<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<title>UT - Environmental Engineering and Management</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/153667" rel="alternate"/>
<subtitle/>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/153667</id>
<updated>2026-04-30T02:13:04Z</updated>
<dc:date>2026-04-30T02:13:04Z</dc:date>
<entry>
<title>Pemanfaatan Limbah Kulit Buah Mangga Harum Manis dan Jeruk Siam dalam Pembuatan Detergen Eco-enzyme Ramah Lingkungan</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173000" rel="alternate"/>
<author>
<name>Perwitasari, Alfira Risma</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173000</id>
<updated>2026-04-28T01:41:29Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Pemanfaatan Limbah Kulit Buah Mangga Harum Manis dan Jeruk Siam dalam Pembuatan Detergen Eco-enzyme Ramah Lingkungan
Perwitasari, Alfira Risma
Detergent waste poses a serious threat to water quality. Surfactants are compounds that are difficult to degrade by microorganisms in nature and cause environmental pollution. The study aims to compare the physical characteristics of eco-enzyme detergent with commercial detergents, the effectiveness of eco-enzyme detergent in reducing pollution, and determine the selling price of the product. The research method is an experiment with direct trials. The results show that eco-enzyme detergent meets the quality requirements of organoleptic tests, with a pH value of 6,6-5,9 according to standards, abundant foam stability high as 6,5 cm and stable cleaning ability. Eco-enzyme detergent is effective in reducing the impact of pollution for test parameters of pH 7, TDS 739 ppm, TSS 50 mg/L, COD 9,33 mg/L, and Turbidity of 479,98 NTU. However, it is less effective in reducing the MBAS value of 4,32 mg/L. Both detergents have the same phosphate value of &lt;0,01 mg/L. The cost analysis yielded a cost of goods sold of Rp5.212, with a selling price of Rp6.776 per bottle (250 ml). Eco-enzyme detergent is considered suitable for use as a safe and effective environmentally friendly alternative.; Limbah detergen menjadi ancaman serius terhadap kualitas air. Surfaktan termasuk dalam senyawa yang sukar didegradasi oleh mikroorganisme di alam dan menimbulkan pencemaran lingkungan. Penelitian bertujuan membandingkan karakteristik fisik detergen eco-enzyme dengan komersial, efektivitas detergen eco-enzyme dalam mengurangi pencemaran, serta menentukan harga jual produk. Metode penelitian berupa eksperimen dengan percobaan langsung. Hasil penelitian menunjukkan detergen eco-enzyme memenuhi syarat mutu uji organoleptis, nilai pH 6,6-5,9 sesuai standar, stabilitas busa melimpah setinggi 6,5 cm dan kemampuan daya pembersihan yang stabil. Detergen eco-enzyme efektif mengurangi dampak pencemaran untuk parameter uji pH 7, TDS 739 ppm, TSS 50 mg/L, COD 9,33 mg/L, dan Turbidy sebesar 479,98 NTU. Namun, kurang efektif dalam menurunkan nilai MBAS 4,32 mg/L. Kedua detergen memiliki nilai fosfat yang sama sebesar &lt;0,01 mg/L. Analisis biaya memperoleh harga pokok produksi sebesar Rp5.212 dengan harga jual produk Rp6.776 / botol (250 ml). Produk detergen eco-enzyme dinilai layak digunakan sebagai produk alternatif ramah lingkungan yang aman dan efektif.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Pemanfaatan Serat Kotoran Gajah menjadi Kertas Daur Ulang dengan Penambahan Daun Sirih sebagai Disinfektan Alami</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/171860" rel="alternate"/>
<author>
<name>Qolbi, Zakiatun</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/171860</id>
<updated>2025-12-27T01:50:13Z</updated>
<published>2025-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Pemanfaatan Serat Kotoran Gajah menjadi Kertas Daur Ulang dengan Penambahan Daun Sirih sebagai Disinfektan Alami
Qolbi, Zakiatun
Kotoran gajah merupakan limbah organik dengan kandungan serat tinggi karena sistem pencernaan gajah hanya mampu menyerap sekitar 40% nutrisi pakan, sehingga sisanya masih berpotensi dimanfaatkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi potensi serat kotoran gajah sebagai bahan baku kertas daur ulang serta menguji efektivitas penambahan ekstrak daun sirih sebagai disinfektan alami. Proses pembuatan kertas dilakukan melalui tahap pencucian, perebusan dengan ekstrak daun sirih, pencampuran dengan kertas bekas, pencetakan, dan pengeringan. Tiga variasi komposisi digunakan, yaitu sampel a (60% serat kotoran gajah : 40% kertas bekas), sampel b (50% : 50%), dan sampel c (80% : 20%). Analisis dilakukan melalui uji mikrobiologi menggunakan metode (FDA-BAM Chapter 3) serta uji fisik meliputi kuat tarik dan kadar air berdasarkan standar SNI. