<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rdf:RDF xmlns="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<channel rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/85">
<title>DT - Economic and Management</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/85</link>
<description/>
<items>
<rdf:Seq>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/85355"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/85350"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/85344"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/83516"/>
</rdf:Seq>
</items>
<dc:date>2017-07-10T01:25:32Z</dc:date>
</channel>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/85355">
<title>Pengaruh Pengelolaan Tanaman Terpadu Terhadap Efisiensi Produksi Dan Ketahanan Pangan Petani Di Sentra Produksi Jagung Provinsi Jawa Barat</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/85355</link>
<description>Pengaruh Pengelolaan Tanaman Terpadu Terhadap Efisiensi Produksi Dan Ketahanan Pangan Petani Di Sentra Produksi Jagung Provinsi Jawa Barat
Silitonga, Parlindungan Y.
Penelitian ini bertujuan untuk : (1) Menganalisis pengaruh penerapan&#13;
teknologi Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT)jagung terhadap pendapatan dan&#13;
kelayakan teknologi usahatani jagung. (2) Menganalisis pengaruh penerapan teknologi&#13;
PTT jagung terhadap efisiensi teknis, alokatif, dan ekonomis serta faktor-faktor yang&#13;
mempengaruhi inefisiensi petani jagung, (3) Menganalisis pengaruh penerapan&#13;
teknologi PTT jagung terhadap ketahanan pangan rumah tangga petani jagung. (4)&#13;
Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi derajat ketahanan pangan rumah&#13;
tangga petani jagung. Penelitian dilakukan di Provinsi Jawa Barat, yaitu Kabupaten&#13;
Sukabumi dan Kabupaten Garut. Metode pengambilan sampel dengan metode stratified&#13;
random sampling, sampel sebanyak 300 rumahtangga petani. Menggunakan analisis&#13;
R/C ratio, perubahan penggunaan teknologi PTT dievaluasi dengan analisis anggaran&#13;
parsial sederhana dan Marginal Benefit Cost Ratio. Pengaruh penerapan teknologi PTT&#13;
menggunakan fungsi produksi stochastik frontier Cobb-Douglas, efisiensi alokatif dan&#13;
ekonomis dianalisis menggunakan pendekatan dari sisi input. Sedangkan untuk&#13;
mengetahui pengaruh penerapan PTT dan faktor-faktor yang mempengaruhi terhadap&#13;
ketahanan pangan rumah tangga menggunakan klasifikasi silang pangsa pengeluaran&#13;
pangan dan konsumsi energi per unit ekivalen dewasa serta regresi logistik ordinal.&#13;
Hasil penelitian: (1) pengaruh penerapan teknologi PTT dapat meningkatkan&#13;
pendapatan dan menghasilkan tambahan keuntungan bagi petani jagung sehingga layak&#13;
untuk diintroduksikan, (2) penerapan teknologi PTT lebih efisien dibandingkan tanpa&#13;
penerapan teknologi PTT, (3) penerapan teknologi PTT dapat meningkatkan ketahanan&#13;
pangan rumah tangga petani melalui peningkatan produksi, pendapatan dan akses&#13;
pangan, (4) secara umum tingkat ketahanan pangan rumah tangga petani jagung adalah&#13;
kurang pangan. Umur ibu rumah tangga, pendapatan usahatani jagung, pendapatan total&#13;
rumah tangga, tingkat efisiensi teknis produksi jagung, dan dummy petani berpengaruh&#13;
positif terhadap tingkat ketahanan pangan rumah tangga. Sedangkan jumlah anggota&#13;
keluarga berpengaruh negatif terhadap tingkat ketahanan pangan rumah tangga.&#13;
Tingkat ketahanan pangan rumah tangga petani PTT lebih tinggi dibandingkan petani&#13;
bukan PTT.Implikasi kebijakan : (1) peningkatan produksi dan efisiensi usahatani&#13;
jagung pada lahan kering melalui penerapan PTT perlu dikembangkan pada kawasan&#13;
yang lebih luas karena terbukti mampu meningkatkan produksi dan efisiensi usahatani&#13;
jagung, (2) peningkatan pendidikan informal guna peningkatan kemampuan manajerial&#13;
petani, (3) penguatan kelembagaan penyuluhan melalui peningkatan kapasitas sumber&#13;
daya manusia, peningkatan programpenyuluhan, peningkatan sarana prasarana&#13;
penyuluhan, dan penguatan kelembagaan kelompok tani, (4) peningkatan akses pangan&#13;
rumah tangga melalui peningkatan pendapatan rumah tangga baik on farm maupun off&#13;
farm, (5) peningkatan akses terhadap kesempatan kerja diluar usahatani melalui&#13;
peningkatan sumberdaya manusia.
