<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<title>DT - Animal Science</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/84" rel="alternate"/>
<subtitle/>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/84</id>
<updated>2017-07-10T01:23:48Z</updated>
<dc:date>2017-07-10T01:23:48Z</dc:date>
<entry>
<title>Dinamika Karbon Beberapa Spesies Rumput Tropis Berpotensi Sumber Hijauan Pakan Pada Ekosistem Perkebunan Kelapa Sawit Dan Karet</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/83984" rel="alternate"/>
<author>
<name>Martaguri, Imana</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/83984</id>
<updated>2017-05-02T07:21:56Z</updated>
<published>2017-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Dinamika Karbon Beberapa Spesies Rumput Tropis Berpotensi Sumber Hijauan Pakan Pada Ekosistem Perkebunan Kelapa Sawit Dan Karet
Martaguri, Imana
Hijauan merupakan sumber energi utama ternak ruminansia. Sebagian&#13;
besar hijauan yang dikonsumsi ternak di Indonesia berasal dari rumput lokal dan&#13;
sebagian lainnya hijauan budidaya. Perkebunan kelapa sawit dan karet yang&#13;
tersebar di beberapa provinsi di Indonesia termasuk Jambi memiliki luasan yang&#13;
cukup potensial dijadikan sentra produksi hijauan pakan. Berbagai spesies rumput&#13;
tropis diyakini dapat tumbuh dibawah naungan tanaman perkebunan. Rumput&#13;
merupakan tanaman C4 yang memiliki laju fotosintesis tinggi. Selama proses&#13;
fotosintesis, tumbuhan melakukan sekuestrasi karbon yaitu mengambil CO2 dari&#13;
udara dan merubahnya menjadi komponen organik. Dengan laju fotosintesis yang&#13;
tinggi rumput diyakini memiliki kemampuan menyimpan dan mengakumulasi&#13;
karbon selama pertumbuhannya. Kemampuan spesies rumput tropis dalam&#13;
mengakumulasi dan menyimpan karbon khususnya rumput yang tumbuh dibawah&#13;
naungan belum banyak diungkap sehingga diperlukan sebuah penelitian untuk&#13;
mempelajarinya.&#13;
Penelitian ini bertujuan untuk menemukan spesies rumput tropis dibawah&#13;
naungan yang berpotensi besar menyimpan karbon, menghitung karbon tersimpan&#13;
akibat perubahan fungsi hutan sebagai penyimpan karbon terbesar khususnya&#13;
pada tanaman rumput sekaligus menghitung kapasitas nutrisinya, menghitung&#13;
produksi dan mengamati pola pertumbuhan serta dinamika penyimpanan karbon&#13;
pada berbagai spesies rumput dalam berbagai tingkatan umur tanaman, mengukur&#13;
kapasitas nutrisi, kecernaan rumput sekaligus mengukur pembentukan gas pada&#13;
sistem pencernaan ternak ruminansia dan menghitung energi yang terbuang&#13;
melalui pembentukan gas metan secara in vitro berdasarkan tingkatan umur&#13;
tanaman.&#13;
Penelitian ini dilakukan dalam tiga tahap. Tahap pertama meliputi kegiatan&#13;
koleksi dan identifikasi yang dilakukan di perkebunan kelapa sawit dan karet di&#13;
kabupaten Sarolangun provinsi Jambi. Perkebunan terbagi atas perkebunan&#13;
komersil dan perkebunan hutan transformasi. Penelitian dilakukan dengan metode&#13;
survey yang meliputi identifikasi spesies, pembuatan herbarium dan analisa&#13;
laboratorium untuk mengetahui kandungan C organik, nitrogen, fraksi serat serta&#13;
kecernaan bahan kering dan bahan organik rumput secara in vitro. Hasil penelitian&#13;
menunjukkan bahwa terdapat 4 spesies dominan yang tumbuh dibawah naungan&#13;
perkebunan kelapa sawit dan karet di Sarolangun Jambi yaitu Axonopus&#13;
compressus, Panicum brevifolium, Scleria sumatrensis dan Centotheca&#13;
longilamina Ohwi. Secara umum kandungan C organik rumput yang tumbuh pada&#13;
ekosistem perkebunan kelapa sawit transformasi lebih tinggi daripada ekosistem&#13;
