| dc.description.abstract |
Rumput laut, khususnya jenis Eucheuma cottonii, merupakan salah satu
komoditi perikanan dengan tingkat ekspor yang makin meningkat sepanjang tahun.
Rumput laut jenis ini sudah merupakan hasil budidaya di perairan laut dan
diperjualbelikan dalam bentuk rumput laut kering. Petani rumput laut dalam proses
pengeringannya menggunakan penjemuran langsung di bawah sinar matahari yang
ditempatkan diatas para-para. Jenis rumput laut yang dihasilkan adalah rumput laut
kering tawar dan kering asin.
Namun, pengeringan rumput laut dengan menjemur Iangsung di bawah terik
matahari akan menyebabkan terjadinya suatu kontaminasi, yaitu adanya serangga,
pasir, debu, dan juga benda-benda lainnya, sehingga kebersihannya menjadi kurang
terjamin dan akhimya menurunkan mutu dari rumput laut kering yang dihasilkan.
Bahkan jika terkena air hujan, maka akan terjadinya kerusakan dan rumput laut
kembali menjadi basah sehingga menjadi tidak efisien. Dengan permasalahan
tersebut, maka penelitian ini menjadi perlu dilakukan untuk bisa menghasilkan suatu
a1at yang Iebih efisien, yang dapat menghasilkan mutu lebih baik dan waktu
pengeringan yang Iebih singkat tanpa biaya yang mahal.
.. Adapun tujuandari penelitian iniyaitlJuhtuk iI1.erigetahiJikemampuan kerja
alat pengering dengan sumber energi surya untuk mengeringkan rumput laut (sistem
efek rumah kaca) dan melihat tingkat efektifitas dari alat pengering tersebut dalam
menurunkan kadar air rumput Iaut dan mutu yang dihasilkannya. Sedangkan
peIaksanaan penelitian dilakukan dua tahap, yaitu tahap pertama berupa pembuatan
alat pengering dan kedua berupa pengujian a1at terhadap pengeringan rumput laut.
Dalam penelitian ini dilakukan dua kali percobaan dengan menggunakan jumIah
rumput laut yang berbeda (5 kglrak dan 3,5 kglrak yang tersusun 3 rak), perlakuan
tanpa pencucian (P-1) dan perlakuan pencucian (P-2) dalam waktu yang sarna yaitu
selama 5 hari.
Hasil pengujian alat dengan parameter suhu, menghasilkan suhu yang lebih
tinggi jika dibandingkan dengan suhu lingkungan. Suhu tertinggi terjadi pada pukul
12.00 yaitu sebesar 74°C pada pelat kolektor panas dan 34°C di lingkungan,
sedangkan pada ruang pengering suhu mampu mencapai 48,5°C (Rak-l), 41,4°C
(Rak-2) dan 39°C (Rak-3).
Hasil penelitian menunjukan bahwa perbedaan jumlah bahan sangat
mempengaruhi hasil akhir dari pengeringan, dimana bahan dengan berat 5 kglrak laju
pengeringannya lebih lambat dibandingkan dengan yang 3,5 kglrak. 1ni terlihat dari
kemampuan alat dalam menguapkan air dari bahan selama pengeringan, dimana
dalam percobaan ke-1 dengan berat bahan 5.000 gr/rak (kadar air 87,5116 % =
4.375,58 gr) dihasilkan kehilangan air yaitu sebesar 4.267,2548 gr (97,5243 %),
4.026,2358 gr (92,0161 %) dan 4.037,279 gr (92,2684 %) sedangkan pada percobaan
kedua dengan berat bahan 3.500 gr/rak (kadar air 81,89 % = 2.866,15 gr) kehilangan
aimya adalah 2.819,4895 gr (98,372 %),2.819,3534 gr (98,3673 %), 2.820,3715 gr
(98,4028 %).
Pada pengujian organoleptik, untuk percobaan pertama (tanpa pencucian) nilai
penampakan dan bau berbeda nyata terhadap kontrol dan tidak berbeda nyata pada
organoleptik tekstur. Sedangkan pada percobaan kedua (dengan pencucian) penilaian
organoleptik penampakan menunjukan perbedaan yang nyata, kecuali pada Rak-1
yangtidakberbeda nyata dengan kontr61. Uji6fganoleptik bau tidak befbeda nyata
dan berbeda nyata pada organoleptik tekstur (tekstur lebih baik dari kontrol).
Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa alat pengering solar dryer
mampu memodifikasi suhu lingkungan dalam alat dengan menghasilkan suhu yang
lebih tinggi, sehingga bermanfaat untuk mengeringkan baban serta dapat terhindar
dari kontaminasi dan meningkatkan efisiensi produksi. Juga dengan memperhatikan
jumlah bahan serta perlakuan pencucian, akan menghasilkan laju pengeringan yang
cepat dan mutu yang lebih baik.
Untuk Iebih meningkatkan performansi aIat, periu dilakukan penelitian
lanjutan dengan memodifikasi alat agar suhu yang dihasilkan Iebih tinggi Iagi dan
proses pengeringannya merata. |
id_ID |