<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<title>e-Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/53347" rel="alternate"/>
<subtitle>Elektronik Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis merupakan jurnal ilmiah di bidang ilmu dan teknologi kalutan tropis yang diterbitkan secara elektronik dan berkala sebanyak 2 kali dalam setahun oleh Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.</subtitle>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/53347</id>
<updated>2026-04-26T01:57:15Z</updated>
<dc:date>2026-04-26T01:57:15Z</dc:date>
<entry>
<title>Studi Perubahan Garis Pantai Di Delta Sungai Jeneberang, Makassar</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/57142" rel="alternate"/>
<author>
<name>Sakka</name>
</author>
<author>
<name>Purba, Mulia</name>
</author>
<author>
<name>Nurjaya, I Wayan</name>
</author>
<author>
<name>Pawitan, Hidayat</name>
</author>
<author>
<name>Siregar, Vincentius Paulus</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/57142</id>
<updated>2012-09-12T08:06:29Z</updated>
<published>2011-12-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Studi Perubahan Garis Pantai Di Delta Sungai Jeneberang, Makassar; Study Of Shoreline Changes At Jeneberang River Delta, Makassar
Sakka; Purba, Mulia; Nurjaya, I Wayan; Pawitan, Hidayat; Siregar, Vincentius Paulus
Penelitian perubahan garis pantai selama tahun 1990-2008 dilakukan di delta Sungai Jeneberang, Makassar dengan memperhitungkan angkutan sedimen yang masuk dan keluar sel. Perhitungan angkutan sedimen sejajar pantai dilakukan dengan mempertimbangkan pengaruh tinggi dan sudut gelombang pecah. Hasil perhitungan angkutan sedimen menunjukkan bahwa angkutan sedimen dominan ke utara pada saat gelombang datang dari arah barat daya dan barat serta dominan ke selatan saat gelombang dari barat laut. Namun demikian secara keseluruhan angkutan sedimen dominan ke utara. Hasil perbandingan profil garis pantai hasil model dengan citra satelit menunjukkan adanya kemiripan. Perbedaan terutama terjadi pada pantai berbentuk tonjolan karena pada lokasi demikian dinamikanya lebih kompleks. Simulasi model selama 19 tahun (1990-2008) menunjukkan tendensi adanya proses abrasi pada pantai melengkung mengalami sedimentasi akibat energi gelombang menyebar. Proses abrasi terutama terjadi pada pantai Tanjung Bunga yang berbentuk tonjolan (181.1 m), sedangkan proses sedimentasi terutama terjadi pada pantai Tanjung Merdeka bagian selatan sejauh 59.8 m. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pantai Barombong bagian selatan lebih stabil dibandingkan dengan lokasi lain karena profil garis pantainya cenderung lebih lurus.
</summary>
<dc:date>2011-12-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Pengaruh Musim Dan Kedalaman Terhadap Pertumbuhan Dan Kelangsungan Hidup Kerang Mutiara (Pinctada maxima) Di Teluk Kodek, Lombok Utara</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/57138" rel="alternate"/>
<author>
<name>Hamzah, M.S.</name>
</author>
<author>
<name>Nababan, Bisman</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/57138</id>
<updated>2012-09-12T02:12:08Z</updated>
<published>2011-12-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Pengaruh Musim Dan Kedalaman Terhadap Pertumbuhan Dan Kelangsungan Hidup Kerang Mutiara (Pinctada maxima) Di Teluk Kodek, Lombok Utara; The Effect Of Seasons And Depths On Growth And Survival Rate Of Pearl Oyster (Pinctada maxima) In Kodek Bay, North Lombok
Hamzah, M.S.; Nababan, Bisman
Usaha budidaya kerang mutiara (Pinctada maxima) di perairan Nusa Tenggara Barat khususnya dan di daerah lain umumnya, dikeluhkan dengan kematian massal anakan kerang mutiara pada ukuran lebar cangkang antara 3-4 cm. Kematian massal ini, diduga sebagai akibat dari kondisi lingkungan yang berubah secara ekstrim yang dipicu oleh pergeseran musim. Penelitian ini untuk mengetahui pengaruh variasi musiman kondisi perairan pada level kedalaman berbeda terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup anakan kerang mutiara dilakukan pada 23 Maret 2008 s/d 22 Februari 2009. Penelitian ini sangat bermanfaat bagi pengembang budidaya kerang mutiara dala upaya menekan tingkat kematian massal berdasarkan level kedaleman yang sesuai. Analisa varians menunjukkan bahwa faktor musim dan level kedaleman serta interaksi antara kedua faktor tersebut memberikan respons yang berpengaruh sangat nyata terhadap kelangsungan hidup anakan kerang mutiara. Uji "beda nyata jujur" memperlihatkan bahwa interaksi antar musim dan level kedaleman 2 m memberikan hasil yang terbaik untuk kelangsungan hidup (100%). Hasil yang sama diperolehan pada kedalaman 8 m pada musim peralihan I dan musim timur. Sementara pengaruh faktor tunggal (kedalaman), hasil terbaik untuk pertumbuhan dan kelangsungan hidup ditemukan pada kedalaman 2 m saat musim peralihan I.