</description>
<dc:date>2017-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/85350">
<title>Analisisfaktoryangmemengaruhi Perilaku Ekonomi Dan Kesejateraanrumah Tangga Petani Usahataniterpadupadi-Sapi Di Provinsi Jawa Barat</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/85350</link>
<description>Analisisfaktoryangmemengaruhi Perilaku Ekonomi Dan Kesejateraanrumah Tangga Petani Usahataniterpadupadi-Sapi Di Provinsi Jawa Barat
Lindawati
Sistem usahatani terpadu padi-sapi masih dianggap sebagai salah satu sistem&#13;
yang mampu dalam meningkatkan produksi dan pendapatan petani. Pemanfaatan&#13;
limbah dari masing-masing kegiatan usahatani meminimalisirpenggunaan input&#13;
luardanmemanfaatkansumberdaya yang tersedia di dalamusahatani.&#13;
Usahataniterpadupadi-ternakadalahteknologi yang&#13;
ramahlingkungandantepatdilakukanterutamadikaitkandenganpertanianberkelanjut&#13;
an(Sustainable Agriculture)karenamenganutkonsepzero waste&#13;
yaitumeminimalisirlimbahusahatanidengan proses daurulang&#13;
danmeminimalisirpenggunaan input kimia.&#13;
Penelitianinibertujuanuntukmenganalisis, (1) menganalisisfaktor-faktor yang&#13;
memengaruhikeputusanpetanidalammengadopsisistemusahataniterpadupaditernak,&#13;
(2) menganalisisfaktor-faktor yang&#13;
memengaruhiperilakuekonomirumahtanggapetanidalammenerapkanusahataniterpa&#13;
dupadi-ternak, (3) menganalisisdampakperubahanharga input dan harga output&#13;
terhadapekonomi rumah tanggadan kesinambunganusahataniterpadupadi-ternak&#13;
Penelitian ini dilaksanakan di provinsi Jawa Barat dengan pertimbangan&#13;
pernah melaksanakan program sistem integrasi Padi-Ternak (SIPT). Pengambilan&#13;
data dilakukanpadabulanMei sampaiJuli 2013.Jumlahrumahtanggasampel&#13;
199rumahtanggapetani.Model regresi logistik dipergunakan untuk mengetahui&#13;
kecenderungan faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan petani dalam&#13;
mengadopsi sistem usahatani terpadu padi-sapi. Analisisdengan model&#13;
ekonometrikadalambentuksistempersamaansimultan,terdiriatas36 persamaan,&#13;
yaitu18persamaanperilakudan18persamaanidentitas.&#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa keputusan mengadopsi usahatani&#13;
terpadu padi-sapi dipengaruhi oleh tenaga kerja keluarga dalam usaha ternak sapi&#13;
dan jumlah sapi. Jumlah sapi mempunyai peluang sebesar 1.35 kali dalam&#13;
keputusan untuk mengadopsi usahatani terpadu padi-ternak. Hasil simulasi&#13;
menunjukkan bahwa kenaikan harga input memberikan dampak negatifdan&#13;
menurunkan produksi padi, produksi sapi, penggunaan input produksi,&#13;
pendapatan usahatani, total pendapatan dan pengeluaran konsumsi pangan dan&#13;
non pangan rumah tangga petani usahatani terpadu padi-sapi.&#13;
Kenaikan harga gabah padi berdampak positif pada jumlah produksi sapi,&#13;
produksi pupuk kandang, alokasi tenaga kerja dalam keluarga usahatani padi dan&#13;
ternak sapi, pendapatan usahatani padi dan pendapatan usaha ternak sapi.&#13;
Kenaikan harga gabah padi berdampak negatif pada produksi padi, produksi&#13;
jerami dan alokasi tenaga kerja pria luar keluarga usahatani padi dan pendapatan&#13;
total rumah tangga.Kenaikan harga sapi hidup berdampak positif pada produksi&#13;
padi, jerami, alokasi tenaga kerja dalam dan luar keluarga usahatani padi dan&#13;
pendapatan total rumah tangga. Kenaikan harga sapi hidup berdampak negatif&#13;
pada produksi sapi, produksi pupuk kandang, jumlah permintaan dedak, jumlah&#13;
jerami yang digunakan dan alokasi tenaga kerja usaha ternak sapi.&#13;
Kenaikan input-input produksi, upah, harga gabah padi dan harga sapi hidup&#13;
sebesar 10% tidak memberikan dampak kepada biaya produksi dan pengeluaran&#13;
rumah tangga pada usahatani terpadu padi-ternak. Fluktuasi harga input output&#13;
mempengaruhi kesinambungan atau sustanabilitas dari aspek ekonomi usahatani.&#13;
Kebijakan pengaturan harga output dan harga input diperlukan dalam rangka&#13;
mempertahankan kesinambungan usahatani yang berdampak langsung pada&#13;
peningkatan pendapatan petani.
