<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<title>Undergraduate Theses</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/25" rel="alternate"/>
<subtitle>Undergraduate theses of IPB's bachelor student</subtitle>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/25</id>
<updated>2026-04-27T19:44:45Z</updated>
<dc:date>2026-04-27T19:44:45Z</dc:date>
<entry>
<title>Pengaruh Komposisi Bahan Penyalut terhadap Karakteristik Bubuk Campuran Ekstrak Daun Suji dan Pandan</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172993" rel="alternate"/>
<author>
<name>Farisyi, Afif Nur</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172993</id>
<updated>2026-04-27T08:35:20Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Pengaruh Komposisi Bahan Penyalut terhadap Karakteristik Bubuk Campuran Ekstrak Daun Suji dan Pandan
Farisyi, Afif Nur
Warna merupakan salah satu atribut yang penting pada produk pangan. Seiring berjalannya waktu, preferensi konsumen terhadap pewarna alami semakin meningkat namun pigmen alami seperti klorofil rentan terhadap degradasi selama pengolahan. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh komposisi bahan penyalut, yaitu maltodekstrin (MD) dan gum arab (GA) terhadap karakteristik fisikokimia dan penerimaan organoleptik bubuk campuran ekstrak daun suji–pandan. Hasil penelitian menunjukkan komposisi penyalut memengaruhi mutu bubuk ekstrak terutama komposisi maltodekstrin yang tinggi (formulasi F1) memiliki performa terbaik secara relatif dengan total klorofil 4,34 mg/g, aktivitas antioksidan 34,95 mg AE/g, dan efisiensi enkapsulasi 16,19%, serta penerimaan sensori tertinggi (skor 5,62), dibandingkan penyalut gum arab yang memiliki kelarutan tertinggi, yaitu 97,25% (formulasi F3), tetapi retensi pigmen terendah (2,70 mg/g). Selanjutnya, F2 menunjukkan hasil yang cukup baik dengan total klorofil 3,96 mg/g dan efisiensi enkapsulasi 4,18%. Rendemen yang didapatkan relatif rendah (maks. 1,62%). dapat disimpulkan bahwa komposisi maltodekstrin yang lebih banyak pada formulasi mampu meningkatkan perlindungan pigmen dan potensi aplikasi sebagai pewarna alami bubuk, dan disarankan untuk melakukan optimasi parameter proses dan komposisi sebagai upaya meningkatkan rendemen dan efisiensi enkapsulasi.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Pengaruh Transisi Energi terhadap Emisi CO2 Indonesia: Pemodelan Autoregressive Distributed Lag dan Sistem Dinamik</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172987" rel="alternate"/>
<author>
<name>Wanasurya, Deasy Febriyanti</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172987</id>
<updated>2026-04-27T04:40:36Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Pengaruh Transisi Energi terhadap Emisi CO2 Indonesia: Pemodelan Autoregressive Distributed Lag dan Sistem Dinamik
Wanasurya, Deasy Febriyanti
Indonesia merupakan salah satu negara utama penghasil emisi gas rumah kaca di dunia dengan didominasi oleh emisi CO2. Struktur konsumsi energi primer di Indonesia masih didominasi oleh energi tidak terbarukan, sehingga diupayakan transisi menuju energi baru terbarukan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dinamika transisi konsumsi energi dan emisi CO2, mengestimasi pengaruh faktor population, affluence, dan technology terhadap emisi CO2, dan memproyeksikan besaran pengaruh transisi konsumsi energi terhadap emisi CO2 di Indonesia pada masa mendatang. Metode analisis data yang digunakan meliputi statistik deskriptif, ARDL, dan pemodelan sistem dinamik. Hasilnya, sepanjang tahun 1972–2023, transisi konsumsi energi dan emisi CO2 menunjukkan dinamika yang nyata. Pada jangka pendek, lag emisi CO2, kepadatan penduduk, GDP per kapita, dan konsumsi energi baru terbarukan berpengaruh signifikan terhadap emisi CO2. Pada jangka panjang, kepadatan penduduk, konsumsi energi tidak terbarukan, konsumsi energi baru terbarukan, dan FDI berpengaruh signifikan terhadap emisi CO2, serta pengujian hipotesis EKC menunjukkan adanya hubungan berbentuk kurva U. Selanjutnya hasil proyeksi menunjukkan bahwa dibandingkan dengan skenario BaU, skenario KEN mampu mereduksi emisi CO2 konsumsi energi pada tahun 2030, 