<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rdf:RDF xmlns="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<channel rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/86">
<title>DT - Fisheries</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/86</link>
<description/>
<items>
<rdf:Seq>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/85360"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/83996"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/83994"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/83993"/>
</rdf:Seq>
</items>
<dc:date>2017-07-10T01:27:32Z</dc:date>
</channel>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/85360">
<title>Strategi Keberlanjutan Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan Dan Wisata Bahari Pada Kawasan Pesisir Dan Pulau-Pulau Kecil Kabupaten Biak Numfor</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/85360</link>
<description>Strategi Keberlanjutan Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan Dan Wisata Bahari Pada Kawasan Pesisir Dan Pulau-Pulau Kecil Kabupaten Biak Numfor
Sutaman
Kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil (KP3K) adalah kawasan yang memiliki potensi sumberdaya alam dan kenaekaragaman hayati yang tinggi. Keberadaan KP3K diharapkan dapat memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat dan pemerintah daerah dengan tetap melindungi fungsi ekologis kawasan. Oleh karena itu perlu upaya pengelolaan secara terpadu guna menjamin pemanfaatan yang berkelanjutan. Bentuk keterpaduan dalam pengelolaan KP3K yaitu dengan pengembangan kawasan perikanan tangkap, budidaya maupun pariwisata. Keberlanjutan pengelolaan meliputi berbagai dimensi yaitu dimensi ekologi, ekonomi, sosial budaya, hukum dan kelembagaan, sebagai dasar dari perencanaan dan pengambilan keputusan.&#13;
Tujuan utama dari penelitian ini adalah menyusun strategi pemanfaatan sumberdaya kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil (KP3K) Kabupaten Biak Numfor secara berkelanjutan. Untuk mencapai tujuan utama tersebut, maka rumusan tujuan operasionalnya adalah: 1) Menganalisis karakteristik dan kondisi eksisting kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil (KP3K) Kabupaten Biak Numfor; 2) Menganalisis tingkat efektivitas pengelolaan KP3K Kabupaten Biak Numfor, 3) Menganalisis tingkat keberlanjutan pemanfaatan sumberdaya terkait dengan pengembangan sektor perikanan dan pariwisata di KP3K Kabupaten Biak Numfor; 4) Menganalisis tingkat keberlanjutan pengelolaan KP3K Kabupaten Biak Numfor berdasarkan dimensi ekologi, ekonomi, sosial, dan kelembagaan, 5) Menentukan alternatif strategi pengelolaan KP3K Kabupaten Biak Numfor yang lebih berkelanjutan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa efektivitas pengelolaan KP3K dari aspek pengelolaan sumberdaya kawasan dan pengelolaan sosial ekonomi dan budaya masyarakat tergolong cukup efektif, walaupun secara kelembagaan masih belum efektif. Keberlanjutan pemanfaatan sumberdaya pada KP3K Kabupaten Biak Numfor, dari aspek perikanan tangkap masih tergolong chkhp berkelanjutan, kecuali aspek perikanan budidaya dan pariwisata. Keberlanjutan pengelolaan KP3K dari aspek ekologi, ekonomi dan sosial budaya masih tergolong berkelanjutan kecuali aspek pengelolaan kelembagaan. Dalam strategi keberlanjutan pengelolaan KP3K, Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Biak Numfor merupakan aktor utama yang berperan penting dalam pengelolaan sumberdaya di KP3K Kabupaten Biak Numfor. Prioritas pertama strategi pengelolaan KP3K Biak Numfor secara berkelanjutan adalah upaya peningkatan, perlindungan dan pengawasan ekosistem terumbu karang, mangrove dan lamun serta biota yang dilindungi. Selanjutnya prioritas kedua adalah perlunya kelembagaan pengelola KP3K yang lebih efektif, dan prioritas ketiga adalah penegakan hukum yang sesuai peraturan dan perundang-undangan yang berlaku.