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan ekstrak daun sirih mampu menurunkan jumlah bakteri dari 5,9 × 105 menjadi 4,3 × 10³ koloni/g. Secara fisik, sampel b menunjukkan kekuatan tarik tertinggi dan kadar air terendah, sedangkan sampel a berada pada kualitas menengah dan sampel c memiliki ketebalan serta beban maksimum terbesar namun kadar air tinggi dan kekuatan tarik spesifik lebih rendah. Sampel a dan b memenuhi standar kadar air SNI (&lt;10%). Secara keseluruhan, kotoran gajah berpotensi sebagai alternatif serat non-kayu untuk kertas ramah lingkungan, dengan penambahan ekstrak daun sirih yang meningkatkan higienitas dan umur simpan produk.; Elephant dung is an organic waste material with high fiber content, as only about 40% of dietary nutrients are digested by elephants, leaving a significant amount of usable fiber. This study aimed to evaluate the potential of elephant dung fiber as a raw material for recycled paper and to assess the effectiveness of betel leaf extract as a natural disinfectant. The papermaking process involved washing, boiling with betel leaf extract, mixing with waste paper, sheet forming, and drying. Three composition ratios were applied: sample a (60% elephant dung fiber : 40% waste paper), sample b (50% : 50%), and sample c (80% : 20%). Microbiological analysis was conducted using method based on FDA-BAM Chapter 3, while physical properties were evaluated through tensile strength and moisture content tests according to Indonesian National Standards (SNI). The results showed that the addition of betel leaf extract significantly reduced bacterial counts from 5.9 × 105 to 4.3 × 10³ colony/g. Physically, sample b exhibited the highest tensile strength and lowest moisture content, sample a showed moderate quality, and sample c had the greatest thickness and maximum load but higher moisture content and lower specific tensile strength. Samples a and b met the SNI moisture content requirement (&lt;10%). Overall, elephant dung demonstrates strong potential as a sustainable non-wood fiber source for art paper, while betel leaf extract provides added value by improving hygiene and extending product durability.
</summary>
<dc:date>2025-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Pemanfaatan Adsorben Serbuk Kulit Singkong dan Kulit Pisang dalam Menurunkan Kadar COD dan Zat Warna pada Limbah Batik</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/171859" rel="alternate"/>
<author>
<name>Febriana, Ashilah</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/171859</id>
<updated>2025-12-27T01:41:07Z</updated>
<published>2025-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Pemanfaatan Adsorben Serbuk Kulit Singkong dan Kulit Pisang dalam Menurunkan Kadar COD dan Zat Warna pada Limbah Batik
Febriana, Ashilah
Industri batik menghasilkan limbah cair dengan kadar zat warna dan Chemical Oxygen Demand (COD) yang berpotensi mencemari lingkungan. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi karakteristik fisik karbon aktif dari limbah kulit singkong, kulit pisang, dan campurannya (KPS), serta efektivitasnya menurunkan kadar COD dan zat warna pada limbah batik cair. Pembuatan karbon aktif melalui proses karbonisasi, aktivasi kimia, kemudian uji adsorpsi dengan variasi massa 3g dan 5g. Hasil menunjukkan bahwa karbon aktif KPS memiliki karakteristik fisik terbaik dengan kadar air 7,8% dan kadar abu 4,9%, yang memenuhi standar SNI 06-3730-1995. Efektivitas penurunan kadar COD tertinggi diperoleh pada karbon aktif kulit pisang sebesar 46,5% pada massa 3g, sedangkan penurunan kadar zat warna tertinggi adalah karbon aktif kulit pisang sebesar 34% pada massa 5g. Variasi massa adsorben tidak berpengaruh signifikan, namun pada karbon aktif KPS penambahan massa meningkatkan penurunan COD dan zat warna, sehingga kombinasi adsorben berpotensi memberikan kinerja yang lebih stabil dan efektif.; The batik industry produces liquid waste with high levels of dyes and Chemical Oxygen Demand (COD) that have the potential to pollute the environment. This study aims to identify the physical characteristics of activated carbon from cassava peel, banana peel, and their mixture (KPS) waste, as well as its effectiveness in reducing COD and dye levels in liquid batik waste. Activated carbon was made through a carbonization process, chemical activation, and then adsorption tests with variations in mass of 3g and 5g. The results showed that KPS activated carbon had the best physical characteristics with a water content of 7.8% and ash content of 4.9%, which met the SNI 06-3730-1995 standard. The highest COD reduction effectiveness was obtained in banana peel activated carbon at 46.5% at a mass of 3g, while the highest reduction in dye levels was obtained in banana peel activated carbon at 34% at a mass of 5g. Variations in adsorbent mass did not have a significant effect, but in KPS activated carbon, increasing mass increased the reduction in COD and dye, so that the combination of adsorbents has the potential to provide more stable and effective performance.