2040, 2050, dan 2060 secara berturut-turut sebesar 4,68 persen, 24,62 persen, 42,12 persen, dan 59,99 persen.; Indonesia is one of the world's main producers of greenhouse gas emissions, dominated by CO2 emissions. The structure of primary energy consumption in Indonesia is still dominated by non-renewable energy, so a transition to new and renewable energy is being pursued. This study aims to describe the dynamics of energy consumption transition and CO2 emissions, estimate the influence of population, affluence, and technology on CO2 emissions, and forecast the impact of energy consumption transition on CO2 emissions in Indonesia in the future. Data analysis methods used include descriptive statistics, ARDL, and dynamic system modeling. The results show that throughout 1972–2023, the transition of energy consumption and CO2 emissions showed significant dynamics. In the short term, CO2 emission lag, population density, GDP per capita, and new and renewable energy consumption have a significant effect on CO2 emissions. In the long term, population density, non-renewable energy consumption, new and renewable energy consumption, and FDI significantly affect CO2 emissions, and EKC hypothesis testing shows a U-shaped relationship. Furthermore, the forecast results show that, compared to the BAU scenario, the KEN scenario is able to reduce CO2 emissions from energy consumption in 2030, 2040, 2050, and 2060 by 4.68 percent, 24.62 percent, 42.12 percent, and 59.99 percent, respectively.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Evaluasi Good Milking Practice menggunakan Analytical Hierarchy Process pada Peternakan Rakyat Koperasi Produsen Giri Tani</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172986" rel="alternate"/>
<author>
<name>FEBRIANTI, DWI RETNO</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172986</id>
<updated>2026-04-24T08:57:06Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Evaluasi Good Milking Practice menggunakan Analytical Hierarchy Process pada Peternakan Rakyat Koperasi Produsen Giri Tani
FEBRIANTI, DWI RETNO
Evaluasi penerapan good milking practice (GMiP) berperan dalam upaya peningkatan kuantitas dan kualitas produksi susu, serta produktivitas usaha sapi perah. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi faktor penentu yang paling berpengaruh dalam penerapan GMiP (aspek saat, sebelum, dan setelah pemerahan) pada peternak rakyat sapi perah di Koperasi Produsen Giri Tani. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November hingga Desember 2025. Aspek GMiP dievaluasi menggunakan analytical hierarchy process (AHP) dengan bantuan software Expert Choice, yang mengombinasi pendapat dari enam responden ahli berasal dari akademisi, praktisi, dan instansi pemerintah terkait, untuk mengidentifikasi faktor penentu yang paling berpengaruh. Wawancara dan observasi dilakukan kepada 22 peternak rakyat untuk menilai langsung kondisi peternakan. Hasil evaluasi GMiP aspek saat, sebelum, dan setelah pemerahan secara berturut-turut sebesar 28,79%; 27%; 16,89%. Nilai performa gabungan pengamatan dan vektor prioritas diperoleh sebesar 72,68% yang termasuk dalam kategori cukup.; The evaluation of the implementation of good milking practice (GMiP) plays an important role in improving both the quantity and quality of milk production as well as the productivity of dairy farming enterprises. This study aimed to evaluate the most influential determining factors in the implementation of GMiP (aspects when, before, and after) among smallholder dairy farmers at Koperasi Produsen Giri Tani. This research was conducted from November to December 2025. The GMiP aspects was carried out using the analytical hierarchy process (AHP) with the assistance of Expert Choice software, which combined the judgments of six expert respondents from academia, practitioners, and relevant government institutions to identify the most influential determining factors. Interviews and observations were also conducted with 22 smallholder dairy farmers to assess the conditions of the farms directly. The evaluation results of the GMiP aspects during, before, and after milking were respectively 28,79%, 27%, and 16,89%. The combined performance value of observation scores and priority vectors obtained is 72,68%, which is included in the sufficient category.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Asosiasi Makrozoobentos pada Ekosistem Lamun di Pulau Panjang, Banten</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172985" rel="alternate"/>