</description>
<dc:date>2017-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/83996">
<title>Model Pemanfaatan Ikan Tuna Di Nusa Tenggara Secara Berkelanjutan</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/83996</link>
<description>Model Pemanfaatan Ikan Tuna Di Nusa Tenggara Secara Berkelanjutan
Gigentika, Soraya
Wilayah Nusa Tenggara terdiri dari Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB)&#13;
dan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), dimana kedua provinsi tersebut diapit&#13;
oleh perairan dibagian selatan dan utara yang merupakan lokasi ruaya ikan tuna.&#13;
Hal tersebut menyebabkan maraknya kegiatan penangkapan ikan tuna di Nusa&#13;
Tenggara sehingga mengakibatkan kegiatan penangkapan menjadi cenderung ke&#13;
arah yang tidak bertanggungjawab dan menyebabkan berbagai permasalahan.&#13;
Kompleksitas permasalahan pada kegiatan pemanfaatan ikan tuna tersebut&#13;
memerlukan suatu tindakan nyata yang dapat menyelesaikan permasalahan secara&#13;
komprehensif. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah menentukan pola&#13;
pemanfataan ikan tuna, memformulasikan permasalahan, membuat model&#13;
konseptual, dan merumuskan strategi pemanfaatan ikan tuna di Nusa Tenggara.&#13;
Penelitian ini melakukan pengembangan metode antara dua pendekatan,&#13;
yaitu pendekatan SSM (Soft System Methodology) dan pendekatan EAFM&#13;
(Ecosystem Approach to Fisheries Management/EAFM). Kedua pendekatan&#13;
tersebut memiliki tahapan proses yang sama, namun perbedaan keduanya terletak&#13;
pada analisis yang dilakukan pada setiap tahapan proses. Pada pendekatan SSM,&#13;
setiap tahapan proses telah ditentukan analisis apa yang harus dilakukan,&#13;
sedangkan pada pendekatan EAFM belum terdapat hal tersebut. Pendekatan SSM&#13;
merupakan pendekatan yang dapat digunakan secara umum pada seluruh bidang,&#13;
sedangkan pendekatan EAFM merupakan pendekatan yang secara khusus&#13;
digunakan untuk bidang perikanan. Oleh sebab itu, pengembangan metode pada&#13;
kedua pendekatan tersebut dimaksudkan untuk saling melengkapi. Adapun bentuk&#13;
pengembangan metode yang dilakukan pada penelitian ini adalah melakukan&#13;
tahapan proses pendekatan EAFM dengan menggunakan metode atau analisis&#13;
pada tahapan proses pendekatan SSM untuk menghasilkan rencana aksi. Rencana&#13;
aksi tersebut diharapkan dapat menyelesaikan permasalahan yang terdapat pada&#13;
kegiatan pemanfaatan ikan tuna di Nusa Tenggara.&#13;
Tahap pertama pada pendekatan SSM adalah pemahaman situasi&#13;
permasalahan. Tahap tersebut dilakukan melalui penentuan pola pemanfaatan ikan&#13;
tuna di Nusa Tenggara dengan melakukan kajian terhadap empat aspek (aspek&#13;
sumberdaya ikan, teknologi penangkapan ikan, ekonomi-sosial, dan&#13;
kelembagaan). Tahap pertama SSM tersebut sesuai dengan tahap pertama EAFM,&#13;
yaitu mendefinisikan dan menetapkan lingkup pengelolaan perikanan. Sementara&#13;
itu, tahap kedua pada pendekatan SSM menggunakan analisis intervensi, analisis&#13;
sosial, analisis politik, dan penyusunan rich picture untuk melakukan penyusunan&#13;
situasi permasalahan. Analisis pada tahap kedua tersebut dilakukan untuk&#13;
menghasilkan identifikasi dan prioritas permasalahan yang merupakan tahap&#13;
kedua pada pendekatan EAFM. Hasil penelitian pada kedua tahapan SSM&#13;
menunjukkan bahwa stakeholder yang terlibat pada kegiatan pemanfaatan ikan&#13;