perkebunan komersil. Terjadi variasi kandungan nitrogen, fraksi serat dan&#13;
kecernaan antar masing-masing spesies.&#13;
Penelitian kedua dilakukan percobaan pada spesies dominan dari&#13;
penelitian sebelumnya menggunakan rancangan acak lengkap dengan perlakuan&#13;
umur tanaman 10, 20, 30, 40, 50 dan 60 hari dalam kondisi naungan perkebunan&#13;
kelapa sawit. Hasil penelitian menunjukkan adanya dinamika karbon dan nitrogen&#13;
pada masing-masing spesies baik pada bagian daun, akar, batang dan tanah. Pada&#13;
umumnya kandungan karbon lebih tinggi pada umur 10 dan 20 hari lalu turun&#13;
diumur 30 dan 40 kemudian naik lagi mulai umur 50 hari. Fraksi serat, kecernaan,&#13;
pertumbuhan dan biomasa tanaman sejalan dengan kandungan C organik&#13;
masing-masing tanaman. Dinamika karbon dan kapasitas nutrisi lainnya paling&#13;
jelas terlihat pada umur 30, 50 dan 60 hari.&#13;
Penelitian ketiga bertujuan menganalisa profil serat dan pola fermentasi&#13;
rumput pada umur 30, 50 dan 60 hari termasuk menghitung energi yang terbuang&#13;
dalam bentuk gas metan pada ternak ruminansia secara in vitro. Hasil penelitian&#13;
menunjukkan bahwa komponen fraksi serat meningkat seiring pertambahan umur&#13;
tanaman. Kecernaan bahan organik, konsentrasi VFA total dan parsial,&#13;
konsentrasi amonia, produksi gas total dan metan dipengaruhi oleh umur tanaman&#13;
dimana penggunaan rumput lebih efisien pada umur 30 hari. Rumput pada&#13;
penelitian ini menghasilkan produksi metan yang rendah yaitu hanya 1-3% saja.&#13;
Kesimpulan dari seluruh tahapan penelitian adalah bahwa terdapat spesies rumput&#13;
tropis yang tumbuh pada ekosistem perkebunan kelapa sawit dan karet yang&#13;
potensial sebagai sumber hijauan pakan, tinggi simpanan karbonnya dan efisien.&#13;
Masih diperlukan penelitian lanjutan dalam peningkatan kapasitas nutrisi spesies&#13;
rumput tersebut.
</summary>
<dc:date>2017-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Kajian Produktivitas Dan Kesejahteraan Domba Garut Dengan Pakan Limbah Tauge Dan Manajemen Waktu Pemberian Berbeda</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/83526" rel="alternate"/>
<author>
<name>Rahayu, Sri</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/83526</id>
<updated>2017-03-02T05:05:12Z</updated>
<published>2016-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Kajian Produktivitas Dan Kesejahteraan Domba Garut Dengan Pakan Limbah Tauge Dan Manajemen Waktu Pemberian Berbeda
Rahayu, Sri
Domba merupakan salah satu komoditas penting di Indonesia, baik&#13;
sebagai penghasil daging maupun sebagai hewan kurban. Namun&#13;
produktivitasnya, terutama domba lokal masih relatif rendah. Rendahnya tingkat&#13;
produktivitas domba lokal pada umumnya selain disebabkan oleh faktor genetik,&#13;
juga dikarenakan faktor lingkungan, diantaranya adalah pakan dan iklim mikro.&#13;
Beberapa faktor lingkungan yang menyebabkan rendahnya tingkat&#13;
produktivitas ternak domba di Indonesia adalah kualitas nutrisi pakan yang&#13;
rendah dan iklim tropis yang panas yang menyebabkan ternak mengalami stres&#13;
panas. Oleh karena itu, peningkatan produktivitas domba lokal dapat dilakukan&#13;
melalui perbaikan nutrisi pakan, diantaranya dengan memanfaatkan berbagai&#13;
limbah industri pangan. Salah satu limbah industri pangan yang berpotensi&#13;
menjadi bahan pakan yang baik adalah limbah tauge kacang hijau. Selain itu,&#13;
peningkatan produktivitas, juga dapat dilakukan melalui perbaikan manajemen&#13;
pemberian pakan dengan memanfaatkan fenomena iklim mikro di daerah tropis (&#13;
pada siang hari suhu tinggi dan pada malam hari suhu rendah)&#13;