</summary>
<dc:date>2025-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Aplikasi Biochar Dari Kulit Ari Kedelai Pada Tanah Latosol Untuk Mendukung Pertumbuhan Tanaman Pakcoy</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/171858" rel="alternate"/>
<author>
<name>Daniputra, Robertus Bellarmino</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/171858</id>
<updated>2025-12-29T06:11:56Z</updated>
<published>2025-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Aplikasi Biochar Dari Kulit Ari Kedelai Pada Tanah Latosol Untuk Mendukung Pertumbuhan Tanaman Pakcoy
Daniputra, Robertus Bellarmino
Proses produksi industri tempe menghasilkan limbah padat berupa kulit ari &#13;
kedelai. Limbah hasil produksi yang tidak terolah dengan baik dapat menimbulkan &#13;
bau tidak sedap yang mengganggu lingkungan sekitar. Penelitian ini bertujuan &#13;
mengukur kemampuan biochar dari limbah kuit ari kedelai untuk memperbaiki sifat &#13;
fisika dan kimia tanah dan mendukung pertumbuhan tanaman pakcoy.  Penelitian &#13;
dilakukan pada skala semi lapang. Rancangan penelitian yang digunakan adalah &#13;
Acak Lengkap dengan 7 perlakuan yang merupakan kombinasi dosis biochar (2, 4, &#13;
dan 6%), serta ukuran ayakan biochar (60 dan 80 mesh) yaitu B2-60, B2-80, B4&#13;
60, B4-80, B6-60, B6-80, dan kontrol.  Parameter yang diamati meliputi luas &#13;
permukaan spesifik biochar, nilai pH, kadar Electrical Conductivity, C-Organik, &#13;
dan P-Tersedia media tanam yang ditambah biochar. Parameter pertumbuhan &#13;
tanaman meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang, dan bobot kering &#13;
tanaman pada umur panen 5 minggu setelah tanam. Beberapa hasil analisis varians &#13;
(ANOVA) menunjukan hasil yang signifikan bahwa pengaplikasian biochar pada &#13;
tanah berhasil meningkatkan parameter Electrical Conductivity, C-Organik, dan P&#13;
Tersedia pada perlakuan dosis B6-80. Pada parameter pertumbuhan tanaman hasil &#13;
analisis varians (ANOVA) menunjukan hasil yang sedikit signifikan pada parameter &#13;
daun pada perlakuan B2-60 dan pada parameter pertumbuhan lainya tidak tidak &#13;
memberikan hasil yang signifikan pada setiap perlakuan.; The tempeh production process generates solid waste in the form of soybean&#13;
seed coats. Improper management of this waste can cause unpleasant odors that&#13;
disturb the surrounding environment. This study aimed to evaluate the ability of&#13;
biochar produced from soybean seed coat waste to improve the physical and&#13;
chemical properties of soil and to support the growth of pakcoy (Brassica rapa L.).&#13;
The research was conducted on a semi-field scale using a Completely Randomized&#13;
Design (CRD) with seven treatments combining biochar dosage levels (2%, 4%,&#13;
and 6%) and particle sizes (60 and 80 mesh), namely B2-60, B2-80, B4-60, B4-80,&#13;
B6-60, B6-80, and a control. The observed soil parameters included the specific&#13;
surface area of biochar, pH, electrical conductivity, carbon, and available P in the&#13;
planting media. Plant growth parameters included plant height, number of leaves,&#13;
stem diameter, and plant dry weight at harvest (five weeks after planting). Results&#13;
of analysis of variance (ANOVA) showed significant effects of biochar application&#13;
on electrical conductivity, organic carbon, and available P, particularly in treatment&#13;
B6-80. For plant growth parameters, the ANOVA results indicated a slightly&#13;
significant effect on the number of leaves in treatment B2-60, while other growth&#13;
parameters showed no significant differences among treatments.
</summary>
<dc:date>2025-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
</feed>
