<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<title>MT - Fisheries</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/73" rel="alternate"/>
<subtitle/>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/73</id>
<updated>2026-04-29T07:50:02Z</updated>
<dc:date>2026-04-29T07:50:02Z</dc:date>
<entry>
<title>Aplikasi Sinbiotik dengan Dosis Prebiotik Inulin Berbeda untuk Pencegahan Penyakit Edwardsiellosis pada Ikan Patin</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172992" rel="alternate"/>
<author>
<name>PARADHIBA, AULIA MARWAH</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172992</id>
<updated>2026-04-27T07:35:02Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Aplikasi Sinbiotik dengan Dosis Prebiotik Inulin Berbeda untuk Pencegahan Penyakit Edwardsiellosis pada Ikan Patin
PARADHIBA, AULIA MARWAH
Usaha budidaya ikan patin (Pangasius sp.) di Indonesia hingga saat ini masih menghadapi hambatan berupa penyakit edwardsiellosis yang dipicu oleh infeksi Edwardsiella tarda. Pengendalian penyakit dengan antibiotik yang dilakukan secara berulang menimbulkan sejumlah persoalan, antara lain penyebaran sifat resistansi bakteri, akumulasi residu antibiotik pada produk budidaya, serta dampak pencemaran lingkungan. Kondisi tersebut mendorong perlunya alternatif yang lebih aman dan efektif, salah satunya melalui pemanfaatan sinbiotik. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi aplikasi sinbiotik dengan dosis prebiotik inulin berbeda dalam meningkatkan sistem imun pada ikan patin untuk pencegahan penyakit edwardsiellosis.&#13;
Sinbiotik yang diaplikasikan merupakan kombinasi probiotik Bacillus cereus BR2 dan prebiotik berupa inulin komersial. Benih ikan patin berbobot rata-rata 6,22±0,34 g dipelihara dengan kepadatan 25 ekor per akuarium. Percobaan disusun menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri atas lima perlakuan dan empat ulangan, yaitu P1 (1% BR2 + 0,1% inulin), P2 (1% BR2 + 0,2% inulin), P3 (1% BR2 + 0,3% inulin), K+ (kontrol positif), serta K- (kontrol negatif). Pakan perlakuan diberikan selama 30 hari, kemudian pada hari ke-31 ikan diuji tantang melalui injeksi intraperitoneal menggunakan suspensi E. tarda dengan kepadatan 107 CFU mL?¹, dan pengamatan dilanjutkan selama 14 hari setelah uji tantang. &#13;
Produksi biomassa probiotik Bacillus cereus BR2 OTCR diawali dengan inokulasi satu ose kultur bakteri ke dalam media cair Tryptic Soy Broth (TSB). Kultur tersebut kemudian dihomogenkan menggunakan vortex dan diinkubasi pada shaker berkecepatan 1400 rpm selama 24 jam. Indikasi pertumbuhan bakteri ditunjukkan oleh perubahan media menjadi keruh. Setelah inkubasi selesai, dilakukan penghitungan jumlah bakteri melalui metode Total Plate Count (TPC). Sebanyak 1 mL kultur B. cereus BR2 OTCR dimasukkan ke dalam mikrotube Eppendorf, lalu disentrifugasi pada kecepatan 10000 rpm selama 10 menit guna memisahkan pelet dan supernatan. Pelet yang diperoleh dicuci dua kali menggunakan larutan phosphate buffered saline (PBS), kemudian ditambahkan kembali PBS hingga mencapai volume akhir 1.000 µL. Suspensi bakteri selanjutnya diencerkan secara bertingkat (serial dilution). Setiap hasil pengenceran ditumbuhkan pada media Tryptic Soy Agar (TSA) dengan teknik sebar (spread plate), kemudian diinkubasi selama 24 jam untuk menentukan jumlah koloni. Berdasarkan hasil penghitungan, diperoleh kepadatan bakteri sebesar 108 CFU mL?¹. Kultur bakteri tersebut dimanfaatkan sebagai bahan formulasi pakan.&#13;
Penelitian ini menggunakan pakan komersial dengan kandungan protein 31-33% (kode 781-1) sebagai pakan dasar. Probiotik Bacillus cereus BR2 OTCR dan prebiotik inulin dicampurkan ke dalam pakan sesuai dosis pada masing-masing perlakuan, dengan penambahan putih telur sebanyak 2% sebagai bahan perekat. Proses pelapisan pakan dilakukan dengan mencampurkan probiotik B. cereus BR2 OTCR dan inulin sesuai takaran yang telah ditentukan, kemudian campuran tersebut dimasukkan ke dalam alat semprot (sprayer). Larutan selanjutnya disemprotkan secara merata ke permukaan pakan sambil diaduk hingga homogen, lalu dikeringanginkan selama kurang lebih 15 menit. Coating pakan dilakukan setiap dua hari sekali. Setelah pakan diberikan kepada ikan, sisa pakan perlakuan disimpan dalam lemari pendingin pada suhu 4°C hingga jadwal pemberian berikutnya. &#13;