Limbah tauge kacang hijau adalah produk buangan pengolahan kacang&#13;
hijau menjadi tauge, yang mempunyai kandungan serat yang cukup tinggi disertai&#13;
dengan kandungan protein yang relatif tinggi, diharapkan dapat digunakan untuk&#13;
mensubstitusi pakan hijauan, terutama rumput yang pada umumnya kandungan&#13;
proteinnya rendah, sehingga produktivitas domba meningkat. Peningkatan&#13;
produktivitas ini diharapkan lebih optimal dengan mengatur waktu pemberian&#13;
pakan yang tepat, yakni pemberian pakan pada sore hari, sehingga metabolisme&#13;
pakan terjadi pada malam hari dengan suhu lingkungan yang nyaman.&#13;
Tujuan penelitian ini adalah mengkaji pemanfaatan limbah tauge kacang&#13;
hijau sebagai pakan sumber serat dan perubahan manajemen pemberian pakan&#13;
yang disesuaikan dengan fenomena iklim mikro di daerah tropis, yakni dari&#13;
pemberian pakan pada pagi hari ke sore hari untuk meningkatkan produktivitas&#13;
ternak domba tanpa mengabaikan aspek kesejahteraan ternak.&#13;
Penelitian bagian pertama adalah mendeskripsikan limbah tauge secara&#13;
fisik dan mengidentifikasikan kandungan nutrien, antinutrisi dan kandungan zat&#13;
lainnya yang diduga berpengaruh terhadap produktifitas ternak dengan&#13;
pengambilan sampel limbah tauge dari beberapa pengrajin tauge secara acak di&#13;
pasar, kemudian dilakukan analisis ragam terhadap data komposisi fisik dan&#13;
kualitas nutriennya. Penelitian selanjutnya (bagian 2 sd 4) adalah mengevaluasi&#13;
produktivitas dan kesejahteraan ternak domba Garut dengan perlakuan jenis&#13;
ransum, R1 (60% konsentrat 1 + 40% rumput lapang) dan R2 (60% konsentrat 2 +&#13;
40% limbah tauge) serta waktu pemberian pakan pagi hari (pukul 6 00) dan sore&#13;
hari (pukul 17 00). Peubah-peubah yang diamati adalah tingkah laku, respon&#13;
fisiologis, profil hematologis, status metabolit darah, performa pertumbuhan dan&#13;
pasca panen. Data yang diperoleh secara keseluruhan di analisis ragam, kecuali&#13;
performa pasca panen dengan analisis deskriptif.&#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Limbah Tauge (segar) adalah&#13;
campuran dari komponen kulit tauge sekitar 70.90% (67.89-75.32%) dan tauge&#13;
serta potongan-potongannya sebesar 29.10% (24.68-32.11%). Dalam bentuk&#13;
kering udara, komposisinya menjadi 87.60% (84.37-89.97%) kulit tauge dan&#13;
12.40% (10.03-15.63%) tauge serta potong-potongannya. Kandungan nutrien&#13;
protein kasar, serat kasar dan BETN (13.76%, 30.14%, 52.87%). Kandungan NDF&#13;
dan ADF, zat antinutrisi tannin, enzim protease serta kandungan vitamin E pada&#13;
limbah tauge, sangat mendukung potensinya sebagai pakan yang baik untuk&#13;
peningkatan produktivitas ternak.&#13;
Indikator produktivitas dan kesejahteraan ternak antara lain adalah&#13;
performa pertumbuhan dan pasca panen, tingkah laku serta respon fisiologis.&#13;
Berdasarkan tingkah laku yang diamati (tingkah laku makan, istirahat, agonistik&#13;
dan tingkah laku lainnya), pemberian ransum limbah tauge dengan waktu&#13;
pemberian pakan yang berbeda tidak menyebabkan abnormalitas pada domba&#13;
Garut. Sementara itu, respon fisiologis (laju respirasi, denyut nadi dan suhu&#13;
tubuh), profil hematologis dan status metabolit darah (kadar glukosa, Urea-N dan&#13;
kolesterol) termasuk dalam kisaran normal.&#13;
Pemberian 40% limbah tauge dalam ransum domba Garut dengan waktu&#13;
pemberian pakan yang berbeda dapat meningkatkan performa pertumbuhan dan&#13;
pasca panen. Pertambahan bobot badan harian (pbbh) domba dengan ransum&#13;
limbah tauge (140.94g/ek/h) lebih tinggi dari pada yang diberi ransum rumput&#13;
