<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<title>Silviculture</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/51" rel="alternate"/>
<subtitle/>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/51</id>
<updated>2026-05-01T12:22:50Z</updated>
<dc:date>2026-05-01T12:22:50Z</dc:date>
<entry>
<title>Teknik Perbanyakan Tanaman Gaharu Dengan Metode Stek</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/158883" rel="alternate"/>
<author>
<name>Sukendro, Andi</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/158883</id>
<updated>2024-09-27T02:54:07Z</updated>
<published>2024-06-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Teknik Perbanyakan Tanaman Gaharu Dengan Metode Stek
Sukendro, Andi
Jenis Aquilaria crassna ini lebih dikenal dengan nama gaharu.&#13;
Gaharu juga memiliki beberapa nama daerah seperti Tengkaras&#13;
(Kalimantan), Halim (Lampung), Alim (Batak) dan Eaglewood (Malaysia).&#13;
Untuk nama gaharu sendiri diambil dari Aguru sebuah kata dari bahasa&#13;
sansekerta yang bermakna kayu berat yang tenggelam dan memiliki&#13;
damar beraroma harum (Sidiyasa 1986). Menurut Depatemen Kehutanan&#13;
(2003) gaharu didefinisikan sebagai sejenis kayu dengan berbagai bentuk&#13;
dan warna yang khas, serta memiliki kandungan kadar damar wangi yang&#13;
berasal dari pohon atau bagian pohon penghasil gaharu yang tumbuh&#13;
secara alami dan telah mati sebagai akibat dari suatu proses infeksi yang&#13;
terjadi baik secara alami atau buatan pada suatu jenis pohon, yang pada&#13;
umumnya terjadi pada pohon Aquilaria sp. Di Indonesia terdapat 16 jenis&#13;
pohon penghasil gaharu, berasal dari 3 famili yakni Thymeleaceae,&#13;
Leguminoceae dan Euphorbiaceae, yang terbagi dalam 8 genus yakni&#13;
Aquilaria, Gonistylus, Aetoxylon, Enkleia, Wiekstromia, Girynops,&#13;
Excocaria, dan Dalbergia. Untuk genus yang memiliki kualitas gaharu&#13;
yang baik adalah Aquilaria. Genus Aquilaria ini adalah genus yang&#13;
persebaran alaminya di kawasan Asia Tenggara. Sedangkan&#13;
pertumbuhannya pohon ini rata-rata memiliki tinggi 6-20 meter dengan ciri&#13;
khasnya adalah tata daun alternate dan ukuran daun yang pendek&#13;
(panjang 5-11 cm) dan ujung daun yang meruncing (Anonim 2007).&#13;
Menurut IUCN (International Union for Conservation of Nature and Natural&#13;
Resources) secara taxonomi Aquilaria crassna adalah sebagai berikut :
</summary>
<dc:date>2024-06-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Pembiakan Vegetatif Tanaman Gaharu (Aquilaria Crassna Pierre Ex. Lecomte ) Dengan Stek Pucuk</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/153004" rel="alternate"/>
<author>
<name>Sukendro, Andi</name>
</author>
<author>
<name>Subiakto, Atok</name>
</author>
<author>
<name>Firmansyah, Yulian Vendhy</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/153004</id>
<updated>2024-06-29T03:25:54Z</updated>
<published>2024-06-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Pembiakan Vegetatif Tanaman Gaharu (Aquilaria Crassna Pierre Ex. Lecomte ) Dengan Stek Pucuk
Sukendro, Andi; Subiakto, Atok; Firmansyah, Yulian Vendhy
The increasing of forest degradation in Indonesia made supply of wood as&#13;
the industry materials decrease. This fact gave bad impact for Indonesia income&#13;
from forestry sector. Based on that, nowdays people starts improve Non Timber&#13;
Forest Products (NTFP) as alternative materials to fulfill industrial needs. One of&#13;
that NTFP is sandalwood (or gaharu in Indonesia). Sandalwood is a kind of&#13;
forestry plants producing essential oil that high in economical value. It usually&#13;
produced and taken naturally from the forest, and it could make the population&#13;
endangered because of the over exploitation activity. So, to prevent that condition&#13;
intensive conducting of sandalwood regeneration is needed. Flower and fruit&#13;
production phase of sandalwood is happened only once a year. It caused&#13;
sandalwood could not yield seed every moment that is needed. Based on that&#13;
condition, vegetative propagation process became an effective way to&#13;
regenerating sandalwood to fullfill the needs of sandalwood seeds. A type of&#13;
vegetative propagation methods is cutting system. This is a methods that could&#13;
produce seedlings with same genetic characteristics with the parent, and in big of&#13;
amount. We could get big number of qualified sandalwood seeds by this methods. ...