tuna di Nusa Tenggara adalah pemerintah, pengelola pelabuhan perikanan, dan&#13;
pelaku usaha. Terdapat stakeholder yang belum menjalankan perannya dengan&#13;
iii&#13;
baik sehingga menimbulkan beberapa permasalahan terkait ijin pemasangan&#13;
rumpon, produktivitas unit penangkapan tuna, efisiensi teknis kapasitas&#13;
penangkapan dan input produksi pada unit penangkapan ikan tuna, penangkapan&#13;
baby tuna, mutu ikan tuna, serta konflik penggunaan rumpon dengan nelayan&#13;
purse seine.&#13;
Tahap ketiga dan tahap keempat pada pendekatan SSM merupakan tahap&#13;
berpikir sistem untuk melakukan formulasi permasalahan pada kegiatan&#13;
pemanfaatan ikan tuna di Nusa Tenggara. Tahap ketiga adalah penyusunan&#13;
definisi permasalahan yang dimaksudkan untuk mengidentifikasi dan menentukan&#13;
prioritas tujuan pengelolaan (tahap kedua pendakatan EAFM). Sedangkan tahap&#13;
keempat pendekatan SSM adalah perancangan model konseptual yang&#13;
dimaksudkan untuk mencapai penyusunan rencana aksi pada tahapan ketiga&#13;
pendekatan EAFM. Hasil penelitian menunjukkan bahwa permasalahan yang&#13;
terdapat pada kegiatan pemanfaatan ikan tuna di Nusa Tenggara dapat&#13;
diselesaikan dengan melakukan transformasi berupa penataan penggunaan&#13;
rumpon; kepastian dan keuntungan usaha penangkapan ikan tuna; pembatasan&#13;
penangkapan baby tuna; serta peningkatan jumlah ikan tuna berkualitas ekspor.&#13;
Tahap kelima dan tahap keenam pada pendekatan SSM adalah melakukan&#13;
perbandingan antara model konseptual dengan real world dan menentukan&#13;
perubahan yang diinginkan. Kedua tahapan proses pendekatan SSM tersebut&#13;
merupakan rangkaian untuk mencapai rencana aksi pada tahap ketiga pendekatan&#13;
EAFM. Hasil dari dua tahapan SSM tersebut adalah pemerintah perlu melakukan&#13;
beberapa perubahan pada mekanisme penegakan hukum yang tegas dan efektif&#13;
serta penentuan alokasi jumlah rumpon yang ideal; penentuan jumlah alokasi&#13;
effort optimal; penentuan input produksi yang efisien; pembuatan regulasi,&#13;
pengembangan teknologi penangkapan, serta pengaturan musim dan lokasi&#13;
penangkapan ikan tuna; pelatihan kepada nelayan, perusahaan perikanan, dan&#13;
pengumpul ikan tuna serta penyediaan fasilitas rantai dingin; serta penegakan&#13;
hukum yang tegas dan efektif untuk pelanggaran jalur penangkapan ikan.&#13;
Perubahan yang perlu diperhatikan oleh pemerintah adalah keterlibatan pelaku&#13;
usaha penangkapan ikan tuna dalam memperbaiki sistem pemanfaatan ikan tuna&#13;
di Nusa Tenggara melalui proses sosialisasi dan konsultasi publik. Selain itu,&#13;
pemerintah perlu melibatkan pihak perguruan tinggi atau lembaga penelitian&#13;
untuk melakukan kajian agar diperoleh hasil yang lebih komperehensif.&#13;
Tahap ketujuh pada pendekatan SSM adalah tahap menentukan langkah&#13;
tindakan perubahan. Tahap ketujuh tersebut merupakan rangkaian terakhir untuk&#13;
mencapai tahap ketiga pada pendekatan EAFM, yaitu menentukan rencana aksi.&#13;
Penelitian ini menghasil 20 strategi yang diperlukan untuk mencapai kegiatan&#13;
pemanfaatan ikan tuna di Nusa Tenggara secara berkelanjutan. Masing-masing&#13;
strategi tersebut memiliki rencana aksi yang dapat dilakukan dengan periode&#13;
waktu tertentu. Terdapat rencana aksi yang dilakukan pada periode waktu pendek,&#13;
menengah, atau panjang.