(76.61g/ek/hr). Konversi pakan domba yang diberi ransum limbah tauge dengan&#13;
waktu pemberian sore hari (6.07) lebih baik dari pada domba yang diberi ransum&#13;
rumput dengan pemberian pagi hari (7.88) maupun sore hari (8.27) serta ransum&#13;
limbah tauge pada pagi hari (7.84).&#13;
Secara ekonomi, pemberian ransum limbah tauge dan waktu pemberian&#13;
pakan sore hari pada domba meningkatkan pendapatan sesudah biaya pakan serta&#13;
meningkatkan efisiensi waktu pencapaian pertambahan bobot hidup hampir dua&#13;
kali lipat dibandingkan domba yang diberi ransum rumput dengan waktu&#13;
pemberian pada sore hari.&#13;
Performa pasca panen menunjukkan bahwa pemberian ransum limbah&#13;
tauge memberikan pengaruh yang lebih baik pada kualitas karkas dan daging,&#13;
kecuali kandungan lemak dibandingkan ransum rumput. Namun waktu pemberian&#13;
pakan sore hari cenderung menurunkan kadar lemak karkas maupun&#13;
daging..Kandungan asam lemak, terutama asak lemak tak jenuh (PUFA) lebih&#13;
tinggi pada domba yang diberi ransum rumput, sebaliknya asam lemak jenuh SFA&#13;
lebih tinggi pada domba yang diberi limbah tauge. .Kadar kolesterol daging&#13;
domba yang diberi ransum limbah tauge pada sore hari cenderung lebih rendah&#13;
pada daging domba yang diberi ransum limbah tauge pagi hari dan yang diberi&#13;
ransum rumput pada pagi dan sore hari.&#13;
Dari rangkaian penelitian pendahuluan dan penelitian utama diperoleh&#13;
bahwa limbah tauge secara fisik dan kualitas kandungan nutrien berpotensi&#13;
sebagai pakan ternak yang baik, terutama untuk ternak ruminansia. Pemanfaatan&#13;
limbah tauge sebesar 40% dalam ransum dengan waktu pemberian pakan sore&#13;
hari, mampu meningkatkan produktivitas domba garut tanpa mengurangi tingkat&#13;
kesejahteraannya.
</summary>
<dc:date>2016-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Strategi Pengembangan Peternakan Kambing Perah Untuk Mendukung Agribisnis Susu Kambing</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/83515" rel="alternate"/>
<author>
<name>Dekrityana, Lucia Cyrilla E.N.S</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/83515</id>
<updated>2017-03-02T05:01:37Z</updated>
<published>2016-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Strategi Pengembangan Peternakan Kambing Perah Untuk Mendukung Agribisnis Susu Kambing
Dekrityana, Lucia Cyrilla E.N.S
Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengevaluasi manajemen usaha yang&#13;
dilakukan peternak kambing perah dengan cara mengidentifikasi permasalahan&#13;
yang ada, serta potensi yang dimiliki peternakan kambing perah, (2) mengevaluasi&#13;
kualitas susu kambing yang diproduksi oleh peternak, dan mengidentifikasi faktor&#13;
yang mempengaruhi kualitas susu kambing, (3) mengidentifikasi faktor-faktor yang&#13;
terkait dengan pengembangan peternakan kambing perah untuk merumuskan&#13;
strategi pengembangan agribisnis susu kambing khususnya untuk Kota dan&#13;
Kabupaten Bogor.Penelitian dilaksanakan di 3 (tiga) peternakan kambing perah&#13;
yang ada di Kota dan Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. Penentuan sampel&#13;
peternak dilakukan secara purposive yaitu peternakan yang memiliki populasi&#13;
kambing perah lebih dari 100 ekor. Pengumpulan data dilakukan selama bulan&#13;
Februari-Mei 2014. Evaluasi terhadap manajemen usaha dilakukan dengan&#13;
mengevaluasi penerapan Good Dairy Farming Practice (GDFP). Evaluasi kualitas&#13;
susu kambing dilakukan menggunakan Fishbone Diagram dan House of Quality.&#13;
Perumusan strategi pengembangan peternakan kambing perah dianalisis&#13;
menggunakan Matriks Internal-Eksternal, Competitive Profile Matrix, SPACE&#13;