Parameter yang diamati dalam penelitian ini mencakup performa pertumbuhan, meliputi laju pertumbuhan spesifik, rasio konversi pakan, dan tingkat kelangsungan hidup. Selain itu, dianalisis pula aspek hematologi dan respons imun yang terdiri atas jumlah total eritrosit dan leukosit, nilai hematokrit, kadar hemoglobin, aktivitas fagositosis, serta respiratory burst. Pengamatan lainnya meliputi aktivitas enzim pencernaan (amilase, protease, dan lipase), histologi usus, keragaman mikrobiota saluran pencernaan, uji mikrobiologi, histopatologi hati, serta evaluasi gejala klinis dan tingkat infeksi.&#13;
Hasil penelitian memperlihatkan bahwa perlakuan P3 memberikan laju pertumbuhan spesifik tertinggi sekaligus rasio konversi pakan terendah. Perlakuan tersebut juga menunjukkan peningkatan nyata pada aktivitas enzim pencernaan, perbaikan struktur vili usus, serta penguatan parameter imun. Aplikasi sinbiotik berkontribusi terhadap perubahan komposisi dan peningkatan keanekaragaman mikrobiota di saluran pencernaan ikan patin. Seiring dengan bertambahnya dosis inulin, viabilitas dan kolonisasi probiotik Bacillus cereus BR2 di usus meningkat secara signifikan. Lebih lanjut, perlakuan P3 menghasilkan jumlah E. tarda terendah pada organ hati dan tingkat kelangsungan hidup yang lebih tinggi dibandingkan kontrol positif (K+).&#13;
Berdasarkan hasil pengamatan histopatologi, ikan patin yang diuji tantang dengan E. tarda memperlihatkan perubahan struktur jaringan hati yang tidak normal pada perlakuan K+, P1, P2, dan P3. Kelainan yang teridentifikasi meliputi piknosis dan kariolisis, hemoragi, degenerasi lemak, degenerasi hidropis, serta fibrosis hati. Derajat kerusakan jaringan hati pada kelompok yang memperoleh suplementasi sinbiotik tampak lebih ringan dibandingkan kontrol positif (K+), dengan perbedaan yang signifikan (p&lt;0,05). Penilaian berdasarkan sistem skoring menunjukkan variasi tingkat kerusakan. Tingkat kerusakan organ hati pada perlakuan sinbiotik lebih rendah dan berbeda nyata (p&lt;0,05) dibandingkan K+.&#13;
Selain itu, kelompok yang memperoleh perlakuan sinbiotik menunjukkan indeks keragaman dan jumlah operational taxonomic units (OTU) lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol. Analisis hierarchical clustering memperlihatkan adanya pola pengelompokan yang tegas antarperlakuan berdasarkan kemiripan komposisi mikrobiota, khususnya pada P2 dan P3. Hasil Principal Coordinate Analysis (PCoA) juga menunjukkan bahwa sampel P3 berada sangat dekat dengan P2. Analisis pada tingkat kelas mengungkapkan bahwa perlakuan sinbiotik menghasilkan proporsi Bacilli tertinggi dibandingkan perlakuan kontrol.&#13;
Secara umum, pemberian sinbiotik terbukti mampu memperbaiki performa pertumbuhan, meningkatkan aktivitas enzim pencernaan, memperbaiki struktur vili usus, memperkaya keragaman mikrobiota saluran cerna, memperkuat respons imun, serta meningkatkan populasi probiotik Bacillus cereus BR2 pada organ usus. Selain itu, perlakuan ini juga meningkatkan ketahanan ikan patin terhadap infeksi edwardsiellosis, dengan dosis terbaik yaitu dosis 0,3% prebiotik inulin.; Striped catfish (Pangasius sp.) culture in Indonesia continues to face significant constraints due to edwardsiellosis caused by Edwardsiella tarda. Repeated use of antibiotics for disease control has raised several concerns, including the spreading of antibiotic resistant bacteria, accumulation of antibiotic residues in aquaculture products, and potential environmental contamination. These challenges highlight the need for safer and more sustainable disease management strategies, among which synbiotic supplementation represents a promising alternative. Therefore, this study aimed to evaluate the application of synbiotics containing different inclusion levels of inulin as a prebiotic in enhancing the immune response of striped catfish for the prevention of edwardsiellosis.&#13;
The synbiotic formulation consisted of the probiotic Bacillus cereus BR2 combined with commercial inulin as the prebiotic component. Striped catfish juveniles with an average initial weight of 6.22±0.34 g were stocked at a density of 25 fish per aquarium. The experiment was arranged in a completely randomized design (CRD) with five treatments and four replicates: P1 (1% BR2 + 0.1% inulin), P2 (1% BR2 + 0.2% inulin), P3 (1% BR2 + 0.3% inulin), positive control (K+), and negative control (K-). Experimental diets were administered for 30 days. On day 31, fish were challenged via intraperitoneal injection with Edwardsiella tarda at a concentration of 107 CFU mL?¹, and post-challenge observations were conducted for 14 days.&#13;