</description>
<dc:date>2017-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/83994">
<title>Model Pengembangan Ekonomi Lokal Masyarakat Dalam Rangka Pelestarian Kawasan Cagar Alam Pegunungan Cycloop Jayapura Papua</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/83994</link>
<description>Model Pengembangan Ekonomi Lokal Masyarakat Dalam Rangka Pelestarian Kawasan Cagar Alam Pegunungan Cycloop Jayapura Papua
Ngutra, Risky Novan
Kawasan Cagar Alam Pegunungan Cycloop yang berada di wilayah Jayapura&#13;
Provinsi Papua, merupakan kawasan hutan tropis dengan keanekaragaman hayati yang&#13;
tinggi dengan fungsi ekologis yang penting bagi kehidupan manusia. Pegunungan&#13;
Cycloop merupakan pegunungan yang membujur di sebelah Utara Jayapura pada&#13;
koordinat 2025‘ - 2034‘ LS dan 140024‘ - 140043‘ BT. Kawasan sebagai cagar alam&#13;
ditetapkan sejak tahun 1987, sesuai dengan SK Menteri Kehutanan No.782/Menhut-&#13;
II/2012 tanggal 27 Desember 2012 dengan luas kawasan sekitar 31.480 hektar.&#13;
Kawasan ini berfungsi sebagai daerah tangkapan air hujan bagi wilayah Kabupaten&#13;
Jayapura dan Kota Jayapura dan sebagai sumber pengairan bagi Danau Sentani. Namun&#13;
seiring dengan pertumbuhan penduduk dan meningkatnya permintaan terhadap sumber&#13;
daya alam, baik untuk kepentingan kehidupan sehari-hari maupun peningkatan&#13;
pendapatan daerah, mengalami tekanan dan ancaman yang serius. Masalah yang terjadi&#13;
di kawasan Cagar Alam Pegunungan Cycloop, telah dirasakan memasuki paruh waktu&#13;
tahun 2000an, dengan hutan yang berada dibeberapa lokasi sekitar kawasan cagar alam&#13;
telah dieksploitasi dan diperuntukan untuk lahan pertanian dan perkebunan masyarakat,&#13;
perumahan dan peralihan fungsi hutan ke bentuk yang menuju pada kerusakan alam dan&#13;
lingkungan. Hal ini yang mengakibatkan perubahan dan kerusakan hutan di sekitar&#13;
kawasan Pegunungan Cycloop yang semakin hari semakin mengkhawatirkan.&#13;
Tujuan penelitian ini adalah (1) mengidentifikasi aktivitas ekonomi lokal dan&#13;
sosial masyarakat di kawasan Cagar Alam Pegunungan Cycloop; (2) mengukur nilai&#13;
keberlanjutan dari kawasan Cagar Alam Pegunungan Cycloop; (3) membangun model&#13;
pengembangan ekonomi lokal masyarakat yang berwawasan lingkungan; (4)&#13;
menganalisis arah pengembangan dan kebijakan bagi ekonomi lokal masyarakat dalam&#13;
upaya pelestarian kawasan Cagar Alam Pegunungan Cycloop. Kebaruan (novelty) dari&#13;
penelitian ini terletak pada analisis komprehensif terhadap sebuah kawasan cagar alam&#13;
yang telah ditetapkan menjadi kawasan lindung tetapi pada masa mendatang kawasan&#13;
Cagar Alam Pegunungan Cycloop tetap mengakomodir kehadiran masyarakat adat serta&#13;
masyarakat pendatang untuk tetap melakukan kegiatan disekitar kawasan maupun di&#13;
dalam kawasan yang memanfaatkan sumber daya alam yang telah ditentukan secara&#13;
bersama-sama sebagai bagian untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat secara&#13;
menyeluruh.&#13;
Hasil analisis menunjukan pemanfaatan sumber daya hutan pada kawasan Cagar&#13;
Alam Pegunungan Cycloop oleh masyarakat sekitar hutan merupakan hubungan&#13;