Matrix dan Grand Strategy Matrix.&#13;
Secara umum aplikasi praktek peternakan yang baik atau Good Dairy&#13;
Farming Practice (GDFP) yang meliputi aspek bibit dan reproduksi, manajemen&#13;
pakan dan air minum, pengelolaan, kandang dan peralatan, kesehatan hewan, dan&#13;
kesejahteraan hewan di peternakan kambing perah di Kabupaten Bogor tergolong&#13;
baik. Namun masih ada peternakan yang belum menerapkan praktek peternakan&#13;
kambing perah yang baik (Good Dairy Farming Practice/GDFP) sepenuhnya,&#13;
terutama dalam hal konstruksi kandang yang baik, pemberian air minum dan&#13;
kesempatan bagi ternak untuk mengekspresikan tingkah laku alamiahnya.&#13;
Susu kambing yang dihasilkan dari peternakan yang diteliti semuanya sudah&#13;
memenuhi standar mutu khususnya dilihat dari beberapa komponen utama dalam&#13;
kualitas susu, yaitu berat jenis, kadar lemak, bahan kering, protein dan bahan kering&#13;
tanpa lemak. Faktor-faktor yang mempengaruhi kuantitas dan kualitas susu&#13;
kambing adalah : (1) Manusia (peternak, pemerah dan karyawan); (2) Ternak&#13;
(kualitas bibit, jumlah anak, status kebuntingan, bentuk dan ukuran ambing, lama&#13;
laktasi, status kesehatan ternak); (3) Pakan dan Air Minum (jenis, kualitas dan&#13;
kuantitas); (4) Peralatan dan Fasilitas (kelengkapan, kebersihan, keakuratan); (5)&#13;
Kandang dan Lingkungannya (kebersihan, suhu, kelembaban). Atribut susu&#13;
kambing yang dinilai penting oleh konsumen berturut-turut adalah kandungan gizi,&#13;
informasi kedaluarsa, rasa, kemudahan memperoleh, aroma, kepraktisan&#13;
mengkonsumsi, desain kemasan, ukuran kemasan, harga dan warna susu kambing.&#13;
Respons teknis yang sudah dilakukan dan merupakan perhatian utama peternakan&#13;
dalam menjamin kualitas susu kambing yang dihasilkan meliputi kualitas susu,&#13;
kualitas dan kondisi kesehatan ternak, keterampilan dan kinerja peternak dan&#13;
karyawan, kualitas pakan ternak, kebersihan dan kelengkapan peralatan peternakan,&#13;
serta kebersihan dan higiene kandang dan lingkungannya. Berdasarkan Rumah&#13;
Mutu Susu Kambing dapat disimpulkan bahwa baru atribut kandungan gizi, ukuran&#13;
kemasan dan warna susu kambing yang sudah mampu mencapai target kepuasan&#13;
konsumen. Respons teknis keterampilan dan performa peternak dan pekerja&#13;
merupakan prioritas pertama yang memerlukan perbaikan.&#13;
Faktor internal utama yang berperan penting dalam pengembangan peternakan&#13;
kambing perah adalah kualitas susu kambing, serta faktor sifat peternak yang sangat&#13;
kreatif, inovatif dan memiliki jiwa wirausaha. Faktor kepuasan pelanggan yang&#13;
tinggi adalah faktor eksternal utama yang merupakan peluang bagi peternakan&#13;
kambing perah, namun terdapat ancaman utama berupa kontinyuitas ketersediaan&#13;
bibit dari pemasok yang masih belum terjamin.&#13;
Posisi strategis peternakan kambing perah di Kabupaten Bogor berada pada&#13;
kuadran I yaitu pada strategi agresif dalam SPACE matrix. Berdasarkan matriks&#13;
Grand strategy peternakan kambing perah berada dalam posisi yang sangat bagus&#13;
untuk memanfaatkan berbagai kekuatan internalnya untuk menarik keuntungan dari&#13;
peluang-peluang eksternal, mengatasi kelemahan internal, dan menghindari&#13;
beragam ancaman eksternal. Peternakan kambing perah mempunyai kekuatan lebih&#13;
besar daripada kelemahan dan mempunyai ancaman lebih besar daripada peluang.&#13;
Meskipun menghadapi berbagai ancaman, peternakan kambing perah memiliki&#13;
keunggulan sumberdaya. Strategi terbaik yang berpeluang besar untuk diterapkan&#13;
di peternakan kambing perah adalah penetrasi pasar dan pengembangan produk.