Biomass production of the probiotic Bacillus cereus BR2 OTCR was initiated by inoculating a single loopful of bacterial culture into Tryptic Soy Broth (TSB). The culture was homogenized using a vortex mixer and incubated on a shaker at 1400 rpm for 24 h. Bacterial growth was indicated by turbidity in the medium. Following incubation, bacterial density was quantified using the Total Plate Count (TPC) method. An aliquot of 1 mL of B. cereus BR2 OTCR culture was transferred into an Eppendorf microtube and centrifuged at 10.000 rpm for 10 min to separate the pellet from the supernatant. The resulting pellet was washed twice with phosphate buffered saline (PBS), resuspended in PBS to a final volume of 1.000 µL, and subjected to serial dilution. Each dilution was spread onto Tryptic Soy Agar (TSA) plates using the spread plate technique and incubated for 24 h to determine colony-forming units. The final bacterial density obtained was 108 CFU mL?¹. The prepared bacterial suspension was subsequently incorporated into the experimental diet formulation.&#13;
A commercial diet containing 31-33% crude protein (code 781-1) was used as the basal feed in this study. The probiotic Bacillus cereus BR2 OTCR and the prebiotic inulin were incorporated into the feed according to the respective treatment dosages, with 2% egg white added as a binder. Feed coating was performed by first preparing a mixture of B. cereus BR2 OTCR and inulin at predetermined concentrations. The mixture was then transferred into a spray bottle and uniformly applied onto the feed pellets while continuously mixing to ensure homogeneity. The coated feed was air-dried for approximately 15 minutes. The coating process was conducted every two days. After feeding, any remaining treated feed was stored at 4°C until the next feeding schedule.&#13;
The evaluated parameters included growth performance indicators, namely specific growth rate (SGR), feed conversion ratio (FCR), and survival rate (SR). Hematological and immune responses were also assessed, including total erythrocyte and leukocyte counts, hematocrit value, hemoglobin concentration, phagocytic activity, and respiratory burst activity. Additional observations comprised digestive enzyme activities (amylase, protease, and lipase), intestinal histology, gut microbiota diversity, microbiological analysis, liver histopathology, as well as the assessment of clinical signs and infection intensity.&#13;
The findings demonstrated that treatment P3 yielded the highest specific growth rate (SGR) and the lowest feed conversion ratio (FCR). This treatment also resulted in significant enhancements in digestive enzyme activities, improved intestinal villi morphology, and strengthened immune-related parameters. Synbiotic supplementation contributed to shifts in microbial composition and increased gut microbiota diversity in striped catfish. Increasing dietary inulin levels significantly enhanced the viability and intestinal colonization of B. cereus BR2, along with the total bacterial population. Furthermore, fish in the P3 group exhibited the lowest E. tarda load in the liver and achieved a higher survival rate compared to the positive control (K+).&#13;
Histopathological observations revealed that striped catfish challenged with E. tarda exhibited abnormal hepatic tissue structures in the K+, P1, P2, and P3 groups. The identified lesions included pyknosis and karyolysis, hemorrhage, fatty degeneration, hydropic degeneration, and hepatic fibrosis. However, the severity of liver tissue damage in synbiotic-supplemented groups was markedly lower than in the positive control (K+), with significant differences observed (p&lt;0.05). Scoring-based evaluation further confirmed variations in the degree of tissue damage among treatments. Fish receiving synbiotic supplementation demonstrated significantly reduced hepatic lesion scores compared to K+ (p&lt;0.05).&#13;
Furthermore, the synbiotic-treated groups exhibited a higher number of diversity index and Operational Taxonomic Units (OTUs) compared to the control group. Hierarchical clustering analysis revealed a clear separation pattern among treatments based on similarities in gut microbiota composition, particularly between P2 and P3. Principal Coordinate Analysis (PCoA) further demonstrated that samples from P3 clustered closely with those of P2, indicating comparable microbial community structures. At the class level, microbiota profiling indicated that synbiotic supplementation resulted in a higher relative abundance of Bacilli compared to the control treatments.&#13;