</summary>
<dc:date>2011-12-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Variasi Muka Laut Dan Arus Geostrofik Permukaan Perairan Selat Sunda Berdasarkan Data Pasut Dan Angin Tahun 2008</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/57136" rel="alternate"/>
<author>
<name>Oktavia, Resni</name>
</author>
<author>
<name>Pariwono, John Iskandar</name>
</author>
<author>
<name>Manurung, Parluhutan</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/57136</id>
<updated>2012-09-12T01:48:08Z</updated>
<published>2011-12-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Variasi Muka Laut Dan Arus Geostrofik Permukaan Perairan Selat Sunda Berdasarkan Data Pasut Dan Angin Tahun 2008; Sea Level Variation And Geostrophic Current Of The Sunda Strait Based On Tidal And Wind Data In Year 2008
Oktavia, Resni; Pariwono, John Iskandar; Manurung, Parluhutan
Variasi muka laut dari empat data tide gauge di perairan Selat Sunda tahun 2008 telah dipelajari menggunakan metode Wavelet 1D tipe Daubechius 1 level 5 dan Fast Fourier Transform. Variasi muka laut rata-rata jaman pada Musim Peralihan I (April) dan Musim Peralihan II (November) rata-rata mencapai +0,49 m, sedangkan pada Musim Barat (Januari) dan Musim Timur (Juli) rata-rata mencapai -0,48 m. Variasi muka laut di perairan Selat Sunda sepanjang tahun 2008, umumnya dipengaruhi oleh angin Muson. Perubahan muka laut Perairan Selat Sunda dari hasil analisis Wavelet memperlihatkan adanya fenomena (1) musiman (4-6 bulan) yang diduga dipengaruhi oleh Laut Jawa, (2) intra musiman (1-3 bulan) yang lebih dipengaruhi oleh Samudera Hindia dan (3) pasut dua mingguan (14-17 hari) yang merambat dari Samudera Hindia ke Selat Sunda. Dari pendekatan geostrofik hasil perhitungan menunjukkan bahwa selama Musim Timur (Juni-Agustus) arus rata-rata bulanan mengalir ke arah barat daya menuju Samudera Hindia dengan kecepatan antara 0,14-0,16 m/s, dan mengalir ke arah timur laut menuju Laut Jawa selama Musim Barat (Desember-Februari) dengan kecepatan antara 0,14-0,17 m/s. Selain itu, pada skala harian arus pasut di Selat Sunda Mengalir menuju Laut Jawa (Samudera Hindia) pada saat muka laut pasang (muka laut surut) dengan kecepatan antara 0,51-0,72 m/s (0,48-0,51m/s).
</summary>
<dc:date>2011-12-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Morfologi Dan Biomassa Sel Spons Aaptos aaptos Dan Petrosia sp.</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/57135" rel="alternate"/>
<author>
<name>Ismet, Meutia Samira</name>
</author>
<author>
<name>Soedharma, Dedi</name>
</author>
<author>
<name>Effendi, Hefni</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/57135</id>
<updated>2012-09-11T07:56:24Z</updated>
<published>2011-12-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Morfologi Dan Biomassa Sel Spons Aaptos aaptos Dan Petrosia sp.; Morphology And Cell Biomass Of Sponge Aaptos aaptos And Petrosia sp.
Ismet, Meutia Samira; Soedharma, Dedi; Effendi, Hefni
Spons Aaptos dan Petrosia sp. diketahui memiliki kemampuan menghasilkan senyawa bioaktif yang poensial. Sebagai hewan metazoan dengan struktur tubuh yang sederhana, morfologi dan asosiasi yang bentuk oleh spons dengan bakteri simbion dapat mempengaruhi tipe dan aktivitas senyawa bioaktifnya, seperti halnya adaptasi spons terhadap habitatnya. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari morfologi dan biomassa sel Aaptos aaptos dan Petrosia sp. Sampel spons yang siambil dari pulau Pari kemudian diawetkan dalam formalin 3,5-4% dan diamati dengan menggunakan preparat histologis dan metode sentrifugasi untuk memisahkan fraksi sel-sel dri jaringan spons. Spons A. Aaptos memiliki struktur tubuh yang lunak dengan komposisi 55,9% spikula dan sel debris, 14,2% sel  spons dan 29,9% pellet bakteri simbion. Sementara itu, Petrosia sp. Memiliki morfologi yang lebih kaku dengan simbion spikula dan sel debris (68,6%), dan sel spons dan bakteri simbion ditemukan lebih rendah (berturut-turut 19,7% dan 11,7%).
</summary>
<dc:date>2011-12-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
</feed>