interaksi sosial ekonomi masyarakat untuk memenuhi kebutuhan. Bentuk interaksi&#13;
pemanfaatan sumber daya hutan melalui kegiatan pemungutan hasil hutan berupa bahan&#13;
pangan, kayu bakar, bahan rumah dan bangunan, pakan ternak, obat-obatan dan jenis&#13;
jasa hutan lainnya. Kegiatan ekonomi berupa strategi nafkah merupakan upaya alternatif&#13;
untuk menjaga kestabilan ekonomi rumah tangga agar dapat bertahan hidup (survive).&#13;
Sumber-sumber daya nafkah rumah tangga yang dimanfaatkan oleh masyarakat&#13;
meliputi (1) Modal Sumber daya Alam; (2) Modal Fisik; (3) Modal Manusia; (4) Modal&#13;
Finansial; (5) Modal Sosial. Variabel yang signifikan dengan tingkat signifikasi pada&#13;
taraf 0,05 adalah Jarak ke CAPC (Jr) (,035); Luas lahan yang diolah (Llh) (,010);&#13;
Pengeluaran Responden (Pnglrn) (,026); Lama tinggal responden (Lt) (,030); Variabel&#13;
yang tidak signifikan adalah Umur responden (Ur) (,309); Tingkat pendidikan&#13;
responden (Pddkn) (,427); Jumlah anggota keluarga (Jak) (,458); Pekerjaan responden&#13;
(Kerja) (,619); Penghasilan responden (Phsln) (,721); Asal responden (DAr) (0,713);&#13;
Program pemerintah dalam menegakkan daerah terlarang (DPP) (,492); Aturan&#13;
masyarakat Adat (DAa) (,820); Jenis Kelamin (DJk) (,191); Variabel-variabel tersebut&#13;
secara individu baik dengan tingkat kepercayaan antara 5% dan 10% tidak signifikan&#13;
menjelaskan variabel aktivitas responden di Kawasan CAPC. Status masyarakat yang&#13;
tahan pangan sebanyak 29% dari jumlah responden. 15% responden menunjukan tidak&#13;
tahan pangan. 56% responden menunjukan kurang tahan pangan. Masyarakat dengan&#13;
status rawan pangan sebesar 4 % dari total responden. Bagi responden yang kurang&#13;
rawan pangan sebanyak 17%, dan responden dengan status tidak rawan pangan&#13;
sebanyak 79%. Jumlah responden tersampling terdapat masyarakat dengan status&#13;
kurang sejahtera sebanyak 116 orang (89%), masyarakat dengan status miskin sebanyak&#13;
14 responden (10,77%).&#13;
Nilai indeks keberlanjutannya sebesar 60,81 yang berarti Kawasan Cagar Alam&#13;
Pegunungan Cycloop saat ini berada pada status Cukup berkelanjutan. Dimensi&#13;
ekonomi, Dimensi ekologi dan dimensi kelembagaan mempunyai kinerja cukup&#13;
berkelanjutan sedangkan dua dimensi lainnya dimensi teknologi dan dimensi sosial&#13;
menunjukkan kurang berkelanjutan. Simulasi skenario model yang ditawarkan bagi&#13;
keberlanjutan kawasan Cagar Alam Pegunungan Cycloop adalah model dengan&#13;
skenario melalui intervensi optimis terhadap parameter model, merupakan skenario&#13;
pilihan yang tepat untuk dilakukan dalam rangka mewujudkan pengelolaan kawasan&#13;
yang berkelanjutan. Arahan pengelolaan dan kebijakan yang dapat diimplementasikan&#13;
dalam proses pengelolaan kawasan penghidupan yang berkelanjutan adalah dengan&#13;
adanya intervensi pemerintah dan kerja sama yang dibangun antar masyarakat adat&#13;
(pemilik hak ulayat) akan memberikan pengaruh/dampak yang paling besar terhadap&#13;
perbaikan kinerja pengelolaan kawasan Cagar Alam Pegunungan Cycloop yang&#13;
berkelanjutan dan berkesinambungan.