Overall, synbiotic supplementation significantly improved growth performance, enhanced digestive enzyme activities, promoted better intestinal morphology, increased gut microbiota diversity, strengthened immune responses, and elevated the intestinal population of Bacillus cereus BR2. Moreover, this dietary intervention enhanced the resistance of striped catfish against edwardsiellosis. Among the evaluated treatments, 0.3% inulin was identified as the most effective prebiotic dosage.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Kompetensi Enumerator Penerimaan Negara Bukan Pajak Pascaproduksi (Studi Kasus: Pelabuhan Perikanan Samudera Nizam Zachman)</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172980" rel="alternate"/>
<author>
<name>Zendrato, Anita Febrina</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172980</id>
<updated>2026-04-23T06:50:31Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Kompetensi Enumerator Penerimaan Negara Bukan Pajak Pascaproduksi (Studi Kasus: Pelabuhan Perikanan Samudera Nizam Zachman)
Zendrato, Anita Febrina
Implementasi kebijakan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) pascaproduksi pada sektor perikanan menuntut ketersediaan data hasil tangkapan yang akurat, transparan, dan konsisten. Data tersebut dicatat oleh enumerator di pelabuhan perikanan dan menjadi dasar dalam penentuan besaran PNBP, pengelolaan sumber daya perikanan, serta perumusan kebijakan. Namun, dalam implementasinya, masih ditemukan permasalahan terkait ketidakakuratan data yang disebabkan oleh keterbatasan kompetensi enumerator, seperti kurangnya pemahaman regulasi, kesalahan prosedur pencatatan, serta keterbatasan keterampilan teknis di lapangan. Selain itu, belum tersedianya acuan standar kompetensi yang jelas menyebabkan tidak adanya pedoman yang seragam dalam pelaksanaan tugas enumerator.&#13;
Penelitian ini bertujuan untuk menyusun acuan standar kompetensi enumerator PNBP pascaproduksi, mengidentifikasi kompetensi enumerator di Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Nizam Zachman berdasarkan acuan yang disusun, serta merumuskan strategi peningkatan kompetensi enumerator. Penelitian dilaksanakan pada bulan Agustus sampai dengan November 2025 di PPS Nizam Zachman Jakarta dengan menggunakan pendekatan Design Science Research (DSR) dan Content Validity Index (CVI), analisis kesenjangan (gap analysis), serta analisis Strengths, Weaknesses, Opportunities, dan Threats (SWOT) dan Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM).&#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa acuan standar kompetensi enumerator berhasil disusun dalam tiga dimensi utama, yaitu pengetahuan, keterampilan, dan sikap, dengan total 22 indikator kompetensi yang tervalidasi dengan tingkat validitas sangat tinggi (S-CVI = 0,95). Kompetensi enumerator menunjukkan ketidakseimbangan antar dimensi, yang mana dimensi sikap memiliki tingkat kompetensi relatif tinggi (gap = 0,11) sementara dimensi pengetahuan (gap = 0,31) dan keterampilan (gap = 0,30) masih menunjukkan kesenjangan yang signifikan. Kesenjangan terbesar ditemukan pada indikator pemahaman regulasi serta kemampuan teknis penggunaan alat dan pencatatan data, yang berpotensi menyebabkan ketidakakuratan data hasil tangkapan.&#13;
Temuan penelitian juga menunjukkan bahwa kompetensi enumerator tidak terbentuk secara optimal hanya melalui pengalaman kerja, melainkan memerlukan proses pembelajaran yang terstruktur dan berkelanjutan (competency by learning). Oleh karena itu, strategi peningkatan kompetensi difokuskan pada penguatan pelatihan berbasis regulasi, peningkatan kapasitas teknis, serta pengembangan sistem pembinaan kompetensi yang terarah. Implikasi penelitian ini adalah penguatan sistem pengembangan kompetensi enumerator untuk meningkatkan kualitas data hasil tangkapan yang dapat mendukung akurasi perhitungan PNBP pascaproduksi dan pengelolaan perikanan yang berkelanjutan.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Strategi Pengelolaan Perikanan Tembang Putih (Escualosa thoracata) di Perairan Pesisir Kabupaten Cirebon.</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172928" rel="alternate"/>
<author>
<name>Supriyadi</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172928</id>
<updated>2026-04-13T08:37:48Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Strategi Pengelolaan Perikanan Tembang Putih (Escualosa thoracata) di Perairan Pesisir Kabupaten Cirebon.