</summary>
<dc:date>2024-06-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Rencana Pembuatan Sekat Bakar Di Batas Hutan Pendidikan Gunung Walat (HPGW), Sukabumi</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/153003" rel="alternate"/>
<author>
<name>Sukendro, Andi</name>
</author>
<author>
<name>Rusniarsyah, Lufthi</name>
</author>
<author>
<name>Zulfadli, Muhammad</name>
</author>
<author>
<name>Harahap, Arifin</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/153003</id>
<updated>2024-06-29T03:28:58Z</updated>
<published>2024-06-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Rencana Pembuatan Sekat Bakar Di Batas Hutan Pendidikan Gunung Walat (HPGW), Sukabumi
Sukendro, Andi; Rusniarsyah, Lufthi; Zulfadli, Muhammad; Harahap, Arifin
Sering terjadinya kebakaran hutan, pengambilan kayu bakar, pengambilan&#13;
pakan ternak, dan pemindahan tanda (pal) batas hutan merupakan masalah&#13;
pengelolaan Hutan Pendidikan Gunung Walat (HPGW). Rencana pembuatan sekat&#13;
bakar di HPGW dimaksudkan untuk mengatasi masalah pengelolaan tersebut. Sekat&#13;
bakar yang digunakan adalah sekat bakar hijau dan sekat bakar bersih. Metode yang&#13;
digunakan adalah pengukuran langsung di lapangan dan didukung oleh penggunaan&#13;
Sistem Informasi Geografis (SIG). Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa&#13;
luas areal sekat bakar di HPGW 29887.74 m2 yang terdiri dari sekat bakar hijau seluas&#13;
21725.05 m2 dan sekat bakar bersih seluas 8162.69 m2&#13;
. Jenis tanaman yang akan&#13;
dipilih untuk sekat bakar hijau adalah kaliandra merah (Calliandra calothyrsus)&#13;
berdasarkan kegunaannya sebagai penahan api, kayu energi, dan pakan ternak, serta&#13;
pada beberapa areal di batas HPGW sudah ada tanaman kaliandra merah. Kebutuhan&#13;
bibit kaliandra merah dengan pola tanam segitiga sama kaki 1 × 1 m adalah 54315&#13;
batang.
</summary>
<dc:date>2024-06-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Studi Pembiakan Vegetatif Pada  Agathis Loranthifolia Salisb. Melalui Grafting</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/153002" rel="alternate"/>
<author>
<name>Sukendro, Andi</name>
</author>
<author>
<name>Harimurti, Danang</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/153002</id>
<updated>2024-06-29T03:18:37Z</updated>
<published>2024-06-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Studi Pembiakan Vegetatif Pada  Agathis Loranthifolia Salisb. Melalui Grafting
Sukendro, Andi; Harimurti, Danang
Tanaman Agathis loranthifolia Salisb. (Damar) merupakan salah satu jenis&#13;
yang terdapat dalam hutan di Indonesia. Damar memiliki banyak kegunaan, baik&#13;
dari kayu maupun non kayu seperti bahan baku vinir, kayu lapis, pulp, kopal dan&#13;
sebagainya. Umumnya, cara yang digunakan untuk mendapatkan tanaman Damar&#13;
adalah dengan penggunaan benih (secara generatif). Namun kualitas dan kuantitas&#13;
tanaman yang dihasilkan tidak sesuai dengan keinginan. Oleh karena itu,&#13;
pembiakan vegetatif dengan cara grafting (sambungan) merupakan suatu alternatif&#13;
pemecahan masalah dalam perbanyakan tanaman Damar. Teknik ini memiliki&#13;
beberapa keuntungan diantaranya buah dan biji yang dihasilkan lebih cepat,&#13;
anakan yang dihasilkan mempunyai sifat dan penampakan yang lebih baik&#13;
dibanding induknya, serta dapat digunakan untuk membangun kebun pangkas.&#13;
Penelitian dilaksanakan di Persemaian Departemen Silvikultur, Fakultas&#13;
Kehutanan, Institut Pertanian Bogor pada bulan Juni sampai dengan September&#13;
2007. Bahan yang digunakan adalah anakan Damar, pucuk dari trubusan tanaman&#13;
Damar dan alkohol 70%. Peralatan yang digunakan yaitu cutter, kertas koran,&#13;
kantong plastik bening, polybag, plester paralon, sprayer, gunting, higrometer,&#13;
termometer, alat tulis, kalkulator, kamera dan alat penyiram. Metoda sambungan&#13;
yang dipakai adalah Top Cleft Grafting, yaitu penyatuan pucuk sebagai calon&#13;
batang atas (scion) dengan batang bawah (rootstock) yang berasal dari anakan,&#13;
sehingga terbentuk tanaman baru yang mampu saling menyesuaikan diri secara&#13;
kompleks. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap faktorial dengan&#13;
dua faktor. Faktor pertama adalah perlakuan batang bawah yaitu batang bawah&#13;
berdiameter antara 0-0,5 cm dan batang bawah berdiameter 0,5-1 cm. Faktor&#13;
kedua adalah perlakuan jenis scion yaitu batang atas yang mengalami fase dorman&#13;
dan aktif.&#13;
Berdasarkan hasil analisis sidik ragam diketahui bahwa perlakuan jenis&#13;
scion berpengaruh nyata terhadap keberhasilan sambungan Damar. Rata-rata&#13;
persen keberhasilan sambungan jenis scion fase dorman lebih baik dibandingkan&#13;
dengan jenis scion fase aktif yaitu masing-masing sebesar 83,33% dan 58,33%.&#13;
Perlakuan batang bawah tidak berpengaruh nyata terhadap keberhasilan&#13;
sambungan. Perlakuan batang bawah berdiameter 0-0,5 cm mempunyai rata-rata&#13;
persen keberhasilan sambungan sebesar 75% dan perlakuan batang bawah dengan&#13;
diameter 0,5-1 cm sebesar 66,67%. Perlakuan batang bawah dan jenis scion tidak&#13;
memberikan pengaruh yang nyata terhadap ketahanan tanaman terhadap penyakit.&#13;
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa rata-rata persen keberhasilan&#13;
sambungan Damar adalah 70,83%.
</summary>
<dc:date>2024-06-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
</feed>