</summary>
<dc:date>2016-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Evaluasi Produksi, Nilai Nutrisi Dan Karakteristik Serat Galur Sorgum Mutan Brown Midrib Sebagai Bahan Pakan Ruminansia</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/82392" rel="alternate"/>
<author>
<name>Sriagtula, Riesi</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/82392</id>
<updated>2016-12-28T03:29:27Z</updated>
<published>2016-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Evaluasi Produksi, Nilai Nutrisi Dan Karakteristik Serat Galur Sorgum Mutan Brown Midrib Sebagai Bahan Pakan Ruminansia
Sriagtula, Riesi
Tanaman sorgum (Sorghum bicolor L. Moench) merupakan tanaman pangan yang berpotensi sebagai hijauan pakan karena produksi biomasa, kandungan nutrisi dan palabilitas yang tinggi. Tanaman sorgum menghasilkan hijauan sekaligus bijian yang merupakan sumber serat (energi) dan protein bagi ternak ruminansia, dengan kandungan nutrisi hampir menyamai tanaman jagung (Zea mays), yang dapat dipanen beberapa kali dalam siklus hidupnya. Tanaman sorgum lebih tahan terhadap kekeringan dibanding tanaman jagung sehingga berpotensi dikembangkan di kawasan kering terutama wilayah Indonesia bagian timur. Sorgum sebagai alternatif pakan memiliki kelemahan yaitu kandungan lignin yang tinggi, sehingga kecernaannya lebih rendah apabila dibandingkan tanaman jagung. Pemuliaan tanaman pakan ternak belum banyak dilakukan, pemuliaan tanaman bertujuan untuk meningkatkan keragaman tanaman dan menseleksi karakter yang dikehendaki. Pengembangan sorgum menjadi varietas yang ideal untuk tanaman pakan dilakukan melalui pemuliaan tanaman dengan teknik mutasi menggunakan iradiasi sinar gamma. Galur-galur sorgum Patir merupakan hasil pemuliaan tanaman sorgum di Indonesia (SEAMEO-BIOTROP, Bogor) melalui mutasi genetik dengan iradiasi sinar gamma 150 Gy. Galur-galur sorgum mutan Patir merupakan sorghum Brown Midrib (BMR), yang diperuntukkan sebagai hijauan pakan ternak karena kandungan lignin lebih rendah sehingga kecernaannya lebih tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pertumbuhan dan produksi enam galur sorgum mutan BMR (Patir 3.2, Patir 3.3, Patir 3.4, Patir 3.5, Patir 3.6 dan Patir 3.7) yang dibandingkan dengan galur sorgum mutan non BMR (Patir 3.1) pada fase generatif berbeda (fase-fase pengisian biji), mengevaluasi kandungan nutrisi dan kecernaan secara in vitro dua galur sorgum mutan BMR terpilih dengan produksi biomasa tertinggi, serta menentukan galur sorgum mutan BMR terbaik.&#13;
Penelitian ini terdiri dari 3 tahap, tahap pertama dilakukan untuk mengevaluasi pertumbuhan galur sorgum mutan BMR berdasarkan potensi produksi biomasa dan potensi produksi nutrisi pada fase-fase pengisian biji, untuk mendapatkan dua galur sorgum mutan BMR terpilih. Penelitian ini menggunakan metoda eksperimen menggunakan Rancangan Acak Kelompok pola Faktorial, dilanjutkan dengan serangkaian pengamatan meliputi pengamatan agronomis dan produksi biomasa serta menghitung potensi produksi nutrisi pada dua galur terpilih yang menghasilkan produksi biomasa tertinggi.&#13;