Supriyadi
Ikan tembang putih (Escualosa thoracata) merupakan salah satu jenis ikan pelagis kecil yang berperan penting dalam mendukung perikanan pesisir di perairan utara Pulau Jawa. Namun, informasinya masih sangat sedikit. Mengingat nilai ekologis dan ekonominya yang tinggi, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis stok perikanan tembang putih (E.  thoracata) menggunakan Spawning Potential Ratio (SPR), menganalisis sosial dan kelembagaan perikanan tembang putih, dan merumuskan strategi pengelolaan perikanan ikan tembang putih (E. thoracata) di Kabupaten Cirebon. Strategi tersebut disusun dengan mengintegrasikan tiga indikator spesifik, yaitu kondisi terkini perikanan yang mencakup parameter biologis, karakteristik daerah penangkapan, dan aspek sosial dan kelembagaan perikanan. &#13;
Pengumpulan data dilakukan pada periode Desember 2024 hingga Agustus 2025 di beberapa lokasi, mulai dari Estuari Bungko Lor hingga Estuari Cisanggarung. Data diperoleh dari lokasi penangkapan ikan, desa-desa nelayan di sekitarnya, serta lembaga pengelola terkait, yang melibatkan masyarakat nelayan dan para pemangku kepentingan. Penelitian ini menggunakan metode analisis yang berbeda untuk setiap indikator. Status biologis dianalisis menggunakan pendekatan Spawning Potential Ratio (SPR). Aspek sosial dan kelembagaan dinilai menggunakan analisis skala Likert, dan analisis strategi dilakukan secara deskriptif. &#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai SPR sebesar 19%, berada di bawah ambang batas minimum yang direkomendasikan sebesar 20% untuk menjaga keberlanjutan rekrutmen.  Kondisi ini mengindikasikan bahwa stok ikan tembang putih di perairan Cirebon berada dalam tekanan dan berpotensi mengalami penurunan kapasitas reproduksi. Hasil analisis spasial dan temporal menunjukkan bahwa aktivitas penangkapan yang lebih berkelanjutan dibanding yang lain ditemukan di sekitar estuari Bungko Lor dan Cisanggarung pada bulan Mei dan Agustus, khususnya pada kedalaman 6–7 meter. Dari aspek sosial, nelayan ikan tembang putih memperoleh skor 62,4 (kategori tinggi), sedangkan kinerja kelembagaan pengelolaan perikanan memperoleh skor 57,9 (kategori sedang), menunjukkan masih adanya celah dalam tata kelola. &#13;
Rekomendasi strategi pengelolaan, antara lain dengan penerapan zonasi pemanfaatan dan konservasi di kawasan estuari untuk melindungi habitat penting, penguatan kegiatan penyuluhan dan pelatihan bagi nelayan guna mendorong praktik penangkapan yang berkelanjutan, serta peningkatan sistem pencatatan dan pengelolaan data perikanan skala kecil guna mendukung proses pemantauan dan pengambilan keputusan. Implementasi strategi ini diharapkan mampu menyeimbangkan aspek keberlanjutan ekologi, kelayakan ekonomi, dan dimensi  sosial, sehingga mendukung terciptanya pengelolaan perikanan tembang putih yang berkelanjutan di Kabupaten Cirebon.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Dampak Musim Hujan terhadap Fitoplankton, Respons Imun, dan Kinerja Produksi Udang Vaname (Litopenaeus vannamei) pada Tambak Intensif.</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172891" rel="alternate"/>
<author>
<name>Prakarsa, Rizki Gencar</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172891</id>
<updated>2026-04-02T06:12:36Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Dampak Musim Hujan terhadap Fitoplankton, Respons Imun, dan Kinerja Produksi Udang Vaname (Litopenaeus vannamei) pada Tambak Intensif.