<author>
<name>Muthiiah, Nahdah</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172985</id>
<updated>2026-04-24T07:11:10Z</updated>
<published>2025-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Asosiasi Makrozoobentos pada Ekosistem Lamun di Pulau Panjang, Banten
Muthiiah, Nahdah
Ekosistem lamun di Pulau Panjang berperan sebagai habitat bagi makrozoobentos. Informasi mengenai makrozoobentos dan keterkaitannya dengan lamun masih terbatas. Di sisi lain, wilayah ini memiliki potensi keanekaragaman hayati laut yang tinggi. Penelitian ini bertujuan melihat kondisi aktual lamun, komposisi makrozoobentos, dan asosiasi keduanya. Pengambilan data lamun dilakukan dengan metode Seagrass Watch dan makrozoobentos diambil dengan dengan metode hand picking. Asosiasi makrozoobentos dan lamun menggunakan analisis korespondensi (CA). Penelitian ini menunjukkan bahwa komposisi lamun di Pulau Panjang meliputi, Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii, Cymodocea rotundata, Syringodium isoetifolium, Halophila ovalis, dan Halodule uninervis. Kerapatan dan penutupan lamun yang tinggi di Stasiun 3 tidak diikuti dengan tingginya kelimpahan makrozoobentos. Kelimpahan makrozoobentos tertinggi didapatkan pada Stasiun 2. Makrozoobentos yang ditemukan sebanyak 64 spesies, yaitu dari Kelas Gastropoda, Kelas Malacostraca, Kelas Bivalvia, Kelas Holothuroidea, dan Kelas Ophiuroidea. Komunitas makrozoobentos menunjukkan keanekaragaman sedang hingga tinggi dengan distribusi individu antarspesies yang merata tanpa dominansi spesies tertentu. Hasil analisis korespondensi menunjukkan di Stasiun 1 terdapat asosiasi antara lamun T. hemprichii dan makrozoobentos Pictocolumbella ocellata. Asosiasi Stasiun 3 melibatkan makrozoobentos Canarium urceus, Pyrene punctata, Holothuria sp., Vasticardium angulatum, Gutturnium muricinum, Umbonium sp., Phasianella solida, Canarium labiatum, Chicoreus brunneus, dan Conus aristophanes serta lamun H. ovalis, S. isoetifolium, dan H. uninervis.; The seagrass ecosystem on Panjang Island serves as an important habitat for macrozoobenthos. However, information regarding macrozoobenthos communities and their relationship with seagrass in this area remains limited. Meanwhile, Panjang Island possesses high potential for marine biodiversity. This study aimed to assess the current condition of seagrass, analyze the composition of macrozoobenthos, and examine the association between the two. Seagrass data were collected using the Seagrass Watch method and macrozoobenthos samples were obtained through the hand-picking method. The seagrass composition on Panjang Island consisted of Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii, Cymodocea rotundata, Syringodium isoetifolium, Halophila ovalis, and Halodule uninervis. The highest density and coverage of seagrass at Station 3 was not accompanied by high macrozoobenthos abundance. The highest abundance of macrozoobenthos was found at Station 2. A total of 64 macrozoobenthos species were identified, belonging to the classes Gastropoda, Malacostraca, Bivalvia, Holothuroidea, and Ophiuroidea. The macrozoobenthos community exhibited moderate to high diversity with an even distribution of individuals among species, and no single species showed dominance. At Station 1, an association was found between the seagrass T. hemprichii and the macrozoobenthos P. ocellata. The association at Station 3 involved macrozoobenthos such as Canarium urceus, Pyrene punctata, Holothuria sp., Vasticardium angulatum, Gutturnium muricinum, Umbonium sp., Phasianella solida, Canarium labiatum, Chicoreus brunneus, and Conus Aristophanes, and the seagrass species seagrass H. ovalis, S. isoetifolium, and H. uninervis.
</summary>
<dc:date>2025-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
</feed>