</description>
<dc:date>2017-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/85344">
<title>Dampak Kebijakan Perberasan Terhadap Pola Diversifikasi Pangan Pokok Dan Ketahanan Pangan Nasional</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/85344</link>
<description>Dampak Kebijakan Perberasan Terhadap Pola Diversifikasi Pangan Pokok Dan Ketahanan Pangan Nasional
Setiawan, Edi
Sebagai salah satu dari lima negara dengan penduduk terbesar di dunia,&#13;
Indonesia mempunyai tantangan cukup besar dalam pemenuhan konsumsi pangan&#13;
penduduknya. Masalah ketahanan pangan terkait penyediaan dan akses pangan menjadi&#13;
agenda penting dalam setiap program pembangunan pertanian. Dengan berbagai&#13;
kebijakan perberasan yang diterapkan membawa Indonesia pernah meraih swasembada&#13;
beras, namun prestasi ini membawa dampak lain yaitu semakin tingginya ketergantungan&#13;
konsumsi pangan penduduk terhadap beras. Berbagai program diversifikasi pangan tidak&#13;
mampu menahan laju konsumsi beras sehingga kondisi ini dapat menjadi ancaman baru&#13;
bagi kondisi ketahanan pangan nasional.&#13;
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perkembangan kondisi diversifikasi&#13;
pangan pokok periode yang lalu dan meramalkan perkembangan diversifikasi pangan&#13;
pokok pada masa yang akan datang, menganalisis keterkaitan kebijakan perberasan dan&#13;
program swasembada beras dengan kegagalan program diversifikasi pangan pokok,&#13;
meramalkan dampak penerapan kebijakan perberasan pada masa yang akan datang&#13;
terhadap kondisi diversifikasi pangan pokok, dan merumuskan kebijakan alternatif terbaik&#13;
yang dapat meningkatkan kondisi diversifikasi pangan pokok dan ketahanan pangan&#13;
nasional. Pangan pokok yang dianalisis dibatasi pada empat pangan pokok utama yaitu&#13;
beras, jagung, ubi kayu dan terigu dan digunakan data tingkat nasional tahun 1980-2013.&#13;
Penelitian ini menggunakan model persamaan simultan terdiri dari 22 Persamaan&#13;
struktural dan 34 persamaan identitas yang diestimasi dengan menggunakan metode Two&#13;
Stage Least Square (2SLS).&#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa diversifikasi produksi dan konsumsi empat&#13;
pangan pokok selama kurun waktu 4 dekade terakhir semakin memburuk yang ditandai&#13;
oleh kesenjangan yang tinggi antara padi dengan jagung, ubi kayu dan terigu. Produksi&#13;
beras mendominasi produksi pangan pokok dan kecenderungannya semakin meningkat&#13;
setiap tahunnya dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 3.22 persen. Konsumsi beras juga&#13;
mempunyai kecenderungan meningkat jauh di atas komoditas lainnya terutama setelah&#13;
tahun 2006.&#13;
Berdasarkan hasil simulasi kebijakan perberasan pada model ekonomi pangan&#13;
pokok Indonesia diketahui bahwa dari berbagai alternatif kebijakan yang dilakukan oleh&#13;
pemerintah tidak ada satupun yang dapat memenuhi tujuan keempat indikator ketahanan&#13;
pangan. Penerapan teknologi yang dapat meningkatkan produktivitas jagung dan ubi kayu&#13;
merupakan pilihan yang dapat dipilih untuk meningkatkan semua indikator ketahanan&#13;
pangan. Hasil simulasi menunjukkan bahwa kebijakan yang memberikan dukungan&#13;
berlebihan terhadap komoditas beras dengan tujuan swasembada beras berdampak negatif&#13;
terhadap diversifikasi baik konsumsi maupun produksi. Kebijakan yang terkait&#13;