Prakarsa, Rizki Gencar
Tantangan dalam budidaya udang vaname salah satunya adalah musim&#13;
hujan. Musim hujan memberikan dampak negatif terhadap kualitas air di tambak,&#13;
di mana fluktuasi parameter lingkungan menyebabkan ketidakstabilan komunitas&#13;
fitoplankton. Ketidakstabilan tersebut dapat menurunkan respons imun udang dan&#13;
kinerja produksinya. Fitoplankton memiliki peran penting dalam menjaga&#13;
keseimbangan ekosistem tambak. Perubahan dominansi fitoplankton yang terjadi&#13;
secara ekstrem dan terus-menerus setiap minggunya dapat meningkatkan risiko&#13;
penyakit, karena keseimbangan antara lingkungan, patogen, dan inang menjadi&#13;
tidak stabil. Akibatnya, performa produksi udang pun cenderung menurun.&#13;
Penelitian ini bertujuan menganalisis dampak musim hujan terhadap&#13;
fitoplankton, respons imun, dan kinerja produksi udang vaname (Litopenaeus&#13;
vannamei) pada tambak intensif. Penelitian dilaksanakan di tambak udang&#13;
Malingping selama satu siklus produksi yang dilakukan secara non eksperimental&#13;
dengan pendekatan observasi lapangan. Lokasi pengamatan terdiri atas enam&#13;
petak tambak. Pengambilan sampel air dilakukan sebanyak empat titik dan&#13;
digabung secara komposit pada setiap petak tambak. Sampel fitoplankton diambil&#13;
menggunakan plankton net berukuran 15 µm dengan metode pasif sebanyak 30&#13;
liter. Sampel disimpan pada botol HDPE, dan diawetkan dengan menggunakan&#13;
H2SO4 ataupun lugol. Pengambilan darah udang dilakukan sebanyak 20 ekor per&#13;
petak tambak menggunakan syringe 1 mL yang diencerkan dengan antikoagulan&#13;
1:2, lalu dimasukkan ke dalam microtube. Semua sampel tersebut dimasukkan ke&#13;
dalam coolbag.&#13;
Data yang diperoleh di antaranya yaitu curah hujan, kemudian kualitas air&#13;
(fisika, kimia, dan biologi), lalu metrik stabilitas fitoplankton (turnover, mean&#13;
rank abundance (MRA), synchrony, dan stability), kemudian struktur komunitas&#13;
fitoplankton (kelimpahan, keragaman, keseragaman, dan dominansi), lalu respons&#13;
imun udang (total haemocyte count (THC), aktivitas fagositik (AF), respiratory&#13;
burst (RB), dan phenoloxidase (PO)), kemudian kinerja produksi (average daily&#13;
growth (ADG), average body weight (ABW), kematian udang, survival rate (SR),&#13;
dan feed conversion ratio (FCR)). Analisis yang digunakan yaitu regresi panel&#13;
dengan menggunakan common effect model (CEM), lalu dilakukan eksplorasi&#13;
menggunakan principal component analysis (PCA) dan analisis klaster k-means.&#13;
Hasil regresi yang tidak memenuhi uji asumsi, dilakukan transformasi logaritmik,&#13;
akar kuadrat (SQRT), ataupun box-cox, lalu jika tetap tidak memenuhi uji asumsi&#13;
maka dilakukan robust standard errors.&#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa musim hujan dengan status curah&#13;
hujan yang tinggi (300-500 mm bulan-1), memiliki dampak yang besar terhadap&#13;
kestabilan kualitas air, fitoplankton, respons imun, dan kinerja produksi, hal&#13;
tersebut terjadi selama penelitian dari day of culture (DOC) 0 sampai 70.&#13;
Parameter seperti suhu, salinitas, kecerahan, total ammonia nitrogen (TAN), nitrit,&#13;
total organic matter (TOM) berada di luar batas optimal budidaya udang. Selama&#13;
sembilan kali pengambilan sampel, kelimpahan fitoplankton didominasi oleh&#13;
kelas yang berbeda-beda, di mana Cyanophyceae menjadi kelas yang sering&#13;