</description>
<dc:date>2017-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/83993">
<title>Kinerja Pertumbuhan Ikan Gabus (Channa Striata Bloch.) Pada Lahan Pasang Surut Melalui Rekayasa Kualitas Air</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/83993</link>
<description>Kinerja Pertumbuhan Ikan Gabus (Channa Striata Bloch.) Pada Lahan Pasang Surut Melalui Rekayasa Kualitas Air
Purnamawati
Hasil analisis laboratorium tahun 2014 menunjukkan bahwa air di lahan&#13;
pasang surut memiliki pH 2.53–3,39, sulfat 6,91–8,7 mg/L, Fe 0,72–2,83 mg/L,&#13;
oksigen terlarut kurang dari 5 mg/L, serta perbedaan salinitas air yang cukup besar&#13;
antara musim hujan dan kemarau yang mencapai 0–28 ppt. Salah satu komoditas&#13;
yang dapat dibudidayakan di lahan ini adalah ikan gabus (Channa striata Bloch),&#13;
karena jenis ikan ini mampu hidup pada perairan yang minim akan oksigen.&#13;
Berdasarkan hal tersebut maka telah dilakukan 4 tahap penelitian dengan&#13;
tujuan untuk mengevaluasi: 1) Respons kelangsungan hidup dan pertumbuhan&#13;
benih ikan gabus pada air sulfat masam dan air hujan; 2) Respons kelangsungan&#13;
hidup dan pertumbuhan benih ikan gabus pada berbagai tingkat salinitas media air&#13;
sulfat masam; 3) Respons kelangsungan hidup dan pertumbuhan benih ikan gabus&#13;
pada air sulfat masam dengan dan tanpa pengadukan; 4) Pengaruh pemberian&#13;
kompos batang pisang dengan dan tanpa pengadukan media air sulfat masam&#13;
terhadap performa pertumbuhan benih ikan gabus.&#13;
Penelitian pertama dilakukan untuk menganalisis pengaruh penggunaan&#13;
media yang berbeda terhadap kelangsungan hidup dan pertumbuhan benih ikan&#13;
gabus. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap dengan air sulfat masam&#13;
dan air hujan sebagai perlakuan, dan masing-masing memiliki 12 ulangan. Benih&#13;
ikan gabus berukuran panjang rata-rata 2,4±0,2 cm dan bobot rata-rata 0,21±0,05&#13;
g dipelihara dalam akuarium 30 x 25 x 35 cm3 (volume 25 liter) dengan padat&#13;
tebar 2 ekor/L, selama 40 hari. Ikan diberi pakan komersial berkadar protein ±&#13;
40%, yang diberikan 2 kali sehari secara at satiation. Penggantian air dan&#13;
penyifonan dilakukan 2 hari sekali sebanyak 10% dari volume air dalam&#13;
akuarium. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media air hujan memberikan hasil&#13;
yang lebih baik (p&lt;0,05) dibanding media air sulfat masam, dan menghasilkan&#13;
kelangsungan hidup (73,89%), laju pertumbuhan (4,40%/hari), efisiensi pakan&#13;
(59,1%), retensi protein (24,31%), retensi energi (41,34%), kadar albumin (3,75&#13;
g/100 mL) dan glukosa darah (26,45 mg/100 mL).&#13;
Penelitian kedua dilakukan untuk menentukan salinitas media terbaik&#13;
terhadap respons biometrik (kelangsungan hidup, pertumbuhan spesifik, kadar&#13;
albumin, dan efisiensi pakan) dan fisiologis (gradien osmotik, glukosa darah dan&#13;
tingkat konsumsi oksigen) benih ikan gabus pada media air sulfat masam.&#13;
Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap dengan salinitas 0, 3, 6, dan 9&#13;
ppt sebagai perlakuan (masing-masing 3 ulangan). Panjang awal benih rata-rata&#13;
2,4±0,2 cm dan bobot awal rata-rata 0,21±0,04 g dipelihara dalam akuarium 30 x&#13;
25 x 35 cm3 (volume 25 liter) dengan padat tebar 2 ekor/L, selama 40 hari. Ikan&#13;
diberi pakan komersial dengan kadar protein ±40%, pemberian pakan 2 kali sehari&#13;
secara at satiation. Media pemeliharaan diaerasi secara terus menerus,&#13;
penggantian air dan penyifonan dilakukan 2 hari sekali sebanyak 10% dari volume&#13;
media. Hasil penelitian menunjukkan bahwa salinitas 3 ppt memberikan hasil&#13;
terbaik (p&lt;0,05) dibanding salinitas yang lain, dengan tingkat kelangsungan&#13;