Penelitian tahap I diperoleh hasil bahwa produksi biomasa segar galur mutan BMR (Patir 3.2 dan Patir 3.7) adalah 44.16 ton ha-1 dan 45.19 ton ha-1, ternyata tidak berbeda dibanding produksi biomasa galur sorgum mutan non BMR (Patir 3.1) yaitu 46.80 ton ha-1. Produksi biomasa yang dihasilkan pada pemanenan fase hard dough adalah 43.79 ton ha-1 merupakan produksi biomasa yang paling tinggi dibanding pemanenan pada fase soft dough (42,96 ton ha-1) dan fase berbunga (37.75 ton ha-1). Tidak ada perbedaan produksi protein kasar, serat kasar, abu dan&#13;
lemak kasar antara galur sorgum mutan BMR dan non BMR. Produksi protein kasar dan lemak kasar lebih tinggi dihasilkan pada pemanenan fase hard dough.&#13;
Penelitian tahap kedua bertujuan untuk mengevaluasi kandungan nutrisi, karakteristik serat dan kecernaan secara in vitro pada dua galur sorgum mutan BMR dengan produksi biomasa tertinggi. Metoda yang digunakan pada penelitian ini adalah pengujian kandungan nutrisi dengan menggunakan analisis proksimat, pengujian serat menggunakan analisis Van Soest dan uji kecernaan merujuk pada Tilley dan Terry (1963). Hasil penelitian menunjukkan bahwa galur sorgum mutan BMR (Patir 3.2 dan Patir 3.7) menghasilkan kandungan protein kasar yang lebih tinggi, kandungan lignin lebih rendah dan kecernaan lebih tinggi dibanding galur sorgum mutan non BMR (Patir 3.1). Kandungan protein kasar galur sorgum mutan BMR Patir 3.2 dan Patir 3.7 adalah 9.28% dan 9.06% sedangkan galur sorgum mutan non BMR Patir 3.1 adalah 8.54%. Pemanenan pada fase hard dough menghasilkan produksi protein kasar, abu dan lemak kasar paling tinggi pada penelitian ini.&#13;
Kandungan lignin galur sorgum mutan BMR Patir 3.2 dan Patir 3.7 adalah 6.82% dan 6.78% sedangkan kandungan lignin galur sorgum mutan non BMR Patir 3.1 adalah 8.32%. Kecernaan bahan kering galur sorgum mutan BMR Patir 3.2 dan Patir 3.7 adalah 66.47% dan 68.74% sedangkan galur sorgum mutan non BMR Patir 3.1 adalah 54.23%. Galur sorgum mutan BMR (Patir 3.2 dan Patir 3.7) menghasilkan produksi biomasa segar yang sama dengan galur sorgum mutan non BMR (Patir 3.1). Penurunan kandungan lignin pada galur sorgum mutan BMR ternyata tidak menyebabkan penurunan produksi biomasa. Berdasarkan waktu panen, fase hard dough menghasilkan produksi segar, produksi bahan kering dan kecernaan paling tinggi dibanding fase soft dough dan fase berbunga. Kandungan protein kasar total tidak berbeda antara fase berbunga, soft dough dan hard dough.&#13;
Penelitian tahap ketiga bertujuan untuk menentukan galur sorgum mutan dan waktu panen terbaik, menggunakan metoda skoring yaitu memberikan skor pada parameter tertentu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa galur sorgum mutan BMR Patir 3.7 merupakan galur sorgum mutan terbaik pada penelitian ini, sedangkan waktu panen hard dough merupakan waktu panen terbaik.&#13;
Kesimpulan dari penelitian ini adalah galur sorgum mutan BMR (Patir 3.2 dan Patir 3.7) menghasilkan produksi biomasa yang tidak berbeda dibanding galur sorgum mutan non BMR (Patir 3.1). Galur sorgum mutan BMR mengandung protein kasar lebih tinggi dan lignin lebih rendah sehingga menghasilkan kecernaan bahan kering yang lebih tinggi dibanding galur sorgum mutan non BMR. Galur terbaik untuk pakan tunggal pada penelitian ini adalah galur BMR Patir 3.7.
</summary>
<dc:date>2016-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
</feed>