mendominasi tiap sampling, walaupun keberadaannya juga sempat tergantikan&#13;
oleh jenis yang lain. Nilai Turnover dan MRA fitoplankton memiliki nilai yang&#13;
tinggi, hal tersebut menunjukkan rendahnya stabilitas fitoplankton. Synchrony&#13;
memiliki nilai rata-rata sebesar 0,37, yang artinya beberapa spesies merespons&#13;
perubahan lingkungan yang berbeda-beda. Hasil stability sebesar satu juga tidak&#13;
baik pada petak tambak. Hasil pengukuran respons imun, termasuk THC, AF, RB,&#13;
dan PO, menunjukkan tren penurunan seiring mendekati DOC 70. Selain itu, nilai&#13;
ADG yang diperoleh sempat rendah, disertai dengan tingginya angka kematian&#13;
udang di waktu akhir budidaya. Nilai FCR berada di atas 1,4 di semua kolam,&#13;
sedangkan SR kurang dari 46%. Hasil ini diduga karena dampak dari paparan&#13;
toksin yang berasal dari fitoplankton kelas Cyanophyceae (Aphanizomenon sp.,&#13;
Anabaena sp., dan Trichodesmium sp.), walaupun hal tersebut perlu dikaji lebih&#13;
lanjut berdasarkan hasil penelitian ilmiah melalui uji toksisitas toksin BGA&#13;
terhadap respons imun udang dan kinerja produksinya pada skala laboratorium.&#13;
Hasil regresi panel (Y = kelimpahan fitoplankton ; X = kualitas air)&#13;
dengan transformasi logaritmik menunjukkan bahwa alkalinitas total, TVC, TBV,&#13;
dan nitrat berpengaruh signifikan positif (a = 0,05), sedangkan DO berpengaruh&#13;
signifikan negatif terhadap kelimpahan fitoplankton (a = 0,05), dengan R-squared&#13;
sebesar 58% dan p-value sebesar 1,53 x 10-7, selanjutnya regresi panel (Y = THC;&#13;
X = fitoplankton) dengan SQRT dan robust standard errors menunjukkan bahwa&#13;
kelimpahan dan keragaman berpengaruh signifikan negatif (a = 0,05), dengan Rsquared&#13;
sebesar 55% dan p-value sebesar 7 x 10-9, serta regresi panel (Y = ADG ;&#13;
X = respons imun udang) dengan transformasi box-cox dan robust standard errors&#13;
menunjukkan bahwa THC berpengaruh signifikan negatif (a = 0,05), dengan Rsquared&#13;
sebesar 76% dan p-value sebesar &lt; 2,22 x 10-16. Sementara itu, hasil&#13;
regresi panel (Y = Jumlah kematian udang; X = respons imun udang)&#13;
menggunakan transformasi box-cox dan robust standard errors menunjukkan&#13;
bahwa THC dan RB berpengaruh signifikan negatif (a = 0,05), dengan R-squared&#13;
sebesar 82% dan p-value sebesar &lt; 2,22 x 10-16. Semua model dalam analisis&#13;
regresi panel menggunakan CEM, karena hasil uji Chow dan Lagrange Multiplier&#13;
tidak signifikan. Hasil PCA menunjukkan bahwa variabel yang menjadi&#13;
komponen utama selama musim hujan di antaranya yaitu suhu, pH siang, salinitas,&#13;
TAN, kecerahan, keragaman, dominansi, MRA, THC, AF, size, dan ABW, hal&#13;
tersebut berdasarkan nilai eigenvector yang dominan pada masing-masing&#13;
variabel terhadap sumbu utama yang terbentuk. Hasil biplot PCA menunjukkan&#13;
bahwa kematian udang yang tinggi dimulai saat DOC 42, hal tersebut juga&#13;
didukung dengan hasil analisis klaster k-means yang terbagi atas dua klaster&#13;
berdasarkan uji dengan metode silhouette, di mana klaster satu terdiri dari DOC&#13;
10 hingga 33, sedangkan klaster dua terdiri atas DOC 42 hingga 70. Penelitian ini&#13;
menunjukkan bahwa musim hujan memiliki dampak yang negatif terhadap&#13;
kondisi fitoplankton, respons imun, dan kinerja produksi udang vaname pada&#13;
tambak intensif.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
</feed>