v&#13;
hidup benih 77%, pertumbuhan 5,62%/hari, kadar albumin 4,52 g/100 ml,&#13;
efisiensi pakan 87,5%, retensi protein 38,32% dan retensi energi 25,50%, gradien&#13;
osmotik 0,097 Osmol/kg H2O, tingkat konsumsi oksigen 1,99 mg O2/g/jam dan&#13;
glukosa darah 25,05 mg/100 ml.&#13;
Penelitian ketiga bertujuan untuk menganalisis respons biometrik dan&#13;
fisiologis benih ikan gabus yang dipelihara dengan dan tanpa pengadukkan pada&#13;
media air sulfat masam bersalinitas 3,6 ppt. Rancangan yang digunakan adalah&#13;
acak lengkap dengan dan tanpa pengadukkan sebagai perlakuan dan masingmasing&#13;
12 ulangan. Benih berukuran panjang rata-rata 2,4±0,3 cm dan bobot ratarata&#13;
0,21±0,03 g dipelihara dalam akuarium 30 x 25 x 35 cm3 (volume 25 liter)&#13;
dengan padat tebar 2 ekor/L, selama 40 hari. Ikan diberi pakan komersial berkadar&#13;
protein ±40%, dengan frekuensi 2 kali sehari secara at satiation. Penggantian air&#13;
dan penyifonan dilakukan 2 hari sekali sebanyak 10% dari volume total dalam&#13;
akuarium. Dari hasil penelitian diketahui bahwa pemeliharaan tanpa pengadukkan&#13;
pada media bersalinitas 3,6 ppt, memberikan hasil terbaik. Penelitian tersebut&#13;
menghasilkan kelangsungan hidup (92%), laju pertumbuhan (6,73%/ hari),&#13;
efisiensi pakan (78,22%), retensi protein (41,91%), retensi energi (30,81%), kadar&#13;
albumin (6,60 g/100 mL) dan hemoglobin (5,85 g/dL) yang lebih tinggi,&#13;
sedangkan kadar kortisol (21,49 ng/L) dan glukosa darah (43,36 mg/100 mL)&#13;
yang terendah.&#13;
Penelitian tahap keempat dilakukan untuk menentukan efektivitas dengan&#13;
dan tanpa pengadukkan dan dosis kompos dari limbah batang pisang pada&#13;
pemeliharaan ikan gabus. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap pola&#13;
faktorial (RAL Faktorial) dengan dua faktor, yaitu pengadukkan (dengan dan&#13;
tanpa pengadukkan) dan dosis kompos batang pisang ( 0, 9 dan 18 g/L), pada&#13;
media air sulfat masam bersalinitas 3,6 ppt. Benih berukuran panjang rata-rata&#13;
2,4±0,3 cm dan bobot rata-rata 0,21±0,02 g dipelihara dalam akuarium 30 x 25 x&#13;
35 cm3 (volume 25 liter) dengan padat tebar 2 ekor/L, selama 40 hari. Ikan diberi&#13;
pakan komersial berkadar protein ±40% yang diberikan 2 kali sehari secara at&#13;
satiation. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ikan gabus yang dipelihara tanpa&#13;
pengadukkan memperlihatkan performa pertumbuhan dan fisiologi yang lebih&#13;
baik bila dibandingkan dengan pemeliharaan dengan pengadukkan (P&lt;0,05).&#13;
Pemberian kompos 9 g/L menghasilkan tingkat kelangsungan hidup (95,33%),&#13;
pertumbuhan spesifik (7,66%/hari), efisiensi pemanfaatan pakan (87,17%), kadar&#13;
albumin daging (5,89 g/100 mL) dan glukosa darah (43,77 mg/100 mL) yang&#13;
lebih baik daripada perlakuan 0 dan 18 g/L (P&lt;0,05). Retensi protein dan energi&#13;
tidak dipengaruhi oleh pemberian kompos. Kombinasi perlakuan tanpa&#13;
pengadukkan dan pemberian kompos 9 g/L menghasilkan laju pertumbuhan&#13;
spesifik tertinggi, namun tidak perbeda nyata dengan kombinasi tanpa&#13;
pengadukkan dan tanpa kompos, dan kombinasi pengadukkan dan pemberian&#13;
kompos 9 g/L. Konsentrasi albumin tertinggi dijumpai pada kombinasi perlakuan&#13;
tanpa aerasi dan tanpa kompos, dan kombinasi perlakuan tanpa pengadukkan dan&#13;
pemberian kompos 9 g/L. Glukosa darah yang paling rendah dijumpai pada&#13;
pemeliharaan ikan tanpa pengadukkan dan tanpa kompos atau kompos 9 g/L.&#13;
Kombinasi pemeliharaan benih ikan gabus tanpa aerasi dan kompos 9 g/L&#13;
menghasilkan performa produksi terbaik pada budidaya ikan gabus dalam air&#13;
sulfat masam.
</description>
<dc:date>2017-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</rdf:RDF>