pembatasan impor dan pengenaan tariff yang tinggi atas impor beras memberikan dampak&#13;
yang positif terhadap diversifikasi konsumsi dan indikator swasembada beras. Semua&#13;
kebijakan yang dilakukan yang bertujuan untuk meningkatkan diversifikasi produksi&#13;
pangan pokok akan berdampak positif juga terhadap indeks diversifikasi konsumsi tetapi&#13;
tidak berlaku sebaliknya.&#13;
Berdasarkan ramalan dampak kebijakan perberasan selama periode 2017-2025 pada&#13;
model ekonomi pangan pokok Indonesia diketahui bahwa sampai dengan tahun 2025&#13;
vi&#13;
kondisi diversifikasi pangan pokok baik produksi maupun konsumsi masih sangat sulit&#13;
untuk tercapai. Ketahanan pangan nasional masih akan tergantung kepada pencapaian&#13;
swasembada beras dengan segala kebijakan pendukungnya. Selama 8 tahun ke depan,&#13;
trade off antara kebijakan yang ingin memperkuat ketahanan pangan melalui swasembada&#13;
beras dengan kebijakan penguatan ketahanan pangan melalui diversifikasi konsumsi&#13;
masih akan terjadi. Berdasarkan hasil simulasi historis ada satu pilihan alternatif&#13;
kebijakan yang dapat memperkuat diversifikasi konsumsi sekaligus pencapaian&#13;
swasembada beras yaitu alternatif kebijakan penurunan kuota impor sebesar 10 persen.&#13;
Pada masa yang akan datang, jika pemerintah tetap ingin mempertahankan&#13;
ketahanan pangan yang dibangun berdasarkan swasembada beras maka pilihan kebijakan&#13;
pengurangan subsidi pupuk dan benih yang diantisipasi dengan peningkatan dan&#13;
perbaikan infrastruktur irigasi dapat menjadi kebijakan alternatif, sedangkan jika&#13;
pemerintah ingin fokus terhadap upaya-upaya pencapaian diversifikasi pangan baik&#13;
produksi maupun konsumsi maka pilihan kebijakan pengurangan subsidi pupuk yang&#13;
diantisipasi dengan menaikkan harga pembelian pemerintah dapat menjadi alternatif.&#13;
Temuan menarik yang dapat menjadi bahan pertimbangan bagi pemerintah adalah bahwa&#13;
ketika diversifikasi produksi berhasil dicapai maka diversifikasi konsumsi juga akan&#13;
tercapai, tetapi tidak berlaku sebaliknya. Temuan ini menjelaskan bahwa diversifikasi&#13;
konsumsi dapat dicapai tanpa melalui diversifikasi produksi tetapi bisa melalui kebijakan&#13;
langsung terhadap penawaran beras yaitu impor.&#13;
Dari berbagai alternatif kebijakan yang disimulasikan, kebijakan pelarangan&#13;
impor atau pembatasan impor pada level tertentu adalah pilihan kebijakan yang dapat&#13;
diambil agar dapat memaksa masyarakat mendiversifikasikan konsumsi pangan pokok&#13;
mereka dan mengurangi ketergantungan akan beras. Kebijakan ini juga sekaligus dapat&#13;
memperkuat kemandirian pangan beras dan memuluskan jalan untuk pencapaian&#13;
swasembada beras.&#13;
Pemerintah sebaiknya memutuskan untuk membangun ketahanan pangan nasional&#13;
dengan orientasi jangka pendek melalui pencapaian swasembada beras atau berorientasi&#13;
jangka panjang dengan melakukan diversifikasi produksi dan konsumsi pangan pokok.&#13;
Peningkatan produktivitas jagung dan ubi kayu sebaiknya segera dilakukan mengingat&#13;
dampaknya positif terhadap diversifikasi dan ketahanan pangan. Kebijakan pengurangan&#13;
subsidi pupuk belum saatnya untuk dilakukan jika pemerintah masih tetap mentargetkan&#13;
untuk mencapai swasembada beras karena berbagai kombinasi kebijakan yang dilakukan&#13;
menunjukkan indikator ketahanan pangan yang memburuk dan kesejahteraan baik&#13;
produsen maupun konsumen menjadi turun.
