Nasional Bukit Duabelas dan Hutan Harapan</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172981</link>
<description>Struktur Komunitas Ekor Pegas (Collembola) pada Empat Tata Guna Lahan di Lanskap Taman Nasional Bukit Duabelas dan Hutan Harapan
Nurissa'adah, Adzkia
Ekor pegas merupakan arthropoda serasah yang dapat ditemukan di hutan, &#13;
padang rumput, dan semak. Collembola berperan penting dalam dekomposisi bahan &#13;
organik. Konversi lahan menjadi perkebunan monokultur berdampak pada &#13;
perubahan kondisi lingkungan yang menyebabkan penurunan populasi arthropoda &#13;
tanah, khususnya Collembola. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh &#13;
perubahan penggunaan lahan terhadap kelimpahan, kekayaan spesies, dan &#13;
komposisi Collembola serasah di lanskap Taman Nasional Bukit Duabelas dan &#13;
Hutan Harapan pada empat tipe penggunaan lahan yang berbeda. Sampel &#13;
Collembola dikumpulkan dengan metode pengumpulan serasah (Winkler litter &#13;
extraction), di kawasan Taman Nasional Bukit Duabelas, dan Hutan Harapan, &#13;
Provinsi Jambi. Penelitian ini dilakukan pada empat tipe penggunaan lahan berbeda, &#13;
yaitu hutan, perkebunan kelapa sawit, perkebunan karet, dan semak. Setiap tipe &#13;
penggunaan lahan terdapat 33 plot inti dengan ukuran 1000 m2, dan total seluruh &#13;
plot ada 124 plot yang diamati. Sebanyak 3974 individu ditemukan terdiri dari 3 &#13;
ordo, 9 famili, 28 genus, dan 101 morfospesies. Kelimpahan dan kekayaan spesies &#13;
Collembola tidak berbeda secara signifikan pada empat tipe penggunaan lahan. &#13;
Ketersediaan serasah pada empat tipe penggunaan lahan dapat menyediakan &#13;
mikrohabitat yang sesuai bagi Collembola, sehingga mendukung keberlangsungan &#13;
hidup spesies generalis untuk beradaptasi dan mempertahankan populasi dengan &#13;
stabil. Komposisi Collembola dapat dipengaruhi oleh faktor lingkungan, terutama &#13;
leaf area index (LAI), C percent litter, dan C:N ratio litter.; Springtails are litter dwelling arthropods commonly found in forests, &#13;
meadows, and shrublands, that play a vital role in the decomposition process. The &#13;
conversion of natural landscape into monoculture plantations alters environmental &#13;
conditions, potentially leading to declines in soil arthropods populations, especially &#13;
Collembola. This study aims to analyze the impact of land-use change on &#13;
abundance and composition of Collembola within the Bukit Duabelas National Park &#13;
and Harapan Forest landscapes in Jambi Province. Samplings were conducted using &#13;
winkler litter extraction across 124 plots (1000 m2) representing four land use types &#13;
that is, forest, oil palm plantations, rubber plantations, and shrublands. A total of &#13;
3,974 individuals were identified, consisting of 3 orders, 9 families, 28 genera, and &#13;
101 morphospecies. Results indicated that abundance and species richness of &#13;
Collembola did not differ significantly across the four land use types, suggesting &#13;
that the available litter provides suitable microhabitats for generalist species to &#13;
adapt and maintain stable populations. However, the specific community &#13;
composition was significantly influenced by environmental factors, particularly &#13;
leaf area index (LAI), litter carbon percentage, and the litter C:N ratio.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172978">
<title>Dampak Kebakaran Hutan terhadap Sifat Fisik dan Kimia  Tanah di Blok Pajaten Taman Nasional Gunung Ciremai</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172978</link>
<description>Dampak Kebakaran Hutan terhadap Sifat Fisik dan Kimia  Tanah di Blok Pajaten Taman Nasional Gunung Ciremai
Patimah, Rahma
Kebakaran hutan dapat mengubah sifat fisik dan kimia tanah, berdampak pada kesuburan dan fungsi ekosistem. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi perbedaan sifat fisik dan kimia tanah dan lahan pascaterbakar dan tidak terbakar di Blok Pajaten, Taman Nasional Gunung Ciremai. Sampel dianalisis untuk bulk densty, porositas tanah, permeabilitas, kadar air, pH, C-org, kapasitas tukar kation, dan unsur hara (N, P, K) menggunakan uji statistik yaitu Mann-Whitney dan secara kuantitatif. Hasil analisis statistik lahan bekas terbakar dan tidak terbakar menunjukkan tidak adanya perbedaan signifikan, hal ini diduga kondisi lapang yang bervariasi dan jumlah ulangan yang tidak homogen. Namun, dilihat secara kuantitatif hasil menunjukkan lahan terbakar memiliki bulk density tinggi, porositas lebih rendah, permeabilitas lebih tinggi, dan kadar air lebih rendah. Sifat kimia pada lahan terbakar menunjukkan C-org, N-total, dan fosfor lebih tinggi, sedangkan KTK dan kalium lebih rendah. Implikasi penelitian meliputi rehabilitasi lahan melalui penanaman pionir toleran terhadap tanah masam dan berbatu, serta &#13;
penelitian lanjutan dengan penambahan ulangan pengambilan data untuk memperoleh analisis statitik yang lebih representatif.; Forest fires can alter soil physical and chemical properties, affecting soil fertility and ecosystem function. This study aimed to identify differences in soil properties between post-fire and unburned areas in Blok Pajaten, Gunung Ciremai National Park. Soil samples were analyzed for bulk density, porosity, permeability, moisture content, pH, organic carbon, cation exchange capacity, and nutrients (N, P, K) using quantitative analysis and the Mann-Whitney test. Statistical results showed no significant differences between burned and unburned areas, likely due to field variability and unequal replication. Quantitative analysis indicated that burned soils had higher bulk density, lower porosity, higher permeability, and lower moisture content. Chemically, burned soils had higher organic carbon, total nitrogen, and phosphorus, while CEC and potassium were lower. Implications include land rehabilitation through planting pioneer species tolerant to acidic and rocky soils and further long-term studies with increased data replication to improve statistical representativeness.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</rdf:RDF>