</description>
<dc:date>2017-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/83516">
<title>Disparitas Pembangunan Wilayah Dan Modal Sosial Di Provinsi Papua Barat</title>
<link>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/83516</link>
<description>Disparitas Pembangunan Wilayah Dan Modal Sosial Di Provinsi Papua Barat
Baransano, Michael Albert
Gambaran makro perekonomian di Papua Barat menunjukan bahwa&#13;
terdapat perbedaan kontribusi yang besar antara PDRB kabupaten Manokwari,&#13;
kota Sorong, kabupaten Sorong dan kabupaten Fak-Fak dengan kabupaten&#13;
lainnya yang memberikan kontribusi paling rendah terhadap pembentukan PDRB&#13;
Papua Barat. Untuk itu, pembangunan di Papua Barat selayaknya dikembangkan&#13;
secara lebih intensif dengan mengutamakan pemanfaatan sumberdaya lokal&#13;
termasuk modal sosial dan sektor perekonomian (sektor basis dan non basis)&#13;
yang berpotensi memberikan dampak positif bagi peningkatan perekonomian&#13;
dalam mendukung kesejahteraan masyarakat.&#13;
Di era otonomi daerah, muncul berbagai dampak baik positif maupun&#13;
negatif yang menyertai pembangunan ekonomi wilayah di Papua Barat seperti&#13;
konflik horisontal antar kelompok dalam suatu wilayah ataupun antar wilayah&#13;
mengarah pada aktifitas anarkis yang sangat mengganggu keamanan dan&#13;
kenyamanan. Bila dilihat dalam sudut pandang modal sosial, hal tersebut&#13;
merupakan salah satu indikator melemahnya rasa percaya, norma-norma dan&#13;
jejaring yang selama ini ditaati oleh masyarakat. Melemahnya modal sosial akan&#13;
menyebabkan pembangunan wilayah tidak dapat berjalan efektif karena&#13;
tingginya biaya transaksi yang harus dikeluarkan sebagai subtitusi terhadap&#13;
modal sosial yang hilang.&#13;
Penelitian ini meliputi dua kajian, pertama terkait disparitas pembangunan&#13;
wilayah dilakukan di seluruh wilayah kabupaten/kota di Provinsi Papua Barat,&#13;
kecuali beberapa kabupaten yang baru memekarkan diri (DOB) dikeluarkan dari&#13;
analisis karena belum tersedia data statistik (data sekunder/time series). Metode&#13;
analisis yang digunakan terdiri dari Indeks Entropi, LQ dan SSA, Indeks Theil&#13;
dan regresi linear berganda (data panel), sumber data adalah data sekunder yang&#13;
terdiri dari data PDRB, jumlah penduduk, PDRB per kapita, alokasi dana&#13;
perimbangan dan data IPM selama periode 2004-2014. Kajian kedua terkait&#13;
modal sosial dilakukan dengan data survey (data primer) terhadap responden di&#13;
Kabupaten Manokwari dan Kota Sorong dengan menggunakan sistem skoring&#13;
pada kuisioner dan analisis regresi logistik berganda. Hasil penelitian&#13;
menunjukan bahwa perkembangan wilayah di provinsi Papua Barat yang diukur&#13;
dengan Indeks Entropi cederung menurun selama periode 2004-2014, kecuali&#13;
kabupaten Teluk Bintuni yang menunjukan peningkatan perkembangan&#13;
perekonomiannya secara signifikan. Secara keseluruhan perkembangan wilayah&#13;
(nilai entropi) di Kabupaten Sorong, Kota Sorong, Kabupaten Manokwari dan&#13;
Kabupaten Fak-Fak dan Kabupaten Teluk Bintuni masih jauh lebih tinggi&#13;
dibandingkan dengan Kabupaten Teluk Wondama, Kabupaten Tambrauw,&#13;
Kabupaten Maybrat dan Kabupaten Raja Ampat. Hal ini menunjukan bahwa&#13;
meskipun mengalami trend penurunan namun wilayah-wilayah yang lebih tinggi&#13;
Indeks Entropinya paling berimbang dan terdiversifikasi perkembangan sektorsektor&#13;
perekonomiannya dengan baik. Sektor pertanian, sektor pertambangan,&#13;
sektor jasa-jasa, sektor bangunan dan kontruksi serta sektor perdagangan, hotel&#13;
dan restoran meskipun memberikan kontribusi terbesar dan mendominasi&#13;
perkembangan perekonomian di Papua Barat selama periode 2004-2014 namun&#13;
kontribusinya terus mengalami penurunan selama periode tersebut. Kondisi ini&#13;
memungkinkan terjadinya transisi dari sektor-sektor tersebut di atas ke sektor&#13;
industri dan jasa di Papua Barat kedepannya.&#13;
Hasil analisis dengan menggunakan metode LQ dan SSA menunjukan&#13;
bahwa sektor pertanian secara keseluruhan selama periode 2005-2014 masih&#13;
merupakan sektor andalan pembangunan wilayah dengan nilai LQ sebesar 1.91&#13;
artinya bahwa pembentukan PDRB Papua Barat selama periode tersebut masih&#13;
didominasi oleh sumbangsih dari sektor pertanian yang tersebar merata di&#13;
seluruh wilayah kabupaten kecuali Kabupaten Sorong dan Kota Sorong yang&#13;
memiliki nilai LQ&lt;1. Sektor lainnya yang juga memberikan kontribusi terbesar&#13;
setelah sektor pertanian adalah sektor bangunan/kontruksi, sektor jasa-jasa,&#13;
sektor perdagangan hotel dan restoran, sektor listrik, gas dan air bersih, sektor&#13;
anggkutan dan komunikasi serta sektor keuangan, persewaan dan jasa&#13;
perusahaan. Analisis selanjutnya dengan menggunakan metode SSA untuk&#13;
melihat daya saing suatu sektor terhadap wilayah diatasnya (wilayah provinsi)&#13;
melalui nilai differential shift yang dapat menjelaskan bahwa sektor-sektor&#13;
perekonomian di Papua Barat bervariasi pada setiap WP. Sektor perekonomian&#13;
yang memiliki kemampuan kompetitif pada WP I adalah sektor pertambangan&#13;
dan penggalian (9.90), sektor industri pengolahan (6.95), sektor jasa-jasa (0.30)&#13;
serta sektor listrik gas dan air bersih (0.12). Pada WP II yakni sektor keuangan&#13;
persewaan dan jasa perusahaan (12.14), sektor listrik gas dan air bersih (3.82),&#13;
sektor bangunan/konstruksi (3.00), sektor perdagangan hotel dan restoran (2.25),&#13;
sektor pertambangan dan penggalian (1.75), sektor pertanian (1.36), sektor&#13;
anggkutan dan komunikasi (0.3). Pada WP III, sektor yang memiliki kempuan&#13;
kompetitif adalah sektor pertambangan dan penggalian (0.98) sektor jasa-jasa&#13;
(0.51), sektor keuangan persewaan dan jasa perusahaan (0.27), sektor&#13;
perdagangan hotel dan restoran (0.24), sektor pertambangan/ penggalian (0.98)&#13;
dan sektor pertanian (0.19).&#13;
Hasil analisis terkait tingkat disparitas yang diukur menggunakan Indeks&#13;
Theil menunjukan bahwa tingkat disparitas total di Papua Barat selama periode&#13;
2005-2014 cenderung mengalami peningkatan dimana dari hasil dekompisi&#13;
terlihat bahwa disparitas total di Papua Barat lebih banyak dipengaruhi oleh&#13;
disparitas dalam WP. Kecenderungan tingginya tingkat disparitas wilayah diduga&#13;
dipengaruhi oleh ketimpangan proporsional pada PDRB per kapita, sebaran&#13;
jumlah penduduk, alokasi dana perimbagan dan indeks pembangunan manusia.&#13;
Hasil penelitian terkait modal sosial menunjukan bahwa modal sosial&#13;
memiliki keterkaitan terhadap disparitas pembangunan wilayah di Papua Barat,&#13;
berdasarkan data survey terhadap penduduk di Papua Barat (kota sorong dan&#13;
kabupaten Manokwari) diketahui bahwa nilai modal sosial yang semakin besar&#13;
(67.38) akan memberikan pengaruh positif dalam mengurangi tingkat disparitas&#13;
pembangunan wilayah. Hasil uji menggunakan regresi logistik berganda&#13;
memperlihatkan bahwa faktor sub dimensi trust memiliki peluang menurunkan&#13;
tingkat disparitas pembangunan wilayah sebesar 18.75 kali dibandingkan dengan&#13;
sub dimensi norm dan sub dimensi network.
</description>
<dc:date>2016-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</rdf:RDF>
